Oppa Lee I Love You

Oppa Lee I Love You
Apa Masih Ada Ruang Di Hatimu Untuk Ku



Sandra yang baru saja keluar dari kamar nya terus tersenyum dengan bahagianya, ia berjalan dengan sangat anggun dan cantik menuju ruang makan.


Sandra yang melihat mama, papa dan kakak nya sudah duduk di meja makan langsung saja menyapa nya.


"Pagi Mamaku yang cantik, Papaku yang tampan, dan Kakak ku yang paling tampan sedunia." ucap Sandra dengan senyuman indah nya.


"Pagi juga gadis cantik nya Papa." jawab Papa Joon.


"Nih anak gadis kok tumben, udah rapi saja. Biasanya mesti di bangunin pake teriak teriak dulu, baru akan bangkit." celetuk mama Gina.


"Iya bagus dong Ma, jika Sandra sudah mulai berubah." jawab Papa Joon.


"Iya nih, mama tuh harus nya kasih semangat pagi sama Sandra. Karena mulai hari ini Sandra akan mengambil hati pria yang sudah lama Sandra sukai." ucap Sandra dengan wajah merona nya.


"Memang nya ada dokter tampan ditempat kerjamu. Begitu...?" tanya Mama Gina.


"Bukan dokter, mama gak perlu tahu sekarang. Karena jika sudah Sandra dapatkan hatinya, bakalan Sandra kasih tahu kok." jawab Sandra yang sudah mulai mengunyah makanan nya.


"Iya sudah, cepat habiskan sarapan mu dan pergi lah ke rumah sakit, kalo mu masih saja bersantai nanti bisa terlambat." ucap Mama Gina.


"Oke siap." jawab Sandra yang langsung membentuk bulatan pada ibu jari dan telunjuknya secara bersamaan.


Sedangkan Arsen yang hanya bisa mendengarkan semua pembicaraan Mama dan adik nya tanpa bisa melihat, ia pun berpura pura seakan tidak peduli.


"Aduh kenyang banget nih." ucap Sandra sambil memegangi perutnya.


"Kamu itu anak gadis kok gak ada anggun anggun nya sih Sandra." lirih mama Gina.


"Sandra berangkat dulu ya ma, pa, kak Arsen." ucap Sandra.


"Iya hati hati dijalan, jangan ngebut." jawab Papa Joon dan Mama Gina bersamaan.


Arsen masih saja diam, tanpa menjawab perkataan dari adik nya itu. Mama Gina yang melihat Arsen selalu begitu, hanya bisa menghela nafasnya.


"Arsen hari ini kamu ada jadwal kontrol ke rumah sakit kan? Jadi bersiaplah mama akan pergi bersama mu." ucap Mama Gina.


"Hem..." jawab Arsen dengan singkat saja.


Tak berapa lama papa Joon pun bergegas pergi meninggalkan rumah untuk segera berangkat ke kantor.


*


*


*


Sandra yang kini sudah berada di ruangan kerja nya, sibuk berdandan merapikan makeup dan setelan kerja yang menurutnya belum terlihat rapi.


Saat masih asyik dengan dunianya sendiri, tiba tiba saja pintu ruangannya di ketuk dari luar.


Tok...tok...tok!!


"Iya siapa?" ucap Sandra.


"Permisi dokter Sandra, pasien anak yang bernama Xavier di ruang rawat 108 akan pulang hari ini. Apa dokter akan memeriksa keadaan nya terlebih dahulu sebelum dia pulang?" tanya suster Jehan.


"Oh baiklah, saya akan segera kesana. Suster Jehan, pergi saja duluan." jawab Sandra.


"Baiklah dok, saya permisi." ucap suster Jehan.


"Oke." jawab Sandra yang langsung bersiap untuk segera pergi dari ruangan nya.


.


Sandra yang berjalan dengan terburu-buru menuju ruang perawatan VVIP no. 108, tiba tiba saja menabrak seseorang sampai membuat nya oleng dan hampir saja terjatuh.


Beruntung saja, seseorang yang ditabraknya itu langsung reflek menahan nya agar tidak terjatuh.


"Ah terimakasih, maaf aku benar benar terburu buru." ucap Sandra.


"Oh tidak apa apa, dokter Sandra." jawab pria yang sudah Sandra tabrak barusan.


"Apa anda mengenal saya." jawab Sandra.


"Tidak, kalo begitu perkenalkan saya dokter Erick. Dokter spesialis anak yang akan ditugaskan di rumah sakit ini." ucap pria yang ternyata bernama Erick dan berprofesi sama dengan Sandra.


"Oh astaga, maafkan saya dokter. Saya sampai tidak tahu, apa dokter Erick senior saya." Jawab Sandra yang langsung merasa tidak nyaman.


