
Arsen masih sibuk membalas chat dari Aline, ia terus saja menyunggingkan senyum manisnya. Max tahu, jika Arsen dari tadi terus sibuk membalas pesan Aline sampai sampai mengabaikan Viola.
"Kamu masih saja berhubungan dengan Aline." tanya Max.
"Bukan urusanmu." jawab Arsen.
"Aku hanya memperingatkan mu, jangan sampai salah langkah." ucap Max.
"Aku tidak akan salah langkah, jika kau berhenti bicara omong kosong." jawab Max.
"Mungkin kamu bisa membohongi Viola, tapi sayangnya tidak dengan ku." ucap Max.
"Kau semakin sok tahu." jawab Arsen.
"Berhentilah pulang larut malam, jika tidak ingin Viola akhirnya tahu." ucap Max dengan santainya.
"Hahaha... Kau mengikuti ku." jawab Arsen dengan senyum yang begitu mengerikan.
"Aku tidak pernah mengikuti mu, tapi kamu juga harus ingat, bahwa orangku pasti selalu melaporkan nya padaku." ucap Max.
"Hah, jadi kau sudah tahu." jawab Arsen.
"Hemmm bahkan semuanya." ucap Max dengan senyum devils nya.
"Hah, aku bingung Max. Jujur aku memang masih sangat mencintai Aline." jawab Arsen dengan tertunduk lesu.
"Jika kamu masih sangat mencintainya, lepaskanlah Viola dia berhak bahagia." ucap Max.
Kini Arsen tidak lagi bisa menjawab perkataan Max, ia hanya terdiam saja...
***
Arsen yang sudah berada di dalam ruang kerja nya, tidak dapat berpikir dengan tenang. Perkataan Max tadi pagi, terus terngiang ngiang di pikirannya...
"Memilih Aline dan melepaskan Viola, kenapa harus Pilihan Yang Sulit." ucap Arsen dengan terus mengepalkan tangannya.
Saat Arsen masih terus berlawanan dengan semua pikirannya, tiba tiba Papa Joon langsung masuk dan berdiri tegak dihadapannya.
"Papa? Sejak kapan Papa sudah di Indonesia?" tanya Arsen dengan begitu terkejutnya.
"Baru hari ini." jawab Papa Joon.
"Papa duduk lah dulu, aku akan menelepon OB untuk membuat kan teh hijau untuk mu." ucap Arsen.
"Tidak perlu, Papa tidak akan lama." jawab Papa Joon.
Arsen mulai tidak nyaman, ia yakin pasti ada hal penting yang membuat Papa nya sampai pulang ke Indonesia. Padahal Papa dan Mama nya sudah hampir dua bulan ini berada di Korea.
"Apa ada hal penting yang mau Papa bicarakan." tanya Arsen langsung pada intinya.
"Kenapa wanita itu bisa datang ke Indonesia dan berhubungan lagi dengan mu." jawab Papa Joon.
"Papa tidak perlu ikut campur dalam masalah pribadi ku, aku akan segera menyelesaikan nya." ucap Arsen.
"Dengan meninggalkan Viola dan kembali bersama nya, Papa rasa itu bukan penyelesaian nya." jawab Papa Joon.
"Papa tahu kan jika aku memang sangat mencintai Aline, dari dulu Pa bahkan sampai hari ini." ucap Arsen.
"Jika memang begitu, tolong lepaskanlah Aline. Dia terlalu baik untuk terus kamu khianati." jawab Papa Joon.
"Beri aku waktu untuk dapat memikirkannya dengan baik Pa." ucap Arsen.
"Waktu mu hanya tiga hari, ingatlah keputusan memang ada di tangan mu. Baik atau buruk sekalipun kamu yang sudah menentukannya." jawab Papa Joon lalu langsung berlalu pergi meninggalkan Arsen yang kini masih tegak berdiri menatap Papanya.
***
Arsen masih berkutat dengan pikirannya, jas rapi yang tadi dia kenakan kini sudah di lepaskan, kemeja nya pun juga sudah di gulung sampai sebatas lengan.
Magdalena mengetuk pintu ruangan Arsen, untuk memberikan berkas laporan desain. Saat ia sudah masuk kedalam, Arsen hanya diam saja.
"Permisi pak Arsen, ini laporan sketsa desain." ucap Magdalena.
"Letakkan saja, dan segeralah keluar." jawab Arsen tanpa menatap Magdalena.
