
Sudah tiga hari ini Arsen selalu pulang larut malam, padahal sebelumnya ia tidak pernah melakukannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, Viola yang kelelahan karena selama tiga hari ini selalu menunggu Arsen pulang larut malam akhirnya ketiduran.
Arsen yang baru saja pulang, langsung memarkirkan mobilnya dan segera masuk kedalam rumah.
Saat pintu kamar dibuka, Arsen melihat Viola yang tertidur di sofa dalam kamar. Ia mulai berjalan mendekati Viola dan mencium keningnya...
"Kenapa malah tidur disini." lirih Arsen sambil merapikan rambut Viola yang menutupi wajahnya.
Viola yang mulai terganggu karena tangan Arsen langsung membuka matanya.
"Oppa udah pulang?" tanya Viola yang langsung duduk dan mengucek mata nya.
"Hemm, kamu kenapa tidur disini?" jawab Arsen.
"Aku kan menunggu Oppa." ucap Viola.
"Lain kali tidak usah menunggu, jika kamu mengantuk tidurlah duluan." jawab Arsen yang langsung berdiri dan hendak melangkah ke kamar mandi.
"Kenapa sekarang Oppa selalu pulang malam?" tanya Viola.
"Aku lembur." jawab Arsen singkat.
"Tapi biasanya Oppa tidak pernah lembur." ucap Viola.
"Kamu jangan banyak tanya." jawab Arsen dengan menaikkan bariton suaranya.
"Kenapa harus marah, aku kan cuma bertanya." ucap Viola.
"Ah sudahlah, lebih baik sekarang kamu kembali tidur." jawab Arsen lalu langsung masuk kedalam kamar mandi.
"Oppa sebenarnya kenapa sih, tidak biasanya dia begitu. Huhh, terserah lah, mending aku tidur." ucap Viola yang langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
.
Arsen yang sudah keluar dari kamar mandi, melihat Viola yang sudah kembali tidur. Perasaan bersalah mulai menyelimuti hatinya, hubungan nya dan Aline kini sudah terlalu jauh...
"Hah... Lenguh Arsen yang menghembuskan nafas kasarnya..
***
Pagi menyapa, matahari telah menampakkan sinar nya.
Viola yang sudah bangun dari tadi, saat ini sedang membantu Bi Mina menyiapkan makanan.
"Biar bibi aja Nyonya." ucap Bi Mina.
"Gapapa lah Bi, Vio sekalian belajar juga." jawab Viola.
"Nyonya Vio udah cantik, baik hati juga. Bibi makin betah kerja di sini." ucap Bi Mina.
"Makasih pujian nya Bi Mina." jawab Viola.
"Sarapan nya udah siap semua Nyonya." ucap Bi Mina.
"Oke Bi, Vio mandi dulu sudah itu baru sarapan." jawab Viola.
"Baiklah Nyonya." ucap Bi Mina.
.
Viola yang sudah masuk kedalam kamar melihat Arsen masih lelap tertidur, langsung saja ia naik ke atas tempat tidur untuk menggoda suaminya itu.
Viola menciumi seluruh wajah Arsen untuk membangunkan nya, Arsen yang merasakan geli akhirnya membuka mata.
"Yah akhirnya Oppa bangun juga, ayo cepat bangun terus kita sarapan." ucap Viola.
"Sayang, kamu aja sarapan duluan. Aku masih ngantuk." jawab Arsen.
"Emang Oppa gak kerja, ini tuh udah jam 07.00 lho." ucap Viola.
"Kerja sayang, baru juga jam 07.00 masih pagi nih. Jam kantor suami mu tuh jam 09.00 sayang." jawab Arsen.
Viola yang tidak peduli, akhirnya menindih tubuh Arsen, dan memaksa membuka piyama tidur yang di kenakan nya.
"Sayang ngapain sih." ucap Arsen yang kini menggenggam tangan Viola.
Viola tidak menjawab ucapan Arsen, dan malah mencium bibirnya. Arsen hanya bisa terdiam dan menikmati setiap sentuhan lembut dari istrinya itu...
"Udah hilang kan sekarang ngantuk nya, ayo cepat bangun." ucap Viola dengan tersenyum lalu beranjak bangun dari atas tubuh Arsen.
Arsen yang sudah sangat menginginkan nya, tidak membiarkan Viola pergi begitu saja. Ia langsung menarik tangan Viola.
"Ah...!" teriak Viola yang terkejut karena Arsen tiba tiba menariknya.
