
Pagi harinya...
Arsen yang masih nyenyak tertidur mulai terganggu, saat merasakan perutnya mual dan tidak nyaman. Ia langsung bergegas bangun dan pergi menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi dalam perutnya...
"Argh... Kepalaku sangat sakit, kenapa juga aku harus banyak minum, dasar sialan." umpat Arsen yang masih duduk di pinggiran bathtub kamar mandi nya.
Viola yang memang masih tidur dengan sangat nyenyak, sedikit pun tidak merasa terganggu. Ia yang kelelahan karena menunggu Arsen sampai jam 21.30 WIB, membalaskan nya dengan banyak istirahat pagi ini.
.
Arsen sudah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah terasa segar, ia baru selesai mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
Saat akan menuju walk in closed, matanya tertuju kepada Viola yang masih tertidur dengan sangat nyenyak. Ia menjadi merasa bersalah, karena tadi malam telah melupakan janjinya untuk pergi dinner berdua.
Arsen mendekati Viola dengan tubuh yang hanya di lilit handuk sebatas pinggang, ia mengelus lembut wajah istrinya itu sampai membuat tidur Viola mulai terusik.
Viola yang merasa tidurnya sudah terusik, mulai membuka matanya. Ia kesal dan marah saat menatap orang yang mengusik tidurnya adalah Arsen.
"Happy Birthday Sayang." ucap Arsen yang sudah duduk di samping Viola.
Viola tidak menjawab sapaan Arsen, dan malah segera pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Arsen melihat Viola tidak membalas sapaannya, hanya bisa menghembuskan nafas kasar.
"Hah... Dia marah kepadaku, aku tauh itu sangat wajar. Tapi entah kenapa, aku tidak rela jika dia mengabaikan ku seperti itu." lirih Arsen.
Sedangkan Viola dikamar mandi, menggerutu kesal melihat Arsen dengan perasaan tidak bersalah nya itu...
***
Arsen sudah duduk dikursi makan, dengan menu sarapan yang spesial dibuat kan oleh asisten rumah tangganya. Ia belum menyantap makanan nya, karena masih menunggu istrinya turun dulu.
Bi Mina, datang lagi membawa dua salad buah untuk tuan dan nyonya nya itu. Bi Mina adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya, ia merantau ke Jakarta di ajak teman nya untuk menjadi asisten rumah tangga.
Arsen yang kalah itu datang sendiri ke yayasan, langsung menginginkan Bi Mina saja sebagai asisten rumah tangganya.
Bi Mina juga seumuran dengan mama nya, memang itulah yang menjadi keinginan ia dan istrinya memperkerjakan seorang wanita tua di bagaian tugas memasak dan membereskan rumah. Sekalian juga mereka bisa membantu kebutuhan keluarga Bi Mina.
"Tuan, Nyonya Viola tidak ikut sarapan." ucap Bi Mirna.
"Dia masih dikamar Bi, mungkin sebentar lagi akan turun dan sarapan." jawab Arsen.
"Oh baik tuan, bibi buatin bubur kacang merah kesukaan Nyonya." ucap Bi Mina.
"Iya Bi, bawa aja kesini. Bentar lagi Vio paling dah turun." jawab Arsen.
"Baiklah tuan." ucap Bi Mina.
.
Memang benar, tak berapa lama Viola akhirnya turun. Tetapi penampilan nya tidak seperti biasanya ia akan ke klinik, Viola mengenakan dress flower di atas lutut, dan juga memoles kan makeup tipis, yang membuat wajahnya semakin cantik dan segar saja
"Sayang, kamu gak datang ke klinik?" tanya Arsen.
"Enggak." jawab Viola singkat dan langsung duduk di kursi makan.
"Kenapa?" tanya Arsen.
"Aku lelah, badan dan otak ku juga butuh istirahat lebih." jawab Viola ketus
"Sayang, maaf ya tadi malam kita gak jadi dinner nya." ucap Arsen.
Viola pura pura tidak mendengar perkataan Arsen, dan malah asyik menikmati bubur kacang merah nya.
"Sayang, suamimu ini sedang meminta maaf, kamu dengar gak?" ucap Arsen.
