
Aline yang sudah berada didepan perusahaan milik Arsen, hanya bisa mencengangkan matanya.
Perasaan menyesal kian menyelimuti hatinya, mengapa dulu ia malah meninggalkan Arsen dan menyetujui saja pernikahan mendadak nya bersama Lexi.
Sedangkan ternyata, Arsen jauh lebih segalanya dari Lexi. Arsen bahkan sangat kaya raya, perusahaan Sky Hyarn Grup yang terkenal di Asia ini pun juga milik nya.
"Hahaha.... Aku memang bodoh, meninggalkan pangeran yang sebenarnya, hanya itu buaya buntung itu." ucap Aline dengan menertawakan dirinya sendiri.
Aline berjalan dengan sangat cepat, agar bisa masuk menemui Arsen.
***
Saat baru saja masuk ke dalam perusahaan, Aline langsung di sapa oleh dua security yang bertugas menyambut tamu.
"Selamat pagi nona, ada yang bisa saya bantu?" ucap Edo security bagian keamanan yang sedang bertugas sebagai penyambut tamu dengan ramah.
"Iya pagi, saya ingin bertemu dengan bapak Arsen." jawab Aline dengan tersenyum manis.
"Apa Nona sudah ada janji." ucap Edo.
"Emm sudah." jawab Aline.
"Baiklah, mari saya antar dulu Nona kebagian resepsionis." ucap Edo.
"Ohh oke." jawab Aline yang mulai mengikuti Edo berjalan menuju resepsionis.
Saat Aline sudah berdiri, kedua resepsionis memandangi Aline dari atas sampai kebawah dengan heran.
"Cika, Ines tolong antar kan Nona ini menemui pak Arsen." ucap Edo.
"Oh oke." jawab Ines dengan sedikit ketus.
"Iya bang Edo." jawab Cika tersenyum ramah.
"Apa Nona sudah buat janji terlebih dahulu dengan pak Arsen?" tanya Cika sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Iya, sudah. jawab Aline.
"Baiklah Nona, saya akan mengantarkan anda keruangan pak Arsen. Mari ikuti saya." ucap Cika dengan tersenyum. Cika memang gadis yang ramah, ia tidak jutek dan angkuh seperti Ines.
.
..."Siapa wanita ini sebenarnya, apa dia istri dari pak Arsen. Tapi sepertinya bukan, penampilan nya saja malah terlihat seperti ja*ang yang kesiangan." ucap Ines didalam hati dengan terus menatap Aline dengan pandangan tak suka....
..."Dasar Mak lampir, dia kira aku ini apa. Menatapku dengan pandangan seperti itu, lihat saja nanti akan ku pecat kau secara langsung, jika Arsen sudah menikahi ku." gumam Aline didalam hati....
.
Aline dan Cika yang sudah berdiri didepan ruangan Arsen, langsung saja mengetuk pintu sebelum masuk.
Tok...Tok...Tok...! Bunyi pintu yang di ketuk oleh Cika.
"Masuk." ucap Arsen yang tengah duduk sambil terus menandatangani berkas di atas meja nya.
"Maaf pak mengganggu, ada tamu bapak." ucap Cika.
Arsen langsung saja mengangkat kepalanya, ia sangat terkejut bercampur geram saat melihat Aline tengah berdiri di samping Cika. Arsen yang tak suka mulai mengerutkan dahinya, ia pun langsung menyuruh Cika pergi.
"Kau boleh pergi Cika." ucap Arsen.
"Baik pak saya permisi." jawab Cika yang langsung berlalu pergi.
Saat Cika sudah benar benar tidak terlihat lagi Arsen langsung mengeluarkan suara nya...
"Apa yang membuat mu bisa sampai datang kesini?" tanya Arsen dingin.
"Arsen, aku cuma mau bilang, kalo akan segera pulang ke Amerika." jawab Aline, lalu langsung menundukkan wajahnya.
"Kau rujuk kembali dengan Lexi?" tanya Arsen.
"Aline, aku tidak peduli. Kau mau kembali lagi atau tidak bersama Lexi, karena itu adalah hak mu." ucap Lexi sedikit menaikan satu tingkat intonasi suaranya.
"Kau memang sudah jauh berubah, tapi tidak apa, setidaknya dulu aku pernah sangat berharga di hidupmu." lirih Aline.
