
"Jadi?" Henry masih menunggu jawaban dari Gika yang sedari tadi tampak berpikir.
"Jadi apa?" Gika yang tak menemukan jawaban atas pertanyaan Henry akhirnya hanya bisa bersungut.
"Kau tak punya jawaban?" Henry tertawa mengejek ke arah Gika.
"Jawaban apa? Memangnya pertanyaanmu tadi apa?" Gika semakin meledak-ledak sekarang.
"Alasan kau berjuang, Gika!"
"Alasanku agar aku bisa menikahi Tiffany karena kau ingin tidur dengannya!" Jawab Gika jujur dan blak-blakan.
"Lalu jika Tiffany tidak mau menikah denganmu?" Henry mengulangi pertanyaannya di awal tadi.
"Aku tak menerima penolakan! Tiffany harus mau menikah denganku apapun caranya!" Gika akhirnya punya jawaban meskipun masih terasa menggantung.
Apapun caranya?
Lalu cara apa yang akan ditempuh Gika?
"Apapun caranya? Aku mencium gelagat mencurigakan disini," Henry bersedekap dan menerka-nerka.
"Ck! Apa kau sudah berubah menjadi detektif sekarang?" Gika yang merasa akal curangnya terendus oleh Henry kembali emosi.
"Pergi kau dari sini! Aku sedang tak butuh asisten! Aku butuh berendam air dingin karena otakku sedang ingin meledak!" Gika mengusir Henry sembari marah-marah.
"Perlu kucarikan seorang wanita?" Tawar Henry sedikit menggoda Gika.
"Apa kau memang berniat menghancurkan usahaku untuk bisa menikah dengan Tiffany?"
"Aku butuh sabun sekarang dan bukan seorang wanita! Puas kau!" Jawab Gika kembali berteriak kesetanan.
"Baiklah! Akan kukirimkan banyak sabun kalau begitu! Mau yang aroma anggur atau stroberi?" Tanya Henry mengejek Gika.
"Kau benar-benar sialan, Hen! Pergi kau dari sini! Sana! Jauh-jauh!" Usir Gika yang sudah memaksa Henry untuk bangkit berdiri lalu mendorong-dorong pemuda itu agar keluar dari rumah.
"Pulang sana ke apartemen! Jangan kesini lagi jika aku tak meneleponmu! Dasar menyebalkan!" Usir Gika bersungut-sungut yang hanya ditanggapi Henry dengan gelak tawa.
"Baiklah! Aku juga mau ke GOR basket dan menonton pertandingan. Kebetulan aku punya dua tiket. Kau mau ikut?" Tawar Henry sekali lagi pada Gika sebelum pria itu masuk ke mobilnya.
Mobil Gika yang dipinjamkan pada Henry lebih tepatnya!
"Aku tidak mau! Pergi saja sendiri!" Jawab Gika ketus seraya berbalik dan kembali masuk ke rumah.
Henry masih tertawa kecil dan segera melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Alexander.
****
Edward kembali harus menarik nafas panjang, saat suara riuh penonton di samping, depan, dan belakang tempat ia duduk terdengar begitu memekakkan telinga. Edward sudah menyumpal telinganya dengan earphone padahal. Tapi sepertinya tak banyak membantu.
"Tepung tangan, Bang! Barusan three point!" Elleanore mengajari Edward bertepuk tangan karena pria itu hanya diam sejak tadi tanpa ekspresi, padahal pertandingan berlangsung dengan begitu seru.
"Nona El!" Edward sedikit berteriak saat memanggil Elleanore agar suaranya bisa mengimbangi riuh penonton tang melebihi speaker konslet.
"Apa?"
"Pertandingannya masih lama?" Tanya Edward pada Elleanore.
"Baru masuk quarter keempat!" Jawab Elleanore yang pandangannya tetap fokus ke tengah court, dan tangannya tak berhenti bertepuk tangan demi menyemangati tim jagoannya.
"Saya keluar terima telepon dulu! Disini berisik!" Izin Edward seraya menunjukkan ponselnya pada Elleanore. Mang ada panggilan masuk dari Richard di ponsel Edward.
