
Mentari pagi sudah terlihat menyilaukan cahaya dari jendela kaca kamar presidential suite.
Viola yang sudah bangun langsung duduk dan menyandarkan kepalanya disandaran tempat tidur...
"Hah,,, kepalaku sakit sekali." lirih Viola yang masih belum menyadari jika ia kini berada di mana.
Viola yang hendak bangun dari atas tempat tidur, langsung mengeryitkan alisnya saat ia melihat tubuh nya kini polos tanpa sehelai benangpun.
Deg....Deg....Deg....!!!! Jantung Viola mulai berdegup dengan kencang. Ia segera bangkit dan langsung membelalakkan matanya ketika melihat seluruh tubuh nya dipenuhi bekas kissmark.
"Ah.... Apa yang sudah terjadi." teriak Viola histeris.
Viola langsung menjatuhkan tubuhnya kelantai, ia menangisi semua yang sudah terjadi.
"Dasar Licik" aku membencimu Arsen, aku sangat membencimu." teriak Viola.
*
*
*
*
Arsen baru saja kembali dari nge gym, hampir satu jam turun ia meninggalkan Viola sendirian dikamar. Saat Arsen membuka pintu kamar, ia langsung mendapat tatapan tajam dari sorot mata Viola.
"Vi, kau sudah bangun." tanya Arsen dengan tatapan seperti biasanya.
"Dasar Licik" apa yang sudah kau lakukan kepadaku, kau memang bajingan tengik." teriak Viola dengan nafas yang memburu.
"Vi, aku bisa jelaskan semuanya." ucap Arsen.
"Apa lagi yang harus kau jelaskan, kau semakin membuatku muak. Kau menjebak ku Arsen, hiks...hiks...hiks...!!!" tangisan Viola semakin terdengar pilu.
Arsen yang melihat Viola seperti itu, hanya bisa terdiam. Ia tahu semuanya akan menjadi seperti ini, saat Viola sudah kembali sadar.
"Vi maaf, aku melakukannya karena aku masih sangat mencintai mu Vi. Percayalah, aku tidak rela jika kau harus menikah dengan pria lain, kau harus kembali kepadaku Vi." lirih Arsen.
"Kau egois Arsen, kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Tanpa berpikir panjang dengan apa yang sudah kau lakukan kepada ku, aku ini sudah menjadi tunangan orang lain, dan kau juga tahu. Aku membencimu Arsen, sangat membencimu." teriak Viola.
"Vi maaf, maafkan aku." ucap Arsen dengan tatapan sendu nya.
Viola langsung bangun, ia berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Didalam kamar mandi Viola terus menangis, ia benar benar menyesali semua nya. Ia takut Steve tidak bisa menerima kenyataan yang telah terjadi antara ia dan Arsen.
"Aku jijik dengan tubuhku sendiri, bagaimana bisa aku percaya mulut pria yang sekalinya brengsek tetap akan jadi brengsek. Steve maafkan aku, maaf." lirih Viola dengan air mata yang terus membasahi seluruh wajahnya.
Arsen kini hanya menundukkan wajahnya, ia tidak bisa menerima jika Viola kini membencinya...
"Argh.... Brengsek, sialan." teriak Arsen yang melemparkan pas bunga di depan nya.
Viola yang sudah berpakaian, bersiap untuk segera pergi dari kamar sialan itu. Tapi Arsen langsung mencegahnya...
"Tunggu dulu Vi, jangan pergi dengan pakaian seperti itu." ucap Arsen yang langsung menarik Viola dan berusaha memeluknya, tapi Viola terus memberontak.
"Tunggulah sebentar dan diamlah, Max akan datang membawakan pakaian baru untuk mu." ucap Arsen.
"Aku tidak butuh, jadi kumohon lepaskan aku sekarang juga." teriak Viola.
Arsen tidak juga melepaskan Viola dari pelukan nya, sampai kata kata yang semakin membuat Viola jijik keluar dari mulut Arsen.
"Bagaimana jika di dalam perut mu sudah tumbuh anak ku Vi? Apa kau tetap akan pergi dari hidupku." ucap Arsen dengan tatapan sendu nya.