"Tidak ada junior dan senior, semua dokter tetap sama." ucap dokter Erick dengan tersenyum.


"Baiklah kalo begitu saya pamit dulu dok, karena harus memeriksa pasien." jawab Sandra.


"Sama sama dokter." jawab Sandra yang langsung berlalu pergi.


*


*


*


Sandra telah selesai memeriksa keadaan Xavier, dan Xavier memang sudah bisa di perbolehkan untuk pulang ke rumah.


Aidan yang tengah merapikan semua barang barang Xavier agar tidak ketinggalan, kini hanya bisa terdiam saat Sandra mengatakan ingin bicara hal pribadi dengan nya.


"Kak Aidan, apa aku boleh bicara hal pribadi sebentar dengan mu." tanya Sandra.


"Baiklah, kita bicara di luar saja." jawab Aidan.


Sandra dan Aidan kini berada di kursi taman samping ruang perawatan Xavier, saat sudah berada disana ia tiba tiba sangat gugup dan terus saja terdiam.


"Apa yang mau kamu bicarakan." tanya Aidan.


"Kak, aku. Emm... Aku." jawab Sandra dengan terbata bata karena begitu gugup nya.


"Ada apa, katakan saja." ucap Aidan.


Dengan segala keberanian yang kini menyelimuti hatinya, akhirnya Sandra memberanikan diri untuk langsung mengatakan nya.


"Apa Masih Ada Ruang Di Hatimu Untuk Ku, kak Aidan." lirih Sandra yang tengah menatap kearah Aidan.


Aidan benar benar sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Sandra.


"Sandra, kau jangan bercanda. Apa maksudnya perkataan mu itu." jawab Aidan.


"Aku tidak sedang bercanda kak, aku menyukai kak Aidan, bahkan sejak dari pertama kali mengenal kakak." ucap Sandra.


Aidan semakin terkejut mendengar perkataan yang keluar begitu saja dari mulut Sandra.


"Apa...???" jawab Aidan yang semakin terkejut.


"Iya kak, aku menyukai Kakak. Apa kakak mau menerima ku." ucap Sandra dengan tatapan memohon.


"Maaf Sandra, tapi kakak tidak bisa." jawab Aidan yang kini sudah mengurut pangkal hidungnya karena benar benar sangat shock dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Kenapa kak? Apa aku tidak cantik, apa aku begitu buruk di mata Kak Aidan?" ucap Sandra dengan mata yang sudah mulai mengembun.


"Tidak bukan begitu, hanya saja kakak yang belum bisa melupakan almarhumah istri kakak, cinta kakak masih utuh untuk nya. Lagipula kakak sudah menganggap kamu sebagai adik kakak sendiri, kakak tidak bisa memberikan lebih dari itu Sandra. Maaf..." jawab Aidan menjelaskan dengan tegas.


"Oh baiklah, aku mengerti." ucap Sandra lalu langsung bergegas pergi meninggalkan Aidan.


Aidan hanya bisa terdiam, melihat Sandra yang langsung meninggalkan nya pergi begitu saja.


"Astaga mengapa semuanya jadi seperti ini, mengapa Sandra tiba tiba saja menyatakan perasaannya padaku." ucap Aidan sambil mengusap wajah nya kasar.


Sedangkan Sandra kini sudah berada di ruangan kerja nya sambil memegangi kepalanya yang tiba tiba terasa pusing.


"Kak Aidan jahat, aku benci kak Aidan. Ini benar benar memalukan, sungguh aku sudah di tolak." lirih Sandra yang mulai menangis.


.


Aidan yang tengah fokus mengemudikan mobilnya dengan wajah datar karena masih memikirkan kejadian barusan, tiba tiba saja tersenyum saat mendengar perkataan menggemaskan dari sang putra.


"Papa, ayo beli es krim yang sangat banyak, Xavier ingin memakannya sampai habis karena Xavier haus." ucap Xavier dengan wajah nya yang begitu menggemaskan.


"Jika haus seharusnya meminum air putih saja sayang, bukan malah memakan es dengan sangat banyak, es krim tidak akan membuang rasa haus." jawab Aidan yang lagi lagi tersenyum.


"Tapi air putih tidak ada rasa Papa, Xavier ingin makan yang manis." ucap Xavier.


"Baiklah, ayo kita pergi membeli nya. Tapi tidak boleh terlalu banyak ya sayang, secukupnya saja, ingat tidak baik berlebih lebihan dan akhirnya menjadi mubazir." jawab Aidan menjelaskan.


"Baik Papa, Papa memang terbaik." jawab Xavier yang langsung memeluk Aidan.


*


*


*


Bersambung...


.