"Baiklah! Nanti kembali lagi, ya!" Pesan Elleanore bersamaan dengan Edward yang sudah bangkit dari duduknya. Edward langsung keluar dari GOR yang sangat ramai tersebut dan mencari tempat yang sedikit lengang agar nyaman berbicara pada Richard.
"Halo, Rich!" .
"Ed, ada sedikit masalah di proyek B. Besok kau kesana dan selesaikan masalahnya."
Meninggalkan Elleanore sebentar di GOR sepertinya tak masalah. Toh tadi kata Elleanore pertandingannya baru masuk quarter empat. Jadi sepertinya masih lama lagi.
"Benar tak apa? Kau sedang ada acara?"
"Tidak ada! Aku hanya sedang me-refresh otakku seperti saranmu kemarin." Jawab Edward cepat.
"Baiklah! Pergi sekarang lalu nanti kau laporkan apa yang terjadi kepadaku."
"Siap!" Jawab Edward mantap sebelum telepon terputus. Edward tak membuang waktu lagi dan segera beranjak menuju ke parkiran tanpa berpamitan lagi pada Elleanore.
Nanti Edward akan kembali lagi menjemput Elleanore, setelah masalah di proyek selesai.
****
Elleanore melihat arlojinya sekali lagi dan berulang kali menatap ke arah pintu masuk GOR. Edward masih belum kembali padahal pertandisudah usai sejak tiga puluh menit yang lalu. Para penonton juga sudah banyak yang beranjak pulang dan suasana di dalam GOR mulai sepi sekarang.
"Abang Edward kemana, sih?" Gumam Elleanore yang hendak menghubungi Edward namun gadis itu baru sadar kalau ponselnya kehabisan baterai.
"Ya ampun! Tadi lupa nge-charge!" Elleanore merutuki dirinya sendiri tang kadang pelupa.
Setelah menimbang berulang kali, Elleanore akhirnya bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar stadion. Elleanore mungkin akan mencari Edward di area parkir. Bisa saja asisten abang Richard itu ketiduran di dalam mobil atau malah nongkrong di luar.
Suasana di luar GOR juga sudah mulai sepi. Elleanore berkeliling di halaman parkir demi mencari mobil Abang Edward yang entah diparkir dimana.
"Ish! Abang Edward kemana, sih?" Elleanore mulai menggerutu kesal karena tak kunjung menemukan Edward. Gadis itu masih berkeliling di tempat parkir saat segerombolan pemuda tiba-tiba menghampirinya.
"Hai, Cantik! Kok sendirian!" Salah seorang dari pemuda itu menyapa Elleanore dengan nada menggoda.
Elleanore langsung beringsut mundur dan hebdak kabur, saat ternyata salah dia dari mereka sudah mencegat Elleanore dari belakang.
"Mau kemana, Cantik? Kok buru-buru? Ayo senang-senang dulu. Nanti kami antar pulang!"
"Nggak!" Sentak Elleanore galak saat seorang pemuda itu mengulurkan lengannya dan hendak mentowel Elleanore.
"Galak sekali!" Para pemuda itu mulai mengerubungi Elleanore yang langsung berjongkok dan meringkuk ketakutan.
"Pergi!" Elleanore menyentak setiap tangan yang hendak menjamahnya.
"Pergi kalian semua!" Elleanore mulai menangis ketakutan.
"Tidak usah jual mahal! Nanti juga keenakan!"
"Lepas!"
"Tolong-" Teriakan Elleanore teredam saat seorang dari pemuda itu membekap mulutnya. Elleanore berusaha meronta dan memberontak.
"Iiih!" Elleanore menyikut dan menendang semampunya demi meloloskan diri saat gertakan galak dari seorang pemuda membuat Elleanore menciut.
"Diam!"
"Lepas!" Elleanore masih berontak saat tubuhnya sedikit diseret menujubke arah mobil. Satu perempuan lawan enam pemuda tanggung tentu saja tak sepadan. Elleanore hanya bisa menangis pasrah sekarang membayangkan nasibnya setelah ini, hingga tiba-tiba sebuah suara disertai pukulan keras menghantam salah seorang pemuda hingga jatuh tersungkur.
"Lepaskan gadis itu!"
.
.
.
Othor itu 😅😅
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.