
"Semua yang kau perlukan sudah aku susun di dalam tas ini."
"Kau yakin aku tak perlu ikut?" Tanya Edward sekali lagi pada Richard yang sedang menyiapkan beberapa keperluannya untuk urusan ke luar negeri.
"Tidak usah! Silahkan berlibur dan merefresh otakmu itu!" Jawab Richard sedikit memberikan saran.
"Bagaimana kalau ke puncak, Bang!" Celetuk Elleanore tiba-tiba yang entah sejak kapan sudah berada di dalam ruang kerja Richard.
"Kau sedang apa disini, El?" Tanya Richard yang sekarang memang lumayan banyak kemajuan. Sejak berpacaran dengan Ashley lebih tepatnya, Richard jadi sudah tak sedingin dulu. Ibaratnya kanebo Richard sudah sedikit lemes sekarang.
"Menguping pembicaraan Abang Rich dan Abang Ed! El boleh ikut Abang ke luar negeri?" Rayu Elleanore seraya menggamit lengan Richard.
"Ini urusan bisnis, bukan liburan," jelas Richard.
"Baiklah!"
"Abang Ed! El punya dua tiket nonton pertandingan final basket. Besok kita nonton bareng, ya!" Elleanore ganti merayu Edward. Penolakan Edward saat acara pertunangan Richard kemarin sepertinya tak menyurutkan langkah Elleanore untuk terus mendekati Edward.
"Tapi, Nona-"
"Pergi dan temani Elleanore, Ed! Ini perintah!" Ucap Richard seraya menatap tegas pada Edward.
"Harus?" Edward masih berusaha negosiasi.
"Iya, harus!" Bukan Richard melainkan Elleanore yang menjawab. Edward masih menatap ke arah Richard seolah menunggu jawaban dari sahabat sekaligus bosnya tersebut.
"Anggap saja sekalian refreshing agar kau itu tidak kaku seperti robot!" Richard akhirnya buka suara.
Edward benar-benar ingin mengumpat sekarang saat Richard menyebitnya robot. Padahal Richard sendiri juga mendapat julukan kanebo kering dari adik-adiknya! Tapi pria itu seolah tak sadar diri dan sekarang malah mengatai Edward!
"Baiklah, Nona El! Kita akan menonton pertandingan basket besok-"
"Besok sore jam empat. Jemput aku dan jangan sampai terlambat! Oke!" Sahut Elleanore cepat seraya menepuk pundak Edward. Gadis itu terlihat girang saat keluar dari ruang kerja Richard.
Berbeda dengan Edward yang hanya bisa mendengus frustasi, seolah baru saja mendapatkan borgol di tangannya. Menemani seorang gadis bawel nan cerewet menonton pertandingan, pasti akan membutuhkan penyumpal telinga lapis lima. Sebaiknya Edward menyiapkan semuanya untuk berjaga-jaga.
"Jaga Elleanore besok dan jangan sampai hal buruk terjadi pada adikku!" Pesan Richard pada Edward yang hanya mendengus. Richard meraih tas kerjanya, lalu keluar dari ruang kerja diikuti oleh Edward. Richard akan ke bandara kota sekarang.
****
"Ma! Bukannya sore ini ada acara di rumah Omi Ghe?" Tanya Sunny pada Alsya yang masih sibuk di belakang meja kasir Lily's Cake.
"Kita tak akan datang. Mama masih banyak pekerjaan," jawab Alsya seraya melirik ke ponselnya yang tak berhenti menunjukkan panggilan masuk dari Mami Lily, Ruby, dan Vivian sejak tadi. Memang sengaja Alsya silent karena Alsya tak berniat datang ke acara rutin bulanan antara keluarga Sanjaya dan keluarga Attala itu. Alsya sedang malas menjawab cecaran pertanyaan tentang calon papa Sunny yang mungkin sudah dibocorkan oleh Sasha ember!
"Tapi Sunny mau bermain bersama Lena dan Rena!" Sunny terlihat merengut.
"Kau baru saja bermain bersama Rena dan Lena kemarin, Sunny!" Alsya mengingatkan. Lena dan Rena adalah putri kembar Ethan dan Ruby yang tahun ini genap berusia lima tahun.
"Iya tapi Sunny mau mencoba perosotan baru di rumah Omi Ghe! Uncle Ethan juga janji beliin jepit rambut cantik untuk Sunny hari ini!" Lanjut Sunny lagi membeberkan sederet alasan.
"Perosotannya tidak akan muat untukmu! Itu untuk Lena dan Rena!" Alsya geleng-geleng kepala.
"Mama!" Sunny mulai merengek.
"Sunny, berhenti merengek dan masuk ke ruangan Mama!" Perintah Alsya tegas pada Sunny yang sudah menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Gadis itu melangkah setengah hati ke ruangan Alsya. Namun baru setengah jalan, Sunny melihat Alsya yang sudah menghilang ke dapur. Sunny mendadak ingin bertemu Naka. Sunny tak jadi ke ruangan Alsya dan gadis sepuluh tahun itu malah keluar dari toko kue, menyetop taksi, lalu naik ke dalam taksi.
****
"Bang! Kok murung?" Sapa Elleanore pada Naka yang sejak tadi hanya duduk sendiri di halaman belakang kediaman Alexander.
"Nggak ngajak jalan-jalan Sunny mumpung hari Minggu?" Tanya Elleanore lagi.
"Alsya melarangku menemui Sunny lagi. Wanita itu sepertinya marah sekali saat aku mengatakan kalau aku serius ingin menjadi papa sambung Sunny," curhat Naka yang langsung membuat Elleanore kaget.
"Kenapa begitu?"
Naka mengendikkan kedua bahunya.
"Alsya mengatakan kalau aku terlalu muda dan pantas mendapatkan gadis yang seusia denganku."
"Jadi Kak Alsya merasa minder, begitu? Padahal Sunny kelihatan udah nyaman banget sama papa Naka yang daddyable."
"Abang berjuang lagi, gih!" Elleanore menepuk punggung Naka dan memberikan semangat pada Abangnya tersebut bersamaan dengan ponsel Naka yang berdering.
Juan menelepon.
"Kau tahu perihal Juan yang sekarang sudah menyerah untuk mengejarmu?" Tanya Naka mengalihkan topik sebelum pria itu mengangkat telepon Juan.
"Abang Juan mengejar Elleanore? Sejak kapan?" Tanya Elleanore yang ternyata selama ini tidak sadar.
Parah memang!
Bagus Juan sudah menyerah!
Jadi kecewanya tak perlu berlipat-lipat.
"Lupakan saja!" Kejeh Naka seraya mengangkat telepon Juan.
"Halo, Ju! Ada apa?" Sambut Naka menyapa Juan.
"Putri kecilmu mencarimu ke kantor, Papa Naka! Aku tidak tahu berapa lama dia menunggu di depan kantor bersama seorang supir taksi yang menunggu ongkos. Dia menangis sekarang!"
Naka benar-benar terlonjak kaget mendengar laporan Juan.
"Kau dimana sekarang?" Tanya Naka yang sudah berjalan tergesa meninggalkan halaman belakang dan El yang mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
"Masih di kantor! Menemani Sunny yang menangis."
"Aku ke kantor sekarang!" Naka menutup telepon dan segera menyambar kunci mobil lalu segera meluncur ke kantor travel agency-nya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.