
Aidan yang perhatian kepada Viola, semakin membuat Dokter Steve semakin berkecil hati untuk mendekati Viola.
"Saya permisi dulu, ada pasien yang harus saya urus." ucap Dokter Steve kepada Viola dan Aidan.
"Ohh baiklah, selamat bertugas Dokter Steve, terimakasih sudah menolongku." jawab Viola dengan tersenyum.
"Terimakasih Dokter." jawab Aidan dan Sean.
"Sama sama, saya pamit." ucap Steve yang langsung bergegas pergi keluar dari ruangan Viola.
"Iya." jawab Aidan, Steve dan Viola.
Setelah kepergian Dokter Steve, Sean langsung mengajak Aidan untuk keluar dari ruangan Viola.
"Dek kamu istirahat lah, jika besok kamu sudah merasa sehat kita pulang." ucap Sean.
"Iya Kak." jawab Viola yang langsung bersiap untuk tidur.
Aidan yang sudah berpamitan dengan Viola, ikut keluar mengikuti Sean.
Setelah Sean dan Aidan pergi, Viola yang sulit untuk memejamkan matanya tiba tiba saja teringat perkenalan nya dengan Dokter Steve beberapa saat lalu yang diawali dengan pertengkaran hebat.
Viola tiba tiba saja menyunggingkan senyum nya, ia bahkan sudah menuduh Dokter Steve seorang pria kurang ajar dan sangat cabul.
"Astaga, aku benar benar merasa tidak nyaman dengan perkataan ku sendiri. Bagaimana sekarang perasaannya, padahal tadi sebenarnya aku ingin ia tetap di ruangan ini bersamaku. Hemm... Apa lagi ini yang aku inginkan!" ucap Viola lesu.
* Beberapa saat sebelumnya...
Dokter Steve yang menunggu Viola sadar, terus menatap wajah nya. Ia merasakan jantungnya berdetak dengan begitu kencang, sampai membuat nya menghembuskan nafas beratnya.
"Apa aku Dokter yang sangat mesum, karena menatap seorang pasien yang sedang tidak sadar kan diri." ucap Dokter Steve didalam hatinya.
Dokter Steve yang terus memperhatikan wajah Viola dengan tatapan memujanya, tidak menyadari jika saat ini Viola sudah membuka kedua matanya.
Saat kesadaran Viola sudah benar benar sudah kembali 100 %, ia mengeryitkan kedua alisnya melihat pria asing yang sedikit dikenalinya. Sampai akhirnya......
"Ahhhh...... Kamu... Kamu... Bukankah pria kurang ajar waktu itu." teriak Viola terbata bata dengan tatapan kesalnya.
Dokter Steve yang melihat Viola sudah sadar, dan tengah meneriaki nya, kini langsung bangkit dari duduknya, mencoba menenangkan Viola.
"Maaf, tenanglah dulu Nona. Anda salah paham, biar saya jelaskan semuanya." ucap Dokter Steve yang terus menyakinkan Viola.
"Jelaskan apa, saya rasa ini sudah sangat jelas. Anda hanya seorang pria asing yang memang mengintai saya dari dulu." jawab Viola dengan tatapan tajamnya.
"Maaf Nona anda salah paham, ini kartu tanda anggota saya, saya seorang Dokter." ucap Steve yang menunjukkan kartu tanda anggota nya.
"Saya tidak percaya, cepat berikan padaku kartu tanda anggota mu." jawab Viola dengan tatapan mata yang menakutkan.
Steve hanya menghela nafas kasarnya, dan memberikan kartu tanda anggota kedokteran nya.
Viola yang membaca dengan teliti dan terus mencari tahu keaslian kartu ini, akhirnya bisa bernafas lega.
"Bagaimana, apa Nona sekarang sudah percaya?" tanya Dokter Steve.
"Iya saya percaya, tapi anda adalah seorang Dokter Obgyn, kenapa malah menangani saya?" jawab Viola dengan tatapan menyelidik.
"Saya yang membawa Nona ke Rumah Sakit Elisabeth, karena Nona sempat tidak sadarkan diri dijalan xx." ucap Dokter Steve menjelaskan dengan panjang lebar.
"Hah benarkah?" jawab Viola dengan keterkejutan nya.
"Iya Nona itu adalah kebenarannya." ucap Dokter Steve.
