Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
KELUARGA



"Tadi Mom mengajakmu kemana saja?" Tanya Edward penuh selidik pada Elleanore yang kini duduk di sebelahnya seraya menyandarkan kepala di pundak Edward.


"Ke beberapa butik untuk berbelanja," jawab Elleanore tanpa mengubah posisinya. Edward memeriksa sabuk pengamannya sendiri serta milik Elleanore, karena pesawat akan lepas landas sebentar lagi.


"Mom bertanya sesuatu?" Tanya Edward lagi.


"Hanya mengobrol beberapa hal," Elleanore mengendikkan kedua bahunya.


"Dan Mom juga berharap agar aku bisa hamil secepatnya," imbuh Edward yang langsung mengusap wajah Elleanore.


"Tidak usah terlalu dipikirkan! Anggap saja angin lalu," nasehat Edward pada sang istri.


"Seharusnya kau mengaminkan." Elleanore membenamkan kepalanya di dada Edward setelah pesawat mengudara dan tanda peringatan sabuk pengaman sudah padam.


"Aku masih ingin honeymoon bersamamu,", gumam Edward yang langsung membuat Elleanore tertawa kecil.


"Setelah hamil juga masih bisa babymoon," Elleanore mendongakkan wajahnya dan menatap pada wajah Edward yang sudah mulai ditumbuhi rambut-rambut tipis di area dagu dan bawah hidung. Tangan Elleanore terulur untuk mengusap wajah suaminya tersebut yang terasa kasar.


"Aku belum bercukur, jadi sedikit kasar-"


"Tidak usah bercukup, aku suka yang sedikit bertekstur begini. Sedikit geli," Elleanor terkekeh dan Edward ikut terkekeh.


"Ngomong-ngomong, kita jadi menemui Dad, kan?" Tanya Elleanore memastikan.


"Kau masih ingin menemuinya? Kalau iya aku antar. Kalau tidak ya kita lanjut honeymoon," Edward malah balik bertanya.


"Tentu saja aku mau menemuinya!" Jawab Elleanore tegas.


"Baiklah, tapi jangan kecewa kalau semua tak sesuai ekspetasimu. Aku sudah mengingatkan sedari awal, dan aku tahu sendiri kalau keluargaku adalah keluarga berantakan," tukas Edward yang raut wajahnya sudah berubah sendu.


"Ed," Elleanore cepat-cepat menghibur Edward, meskipun wanita itu merasa bingung harus bagaimana.


"Kau beruntung karena punya orang tua yang begitu perhatian dan menyayangimu, lalu tiga abang yang juga selalu menjaga dan menyayangimu," gumam Edward lagi yang mulai membandingkan hidupnya dengan Elleanore.


"Keluargaku adalah keluargamu juga, Ed! Jangan berkecil hati begitu!" Elleanore sudah kembali menyandarkan kepalanya di pundak Edward.


"Bagaimanapun kondisi keluargamu, aku akan tetap selalu di sampingmu sampai kapanpun," lanjut Elleanore lagi, berjanji pada Edward.


"Terima kasih, Sayang!" Edward mengecup kening Elleanore, sebelum kemudian mendekap istrinya tersebut.


"Masih berapa lama lagi kita sampai di rumah Dad?" Tanya Elleanore sebelum kemudian wanita itu menguap karena mengantuk.


"Sekitar delapan jam lagi."


"Tidur saja, dan aku akan disini menjagamu," Edward membuka selimut yang memang sudah tersedia, lalu membentangkannya untuk menutupi tubuh Elleanore.


****


Matahari belum keluar dari peraduannya, saat Edward dan Elleanore masuk ke sebuah kamar hotel.


"Kita tidak langsung ke rumah Dad?" Tanya Elleanore seraya membuka jaketnya.


"Masih terlalu pagi," jawab Edward yang sudah melingkarkan lengannya di pinggang Elleanore dan menyusupkan kepala di ceruk leher istrinya tersebut.


"Kau tidak tidur semalam?" Tanya Elleanore lagi seraya mengusap kepala Edward sambil sedikit menggeliat karena Edward yang sudah mulai menciumi leher serta tengkuknya.


"Kata siapa? Aku tidur," jawab Edward yang sudah memutar tubuh Elleanore hingga kini menghadap ke arahnya. Elleanore membantu membuka jaket yang masih dikenakan oleh Edward, dengan wajah yang bersemu merah karena tatapan Edward kepadanya.


"Kita olahraga sebentar," bisik Edward seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Elleanore, lalu mengecup ringan bibir istrinya tersebut.


"Olahraga apa maksudnya?" Elleanore tertawa kecil dan kedua lengannya sudah mengalung di leher Edward.


"Kau pasti sudah tahu jawabannya," Edward mengerling nakal, lalu di detik berikutnya, pria itu langsung mel*mat bibir Elleanore dengan begitu tergesa.


Edward juga mendorong dan mengunci tubuh Elleanore ke dinding, sebelun kemudian pria itu mula melucuti satu persatu baju yang dikenakan oleh Elleanore. Pun dengan Elleanore yang melakukan hal sama, dan kini dua tubuh itu sama-sama tak lagi berpenghalang.


"Emmmmmh!" Elleanore dan Edward melenguh bersamaan saat akhirnya milik Edward berhasil menyentak masuk. Yang selanjutnya terdengar dari dalam kamar hotel hanyalah erangan,lenguhan, serta des*han Edward dan Elleanore yang saling bersahut-sahutan.


Pergelutan baru berakhir, setelah matahari mulai meninggi dan Elleanore sudah terkulai di atas tempat tidur. Edward menarik selimut untuk menutupi tubuh Elleanore yang kini tengkurap. Kedua mata istri Edward itu juga terpejam dan sepertinya benar-benar kelelahan karena gempuran tanpa henti dari Edward pagi ini.


"Aku akan tidur sebentar, Ed!" Gumam Elleanore tanpa membuka kedua matanya.


Edward kembali mendekat ke arah Elleanore, lalu mengecup pundak Elleanore yang masih dipenuhi oleh tanda-tanda kepemilikan dari Edward.


"Tidak mau sarapan dulu?" Tawar Edward lembut, namun Elleanore hanya menggeleng.


Edward tak bertanya lagi, dan pria itu merapatkan selimut Elleanore sekali lagi. Edward lanjut pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.