"Jika tidak ada lagi yang mau kau bicarakan, segeralah pergi. Karena aku tidak mau, ada berita aneh terdengar tentang kita." ucap Arsen yang sudah mulai berdiri dari kursi kebesarannya, lalu berjalan kearah pintu keluar untuk membukakannya buat Aline.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi aku mohon, kali ini saja sebagai tanda perpisahan kita. Maukah kau mengajakku jalan jalan di Indonesia, seperti janjimu dulu, yang selalu ingin membawaku jalan jalan berkeliling Indonesia." jawab Aline.
"Maaf, tapi itu dulu. Sekarang aku tidak mungkin mengajakmu jalan jalan keliling Indonesia, karena kau sendiri yang sudah mengingkarinya." ucap Arsen dingin.
"Iya aku tauh, aku salah. Maafkan aku, tapi aku mohon kali ini untuk yang terakhir. Bawa aku jalan jalan keliling Jakarta saja." jawab Aline yang kini sudah menjatuhkan air mata nya.
Arsen menatap Aline yang sudah menangis, sebenarnya ia tidak ingin mengatakan hal yang menyakitkan bagi Aline. Tapi ia juga tidak mau, jika sampai Viola mengetahui masa lalu ia dan Aline.
Arsen mendekati Aline, lalu merengkuh tubuh nya yang terlihat benar benar rapuh.
"Maaf, jika aku sampai menyakiti hati dan perasaan mu." ucap Arsen.
"Aku memang pantas mendapatkan nya, Arsen apa kau mau menuruti keinginan ku tadi sebelum kita berpisah." lirih Aline dengan air mata yang sudah tumpah ruah membasahi wajah cantiknya.
"Iya baiklah, besok kita akan jalan jalan." jawab Arsen, lalu langsung menghapus air mata Aline.
"Terimakasih." ucap Aline yang kini gantian memeluk erat Arsen.
Arsen membalas pelukan Aline, cukup lama, sampai akhirnya mereka tersenyum dan tertawa bersama.
Tanpa mereka berdua sadari, dibalik pintu ruangan Arsen, Max tengah berdiri dan memperhatikan mereka dengan pandangan tak suka.
***
Saat jam pulang kantor akan tiba sebentar lagi, Max datang dan segera menghampiri Arsen yang masih sibuk dengan berkas berkas penting nya.
"Ada apa?" tanya Arsen yang masih sibuk memandangi berkas, tapi ia tauh jika yang datang adalah Max.
"Kau bisa kan pulang sendiri, aku ada urusan pribadi. Karena aku akan pulang duluan." ucap Max ketus.
"Hemm... Pulanglah, aku akan mengendarai mobil sendiri, tidak masalah." jawab Arsen.
"Oke." ucap Max singkat lalu hendak pergi meninggalkan Arsen, tetapi belum juga jauh berjalan Max sudah dipanggil Arsen lagi.
"Max tunggu dulu." ucap Arsen.
"Ada apa lagi?" jawab Max dingin.
"Hemm... Bisakah besok kau yang handle meeting dengan perusahaan copra." ucap Arsen.
"Baiklah, aku tidak masalah. Karena selama ini juga aku yang terus meng-handle nya." jawab Max singkat tetapi dari wajahnya sangat terlihat jika ia tak menyukai Arsen. Iya tauh, jika besok Arsen akan mulai mengajak Aline untuk jalan jalan berkeliling kota Jakarta.
"Kau memang terbaik Max, Thanks." ucap Arsen yang kemudian langsung melanjutkan lagi tanda tangan nya yang seharusnya sudah selesai dari siang tadi, tapi malah terhambat karena kedatangan Aline yang tiba tiba.
Max yang masih memperhatikan Arsen, langsung saja mengeluarkan suaranya. Ia tidak mau, Arsen terjerumus untuk yang kedua kalinya lagi gara gara Aline.
"Tapi, seharusnya kau Jangan Bermain Api. Karena pada akhirnya, kau yang akan terbakar sendiri." ucap Max pelan, tetapi masih bisa juga didengar oleh Arsen.
Arsen langsung berhenti, dan seketika itu juga menatap tajam kearah Max.
"Apa yang kau maksud." jawab Arsen sedikit tersentak.
"Aku cuma mau bilang, kenapa Aline bisa datang sampai ke kantor ini." ucap Max sedikit mengeraskan suaranya.
"Jadi kau tau, jika Aline berada disini." ucap Arsen.
"Aku tauh semuanya, dari awal kau bertemu dengan nya bahkan waktu di bali." jawab Max dingin...
...***...
TBC **