
Hari ini Arsen dan Max akan segera pulang ke Jakarta, urusan pekerjaan di Lombok telah selesai. Jade ikut mengantar mereka sampai kedepan loby hotel, lalu memeluk kedua sahabatnya itu.
"Aku pasti akan merindukan kalian, saat aku menikah nanti kalian harus datang, ingat itu." ucap Jade.
"Akan di pertimbangkan." jawab Arsen.
"Yang pasti cepatlah menikah, jangan buat dosa terus." jawab Max ketus.
"Jika kau juga sudah punya kekasih, pasti juga akan sepertiku. Hahaha...!" ledek Jade.
"Tidak akan, aku akan menikah dulu. Baru melakukan hal itu, bukan sepertimu." jawab Max.
"Hah sudahlah, kenapa kalian berdua malah saling ber argument." ucap Arsen.
"Ya itu karena dia duluan yang menggangguku." jawab Jade.
"Kau juga meledekku." ucap Max.
"Kalian bisa berhenti gak, dan kau Jade jangan hanya wanita yang diurus. Jika ada masalah di perusahaan cabang cepat selesaikan, jangan malah menunggu aku dan Max baru selesai semuanya." ucap Arsen.
"Iya, pasti lain kali aku yang akan mengurusnya." jawab Jade.
"Kami jalan sekarang." ucap Max.
"Iya hati hatilah." jawab Jade.
"Hem..." ucap Max.
***
Viola yang berada di klinik kecantikan Violett benar benar tidak bersemangat hari ini, dia sudah sangat merindukan suami tercintanya.
Arsen sudah tiga hari berada di Lombok, hampir setiap malam Viola kesusahan untuk tidur sendiri. Sudah satu tahun mereka menikah, dan Arsen selalu disisinya setiap malam.
Tok...Tok...Tok...! Suara pintu ruangan kerja Viola diketuk.
"Masuk saja, tidak dikunci." ucap Viola.
"Mba Vio, dibawah ada seorang wanita yang datang mencari mba." ucap Seri, seorang resepsionis di klinik Violett, klinik kecantikan milik Viola sendiri.
..."Seorang wanita, siapa itu." gumam Viola dalam hati....
"Oh oke, suruh dia tunggu sebentar." ucap Viola.
"Baik mba." jawab Seri yang langsung keluar dari ruangan Viola.
.
Viola yang baru saja turun dari ruangannya, langsung berjalan dengan anggunnya menuju ruang tunggu.
Viola mulai mengerutkan dahinya, saat melihat seorang wanita yang sedikit lebih dewasa darinya tengah duduk dan tersenyum kepadanya.
"Dengan ibu Viola?" tanya wanita itu.
"Iya saya sendiri, anda siapa ya?" jawab Viola.
"Maaf sudah mengganggu waktu ibu, perkenalkan saya Haico dari Sky Hyarn property." ucap wanita yang bernama Haico itu.
"Oh ya, ada perlu apa? Silahkan duduk lagi." jawab Viola.
"Saya kesini, ingin meminta ibu tanda tangan di berkas ini." ucap Haico lalu menyerahkan berkas tanda tangan.
"Tunggu dulu, ini berkas apa?" tanya Viola.
"Kami akan menyerahkan kunci rumah ibu, silahkan tanda tangan dulu." ucap Haico.
"Rumah?" jawab Viola.
"Iya Bu." ucap Haico tersenyum.
"Tapi saya tidak pernah memesan, bahkan membeli rumah." jawab Viola yang semakin bingung.
"Tapi disini tertera nama Viola Arabella Kendrich, betul kan itu nama ibu?" tanya Haico.
"Hah, iya itu betul namaku. Tapi aku tidak membeli rumah." jawab Viola.
"Oh bagaimana bisa, ini rumah sudah menjadi hak milik ibu. Karena sudah dibayar secara cash." ucap Haico.
"What cash? Bisakah aku tauh siapa yang telah membayar nya?" jawab Viola.
"Tentu ibu Viola, ini datanya." ucap Haico lalu memberikan data si pembeli.
Viola segera mengambil berkas itu dan membacanya, tapi tak berapa lama Viola langsung saja mengeluarkan suaranya dengan mata yang melotot.
"Arsen Bastian Lee?" ucap Viola, yang langsung menutup mulutnya dengan tangan tak percaya.
"Betul sekali ibu Viola." jawab Haico.
"Tunggu sebentar, aku akan menelpon dulu." ucap Viola.
"Baik Bu." jawab Haico.
.
Tut...Tut...Tut... Suara panggilan telepon dari Viola, yang tak berapa lama akhirnya panggilan itu mulai tersambung.
"Hallo Oppa." ucap Viola.
"Hem..." jawab Arsen dengan begitu santainya.
"Bisakah kau jelaskan semuanya." ucap Viola.
"Jadi benar Oppa yang membeli rumah ini." ucap Viola.