"Hemm.... Baiklah, terimakasih Dokter Steve karena sudah menolongku. Tapi tetap saja anda kurang ajar dan cabul." jawab Viola kepada Dokter Steve yang kini melongo melihatnya.
..."Kurang ajar, dan cabul. Astaga apa maksud kata katanya itu." ucap Dokter Steve didalam hati....
"Dokter Steve, bisakah anda menemani saya. Saya sangat takut jika sendirian berada di ruangan ini." ucap Viola dengan tatapan yang sangat menggemaskan menurut Dokter Steve.
"Tapi saya harus memeriksa pasien yang lain, terkhusus ibu hamil yang mau melahirkan." jawab Dokter Steve dengan maksud mengerjai Viola.
"Ohhh..... Begitu ya, jadi Dokter Steve akan bertugas malam ini. Kalo begitu bisakah saya meminjam ponsel anda sebentar?" ucap Viola dengan tatapan mata puppy eyes nya.
Dokter Steve yang melihat mata Viola seperti itu, benar benar bertambah gemas.
"Ini ponselku, Nona tunggulah sebentar aku akan membeli makanan dulu." jawab Dokter Steve dengan tersenyum.
"Ohh iya, terimakasih Dokter Steve." ucap Viola dengan begitu senang nya.
Saat Dokter Steve sudah benar benar menghilang dari pandangan nya, Viola langsung saja menghubungi Aidan. Ia mengeluarkan kartu nama Aidan yang berada disaku celana jeans-nya.
"Semoga Kak Aidan mengangkat teleponnya, semoga." ucap Viola menyemangati diri nya sendiri.
Tuttt....Tuttt....Tuttt.... Bunyi suara sambungan telepon. Lumayan lama telepon belum di angkat, dan akhirnya tersambung juga.
"Hallo Kak Aidan." teriak Viola lewat sambungan telepon dengan begitu girang nya.
"Viola, kamu dimana sekarang, kenapa tidak datang kesini lagi?" jawab Aidan dengan raut wajah bahagia karena Viola menelponnya.
Ada gunanya juga ia menyelipkan kartu namanya disaku celana jeans yang Viola, saat ia tertidur dalam perjalanan puncak ke Jakarta siang tadi.
"Kak Aidan, Viola sekarang berada di Rumah Sakit Elisabeth. Bisakah Kakak datang ke sini, untuk menemaniku. Tetapi Vio mohon jangan beritahu siapapun jika Viola berada disini." ucap Viola dengan raut wajah sedihnya.
"Mana bisa Kakak diam saja Viola, keadaan kamu sedang tidak baik baik saja saat ini." jawab Aidan.
"Kak Viola belum sanggup, jika Dad, Mom, dan Kak Sean tahu masalah rumah tangga Viola dan Arsen yang sudah berantakan Kak." ucap Viola yang sudah menangis tersedu sedu.
"Hah... Iya baiklah, sekarang berhentilah menangis, Kakak akan segera kesana." jawab Aidan.
Steve yang sudah berada dibalik pintu ruang rawat VVIP Viola, hanya bisa menegangkan tubuhnya karena begitu terkejut dengan kenyataan yang barusan ia dengar dari pembicaraan Viola, jika ia sudah bersuami.......
"Kenapa hatiku terasa sangat sakit, seperti langsung dihantam batu yang sangat besar." lirih Dokter Steve yang benar benar terlihat pasrah dan kecewa.
Saat pintu terbuka, Viola langsung menolehkan kepalanya menghadap Dokter Steve yang membawa dua tenteng kresek belanjaan, berisi buah dan nasi.
"Ayo makan lah dulu, bukankah Nona belum makan dari tadi." ucap Dokter Steve tersenyum.
.
"Iya terimakasih Dokter Steve." jawab Viola yang juga membalas senyuman Dokter Steve.
Hampir satu jam mereka berdua makan bersama dengan penuh canda tawa dan percakapan satu sama lain, sampai akhirnya Sean dan Aidan yang datang tiba tiba.
* Kembali ke saat ini......
Viola yang kelelahan memikirkan kejadian konyol pagi tadi, kini sudah tertidur dengan begitu nyenyak.....
•
•
•
•
Hallo semuanya, bantu like dan komentar nya ya, agar author bisa semakin rajin update Nya.
** TBC **