Oppa Lee I Love You

Oppa Lee I Love You
Kecelakaan



Arsen kini sudah berada di dalam mobil yang terparkir di basemen kantor nya, ia benar benar sangat kelelahan hari ini karena terus menyibukkan diri dengan berbagai berkas tanda tangan yang di kerjakan nya.


Arsen menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi, dan perlahan mulai memejamkan matanya. Ia berencana untuk tidur sebentar, baru setelah nya pulang.


*


*


*


Hampir tiga puluh menit berlalu...


Arsen tidak juga tertidur, dan hanya memejamkan mata nya saja. Jam sekarang sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, ia akhirnya keluar dari parkiran basemen dan langsung pulang.


.


Di perjalanan menuju pulang kerumah nya, Arsen tiba tiba memutar arah berniat pergi kerumah utama keluarga Lee saja. Jalanan yang memang sudah sepi membuat Arsen mengemudi kan mobil nya dengan sangat kencang.


Ia ingin cepat cepat sampai dirumah utama keluarga Lee, untuk tidur dan beristirahat di kamar nya.


Saat Arsen tiba di jalanan yang menikung tajam ia dikejutkan oleh sebuah mobil yang tiba tiba datang dan sudah berada tepat di hadapan nya, dengan cepat Arsen pun langsung membanting setir mobilnya kekiri jalan.


Arsen yang tengah dalam kecepatan tinggi tidak bisa mengimbangi laju mobilnya, sampai akhirnya mobil Arsen menghantam tembok bangunan kosong yang berada tepat di sisi kiri jalan dengan sangat keras.


Duaaarrrr.......!!!!! Terdengar bunyi dentuman sangat keras, sampai mengejutkan semua pengguna jalan.


Mobil sport yang di tumpangi Arsen menjadi ringsek parah, kaca depan mobil pun juga telah hancur berhamburan. Di kursi kemudi terlihat Arsen sudah tidak sadarkan diri dengan wajah yang di penuhi luka, darah pun terus keluar dari mata dan telinga nya, kondisi Arsen saat ini benar benar sangat lah menyedihkan.


.


Dari kejauhan seorang wanita keluar dari mobil yang hampir bertabrakan dengan Arsen tadi, ia pun berlari dengan tergesa gesa mendekati mobil Arsen.


Saat wanita itu sudah sampai di mobil Arsen,, ia langsung menutup mulutnya dengan kedua mata yang sudah melotot.


"Ya Tuhan, aku yang sudah menyebabkan kecelakaan ini terjadi." lirih wanita yang bernama Livy itu.


Livy pun mulai mencoba membuka pintu mobil Arsen, tetapi tidak bisa. Ia yang semakin khawatir, akhirnya berteriak meminta pertolongan dari banyak nya warga yang hanya jadi penonton saja.


"Aku mohon tolong aku, didalam mobil ada seseorang yang sedang sekarat. Aku mohon, tolong bantu aku untuk menyelamatkan dia...!" teriak Livy dengan air mata yang sudah jatuh menetes.


Akhirnya semua orang yang tadinya hanya berdiam diri menjadi penonton itu iba, saat melihat Livy yang sudah meneteskan air mata nya. Tak lama kemudian mobil ambulans pun datang, para petugas beserta warga langsung menolong Arsen untuk membawanya menuju ambulans.


*


*


*


Di perjalanan menuju rumah sakit, Livy terus mengikuti ambulans dari belakang. Ia benar benar sangat takut dan khawatir terhadap pria yang sudah kecelakaan karena kesalahannya itu.


Di sepanjang jalan, Livy terus berdoa agar Arsen baik baik saja. Ia berencana menelpon Papa nya saat sudah sampai saja.


Saat ambulans sudah berhenti tepat di depan Unit Gawat Darurat, Livy pun berlarian menghampiri dokter yang akan segera menangani Arsen.


"Dokter aku mohon tolong selamat kan dia." ucap Livy.


"Apa anda wali nya, pasien harus segera di Operasi." jawab dokter pria itu.


"Iya saya wali nya, saya mohon tolong lakukan yang terbaik untuk kesembuhan nya." ucap Livy.


"Iya baiklah." jawab dokter pria bernama Hanan itu.


Livy hanya bisa menunggu Arsen di depan ruang Unit Gawat Darurat, ia terus menundukkan wajahnya sambil berdoa.


*


*


*


Hampir dua jam berlalu...


Dari kejauhan, tampak lah seorang pria paruh baya berwajah blasteran datang dengan terburu buru mendekati Livy. Dia adalah Jeremy, Papa nya Livy.


