
London,
Viola yang baru saja selesai mandi langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia benar benar sangat lelah hari ini dan ingin secepatnya tidur.
Baru saja Viola ingin memejamkan matanya, ponselnya tiba tiba berbunyi.
"Hah.... Siapa lagi itu." lirih Viola yang langsung meraih ponselnya diatas nakas samping tempat tidur.
"Hemm.... Iya, siapa nih." ucap Viola yang langsung mengangkat ponselnya tanpa melihat lagi siapa yang tengah menelpon.
"Sayang ini aku, apa nomor ponselku sudah tidak lagi kamu save???" jawab Steve lewat sambungan telepon.
Viola yang mendengar suara Steve, sontak saja langsung membuka kedua matanya.
"Hemm.... Sayang, maaf ya. Aku tadi sambil memejamkan mata pas angkat teleponnya, jadi gak tahu siapa yang sedang telepon." ucap Viola yang merasakan ngantuk nya telah menghilang.
"Aku ada didepan rumah mu, turunlah." jawab Steve.
"Hah... Benarkah." ucap Viola dengan raut wajah tak percaya.
"Hem... Lihat aku dari balkon kamar mu." jawab Steve.
Viola langsung saja bangun dari atas tempat tidur dan langsung membuka pintu balkon kamar nya untuk melihat apa benar Steve ada di depan rumahnya....
"Hai..... Cepatlah turun." ucap Steve yang langsung melambaikan tangannya, lalu tersenyum begitu manis menatap Viola.
"Hem... Iya tunggu aku." jawab Viola yang juga tersenyum.
.
Viola yang keluar dari kamar nya sambil berlari lari, benar benar membuat Mom Ariana langsung melototkan matanya.
"Vio nanti kamu terjatuh, ngapain lari lari begitu." ucap Mom Ariana.
"Vio buru buru Mom, ada Steve di depan." jawab Viola yang langsung berlalu pergi.
"Kamu itu, giliran ada Steve langsung gak ngantuk lagi. Tadi disuruh makan dulu sebelum tidur, katamu udah ngantuk berat gak tahan lagi. Hmm dasar anak ini...!" ucap Mom Ariana yang terus mengomel.
"Biarkan saja Mom, memang hanya Steve yang bisa membantu Vio bahagia " jawab Dad Antonio.
"Hemm iya, Dad benar. Semoga Steve selalu menyayangi dan mencintai Viola selama nya." ucap Mom Ariana.
"Amen." jawab Dad Antonio
***
Viola kini sudah di dalam mobil Steve, ia hanya diam dan menurut saja Steve akan membawanya kemana.
Steve terus memegang tangan Viola dan mengecup nya, ia bahagia karena rumah masa depan nya dengan Viola sudah jadi.
"Steve kita akan kemana?" tanya Viola yang akhirnya mengeluarkan suaranya setelah beberapa saat bungkam.
"Rahasia." jawab Steve singkat.
"Apaan sih, rahasia segala. Kita gak akan dinner atau menuju tempat yang penuh dengan manusia kan." tanya Viola dengan tatapan kesalnya.
"No...!" jawab Steve yang lagi lagi singkat saja menjawab pertanyaan Viola.
"Hemm gak jelas....!" lenguh Viola dengan lenguhan nafas kasarnya.
.
Hampir 40 menit mereka dalam perjalanan, akhirnya sampai juga. Saat mobil Steve masuk kedalam sebuah mansion yang cukup megah, Viola semakin terheran heran.
"Mansion siapa, terus ngapain kita kesini." tanya Viola dengan tatapan bingung nya.
Steve hanya diam saja tidak menjawab perkataan Viola, ia langsung turun dari mobil sportnya lalu membukakan pintu sebelah mobil untuk Viola.
Viola yang tadinya mau marah dan kesal dengan Steve karena tetap diam saja tidak menjawab pertanyaannya, akhirnya terdiam saat Steve mengatakan suatu hal yang membuat nya sangat terharu.....
"Rumah Masa Depan Kita" apa sayang suka?" ucap Steve yang tersenyum sambil menatap Viola.
"Tentu saja aku suka...!!!" jawab Viola yang juga tersenyum.
.
Viola yang sudah terharu dan sangat bahagia akhirnya langsung memeluk erat tubuh Steve, ia benar benar tak menyangka Steve bahkan sudah menyiapkan Rumah Masa Depan untuk nya...
"Terimakasih, apa pun dari kamu aku suka." jawab Viola dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Sungguh." tanya Steve dengan wajah yang sudah berbinar binar.
"Hemm tentu....!" jawab Viola dengan tersenyum.
Steve dan Viola mulai berciuman dengan begitu mesra, didepan Rumah Masa Depan mereka ditemani cahaya rembulan yang sangat indah.
***
Viola terus memandangi kalung yang tadi di berikan oleh Steve, ia bahagia sekaligus langsung bersedih.
Besok sore Steve akan segera kembali ke Paris lagi, ia masih harus mengurus rumah sakit peninggalan Grandpa nya itu sebelum benar benar pindah ke London.
