
London,
Dad Antonio yang melihat Viola menangis sejadi jadinya, hanya bisa mengelus lembut rambut nya. Ia tak tega melihat dua wanita berharga di hidupnya, kini sama sama menangis tersedu sedu.
"Honey, Vio, Dad minta kalian berhenti lah menangis. Semuanya sudah terjadi, lebih baik kita hadapi bersama dengan bahagia." ucap Dad Antonio.
"Mom, Dad, aku mohon maafkan kesalahan Vio." jawab Viola yang kini sudah menatap wajah kedua orangtuanya.
"Dad sudah memaafkan mu, Dad hanya minta segeralah menikah dengan Steve sebelum kandungan semakin membesar." ucap Dad Antonio.
Viola yang mendengar permintaan mustahil Dad nya itu, kini semakin menangis dengan tersedu sedu. Tidak mungkin baginya menikah dengan Steve, sedangkan ia saat ini tengah mengandung anak dari mantan suaminya.
Mom Ariana yang melihat kesedihan mendalam dari sorot mata putri nya itu, kini mulai menerima dan merangkul nya.
"Maafkan Mom ya sayang, Mom menerima mu dan anak mu. Apa yang dikatakan Dad mu memang yang terbaik, segeralah menikah dengan Steve, dia ayah dari calon baby mu kan." tanya Mom Ariana yang mengelus lembut air mata Viola.
Viola benar benar bingung, dan tidak bisa berkata apa apa lagi. Ia mulai merasakan penglihatannya buram lagi, dan akhirnya Viola kembali pingsan.
"Vio bangun nak, bangun Vio." teriak Mom Ariana yang langsung histeris.
Dad Antonio yang melihat putrinya pingsan lagi langsung memanggil Dokter untuk segera menangani nya.
*
*
*
Steve yang baru saja selesai melakukan operasi sesar kepada pasiennya, langsung masuk kedalam ruangannya untuk beristirahat.
Baru saja ia duduk menyandarkan kepalanya, ponsel nya berbunyi. Steve langsung merogoh kantong celananya untuk segera mengangkat telepon, saat ia melihat nama yang tengah menelponnya sontak saja ia langsung berdiri dan mengangkat nya.
"Iya hallo Dad." ucap Steve.
"Steve, Viola masuk rumah sakit. Dad minta kamu segera datang ke London, ada banyak hal yang akan bahas dengan mu." jawab Dad Antonio.
"Bagaimana bisa Viola masuk rumah sakit, apa yang terjadi pada bsa Dad." tanya Steve yang sudah mulai khawatir.
"Lebih baik kamu segera datang kesini Steve, kita akan bahas setelah kamu datang." jawab Dad Antonio.
"Baiklah Dad, aku akan segera pulang ke London." ucap Steve.
"Baiklah, Dad menunggu mu." jawab Dad Antonio.
"Ya Dad." ucap Steve.
*
*
*
Steve langsung saja bergegas keluar dari ruangan nya, ia bersiap siap menuju ke bandara untuk segera pulang ke London.
Di sepanjang koridor rumah sakit, Steve yang terus berlari menjadi pusat perhatian banyak orang, termasuk pasien dan para rekan kerja satu profesi nya.
"Kenapa Dokter Steve berlari dengan kencang menuju pintu." tanya suster yang tengah ber lintasan dengan nya.
"Mana aku tahu." jawab suster yang lain nya lagi.
Dokter Verro yang mendengar para suster membicarakan sahabatnya, langsung saja menghubungi Steve untuk menanyakan apa yang sedang terjadi.
Beberapa kali Verro mencoba menelpon nya, tapi tetap saja tidak di angkat oleh Steve. Verro yang kesal hanya bisa menggertak kan gigi nya.
"Hah apa yang sudah terjadi, Steve bahkan tak mengangkat telepon dariku. Aku yakin pasti ada yang tidak beres." ucap Verro yang langsung berjalan masuk kedalam ruangannya.
*
*
*
Steve kini sudah berada di Bandara, ia akan segera pulang ke London dengan menggunakan jet pribadi milik Grandpa nya.
Saat Steve tengah duduk diruang tunggu VVIP, beberapa orang dengan setelan jas hitam yang menggunakan kacamata hitam bertengger di hidung nya langsung mendekati Steve lalu menunduk hormat padanya.