"Dasar menjijikan, jangan katakan hal yang tidak akan pernah terjadi. Dan kau harus dengar satu hal tuan Arsen, jika pun aku nanti nya hamil anak mu sekalipun aku tidak akan pernah mau kembali lagi bersama mu. Karena aku sangat membencimu....!!!" Sarkas Viola dengan sorot mata tajam nya.
*
*
*
Viola sudah memakai pakaian yang di berikan oleh Max, ia bersiap untuk segera pergi dari kamar hotel itu.
Saat Viola sudah sampai didepan pintu Arsen memanggilnya...
"Vi... Maafkan aku, maaf. Kali ini aku akan benar benar merelakan mu." ucap Arsen dengan tatapan sedihnya.
"Aku tidak peduli lagi dengan kata katamu." jawab Viola yang sudah bersiap membuka handle pintu kamar.
Tapi belum juga Viola menggapai handle pintu, Arsen berlari mendekati Viola lalu menariknya kedalam pelukannya.
"Lepas kan aku, "Dasar Licik" kau memang egois." teriak Viola yang terus memberontak.
Saat Viola terus memberontak, Arsen meneteskan air matanya. Pelukannya kali ini adalah pelukan terakhir, karena ia sudah berjanji akan melepaskan Viola dan merelakannya....
Viola merasakan punggung nya basah, ia tahu saat ini Arsen tengah menangis. Viola yang tadinya memberontak kini terdiam,,,
"Seandainya Steve tidak memperlakukan mu dengan baik, mengadu lah kepada ku. Karena aku akan mengajar nya, anggaplah aku juga kakak mu sama seperti Sean." ucap Arsen yang kini sudah melepaskan pelukan nya dan tersenyum kepada Viola.
Baru saja Viola akan membalas perkataan Arsen, pintu kamar diterjang dan di hancurkan. Terlihatlah di sana Steve dan 6 bodyguard nya...
Viola langsung membelalakkan matanya, saat ia melihat sorot mata Steve yang penuh dengan kemarahan, ia murka dan langsung menghampiri Viola dan Arsen.
Lalu dengan secara membabi buta, Steve menghajar Arsen. Tapi Arsen hanya diam saja, ia tahu ia sudah bersalah. Jadi ia menerima nya....
Wajah Arsen sudah babak belur, ia tergolek lemah tak berdaya. Darah segar mengalir dari hidung dan mulutnya, Steve belum puas ia ingin menghajar Arsen mati matian sekarang juga.
Saat Steve sudah mengambil balok kayu, dan akan memukulkan nya ke kepala Arsen Viola menghalangi dan memeluk tubuh nya.
"Sayang hentikan, jika kau memukulnya lagi dia akan mati. Kau akan masuk penjara, dan kita pasti tidak bisa menikah." ucap Viola dengan air mata yang sudah menetes di pipi nya.
Steve mulai tersadar dari amarahnya, baru kali ini ia menghajar seseorang bahkan hampir saja membunuh nya. Ia langsung melepaskan balok kayu itu, dan menyentuh wajah Viola.
"Maafkan aku, aku sudah membuat mu takut. Maaf....!" lirih Steve yang menghapus air mata Viola.
Arsen yang melihat cara Steve memperlakukan Viola, semakin bersedih. Ia benar benar menyesali segala perbuatannya, jika waktu bisa di ulang kembali ia akan menyayangi dan mencintai Viola dengan tulus....
"Ampuni aku Tuhan, aku memang sangat berdosa. Aku sekarang menerima balasan atas semua perbuatan ku, aku menyesal....!!!" lirih Arsen didalam hati dengan air mata yang terus menetes.
Steve yang melihat Arsen yang sudah tergolek lemah, ia langsung menelpon ambulans untuk membawa Arsen kerumah sakit.
"Aku harap ini yang terakhir kalinya kau mengganggu Viola, karena jika kau melakukannya lagi aku akan langsung membunuh mu." ucap Steve.
Arsen hanya menganggukkan kepalanya, sebagai tanda ia mengerti....
*
*
*
*
Hai semuanya, gimana masih lancar gak puasa hari keduanya. Hari pertama puasa author benar benar hampir gak kuat all, tapi alhamdulilah akhirnya bisa juga menahan nya sampai dengan adzan magrib tiba. Hehehe... Sorry ya kemarin gak bisa update, ya itulah karena author hampir gak kuat haaa...!!!
Bersambung...
.