Viola membuka laci meja rias nya untuk mencari cincin yang hampir mirip dengan kalung yang baru saja diberikan Steve. Saat Viola masih sibuk mencari, tiba tiba saja matanya tertuju pada kalung yang dulu pernah diberikan Arsen padanya.
Viola langsung mengambil kalung itu dan menatap nya, wajah yang tadinya bahagia kini langsung berubah sedih.
"Hanya kalung ini yang masih bersamaku, semua pemberian mu aku tinggalkan di Indonesia termasuk cincin pernikahan kita dulu." ucap Viola yang langsung memasukan kalung itu kedalam kotak perhiasan berwarna maroon untuk ia berikan kepada Jovanka dihari pernikahan nya.
.
..."Aku harap, setelah kalung ini aku berikan kepada Jovanka. Semoga aku benar benar bisa melupakan mu, selamanya....!" lirih Viola...
...didalam hati....
.
Tadi saat Viola berada di Mansion yang akan mereka jadikan Rumah Masa Depannya, ia sudah izin kepada Steve untuk berangkat ke Indonesia menghadiri pesta pernikahan Jovanka dan Deon.
Steve sebenarnya sangat ragu Viola datang ke Indonesia tanpa dirinya, tapi ia juga tidak bisa ikut bersama nya, karena masih harus mengikuti seminar kedokteran di Itali.
Steve takut, Viola akan kembali lagi dengan mantan suaminya. Tapi akhirnya ia percaya, karena Viola tidak mungkin melakukan itu padanya...
Viola yang sudah memejamkan matanya, tiba tiba bangun dan langsung menyenderkan kepalanya di sandaran tempat tidur.
Ia teringat pertemuan nya dua Minggu yang lalu dengan Max di Restoran Steak.
.
Flashback On,
Viola yang baru saja masuk kedalam Restoran Steak bersama Dokter Catherine, tiba tiba saja ditabrak oleh seorang pria sampai membuatnya hampir jatuh terhuyung, tapi dengan sigap pria itu langsung saja menangkap tubuh Viola.
"Ah...Maaf, saya terburu buru." ucap Pria itu yang ternyata adalah Max.
Viola yang sudah menatap wajah Max, hanya bisa mengerutkan dahinya.
"Max...?" ucap Viola dengan tatapan terkejutnya.
Max yang merasa familiar dengan suara wanita yang tengah berdiri didepannya, sontak saja langsung mengangkat wajahnya...
"Nyonya Viola." jawab Max dengan tatapan yang tak kalah terkejutnya.
"Ya ini aku, sedang apa kamu di sini." tanya Viola dengan tatapan menyelidik kepada Max.
"Aku sedang Honeymoon bersama Istriku." jawab Max dengan tatapan malu malu nya.
"Hah.... Benarkah?? Manusia besi seperti mu akhirnya menikah juga, kalo gitu selamat ya Max." ucap Viola yang sudah tersenyum.
"Nyonya, apa anda sibuk, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan kepada Nyonya." tanya Max dengan tatapan penuh harap kepada Viola.
Viola yang melihat Max dengan wajah penuh harap nya, akhirnya mengiyakan permintaan Max. Ia menjadi tidak enak dengan Dokter Catherine karena terpaksa meninggalkan nya, tapi Dokter Catherine sangat memakluminya.
.
Viola dan Max kini tengah duduk disebuah Coffee Shop, Max mulai menjelaskan semua yang telah terjadi dengan Arsen setelah kepergiannya.
Tapi Viola tetap dengan raut biasa saja, ia sudah berjanji untuk tidak lagi mempedulikan apapun tentang Arsen.
"Nyonya, Tuan Arsen benar benar sangat menderita setelah kehilangan anda." ucap Max.
"Max, panggil saja namaku. Aku bukan lagi Nyonya mu." jawab Viola.
"Hem... Baiklah kalo begitu, tapi Viola tuan Arsen sudah lama mencari keberadaan mu. Sayangnya sampai dengan hari ini ia masih belum bisa menemukan mu, karena Tuan Antonio menyembunyikan mu dengan begitu hebat." ucap Max.
"Max maaf, tapi apa pun yang kamu katakan tentang Arsen aku sudah tidak peduli. Karena ia bukan lagi urusanku." jawab Viola yang langsung menekan kan kata tidak peduli lagi dengan Arsen kepada Max.
"Hem... Ya, itu adalah hak Nyonya, aku hanya menjelaskan saja. Aku sangat paham, kesalahan Tuan Arsen sudah sangat kelewatan." ucap Max.
"Max aku mohon, jangan beritahu Arsen jika aku berada di negara ini. Aku sekarang sudah punya tunangan, 6 bulan lagi aku dan tunangan ku akan menikah. Jadi aku mohon jangan ganggu lagi kehidupan ku, aku sudah bahagia sekarang." jawab Viola yang langsung menjelaskan dengan to the poin kepada Max.
"Baiklah Viola." ucap Max dengan tatapan lesu nya.
•
•
•
•
** TBC **