
London,
.
Empat bulan kemudian...
Viola yang baru saja selesai mandi, langsung bersiap keluar dari kamar untuk menemui baby Lean yang tengah minum susu bersama baby sister nya.
"Hem... Tanpa terasa putra ku sekarang sudah berusia 4 bulan, perasaan baru saja kemarin akuĀ melahirkan nya." ucap Viola dengan senyum mengembang nya saat sudah berdiri di depan pintu kamar baby Lean.
Viola yang langsung masuk kedalam kamar baby Lean, tiba tiba tertegun saat melihat Steve yang tengah tertidur sambil meletakkan Lean di atas tubuhnya, benar benar pemandangan yang sangat menyejukkan hati Viola.
"Dua Pria Berharga Di Hidup Ku." ucap Viola dengan tersenyum, lalu mulai mendekati Steve dan perlahan menyentuh lembut wajah nya.
Steve yang merasakan sentuhan lembut jari seseorang di wajah nya langsung membuka mata, ia tahu itu adalah istrinya dan Steve pun langsung saja menarik tangan Viola sampai membuatnya terhuyung hampir jatuh.
"Steve, kelakukan mu ini akan mengagetkan Lean." ucap Viola dengan tatapan cemberutnya.
"It.u karena ulah mu sendiri sayang, kenapa membelai wajah sampai membuat ku terbangun, hem." jawab Steve dengan tersenyum.
"Kapan kamu pulang?" tanya Viola.
"Hampir satu jam yang lalu." jawab Steve.
"Terus kenapa malah tidur dikamar Lean?" tanya Viola penuh selidik.
"Saat baru masuk ke rumah, aku sudah mendengar suara tangisan Lean, jadi aku langsung kesini." jawab Steve.
"Benarkah, terus dimana Silvia sekarang?" tanya Viola dengan tatapan yang masih saja penuh selidik.
"Sayang, dia tidak ada dikamar ini. Saat aku masuk menemui Lean, dia langsung pamit keluar." jawab Steve menjelaskan semuanya.
"Ohh... Syukurlah kalo begitu." ucap Viola.
"Kamu berpikiran aku ada apa apa dengan baby sister itu?" tanya Steve.
"Aku hanya tidak mau kecolongan lagi, sudah cukup dulu itu saja." jawab Viola yang hendak bangun dari tempat tidur, tapi belum juga ia bangun tangan nya sudah di tahan lagi oleh Steve.
"Aku tidak sama dengan pria dari masa lalu mu, jadi jangan pernah berpikiran aku akan berselingkuh, karena aku sudah bahagia bisa memiliki dan mencintaimu selamanya." ucap Steve, lalu menarik Viola kedalam pelukannya.
Viola yang mendengar perkataan Steve hanya bisa terdiam lalu meneteskan air matanya, tidak seharusnya ia mencurigai Steve sampai mengatakan hal yang tidak tidak.
"Maaf, maafkan aku." lirih Viola.
Steve menghapus air mata Viola, lalu mengecup kening nya dengan begitu lembut.
*
Viola sudah 4 bulan tidak pernah lagi ke klinik Arabella, besok pagi rencananya ia akan mulai bekerja kembali seperti biasa di klinik nya itu. Tapi ia bahkan belum mengatakan apa apa kepada Steve, apalagi meminta izin dari suami nya itu.
Steve yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, kini mulai meletakkan laptop nya, saat ia melihat Viola yang masih sibuk menyiapkan pakaian kerja nya.
"Sayang, ini sudah malam, ayo kita tidur." ucap Steve yang berjalan mendekati Viola, lalu memeluk nya dari belakang.
"Sebentar lagi, jika kamu sudah mengantuk tidur lah duluan." jawab Viola yang terus sibuk dengan segala urusan nya.
"Aku tidak mungkin bisa tidur, jika istriku yang sangat cantik ini tidak berada di pelukan ku." ucap Steve dengan tatapan penuh cinta nya.
"Kamu menggodaku, pasti ada mau nya, hem." jawab Viola yang juga tersenyum.
"Seperti nya begitu, ayo." ucap Steve yang langsung menggendong Viola menuju ke tempat tidur.