"Telepon lagi nanti, aku sedang sibuk sekarang." jawab Arsen yang langsung mematikan ponselnya.
"Oppa.... Aish." ucap Viola yang sangat kesal, karena Arsen tiba tiba saja mematikan teleponnya.
"Bagaimana ibu." ucap Haico.
"Iya sudahlah, dimana aku harus tanda tangan." jawab Viola.
"Disini ibu, semuanya." ucap Haico yang langsung memberikan beberapa kertas kepada Viola
.
Arsen yang sudah berada di apartemen, kini langsung membaringkan tubuhnya dengan tersenyum senang.
"Aku yakin, sekarang dia pasti tengah mengumpat ku." ucap Arsen dengan senyum indah nya.
******
Viola yang sudah pulang bekerja, langsung saja menekan door lock pin unit apartemen nya. Saat sudah berada didalam, semua lampu di setiap ruangan gelap gulita.
"Hah, kenapa gelap sekali. Bukankah tadi pagi, aku hidupkan semua lampunya." ucap Viola.
Viola mulai berjalan pelan pelan dengan dibantu cahaya dari ponselnya, saat tangannya hampir sampai di stop kontak. Lampu sudah menyala semuanya, saat Viola mulai berbalik Arsen tengah berdiri dengan senyuman manisnya.
"Oppa?" ucap Viola yang terkejut sekaligus senang.
"Apa kamu tetap akan berdiri disitu tanpa memeluk suamimu ini." jawab Arsen dengan wajah sedihnya.
"Tentu tidak, karena aku akan segera memelukmu, aku sangat rindu suamiku ini." ucap Viola yang langsung memeluk erat Arsen.
"Aku juga merindukan sayangku ini, selama aku tidak ada apa tidurmu nyaman." jawab Arsen.
"Sangat tidak nyaman, Oppa kapan kamu sampai?" tanya Viola.
"Sebenarnya dari tadi siang, tapi aku baru pulang keapartemen sore ini." jawab Arsen.
"Ohh, bisakah sekarang jelaskan tentang rumah yang Oppa beli?" ucap Viola.
"Itu Rumah Baru kita, dan surat-surat nya memang atas namamu. Karena aku memberikannya untuk sayangku ini." jawab Arsen lalu langsung saja mencubit gemas pipi Viola.
"Aduh, sakit banget tauh." ucap Viola yang langsung mengelus pipinya.
"Kamu nya sih, gemesin banget." jawab Arsen yang sudah tertawa senang.
"Apaan sih, jadi kita akan segera pindah ke Rumah Baru dan meninggalkan apartemen ini?" tanya Viola.
"Hem tentu." jawab Arsen.
"Ohh... Begitu." ucap Viola.
"Sekarang saatnya kita berbagi keringat." ucap Arsen dengan senyum nakalnya.
"Hah berbagi keringat, maksudnya?" jawab Viola bingung.
"Ikut saja, nanti juga tauh." ucap Arsen yang sudah tersenyum begitu menggoda.
Arsen langsung menggendong Viola menuju kamar tidur mereka, sedangkan Viola, wajahnya kini sudah memerah bagaikan tomat saat mulai mengerti dengan apa yang akan Arsen lakukan selanjutnya...
***
Disebuah kafe yang berada cukup jauh dari kota Jakarta, Tere dan Bian tengah duduk berdua dan diam satu sama lain.
Sampai akhirnya Bian pun memulai pembicaraan mereka...
"Re, aku rasa kita gak perlu melanjutkan hubungan kita." ucap Bian.
"Apa?" jawab Tere yang benar benar sangat terkejut dengan apa yang barusan dikatakan Bian.
"Maaf Re, aku juga gak pernah menyangka, bisa terjadi seperti ini." ucap Bian.
"Apa maksud kamu Bian?" jawab Tere yang sudah hampir menangis.
"Re, aku menghamili wanita lain. Dan wanita itu adalah mantanku dulu, aku harus bertanggung jawab Re. Anakku membutuhkan aku." ucap Bian.
"Bian kamu, kamu benar benar keterlaluan, dasar brengsek?" jawab Tere yang akhirnya benar benar menangis.
"Re maaf, maafkan aku." ucap Bian yang kini mengelus rambut Tere, tapi Tere langsung saja menghempaskan tangan Bian.
"Baiklah kita putus, jangan lagi sentuh aku dengan tangan kotor mu itu." jawab Tere yang kini langsung pergi meninggalkan Bian.
Bian kini menangis, dia pun juga sama terluka nya seperti Tere.
•
•
•
•
•
•
** Hallo semuanya, maaf ya baru bisa up sekarang. Author benar benar sedang sibuk sibuknya di dunia nyata. Tapi sekarang author sudah kembali lagi kedunia haluu. Tetap dukung author ya, bantu like, komentar dan vote ya. See you all ❤️