"Maaf Tuan Steve, kami yang akan mengawal anda dari penerbangan Paris ke London." ucap salah satu dari enam bodyguard itu.
"Kami di tugaskan oleh Tuan Kendrich untuk mengawal anda sampai berjumpa dengan nona Viola." jelas bodyguard itu.
"Tuan Kendrich???" jawab Steve dengan tatapan tak percaya nya.
"Iya Tuan, calon ayah mertua anda." ucap bodyguard itu.
Steve hanya bisa menuruti saja perintah dari bodyguard itu, dengan perasaan kesal Steve mengumpat para bodyguard itu.
"Sabar Steve, turuti saja keinginan calon mertua." lirih Steve.
Steve akhirnya tiba di London, penerbangan nya memakan waktu sekitar 1 jam 20 menit. Ia langsung keluar dari bandara dengan menaiki taksi untuk menuju rumah sakit.
*
*
*
Viola masih terbaring lemah, ia sudah sadar dari pingsannya. Mom Ariana dan Dad Antonio masih setia menjaga putri kesayangan mereka.
"Vio sayang maafkan Mom ya." lirih Mom Ariana yang langsung memeluk erat tubuh Viola.
"Mom gak salah kok, kenapa harus minta maaf, Vio yang salah Mom." jawab Viola.
Saat mereka masih saling berpelukan, Steve langsung masuk kedalam dengan berlarian.
"Mom, Dad, maaf aku terlambat." ucap Steve.
Viola yang melihat Steve datang tiba tiba hanya bisa membelalakkan matanya, ia belum sanggup jika harus mengatakan kehamilannya kepada Steve. Ia tak mau Steve meninggalkan nya, tapi ia juga tidak boleh egois.
"Kalian berdua sekarang berbicara lah dulu, Mom dan Dad akan pulang sebentar?" ucap Mom Ariana.
"Terimakasih Mom, Dad." Jawab Steve.
"Iya sama sama selesaikan dengan kepala dingin, Dad dan Mom mengharapkan yang terbaik untuk kalian berdua." ucap Dad Antonio.
"Baik Dad." jawab Steve.
*
*
*
Steve langsung mendekati Viola dan memeluknya erat, ia sangat khawatir dengan keadaan Viola yang bisa tiba tiba masuk rumah sakit.
"Sayang, kamu kenapa bisa masuk rumah sakit. Apa yang kamu rasakan, biar aku bantu periksa." ucap Steve.
Viola yang melihat perhatian Steve, dan rasa kasih sayang Steve semakin merasa bersalah, ia tidak bisa lagi meneruskan hubungan ini. Steve berhak bahagia dengan wanita lain, dan yang pasti itu bukan dia.
"Kita Akhiri Saja Hubungan Ini" Steve..." lirih Viola dengan air mata yang sudah jatuh menetes.
Steve yang masih memeluk erat tubuh Viola, kini melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Viola dengan tatapan bingung dan sendu, ia tak mengerti maksud Viola saat ini.
"Apa maksud mu dengan mengakhiri?" jawab Steve dengan tatapan sendu nya.
Viola semakin menangis dengan tersedu sedu, ia sebenarnya tak mau kehilangan Steve. Ia sudah sangat mencintai dan menyayangi Steve, di hati Viola kini hanyalah ada Steve tidak lagi untuk Arsen, atau pun pria lain. Tapi ia juga tidak mau jika Steve harus bisa menerima dirinya yang tengah hamil anak dari mantan suaminya Arsen.
"Steve maaf, maafkan aku. "Kita Akhiri Saja" hubungan ini, kita tidak bisa menikah Steve." ucap Viola yang masih saja terus menangis.
"Ya kenapa, apa yang membuat mu jadi ingin mengakhiri nya, kamu tidak mencintaiku lagi. Atau...?? Kamu ingin kembali bersama mantan suami mu itu, iya Vi?" jawab Steve dengan air mata yang juga sudah jatuh menetes.
Viola yang melihat Steve menangis kini semakin tidak tega, bukan perpisahan yang penuh air mata seperti ini yang ia inginkan, tapi perpisahan dengan saling berpelukan.
*
*
*
*
Bersambung...
.