
Enam bulan kemudian...
Arsen yang sedang melakukan meeting dengan klien perusahaan Xavier, langsung menghentikan meeting nya.
Ia mendapatkan panggilan telepon dari Asisten rumah nya yang mengatakan bahwa Aline akan segera melahirkan.
Arsen langsung saja berlari meninggalkan ruang meeting, para klien saling menatap satu sama lainnya karena bingung melihat CEO Sky Hyarn yang tiba tiba pergi.
"Mohon maaf semuanya, saya yang akan meneruskan meeting. Tuan Arsen sedang ada keperluan mendadak, mari kita lanjutkan kembali meeting nya." ucap Max yang langsung paham kenapa Arsen tiba tiba pergi, pasti hanya karena Aline.
.
Arsen yang masih berada di mobil nya, benar benar sangat kesal. Ia harus terjebak macet panjang dari tadi yang membuat nya pasti terlambat datang ke rumah sakit.
"Kenapa aku harus terjebak macet disini, Aline sangat membutuhkanku saat ini." lirih Arsen yang terus menggenggam erat setir mobilnya.
.
Di sebuah rumah sakit mewah, Aline saat ini sedang merasakan sakitnya kontraksi. Ia yang sudah kesakitan dan juga kelelahan, bertambah kesal dengan Arsen yang sampai saat ini belum juga tiba dirumah sakit.
"Bibi, apa Arsen sudah datang." lirih Aline dengan keringat yang mengucur deras dari wajah sampai lehernya.
"Sabar Nyonya, Tuan belum datang. Tapi Bibi sudah dari tadi kasih kabar ke Tuan, mungkin Tuan masih dalam perjalanan kesini." ucap Bi Nelly asisten di rumah Aline.
"Sejauh apa memangnya kantor dan rumah sakit ini Bi, cepat telepon lagi Bi, aku sudah gak kuat." ucap Aline yang memang benar benar terus merasakan sakit.
Dokter Obgyn yang menangani Aline sudah bersiap untuk membantunya melahirkan.
"Bu Aline, sudah waktunya." ucap Dokter Cindy yang sudah bersiap.
"Tunggu dulu mana Dokter Nadia, saya mau nya dia yang menangani saya. Lagian juga suami saya belum datang, jadi sebentar lagi." jawab Aline terbata bata.
"Tapi Bu Aline, kasihan bayi ibu. Sudah waktunya ibu melahirkan. Dokter Nadia sepertinya berhalangan hadir, ia sedang ada urusan pribadi." ucap Dokter Cindy menjelaskan kepada Aline.
"Ah sakit, perutku sakit sekali." teriak Aline yang benar benar merasakan sakit pada perut nya.
"Sekarang cepat, siapkan semuanya." ucap Dokter Cindy kepada para perawat yang membantu nya.
.
30 menit berlalu, Dokter Cindy yang membantu persalinan Aline berjalan dengan sangat lancar dan tanpa ada halangan apapun.
"Alhamdulillah, bayi ibu laki laki dan sangat tampan." ucap Dokter Cindy yang sudah menggendong bayi Aline.
"Ya syukurlah." jawab Aline lirih dengan tatapan berbinar, ia tak menyangka jika sekarang ia benar benar sudah menjadi seorang ibu.
Perawat langsung membersihkan Baby Aline, sedangkan Dokter Cindy memasangkan cairan infus sebagai pengganti nutrisi.
.
Arsen yang tengah berlari di koridor rumah sakit, berpapasan dengan Dokter Nadia yang juga hendak keruang persalinan.
"Tuan Arsen...?" panggil Dokter Nadia.
"Dokter Nadia,." jawab Arsen dengan nafas ngos-ngosan.
"Tuan sedang apa disini?" tanya Dokter Nadia dengan raut wajah bingung nya.
"Istriku melahirkan di rumah sakit ini, aku harus cepat sampai keruang persalinan, saya permisi." jawab Arsen yang sudah bersiap untuk berlari lagi.