"Udah buat junior ku bangun, terus mau pergi gitu aja. Hmmm tidak bisa." ucap Arsen yang langsung melepaskan seluruh pakaian istri nya itu.
***
Viola dan Arsen kini sudah menikmati sarapan, mereka makan dengan begitu lahap nya. Harap maklum, kan keduanya baru saja selesai olahraga pagi. Hehehe.... 😆
"Vitamin penyubur kandungan yang diberikan Dokter Nadia udah habis, nanti sore Oppa pulang cepat ya, kita kerumah sakit." ucap Viola.
"Iya..." jawab Arsen singkat, lalu segera bangun dari duduknya dan naik lagi ke kamar.
"Pagi Nyonya." sapa Max.
"Oh pagi juga Max, kamu sudah sarapan." jawab Viola.
"Sudah barusan saja." ucap Max.
"Oh." jawab Viola.
"Apa tuan Arsen sudah bersiap?" tanya Max.
"Sudah, tunggu aja bentar lagi paling dah turun." jawab Viola.
"Hmmm baiklah, aku tunggu saja." ucap Max dengan tersenyum.
Hampir dua puluh menit berlalu, Arsen belum juga turun dari kamarnya. Viola yang kesal menunggu, akhirnya menyusul keatas.
"Max, aku keatas dulu ya." ucap Viola.
"Baiklah Nyonya." jawab Max.
Viola menaiki tangga dengan terus menggerutu dan mengomel, ia benar benar jengkel dengan Arsen.
.
..."Oppa ngapain aja sih dikamar, gak biasanya turun lama lama gini." gumam Viola didalam hati....
.
Viola yang sudah sampai di depan kamar, langsung masuk dan mencari nya, tapi ternyata Arsen malah tidak berada dikamar.
"Kemana Oppa." ucap Viola yang sudah bingung mencari Arsen.
Viola yang sudah berkeliling setiap ruangan mencari Arsen, akhirnya mendengar suaranya di ruang kerja.
"Oh ternyata dia di sini." seru Viola yang sudah tersenyum.
Viola yang sudah memegang gagang pintu ruang kerja Arsen, langsung saja membukanya. Arsen yang terkejut dengan kedatangan Viola, langsung saja memutuskan sambungan teleponnya.
"Malah asyik telepon disini, Max udah datang tuh. Ayo turun, aku ikut mobil Oppa aja." ucap Viola.
"Hmmm iya, turun lah duluan. Nanti aku nyusul." jawab Arsen.
"Cepet, awas kalo lama lagi." ucap Viola dengan melototkan matanya.
"Iya." jawab Arsen.
Saat Viola sudah pergi, Arsen langsung mematikan daya ponselnya. Ia belum siap jika Viola harus mengetahui hubungan nya dengan Aline saat ini...
***
Viola yang sudah sampai di klinik nya, bersiap untuk segera turun. Tapi Arsen malah sibuk memainkan ponselnya, dan tidak mempedulikan Viola.
"Oppa gak turun dulu." tanya Viola.
"Gak sayang, aku harus cepat datang ke kantor, sebentar lagi akan ada pertemuan dengan perusahaan Shine." jawab Arsen.
"Ohh ya udah, aku turun." ucap Viola.
"Iya." jawab Arsen singkat dan balik lagi menatap layar ponselnya...
Viola turun dari mobil dan membanting pintu nya dengan keras, rasa kesal dan jengkel terhadap Arsen kian menyelimuti hatinya.
Arsen yang bingung melihat Viola, hanya bisa terdiam tanpa mau bertanya.
"Max kita jalan sekarang." pinta Arsen.
"Baiklah." jawab Max.
Saat mobil Arsen sudah benar benar pergi dari Klinik Violett, Viola yang kesal langsung saja menendang pot tanaman di teras klinik sampai pecah dan berhamburan.
.
..."Aduh kenapa harus pecah sih, padahal tendangan ku tadi gak begitu kuat." gumam Viola didalam hati....
.
Viola langsung merapikan pot yang sudah pecah itu dan membuang nya di tempat sampah.
Pikiran Viola malah menjadi kacau, ia merasa Arsen kini sudah berbeda dan Tidak Seperti Biasanya...
"Kenapa sekarang Oppa berbeda, bahkan ia juga tidak mencium ku, benar benar Tidak Seperti Biasanya. Tidak mungkin kan jika tadi dia lupa, hah.... " lirih Viola.
•
•
•
•
** TBC **