"Nak apa yang sudah terjadi, kenapa kamu menyuruh Papa datang kesini malam malam begini?" tanya Papa Jeremy.


"Hah, semua sudah terjadi. Lebih baik sekarang kita berdoa bersama, agar pria itu segera sadar dan baik baik saja." ucap Papa Jeremy sambil memeluk erat Livy.


"Baiklah Pa, ayo kita sholat berjamaah di musholla rumah sakit ini." jawab Livy dengan menggandeng tangan Papa nya.


"Iya... Ayo." jawab Papa Jeremy.


.


Tiga puluh menit berlalu...


Livy dan Papa nya sudah selesai sholat dan tengah berjalan menuju Unit Gawat Darurat, saat mereka hampir tiba di sana dari kejauhan sudah ada Max, Papa Joon, Mama Gina, dan Sandra dengan raut wajah khawatir nya.


Livy dan Papa Jeremy hanya bisa saling pandang, dan sudah mulai menyadari jika orang yang tengah menunggu dengan khawatir itu pasti keluarga pria yang mengalami "Kecelakaan" itu.


Papa Jeremy mulai mendekat lalu menyapa keluarga itu, Livy hanya bisa menundukkan kepalanya karena ia benar benar ketakutan.


"Selamat malam Tuan." sapa Papa Jeremy.


Max, Papa Joon, Mama Gina, dan Sandra langsung menoleh kearah sumber suara lalu tak lama Papa Joon menyahuti sapaan dari Papa Jeremy.


"Iya malam, anda siapa?" jawab Papa Joon.


"Mohon maaf sebelumnya Tuan, perkenalan saya Jeremy dan ini putri saya Livy. Apa anda keluarga dari pria yang masih dirawat di ICU ini?" tanya Papa Jeremy.


"Hem... Iya, saya Papa nya." jawab Papa Joon.


"Livy sayang jangan takut, jelaskan semua kejadian nya." ucap Papa Jeremy.


Livy yang sudah ketakutan, kini semakin ketakutan saat Papa Jeremy menyuruh nya untuk menjelaskan "Kecelakaan" yang menimpa Arsen.


"Selamat malam Om, Tante dan semua. Maaf kan saya, ini semua kesalahan saya hingga membuat putra anda sampai Kecelakaan." ucap Livy yang sudah meneteskan air matanya.


Papa Joon hanya tersenyum, dan mengusap lembut pucuk kepala Livy. Ia sudah tahu kronologi kecelakaan yang menimpa Arsen, dan itu bukan sepenuhnya kesalahan Livy, karena jalan yang menjadi lokasi "Kecelakaan" itu memang satu arah saja. Bahkan Papa Joon pun sudah tahu informasi detail tentang Livy dan keluarga nya.


"Om sudah tahu kronologi detail nya "Kecelakaan" itu, tapi yang lebih mengkhawatirkan sekarang ialah keadaan Arsen. Kita masih menunggu apa kata dokter, jadi lebih baik kita berdoa untuk kesembuhan Arsen, baru memikirkan selanjutnya." jawab Papa Joon.


"Terimakasih Om." ucap Livy.


Sandra, dan Mama Gina memandang tak suka kearah Livy. Walaupun mereka sudah tahu detail kejadian "Kecelakaan" yang menimpa Arsen bukan lah sepenuhnya kesalahan Livy.


"Pa, kenapa operasi yang di jalani Arsen sangat lama. Bagaimana keadaan nya sekarang Pa?" tanya Mama Gina dengan tatapan sedih nya.


"Mungkin sebentar lagi selesai, kamu tenang lah." jawab Papa Joon.


*


*


*


Tak berapa lama lampu ruang operasi Arsen pun telah padam, itu tandanya operasi yang di jalani Arsen telah selesai. Dokter yang menangani Arsen, kini sudah keluar dari ruang operasi untuk menemui keluarga pasien.


"Dokter, bagaimana keadaan Putra ku?" tanya Mama Gina dengan raut wajah yang begitu khawatir.


"Pasien telah melewati masa kritis, dan sebentar lagi akan di pindahkan keruang perawatan. Tapi ada hal yang harus saya jelaskan, mohon ikut dulu keruangan saya." ucap Dokter Hanan.


"Oh baiklah diokter." jawab Mama Gina dan Papa Joon bersamaan.


Mama Gina dan Papa Joon, akhirnya mengikuti dokter Hanan keruangan nya. Dengan raut wajah yang semakin khawatir, Mama Gina hanya bisa terdiam saja.


*


*


*


*


Bersambung...


.