"Nyonya Viola sudah melahirkan, waah kalian bahkan tidak jadi melakukan program bayi tabung. Eh tahu tahu nya sekarang Nyonya Viola sudah melahirkan, ayo kita bareng saja kesana Tuan. saya juga harus menemui pasien yang akan melakukan persalinan." ucap Dokter Nadia.
Arsen tidak menjawab pertanyaan Dokter Nadia yang mengira jika Viola lah yang akan melahirkan. Ia memang tidak tahu jika Arsen sudah hampir 7 bulan lebih bercerai dari Viola.
Bi Nelly yang melihat tuan nya sudah datang, langsung segera menghampiri nya.
"Tuan sudah datang, Nyonya Aline sudah melahirkan, anak Tuan laki laki." ucap Bi Nelly dengan senyum bahagia nya.
"Alhamdulillah Bi, terima kasih Ya Tuhan engkau sudah menitipkan malaikat kecil dalam keluarga kami." jawab Arsen yang sudah menitikkan air matanya. Ia begitu bahagia, karena sekarang sudah menjadi seorang ayah.
Sedangkan Dokter Nadia, hanya bisa mengerutkan dahinya.
.
..."Istri Tuan Arsen bukan kah namanya Viola, tapi kenapa asisten rumah tangga nya barusan mengatakan Nyonya Aline. Oh mungin saja nama kepanjangan nya, atau nama kecilnya." lirih Dokter Nadia didalam hati....
.
Tuan Arsen saya masuk dulu." ucap Dokter Nadia.
"Oh ya Dokter Nadia." Jawab Arsen dengan raut wajah bahagianya.
Arsen langsung bergegas pergi menuju ruang rawat Aline dan anaknya, ia sudah tidak sabar untuk bertemu jagoan nya itu.
Aline sedang belajar menyusui anaknya, dan dibantu langsung oleh Dokter Cindy.
"Ah... Dokter, seperti nya asi ku sangat sedikit. Kasian bayiku ia masih lapar." ucap Aline.
"Itu memang biasa Bu, tapi jika Ibu sesering mungkin memberikan asi kepada bayi ibu. Lama lama asi nya akan lancar Bu." jawab Dokter Cindy.
"Ohh... Gitu ya Dok." ucap Aline.
"Iya Bu, obat nya jangan lupa diminum ya Bu. Saya akan cek pasien yang lain, jika Ibu butuh sesuatu, pencet saja tombol hijau di samping brankar ibu." jawab Dokter Cindy dengan tersenyum.
"Iya baiklah Dokter, terimakasih." ucap Aline yang juga tersenyum.
"Sama sama Bu." jawab Dokter Cindy yang langsung berlalu pergi.
Saat Dokter Cindy keluar beberapa saat yang lalu dari ruang rawat VVIP Aline, Arsen dan Bu Nelly telah datang.
"Sayang." ucap Arsen yang langsung berlari memeluk Aline.
Aline yang sedang berada didalam pelukan Arsen hanya mengerutkan dahinya, tidak biasanya Arsen memanggil dengan sebutan sayang, biasanya Honey...
"Sejak kapan kamu memanggil ku dengan sebutan Sayang, aku lebih suka jika kamu panggil Honey saja." jawab Aline dengan wajah cemberutnya.
Arsen pun heran, kenapa ia bisa memanggil Aline dengan panggilan Sayang. Bukankah panggilan Sayang adalah sebutan nya untuk Viola.
"Hah... Maafkan aku, Honey memang sudah melekat di dirimu." ucap Arsen.
"Hem..." jawab Aline dengan tersenyum senang.
"Mana Baby kita, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya!" tanya Arsen dengan raut wajah berbinar binar.
"Honey, Baby kita lagi di beri susu formula sama perawat. Tunggulah sebentar, ia pasti akan diantarkan perawat kesini lagi." jawab Aline.
"Maaf, aku tidak bisa menghadiri proses mu melahirkan. Jalan benar benar sangat macet, maafkan aku." ucap Arsen dengan raut wajah sedihnya.