Malam yang indah terasa singkat di lewati Steve dan Viola dengan penuh cinta. Entah sudah yang ke berapa kali Steve menyemburkan benih nya di dalam rahim istri nya itu.
Seperti saat ini Steve yang hampir mencapai puncaknya terus memompa tubuh nya dengan sangat cepat sampai akhirnya...
Viola yang benar benar sangat kelelahan, akhirnya mulai memejamkan matanya tanpa membalas perkataan cinta dari suaminya itu...
Steve yang mengetahui Viola sudah tertidur, akhirnya melepaskan penyatuan mereka dan membawa istrinya itu kedalam pelukannya.
Wajah teduh Viola yang tengah tertidur, membuat Steve menyunggingkan senyum terindah nya.
"Sudah tidak ada tempat bagi wanita lain untuk sekedar singgah di hati ku, karena semuanya sudah dikuasai oleh kamu sayang." lirih Steve sambil terus menatap kagum wajah cantik Istrinya itu.
Tak berapa lama, Steve pun ikut terlelap menyusul Viola ke alam mimpi. Sepanjang malam sepasang suami istri itu tidur sambil berpelukan dengan begitu mesra nya...
*
*
*
Pagi harinya...
Viola yang sangat kelelahan karena semalaman terus menerus di gempur suami nya, kini masih tertidur lelap.
Steve yang memang setiap pagi selalu berolahraga untuk menjaga stamina, kini sudah berada diruang gym.
.
Hampir satu jam berlalu...
Steve pun keluar dari ruang gym pribadinya itu dengan tubuh penuh keringat, dan itu membuatnya semakin terlihat seksi. Para asisten rumah tangga yang tengah berkerja menyapa Steve dan menatap kagum kearah tuan nya itu.
Silvia yang tengah menggendong Lean pun mencuri curi kesempatan untuk bisa berbicara dengan Steve.
"Selamat pagi Tuan Steve, apa anda tidak ingin menggendong baby Lean?" ucap Silvia dengan senyum merekah nya.
"Em... Nanti saja, aku sedang berkeringat. Dan itu malah akan membuat putra ku tidak nyaman." jawab Steve yang langsung berlalu pergi meninggalkan Silvia yang masih menatap kagum kearah tuan nya itu.
Lorens yang memang bertugas sebagai kepala pelayan, menatap jengah sepupu centil nya itu. Ia tak bisa lagi membiarkan Silvia yang menurut nya sudah melewati batas, dengan cepat Lorens pun memanggil nya.
"Silvia, aku ingin berbicara dengan mu. Segera ikut keruangan ku." ucap Lorens dengan tatapan tajamnya.
Silvia yang melihat raut wajah Lorens berubah masam, hanya bisa menerka saja, apa ia sudah melakukan kesalahan sehingga Lorens sampai memanggilnya.
Saat Silvia sudah berada di ruangan kerja Lorens, ia hanya bisa terdiam ketika Lorens menatap nya dengan sorot mata tajamnya.
"Kamu tahu kenapa aku memanggilmu kesini?" tanya Lorens.
"Emm... Aku tidak tahu, tidak perlu bicara se formal ini, kita itu saudara sepupu, lagian disini cuma ada kita berdua saja." jawab Silvia.
"Jangan menggoda, maupun berniat merusak rumah tangga tuan Steve dan nyonya Viola." ucap Lorens yang langsung to the poin ke intinya saja.
"Hah... Apa maksud perkataan mu itu? Siapa yang mau menggoda tuan Steve, ataupun berniat merusak rumah tangga nya, jangan pernah menuduhku seperti ini." jawab Silvia dengan jantung yang sudah berdegup kencang.
"Aku hanya memperingatkan mu, jangan sampai salah arah. Lagian juga tuan Steve tidak mudah untuk di goda, karena dia sangat mencintai istrinya." ucap Lorens dengan senyum sinis nya.
Silvia terdiam, dan hanya bisa mengepalkan erat genggaman tangannya. Ia saat ini benar benar sangat kesal melihat kakak sepupunya ini...
.
"Hah... Aku semakin penasaran saja, sekuat apa tuan Steve menahan godaan dari tubuhku." lirih Silvia didalam hati.
.
Bersambung...