
London,
.
Sebulan Kemudian...
Viola yang baru bangun tidur merasakan perut nya mual, dan rasa ingin muntah. Ia segera berlari menuju kamar mandi dengan terburu buru, sesampainya di sana Viola langsung memuntahkan semua isi dalam perutnya.
Viola merasakan tubuhnya sangat lemas, kepalanya pusing. Ia berusaha bangkit dari duduk jongkoknya, saat Viola sudah keluar dari kamar mandi ia merasakan penglihatannya buram dan berkunang-kunang,
"Hah, apa yang terjadi kepada ku. Penglihatan ku terasa buram dan berkunang-kunang, aku harus segera kembali ketempat tidur, mungkin aku sedang tidak enak badan." lirih Viola yang berjalan tertatih tatih menuju tempat tidur nya lagi.
Tapi belum juga Viola sampai ketempat tidur, ia sudah jatuh pingsan.
*
*
*
Mom Ariana dan Dad Antonio sudah duduk di meja makan, mereka masih menunggu Viola turun untuk makan bersama sama.
"Kenapa Vio belum turun ya Dad?" tanya Mom Ariana dengan tatapan herannya.
"Mungkin dia masih tidur, coba Mom panggil." jawab Dad Antonio.
"Ini tuh sudah jam 8 Dad, biasanya kita sudah sarapan bersama. Hem... Jangan jangan emang anak ini masih tidur, ya udah Dad makan aja duluan. Mom bangunkan Vio dulu...!" ucap Mom Ariana yang langsung bangun dari duduknya, menaiki tangga lantai dua untuk menuju kamar Viola.
"Apa saya harus sarapan duluan, soalnya pagi ini harus cepat datang kekantor untuk meeting dengan perusahaan company." ucap Dad Antonio.
Dad Antonio langsung meminum kopi dan memakan satu potong roti yang sudah di olesi selai coklat dan stoberi oleh istrinya, baru saja ia menggigit satu roti itu Mom Ariana berteriak.
"Dad.... Tolong, Vio Dad." teriak Mom Ariana dengan begitu kencangnya.
Seketika itu juga Dad Antonio langsung berlari dan naik ke kamar Viola, untuk mencari tahu kenapa istrinya sampai berteriak.
Para asisten di rumah keluarga Kendrich, hanya bisa saling pandang. Tampak dari raut wajah mereka yang juga terlihat cemas.
*
*
*
Dad Antonio yang sudah berada di didepan pintu kamar Viola, langsung masuk dan melihat istrinya yang tengah menangis tersedu-sedu sambil memangku kepala Viola yang tergolek pingsan.
"Mom.... Ada apa?" tanya Dad Antonio yang langsung mendekati dua wanita berharga di hidupnya itu.
"Vio Dad, Vio pingsan. Cepat telepon ambulans, kita bawah Vio kerumah sakit sekarang." jawab Mom Ariana yang masih saja menangis.
"Tenanglah Honey, Vio baik baik saja ia hanya pingsan." ucap Dad Antonio berusaha menenangkan istrinya itu.
"Tapi Vio belum sadar sadar Dad, tadi pas Mommy buka pintu kamar nya ia sudah pingsan dan tergeletak disini Dad." jawab Mom Ariana yang masih saja menangis.
"Tunggu sebentar, Dad akan menyiapkan mobil, kita bawa Vio sekarang juga." ucap Dad Antonio.
Baru juga Dad Antonio akan turun ponselnya berdering, tapi ia mengabaikan nya.
*
*
*
Dad Antonio naik lagi ke kamar Vio bersama Lucky sopir pribadinya, Mom Ariana yang melihat suaminya sudah kembali langsung saja menyuruh nya untuk menggendong Viola menuju mobil.
Dengan perasaan yang sama sama cemas, dan tak karuan Mom Ariana tetap berusaha tenang.
"Tuan kita sudah sampai, tunggu dulu disini biar saya panggilan kan suster." ucap Lucky anggaplah dengan menggunakan bahasa Inggris ya.
"Iya tolong cepatlah." jawab Dad Antonio.
Lucky yang sudah keluar dari mobil langsung menghampiri Suster dan Dokter yang berada di unit gawat darurat. Mereka segera berlarian menuju kearah mobil Viola.
Viola yang sudah berbaring di atas brankar rumah sakit, langsung saja diperiksa oleh Dokter yang tengah bertugas di unit gawat darurat.
Mom Ariana dan Dad Antonio menunggu Viola di luar, dengan perasaan yang sangat takut Mom Ariana berbicara dengan gemetar kepada suaminya.
"Dad, Mom takut. Vio kita baik baik saja kan, dia gak ada menderita penyakit apapun kan." ucap Mom Ariana yang kian menangis.
