
Mama Gina kini terus menangis setelah keluar dari dari ruangan dokter Hanan, ia benar benar tidak bisa menerima dengan apa yang sudah terjadi pada Arsen.
"Kenapa harus Arsen yang menerima ujian seberat ini Pa, kasian Arsen dia pasti tidak akan menerima semua ini." ucap Mama Gina yang sudah menangis meraung raung.
"Sayang tenang lah, kita akan segera membawa Arsen berobat keluar negeri. Dia pasti segera sembuh, jangan seperti ini sayang." jawab Papa Joon yang sudah memeluk erat tubuh Mama Gina.
"Bagaimana aku bisa tenang, sedang kan putra ku sekarang tidak bisa lagi melihat dan juga lumpuh." teriak Mama Gina dengan begitu emosinya.
Livy yang hendak menuju musholla, kini hanya bisa terdiam saat mendengar teriakan dan kekesalan Mama Gina.
"Ya Tuhan, apalagi ini. Apa benar pria itu sekarang menjadi buta, dan juga lumpuh." lirih Livy dengan berderai air mata.
Dengan sisa keberanian yang di milikinya, Livy berjalan mendekati Mama Gina dan Papa Joon berniat untuk menenangkan mereka. Tanpa ia tahu, jika itu bukan lah yang terbaik saat ini.
"Maaf mengganggu Om, Tante harus sabar, Livy yakin putra Om dan Tante pasti bisa sembuh." ucap Livy.
"Hem... Terimakasih Livy." jawab Papa Joon.
Sedangkan Mama Gina, kini sudah bersiap untuk memaki Livy. Dengan sorot mata tajamnya, ia pun mulai mengeluarkan mulut pedasnya itu.
"Tidak perlu sok simpati, apa yang terjadi pada putraku sekarang itu juga karena kesalahan mu. Jika kau tidak lewat di jalan itu pasti sekarang putraku baik baik saja, dasar wanita sialan." maki Mama Gina.
"Sayang, apa yang kamu katakan. Kecelakaan yang menimpa Arsen, bukan kesalahan Livy. Jangan menambahkan beban kepada orang lain." ucap Papa Joon.
"Hah... Terserah, yang pasti aku tidak mau lagi melihat wajahnya." jawab Mama Gina yang langsung berlalu pergi.
Livy yang mendengar makian dari Mama Gina hanya bisa menangis. Ia juga benar benar tidak ingin kejadian seperti ini menimpa pria yang ternyata bernama Arsen itu, tapi sekarang semua sudah terjadi, dan ia hanya bisa pasrah karena tidak tahu lagi harus bagaimana selanjutnya.
"Livy maafkan istri Om, ia benar benar sedang emosional sekarang." ucap Papa Joon.
"Hem.... Iya Om, enggak papa." jawab Livy.
"Ya sudah om pergi dulu menyusul istri Om." ucap Papa Joon yang sudah bersiap pergi.
"Om tunggu dulu." panggil Livy.
"Ada apa Livy." jawab Papa Joon.
"Om, izinkan Livy terus merawat Kak Arsen sampai ia kembali sembuh seperti sedia kala." ucap Livy dengan mata yang sudah sembab akibat terus menangis.
"Tapi itu akan sangat merepotkan mu, bukan kah kamu tengah kuliah dan ikut bekerja membantu Papa mu di kantor?" jawab Papa Joon.
"Om tahu segalanya tentang ku dan keluarga ku? Siapa Om sebenarnya??" tanya Livy dengan raut wajah bingung nya.
"Maaf, jika Om sudah lancang tapi Om tidak ada maksud apa apa." jawab Papa Joon.
"Iya Om tidak apa, tapi Livy tetap akan merawat Kak Arsen. Karena yang terjadi saat ini pada nya, juga sudah menjadi tanggung jawab Livy." ucap Livy.
"Jika itu memang sudah menjadi kemauan mu, Om bisa apa." jawab Papa Joon.
"Jadi Om mengizinkan Livy?" tanya Livy dengan raut wajah berbinar binar.
"Hem..." jawab Papa Joon yang kini langsung berlalu pergi meninggalkan Livy dengan sedikit kebahagian nya.
*
*
*
Seminggu Kemudian...
Pagi ini Arsen sudah kembali sadar, sudah seminggu ia di nyatakan "Koma" oleh dokter Hanan. Tapi pagi ini ia sudah bisa menggerakkan jari tangan nya, walaupun belum bisa bersuara.
