Oppa Lee I Love You

Oppa Lee I Love You
Kemarahan Sean



Acara dirumah Sean sudah mulai bubar, jam sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB.


Dad Antonio, Mom Ariana, Sashi, Papa Joon, Mama Gina, Sandra dan Aidan masih bersenda gurau dengan canda tawa. Hanya Sean yang merasa tidak tenang dan terus kepikiran Viola.


.


..."Kenapa Viola dan Arsen tidak datang lagi kesini, apa mereka berdua sudah pulang." ucap Sean didalam hati....


.


"Kamu ngapain bengong aja, ayo kita main." ucap Dad Antonio yang mengajak Sean untuk main catur bersama.


Sedangkan Aidan main catur bersama dengan Papa Joon, ia mulai gelisah kenapa Viola belum juga kembali ke sini.


"Aidan, kamu tinggal dimana selama ada diJakarta?" tanya Papa Joon.


"Saya tinggal di apartemen Tuan Lee." jawab Aidan dengan tersenyum begitu manisnya.


"Jangan panggil Tuan, Aidan panggil saja Om sama seperti Sean." jawab Papa Joon.


"Emm... Baiklah Om." ucap Aidan


"Oh... Jadi kamu akan memilih tinggal di apartemen mu, dari pada dirumah temanmu sendiri." ucap Sean yang tak rela jika Aidan sahabat baiknya yang sudah lama tak bertemu ini memilih tinggal di apartemen.


"Aku lumayan lama berada di Indonesia, jadi kita masih bisa terus bertemu." jawab Aidan yang lagi lagi tersenyum dengan begitu manisnya.


Sandra yang memang sudah sangat terpesona dengan wajah tampan Aidan, kini semakin bertambah panas saat melihat senyuman manisnya.


.


..."Astaga Mas tampan jangan senyum terus gitu lah, sangat gak baik buat jantung adek yang terus menerus berdebar ini." ucap Sandra didalam hati, yang terus memperhatikan Aidan dengan tersenyum juga....


.


Mama Gina yang melihat Sandra terus menerus senyum sambil memperhatikan Aidan, langsung mencolek bahunya.


"Apaan sih Ma." ucap Sandra dengan tatapan kesalnya.


"Kamu ngapain senyum senyum terus sama Aidan, jadi perempuan tuh jangan terlalu ketara kalo suka, ntar pria malah ilfil." jawab Mama Gina berbisik di telinga Sandra.


"Iya gapapa lah Ma, emang kenyataan kalo Sandra suka sama Aidan." jawab Sandra cengengesan.


"Dasar anak ini." ucap Mama Gina dengan begitu kesalnya.


"Huhhh.... Mama tuh yg apaan." jawab Sandra yang masih saja terus mengomel.


Saat semuanya masih asyik bercerita, tiba tiba ponsel Aidan berdering.


"Maaf semuanya, saya permisi sebentar." ucap Aidan yang langsung berlalu pergi menuju taman belakang rumah Sean.


"Iya, setelah angkat telepon, ayo kita main catur lagi." jawab Papa Joon yang malah membuat semuanya tertawa terbahak bahak.


Sean tadi melihat raut wajah Aidan yang langsung berubah saat panggilan dari ponselnya tadi.


.


..."Sepertinya ada yang tidak beres, aku sangat yakin." ucap Sean didalam hati....


.


"Aku ke dapur dulu Dad, nanti kita sambung lagi main catur nya." ucap Sean yang langsung bangkit dari sofa ruang tengah rumah nya meninggalkan Dad Antonio yang malah lanjut main catur lagi dengan Papa Joon.


Sean hanya beralasan saja ke dapur, ia malah terus mencari Aidan di setiap sudut rumah nya.


"Aish... Mana sih Aidan." kesal Leon.


Sean pergi ke taman belakang rumahnya, akhirnya ia melihat Aidan yang tengah duduk sambil menjambak rambut nya.


"Bagaimana bisa Kakak hanya diam melihat kamu seperti saat ini Viola, cepat atau lambat Tuan Antonio dan semua keluargamu pasti akan tahu." ucap Aidan yang sudah menitikkan air matanya.


"Kak Aidan janji dulu jangan kasih tahu siapapun jika aku dirumah sakit apalagi memberitahukan keadaan Vio saat ini, Vio percaya Kak Aidan." jawab Viola.


"Baiklah Kakak janji, sekarang kamu berada dirumah sakit mana?" tanya Aidan.


"Viola di Rumah Sakit Elisabeth." jawab Viola.


"Baiklah, sekarang Kakak akan melihat mu kesana." ucap Aidan yang langsung mematikan sambungan teleponnya.


Tanpa Aidan sadari, jika Sean sudah dari mengepalkan erat genggaman tangannya. Ia mendengar kan semua pembicaraan Aidan dan Viola, saat Aidan sudah membalikan badannya, ia sangat terkejut melihat Sean yang sudah tegak berdiri menatap nya tajam.