"Hem... Sebenarnya aku marah sama kamu Honey, tapi ya udahlah aku maafin." jawab Aline dengan tersenyum manis.
"Terimakasih Honey." ucap Arsen yang menciumi seluruh wajah Aline.
Saat Aline dan Arsen larut dalam kebagian mereka, Dokter Nadia tiba tiba masuk kedalam ruang rawat Aline untuk memeriksa nya.
"Oh maaf, apa saya mengganggu." ucap Dokter Nadia yang melihat Aline tengah berpelukan mesra dengan Arsen yang membelakanginya.
"Dokter Nadia tidak apa, ini suami saya." jawab Aline.
Deg.... Jantung Arsen berdegup kencang, saat ia mendengar Aline mengatakan Dokter Nadia.
"Maaf ya pak, saya ada urusan pribadi soalnya." jawab Dokter Nadia.
"Honey kamu kenalan lah sama Dokter Nadia." ucap Aline.
Arsen yang memang sudah tidak bisa lagi menutupi ataupun berlari, akhirnya membalikan badannya.
Saat Arsen sudah benar benar membalikkan badannya, Dokter Nadia langsung terkejut.
"Tuan Arsen?" tanya Dokter Nadia dengan tatapan tak percaya.
"Hemm... Apa kabar Dokter Nadia." jawab Arsen dengan raut wajah yang sulit dimengerti oleh Dokter Nadia.
"Ohh... Ternyata Dokter Nadia sudah mengenal suami saya." ucap Aline.
"Hemm... Iya ibu Aline." jawab Dokter Nadia yang berusaha untuk biasa biasa saja.
"Honey, aku akan keluar sebentar." ucap Arsen yang langsung berlalu pergi meninggalkan ruangan Aline.
"Iya jangan lama lama, Baby kita akan dibawah kesini oleh perawat." jawab Aline.
Dokter Nadia benar benar tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi pada keluarga Tuan Arsen dan Nyonya Viola, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Arsen saat ini sedang duduk di taman belakang rumah sakit, Dokter Nadia yang sudah selesai mengecek kesehatan pasien tiba tiba melihat Arsen dari kejauhan, langsung saja ia mendekati Arsen.
"Tuan Arsen, maaf sebelumnya apa saya boleh bicara sebentar dengan Tuan." ucap Dokter Nadia.
"Iya silahkan." jawab Arsen dingin.
"Maaf, bukan maksud saya mau ikut campur urusan rumah tangga tuan. Tapi apa kabar nya Nyonya Viola?" tanya Dokter Nadia dengan suara lembutnya.
"Saya sudah lumayan lama bercerai dengan Viola, mungkin sekitar 7 bulan yang lalu." jawab Arsen.
"Ohh... Maafkan saya Tuan, saya tidak tahu." ucap Dokter Nadia.
"Tidak apa." jawab Arsen yang masih dengan raut wajah dingin nya.
"Kalo begitu saya pamit dulu Tuan, oh ya Baby anda sekarang sudah dipindahkan ke ruang Ibu Aline." ucap Dokter Nadia.
"Hem...." Jawab Arsen yang langsung berlalu pergi meninggalkan Dokter Nadia yang masih melongo melihatnya.
.
..."Sejak kapan Tuan Arsen menikah dengan Ibu Aline, bukan kah dulu sewaktu pertama kali Ibu Aline tahu sedang hamil ia malah seperti tidak bersemangat. Astaga jangan jangan Tuan Arsen telah berselingkuh dengan Ibu Aline sewaktu masih bersama Nyonya Viola. Itulah sebabnya Tuan Arsen jadi berpisah dengan Nyonya Viola, karena pelakor itu. Laki laki memang tidak ada yang bisa dipercaya, aku benci semua dengan yang namanya laki laki." ucap Dokter Nadia didalam hati dengan raut wajah kesalnya....
.
Arsen yang sedang menatap Baby nya hanya bisa mengerutkan dahi, Baby nya dan Aline benar benar berwajah bule, tidak ada sedikitpun wajah asia seperti dirinya.
.