"Honey tenang lah, Vio kita baik baik saja. Kamu jangan khawatir, coba lah untuk berdoa." jawab Dad Antonio yang memeluk istrinya dengan begitu erat.
*
*
*
"Dokter bagaimana keadaan putri saya?" tanya Dad Antonio.
"Putri anda baik baik saja Tuan, ia juga akan segera di pindahkan ke ruang perawatan." ucap Dokter Betrand.
"Apa kami bisa segera menemuinya." tanya Mom Ariana.
"Sudah Nyonya, oh ya selamat untuk Nyonya dan Tuan karena akan segera menjadi Grandpa dan Grandmother." jawab Dokter Betrand.
"Maksud anda?" tanya Mom Ariana dengan tatapan bingung nya.
"Putri anda sedang mengandung, usia kehamilannya baru jalan 4 minggu." jawab Dokter Betrand.
"Apa hamil Dokter???" ucap Mom Ariana dan Dad Antonio bersamaan.
"Iya... Apa suami Nona Viola juga belum tahu?" tanya Dokter Betrand.
Mom Ariana dan Dad Antonio, benar benar sangat shock dengan apa yang baru saja ia dengar dari Dokter Betrand.
"Suami nya bekerja di Paris, kami akan segera memberikan kabar kepadanya." jawab Dad Antonio.
Sedangkan Mom Ariana kini hanya terdiam, ia benar benar tak bisa berkata apa-apa lagi. Yang ingin ia lakukan sekarang hanyalah menunggu Viola sadar, dan menanyakan bagaimana ia bisa mengandung sebelum melakukan pernikahan.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan Antonio." ucap Dokter Betrand.
"Iya terimakasih." jawab Dad Antonio.
Setelah kepergian Dokter Betrand, Mom Ariana dan Dad Antonio langsung menuju ruang rawat VVIP Viola. Rasa kesal dan amarah kini menyelimuti hati Mom Ariana, ia tidak menginginkan cucu dengan cara seperti ini.
Dad Antonio yang melihat raut wajah kesal dan penuh amarah dari Mom Ariana, kini memegang tangan nya agar bisa menenangkan nya.
"Honey, jangan terlalu emosi saat Viola sadar nanti." ucap Dad Antonio.
"Mom tidak menyangka akan jadi seperti ini Dad, bagaimana bisa Viola dan Steve melakukannya sewaktu mereka belum sah menjadi pasangan suami istri." jawab Mom Ariana.
"Iya, tapi masalahnya semua sudah terjadi. Akan lebih baik jika kita mensuport kesehatan Viola, toh juga mereka akan segera menikah." ucap Dad Antonio.
"Sekarang juga suruh Steve untuk pulang ke London, sangat tidak mungkin jika pernikahan mereka di laksanakan 5 bulan lagi. Itu akan membuat perut Viola semakin membesar, mereka harus menikah seminggu lagi." jawab Mom Ariana.
Dad Antonio hanya bisa mengurut pangkal hidungnya, disisi lain tapi ia sangat bahagia karena sebentar lagi Viola akan menjadi seorang wanita yang sempurna yang telah melahirkan anak pertama nya.
*
*
*
Mom Ariana dan Dad Antonio masuk kedalam ruang rawat Viola, mereka melihat Viola yang masih memejamkan matanya dengan selang infus yang menempel di punggung tangan dan hidung nya.
.
10 menit berlalu....
Viola mulai menggerakkan jarinya, lalu kemudian membuka kedua matanya. Ia melihat sekelilingnya, tampak lah Dad Antonio yang tengah tersenyum menatap nya, tapi saat ia melihat Mom nya hanya wajah cemberut tanpa ekspresi yang ditunjukkan oleh Mom Ariana.
"Kamu sudah bangun Vio sayang?" sapa Dad Antonio dengan tersenyum.
"Dad, Mom kenapa Vio sekarang berada di rumah sakit." tanya Viola.
"Kamu pingsan di kamar mu, dan Mom yang pertama kali menemukan mu?" jawab Mom Ariana.
"Hah benarkah, tapi Vio sudah gapapa kan Mom?" tanya Viola.
"Bagaimana bisa kamu hamil sebelum menikah Vio, bahkan kehamilan kamu sudah berjalan satu bulan." teriak Mom Ariana yang sudah tidak tahan lagi ingin mengatakan nya.
Viola yang mendengar perkataan Mom nya sangat terkejut, ia benar benar tak percaya jika saat ini ia sedang hamil. Dan sudah bisa dipastikan jika anak yang tengah di kandungnya adalah anak Arsen.
Viola mulai menangis, ia merasakan batu yang sangat besar langsung menghantam seketika tubuh nya.
"Tidak Mungkin Aku Hamil ?" lirih Viola dengan air mata yang terus membasahi wajah cantiknya.
*
*
*
*
Bersambung...
.