"Sean, sejak kapan kamu disini?" tanya Aidan yang sudah tidak nyaman.


"Apa yang terjadi dengan Adikku." jawab Sean dengan dengan tatapan tajamnya.


"Viola bertengkar dengan suaminya dan sampai tak sadarkan diri, sekarang ia berada di Rumah Sakit Elisabeth." ucap Aidan dengan tatapan sedihnya, lalu langsung menundukkan wajahnya.


"Iya, ayo kita sekarang berangkat kesana. Tapi aku mohon, jangan beritahu dulu kedua orang tuamu, itu keinginan Viola." ucap Aidan.


"Bagaimana bisa, kedua orang tuaku tidak diberi tahu, ini masalah serius." jawab Sean.


"Viola bilang ia belum sanggup, jika Tuan Antonio dan Nyonya Ariana tahu keadaan nya sekarang." ucap Aidan.


"Hah ya sudah, ayo kita pergi." jawab Sean yang langsung berlalu pergi bersama Aidan.


Saat Aidan dan Antonio keluar dari dapur bersama, semua memerhatikan mereka.


"Darimana kalian berdua?" tanya Mom Ariana.


"Biasa Mom pembicaraan lelaki." jawab Sean.


"Tuan Antonio, Nyonya Ariana, Tuan Lee, Nyonya Lee, hmmm....??" ucap Aidan yang bingung nama istri Sean, tetapi Sandra malah yang salah sangka.


"Sandra, nama saya Sandra." ucap Sandra yang langsung mengulur kan tangan nya untuk berkenalan dengan Aidan.


"Ohh ya ya Sandra." jawab Aidan yang langsung menangkupkan kedua telapak tangan nya sebagai jabat tangan dalam agama Islam.


"Iya Sandra." ucap Sandra yang langsung menarik uluran tangan nya karena merasa tidak enak karena Aidan membalas nya dengan menangkupkan kedua tangan.


"Mom, Dan, Om, Tante. Aku ada urusan sebentar bersama Aidan, kami pergi dulu." ucap Sean.


"Kalian mau kemana?" tanya Dad Antonio.


"Mau keapartemen Aidan sebenar aja Dad." jawab Sean.


"Oh ya sudah, cepatlah kembali." ucap Dad Antonio.


"Iya Dad." jawab Sean.


"Assalamualaikum." ucap Aidan dan Sean bersamaan.


Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab semuanya.


***


Sean dan Aidan sudah berada didalam mobil menunju Rumah Sakit Elisabeth.


Hampir 45 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di Rumah Sakit Elisabeth.


Sean dan Aidan langsung menuju pusat informasi untuk mengetahui dimana Viola dirawat.


Saat Sean dan Aidan sudah berada didepan ruang VVIP tempat Viola dirawat, Sean langsung saja masuk kedalam tanpa mengetuk dulu.


Saat Sean dan Aidan sudah didalam, mereka melihat Viola yang berbaring di atas brankar, tetapi ia malah bersama seorang pria asing, bukan Arsen.


"Dek, apa yang terjadi sama kamu." tanya Sean yang sudah mendekati Viola, terlihat dengan jelas bibir Viola yang luka, lehernya pun juga memar.


"Kak, Vio minta jangan beri tahu Dad dan Mom jika keadaan Vio seperti ini." jawab Viola yang sudah meneteskan air matanya.


"Arsen yang melakukannya?" tanya Sean dengan tatapan sendu nya kepada Viola, tetapi genggaman erat tangannya memperlihatkan buku buku jarinya yang memerah.


"Kak, sebenarnya rumah tangga Vio dan Arsen sudah gak bisa dipertahankan lagi, tapi Vio baik baik aja sekarang." jawab Viola meyakinkan Sean.


"Dasar brengsek, sialan. Kakak akan beri pelajaran sama Arsen, Kakak gak rela dia memperlakukan kamu seperti ini Vi. Kamu pasti tahu dimana dia sekarang?" tanya Sean dengan penuh kemarahan.


"Viola gak tahu Kak, Vio pingsan dijalan dan Dokter Steve yang udah bawah Vio kerumah sakit ini." jawab Viola menoleh kearah Dokter Steve.


"Terimakasih Dokter Steve, udah bantuin adik saya." ucap Sean.


"Sama sama." jawab Dokter Steve dengan tersenyum kecut.


"Kemarahan Sean" benar benar sudah sangat meledak, ia akan tetap menghajar Arsen karena itu sudah menjadi janjinya dulu jika ia menyakiti Adiknya Viola....


.


** Hallo semuanya, sorry ya baru bisa update sekarang. Cece Author baru pulang Hiking sayangku, selama tiga hari ini benar benar tinggal di alam bebas, I love Mount Prau, seru banget pengen datang lagi, apalagi Sunrise nya bikin nagih, Salam kenal semua ❤️







** TBC **