"Baik, baik pak." ucap Magdalena dengan sedikit berlari menuju pintu keluar.
"Astaga, kenapa lagi CEO tampan ku itu, hah." ucap Magdalena.
.
Di dalam perjalanan, ia menangis dan menyesali semua yang telah terjadi. Memang benar apa yang tadi Papa nya katakan, tidak seharusnya ia mengkhianati Viola di belakangnya.
"Maaf Vi, maafkan aku. Walaupun Pilihan Yang Sulit ini akan menyakiti mu, itu yang terbaik." lirih Arsen dengan air mata yang sudah hampir membasahi seluruh wajahnya.
.
Arsen yang sudah berada di depan apartemen Aline, langsung saja masuk dengan menekan kode sandi. Saat sudah berada di dalam, ia malah tidak mendapati keberadaan Aline.
"Hah kemana Aline, kenapa saat pergi selalu tidak pernah pamit dulu." ucap Arsen sambil memijit pelipisnya.
.
..."Sedangkan Viola, dia malah mau pergi kemana pun akan selalu meminta izin padaku." ucap Arsen didalam hati....
.
Arsen duduk di sofa ruang tamu dan mengeluarkan benda pipih dari dalam saku jas nya. Langsung saja ia menghubungi Aline, tak lama panggilan telepon seluler itu sudah tersambung.
"Hallo Arsen." ucap Aline.
"Kamu lagi dimana, aku berada di apartemen mu sekarang." jawab Arsen.
"Aku di mal xx, lagi belanja tas dan dress. Kamu mau tetap nunggu aku disana, atau datang kesini." ucap Aline.
"Iya tunggu lah, aku akan kesana saja." jawab Arsen.
"Okee, see you." ucap Aline yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Hah, lenguhan nafas Arsen yang lagi lagi terdengar begitu berat..
***
Ery dan juga semua karyawan klinik Violett baru saja selesai di traktir makan siang oleh Viola di restoran barbeque Mall xx. Ery yang ingin membeli baju dan juga sepatu, mengajak Viola untuk ikut bersamanya.
"Mba Vio, penampilan ku kan gak modist seperti Mba. Ayo dong Mba, pilihkan baju dan sepatu yang cocok buat gaya ku." rengek Ery terus menerus.
"Kamu tuh gak liat apa, aku tuh kekenyangan abis makan. Malah mau di ajak shopping." jawab Viola.
"Iya Mba bisa duduk aja, biar aku yang pilih nya." ucap Ery.
"Iya udah ayo jangan lama, kamu dan aku kan masih banyak kerjaan di klinik." jawab Viola.
"Okee Mba Vio, siap." ucap Ery.
Viola terpaksa harus menemani Ery masuk keluar butik hanya untuk mencari baju dan sepatu kerjanya. Sampai akhirnya Viola melihat Arsen bersama seorang wanita cantik berwajah blasteran yang malah tidak asing baginya.
"Oppa? Sedang apa dia disini, siapa wanita itu." ucap Viola dengan raut wajah yang langsung berubah sedih
Viola yang sedih, kecewa, dan sangat marah pada Arsen. Langsung meninggalkan Ery yang masih berada di kamar pas, ia terus mengikuti kemana saja Arsen dan wanita itu sampai akhirnya menuju ke parkiran.
Arsen membukakan terlebih dahulu pintu mobil untuk Aline, lalu mulai menjalankan mobilnya.
Baru beberapa meter mobil berjalan, tiba tiba seorang wanita menghadang mobil nya dengan posisi membelakangi. Arsen yang sangat terkejut langsung menginjak pedal rem sampai terdengar bunyi gesekan ban yang begitu nyaring.
"Astaga Arsen ada apa." ucap Aline yang juga sangat terkejut.
Wanita yang masih menghadang mobil Arsen mulai membalik kan badan nya berhadapan tepat ke arah Arsen dan Aline.
"Viola?" ucap Arsen yang melotot kan mata karena keterkejutannya, jantungnya pun juga berdegup dengan sangat kencang.
"Kamu kenal dengan wanita itu, siapa dia Arsen?" tanya Aline dengan wajah bingung.
Viola langsung mendekati mobil Arsen dan mengetuk kaca nya, Arsen yang benar benar tidak pernah menyangka jika harus bertemu. Viola hanya bisa terdiam saja...
•
•
•
•
•
•
** To Be Continued !