~ Baby Kenzo Stewart Lee
.
"Hah... Kenapa wajah anak ku tidak mirip denganku, semuanya wajah mu." ucap Arsen dengan tatapan sendu nya.
Aline yang mendengar Arsen bicara seperti itu, hanya bisa terdiam. Ia sangat takut, jika suatu saat nanti Arsen akan tahu jika Baby yang diakui Arsen anaknya adalah anak biologis Lexi.
"Honey, kenapa anak kita benar benar berwajah bule. Mata nya biru, rambut nya pirang. Sangat tidak mirip dengan ku, ia sangat tampan." ucap Arsen.
"Iyalah Baby kita mirip aku Honey, kan istri mu ini bule yang sangat cantik." jawab Aline dengan begitu pede nya kepada Arsen.
"Iya kamu benar, istriku ini memang sangat cantik." jawab Arsen yang langsung mencium lembut bibir Aline.
"Siapa nama Baby kita." ucap Aline.
"Kenzo Stewart Lee, bagaimana?" tanya Arsen.
"Iya aku suka, nama yang bagus untuk Baby kita." jawab Aline dengan tersenyum.
.
Arsen tengah menyesap rokok dan duduk termenung di ruangan khusus untuk merokok, pikirannya kini malah jauh melayang kepada Viola.
Kejadian 6 bulan yang lalu membuat Viola benar benar membenci nya, ia bahkan telah mengganti nomor ponsel, dan sejak saat itu Arsen tidak pernah lagi bertemu dengannya.
"Seharusnya Aku Bahagia, bukan malah terus memikirkan Viola. Sekarang aku sudah punya Baby Kenzo, ialah sumber kebahagiaan ku. Hah...!" ucap Arsen yang mengusap kasar wajahnya.
Max yang berada tepat dibelakang Arsen mendengar kan semua keluh kesahnya, ia hanya bisa menatap Arsen dengan wajah datar nya.
"Itu karena Viola sudah menetap di relung hatimu yang paling dalam, dan juga... Kamu itu masih sangat mencintai nya." ucap Max dengan tatapan datar nya.
"Jangan sok tahu, kau saja belum pernah menjalin hubungan spesial dengan seorang wanita. Lagian yang selalu menetap di relung hatiku itu Aline, bukan Viola." jawab Arsen dengan tatapan kesalnya.
"Iya iya iya itu kan katamu, yang pasti aku mau mengucapkan selamat karena sekarang kamu sudah menjadi ayah." ucap Max lalu menyerahkan kado berukuran sedang kepada Arsen.
"Hem... Thanks Max." jawab Arsen.
"Oh ya, apa sebabnya Nyonya Aline melahirkannya lebih awal." ucap Max.
"Hah... Mana aku tahu." jawab Arsen yang masih terus menyesap rokok nya.
"Hemm... Kamu ini suami seperti apa, masa semua tentang istrimu kamu gak tahu." ucap Max.
"Iya kamu kan tahu aku ini selalu sibuk, lagian Aline sudah melahirkan dengan selamat. Aku sangat bersyukur dan bahagia." jawab Arsen.
"Ini surat keterangan dari rumah sakit, bacalah." ucap Max yang memberikan surat keterangan yang berisi awal kehamilan Aline sampai dengan ia melahirkan.
Arsen yang menerima berkas itu segera membaca nya. Tapi kemudian raut wajah Arsen langsung berubah menjadi merah padam, ia menggenggam erat berkas itu dan meremasnya.
"Brengsek....!!" ucap Arsen yang langsung berdiri dan pergi dengan raut wajah yang penuh kemarahan....
•
•
•
•
Semoga Bab kali ini di lolos kan admin, semoga ya, soalnya sudah saya revisi sampai 7 kali tetapi kenapa selalu gagal, bisa kasih tahu yang mana lagi harus direvisi Admin. Terimakasih 🙏
.
Jeng jeng jeng.... Hayoo kira kira apa yang membuat Arsen tiba tiba langsung marah dan emosi jiwa. Hahahaha....!!
.
** TBC **
.