"Minta maaf buat apa? Gak ada gunanya juga minta maaf, semua udah terjadi kan." jawab Viola.
"Bagaimana kalo hari ini kita jalan jalan, terserah mau kemana saja. Dan malamnya kita dinner." ucap Arsen.
Arsen hanya bisa terdiam, melihat Viola yang tidak seperti biasanya.
"Dia masih marah, hemmm apa yang harus aku lakukan sekarang." lirih Arsen.
"Oh ya bukankah tadi malam, aku sedang berada di Club king. Siapa orang sudah membawaku pulang kerumah?" ucap Arsen yang terlihat bingung.
"Aku yang sudah membawamu pulang, kamu itu hanya bisa merepotkan saja." jawab Max yang berjalan mendekati Arsen di ruang makan.
"Kau, dari mana kau tahu aku berada disana. Bukan kah kau saja sudah pulang kantor duluan?" tanya Arsen.
"Dan kamu juga harus tahu, jika aku telat datang sedikit saja mencari mu. Kamu pasti pagi ini, sudah berakhir di kamar hotel dengan seorang ja*lang." jawab Max dengan geramnya.
"Apa? Memangnya apa yang sudah terjadi denganku tadi malam?" tanya Arsen dengan begitu terkejutnya.
"Kamu mabuk parah tadi malam, dan bahkan sudah di rangkul ja*lang keluar dari Club. Lagian sudah tahu tidak bisa minum terlalu banyak, masih saja cari masalah." jawab Max.
"Hemmm... Thanks Bro." ucap Arsen.
"Kamu seharusnya berterimakasih dengan istri mu, jika dia tidak menelepon ku, aku tidak akan tahu." Jawab Max yang kini sudah ikut sarapan.
"Viola menelepon mu?" tanya Arsen.
"Iya, dia mengatakan kamu belum juga pulang." jawab Max.
"Astaga, jadi dia tahu kalo aku kau antar pulang dalam keadaan mabuk parah." ucap Max.
"Iya tentu." jawab Max dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Astaga." ucap Arsen yang langsung berlari menuju kamar untuk menemui Viola.
"Hah, urusan rumah tangga ada ada aja." ucap Max yang sarapan dengan begitu lahap nya.
.
"Tuan Max, ini saya bawakan Roti Kismis. Apa tuan suka?" ucap Bi Mina dengan tersenyum.
"Wah terimakasih Bi Mina, tapi seharusnya Bibi tidak perlu repot repot mengambilkan saya, saya bisa ambil sendiri saja bi." jawab Max dengan tidak enaknya.
"Tidak apa apa tuan, memang inu sudah tugas saya, mari tuan." ucap Bi Mina yang sudah bersiap pamit.
"Iya Bi." jawab Max yang terus memperhatikan Bi Mina.
Max tersenyum kecut melihat Roti Kismis yang berada di depan nya, sudah lama sekali ia tidak pernah memakan roti ini lagi. Dulu ibu nya sering sekali membuatkan nya, tapi setelah ibunya meninggal dunia, ia bahkan sudah melupakan rasa dari Roti Kismis ini.
"Mom, aku harap kau bahagia di surga. Maafkan aku, yang bahkan sudah lama tidak mengunjungi mu." lirih Max yang kini mulai menggigit Roti Kismis itu, air matanya kian jatuh menetes karena semakin teringat almarhumah ibunya.
Ibu Mina, yang menatapnya dari kejauhan menjadi bingung. Karena Max tiba tiba menangis sedih menatap Roti Kismis buatannya.
"Apa Roti Kismis ku tidak enak, sehingga tuan Max menangis. Hah tapi tidak mungkin, apa jangan jangan... Roti Kismis mengingatkan nya akan suatu kenangan sedih." ucap Bi Mina yang kini ikut bersedih.
.
Arsen kini duduk di kursi kamar, dan terus menatap Viola yang sibuk merapikan rambutnya.
"Sayang maaf." ucap Arsen.
"Untuk apa, bukan kah kau tidak ada salah?" jawab Viola.
•
•
•
•
** TBC **