Papa Joon, Mama Gina, Sandra dan Livy kini tengah bersiap untuk menunggu Arsen sadar dari "Koma" nya.
Dokter Hanan terus mengecek kesehatan Arsen, dan dengan perlahan Arsen pun mulai membuka kedua matanya, lalu lanjut bersuara walaupun masih terbata bata.
"Dimana aku, kenapa sangat gelap." lirih Arsen dengan suara beratnya.
"Mama??? Kenapa sangat gelap Ma, Arsen tidak bisa melihat Mama, dimana Mama, Papa dan Sandra?" tanya Arsen dengan raut wajah paniknya.
"Arsen sayang, kamu tenang lah dulu. Kita sekarang berada dirumah sakit, kamu mengalami kecelakaan." ucap Papa Joon.
"Iya Pa." jawab Arsen yang langsung berbaring kembali di tempat tidur.
Arsen langsung di berikan suntikan obat penenang oleh dokter Hanan.
"Besok pagi perban di matanya sudah bisa di buka, tuan Arsen pasti tidak bisa langsung menerima. Pihak keluarga lah yang bisa terus memberikan semangat kepada nya." ucap Dokter Hanan.
"Dok, apa putra ku akan melihat kembali, dan apakah kaki nya juga bisa untuk berjalan seperti sediakala lagi?" tanya Mama Gina.
"Bisa, jika kita menemukan donor mata yang cocok untuk tuan Arsen, dan kelumpuhan yang di terima tuan Arsen pun hanya bersifat sementara. Itu artinya, dengan sering melakukan terapi ia bisa kembali berjalan seperti sediakala." jawab dokter Hanan.
"Oh terimakasih dokter, kami pasti akan menemukan pendonor mata secepatnya untuk Arsen." ucap Mama Gina.
"Baik Nyonya, Tuan, Nona Sandra dan Nona Livy. Saya pamit undur diri dulu." ucap dokter Hanan.
"Iya dok terimakasih." jawab Sandra dan Livy berbarengan.
Setelah dokter Hanan pergi, Mama Gina pun bersiap untuk pulang dan beristirahat, sudah satu minggu ini ia tidak pernah absen menjaga Arsen. Tapi sekarang tubuh nya benar benar sangat lelah, dan butuh istirahat.
"Sandra, kamu jaga Kakak mu. Jangan biarkan orang asing mencuri kesempatan untuk menyentuh Arsen, karena kita tidak tahu, ia benar benar tulus apa tidak." ucap Mama Gina dengan begitu sengit nya menyindir Livy.
"Iya Ma." jawab Sandra.
Livy yang mendengar Mama Gina mengatakan nya orang asing hanya bisa mengelus perlahan dada nya saja, padahal selama seminggu ini Livy pun terus menjaga Arsen dan bahkan 24 jam selalu stay di ruang rawat VVIP itu.
Setelah Mama Gina dan Papa Joon pergi, tinggal lah Sandra dan Livy saja. Mereka berdua hanya diam, dan tidak ada yang memulai pembicaraan.
.
Satu jam pun berlalu...
Sandra yang merasakan perut nya keroncongan, akhirnya berniat pergi dari ruangan Arsen untuk mencari makanan.
"Aku akan ke restoran depan rumah sakit, perut ku lapar aku mau makan dulu." ucap Sandra.
"Iya kamu pergi lah, kamu tenang saja aku tidak akan melakukan apa apa kepada kakak mu, sungguh." jawab Livy.
"Hem... Oke baiklah." ucap Sandra yang sudah berjalan pergi menuju pintu keluar.
"Bukan kah kamu juga belum makan dari semalam, kamu mau pesan apa?" tanya Sandra.
"Terserah apa saja, yang penting bisa di makan." jawab Livy dengan tersenyum.
"Ohh.... Oke!" ucap Sandra yang akhirnya benar benar berlalu pergi.
.
Setelah Sandra pergi, Livy perlahan mulai berani mendekati Arsen yang tengah tertidur lelap. Ia menatap wajah tampan Arsen dari jarak dekat lalu tersenyum.
"Ternyata Kak Arsen sangat lah tampan, sayang sekali gara gara aku, Kakak harus jadi seperti ini, maafkan aku ya." lirih Livy dengan perlahan menyentuh lembut tangan Arsen.
*
*
*
*
Bersambung...
.