
Sandra sudah rapi dengan setelan kerja kebanggaan nya, sudah hampir dua tahun ini ia bekerja di rumah sakit terkenal di Jakarta sebagai dokter spesialis anak.
Dengan begitu centilnya ia terus berlenggak lenggok di depan cermin kamar, sampai akhirnya suara sang Mama memanggilnya baru lah ia berhenti.
Tok...tok...tok... Bunyi suara pintu yang terus di ketok oleh Mama Gina.
"Sandra... Bukan kah kamu ada jadwal pagi di rumah sakit." ucap Mama Gina.
Cekrek pintu akhirnya dibuka oleh Sandra.
"Hem... Iya Ma, kenapa harus teriak segala sih, Sandra udah siap kok." jawab Sandra dengan wajah cemberutnya.
"Ya kan Mama enggak tauh kalo kamu udah siap, dulu juga kan waktu zaman kuliah kamu itu selalu dibangun kan dulu setiap pagi." ucap Mama Gina menjelaskan sambil mengingat masa lalu.
"Itu dulu Ma, sekarang kan udah beda. Sandra tuh bukan remaja kuliahan lagi, tapi wanita dewasa yang sudah berusia 27 tahun." jawab Sandra.
"Oh wanita dewasa yang sudah berusia 27 tahun, tapi kok masih jomblo saja." ucap Mama Gina dengan raut wajah mengejek Sandra.
"Hem... Mulai lagi, ya udah lah Ma Sandra mau sarapan, apa Kak Arsen sudah diruang makan?" tanya Sandra.
"Iya, Kakak kamu lagi sarapan bersama Papa, Max, dan Loly." jawab Mama Gina.
"Wah rame ya, ayo kita turun sekarang Ma?" ucap Sandra.
"Ayo...!" jawab Mama Gina yang langsung menggandeng lengan Sandra.
*
*
*
Sandra yang baru saja turun bersama Mama Gina langsung menyapa Arsen, Papa Joon, Max, dan Loly.
"Pagi semuanya." ucap Sandra.
"Pagi juga." jawab Papa Joon, Max, dan Loly.
Hanya Arsen yang tidak menjawab, dan cuma mengaduk ngaduk makanan nya.
"Hai kakak ku tersayang, apa sarapan mu kali ini tidak enak?" ucap Sandra.
Arsen tetap saja diam, dan tidak menghiraukan sedikit pun kata kata dari Sandra.
"Kak Arsen kenapa?" tanya Sandra lagi.
"Kenapa kau sangat cerewet, apa mulut mu tidak lelah berbicara terus." jawab Arsen dengan begitu ketus nya.
Sandra langsung terdiam, dan mata nya mulai berkaca kaca. Ia benar benar tidak bisa lagi memahami perasaan hati kakak nya, terkadang Arsen ceria tapi terkadang juga akan berubah mood seperti sekarang ini.
"Arsen, adik mu hanya bertanya. Kenapa kamu malah berkata kasar?" ucap Papa Joon.
Arsen tidak menjawab perkataan Papa nya, ia pun memundurkan kursinya, lalu berlalu pergi dengan berjalan menggunakan tongkat menuju kamar nya.
Mama Gina, Papa Joon hanya bisa menghela nafas panjang nya. Mereka benar benar tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi mood Arsen, yang terus berubah-ubah.
"Pa, Ma, apa Arsen masih kecewa karena pendonor mata itu tidak jadi mendonorkan mata nya?" tanya Max.
"Sepertinya begitu." jawab Mama Gina dengan raut wajah sedihnya.
"Sayang, jangan bersedih. Aku yakin, kita pasti mendapat kan lagi pendonor mata yang cocok untuk Arsen." ucap Papa Joon sambil memegang tangan Mama Gina.
"Hem... Semoga Pa, sudah enam tahun. Mama cuma takut, Arsen benar benar sudah tidak bisa lagi melihat semuanya." ucap Mama Gina.
"Enggak Ma, Sandra juga sangat yakin pasti nanti akan ada pendonor untuk Kakak." jawab Sandra.
"Iya Ma, Pa. Kita terus berdoa, agar Arsen bisa kembali seperti dulu lagi." ucap Loly istrinya Max.
"Terimakasih Loly, Max pasti bangga punya istri seperti mu." jawab Mama Gina.
"Hahaha... Tentu saja Ma." jawab Max dengan begitu bangga nya.
Akhirnya semua kembali menikmati sarapan pagi mereka dengan canda tawa...
*
*
*
Sandra kini sudah berada dirumah sakit tempat ia bekerja, ia pun sudah bersiap menyambut orang tua dari anak anak yang akan berkonsultasi, mau pun memeriksakan anak nya.
"Vira, apa semua nya sudah siap?" tanya Sandra kepada suster yang bertugas bersama nya.
"Sudah dokter Sandra." Jawab Vira.
"Oh baiklah, segera panggil para orang tua pasien yang akan berkonsultasi dulu, sesuaikan urutan nya." ucap Sandra.
"Baik dokter Sandra." jawab Vira.
.
Hampir dua jam berlalu...
Para orang tua pasien pun sudah berangsur angsur pulang.
Sandra yang akan bersiap keluar dari dari ruangan nya, tiba tiba di kaget kan oleh kedatangan Vira yang tergesa gesa.
"Ada apa?" jawab Sandra yang benar benar kebingungan.
"Ada pasien anak laki laki yang baru tiba di unit gawat darurat, cepat dokter." ucap Vira.
"Oh baiklah ayo." jawab Sandra dengan tergesa-gesa.
Saat Sandra dan Vira sudah berada di depan Unit gawat darurat, ia pun langsung masuk untuk segera memberikan penanganan kepada pasien.
Saat Sandra sudah berada didalam, ia melihat sosok pria yang tengah menangis, yang ia yakini pasti orang tua dari sang anak yang tengah tak sadarkan diri.
"Xavier, Papa mohon bertahan lah demi Papa." ucap pria itu.
Sandra merasa sangat tak asing dengan suara pria itu, tapi ia pun tidak mempedulikannya, yang ia inginkan sekarang hanyalah menolong anak itu.
"Permisi Pak, anda harus keluar. Kami akan segera memberikan penanganan untuk anak bapak?" ucap Sandra.
Pria itu pun langsung membalikan badannya, dan berhadapan langsung dengan Sandra.
Mata Sandra pun sontak saja langsung membelalak dengan sempurna, saat ia melihat pria yang tengah berdiri dihadapannya.
"Kak Aidan?" ucap Sandra dengan raut wajah terkejut nya.
"Sandra, kamu sekarang dokter disini?" jawab Aidan yang juga sama terkejutnya dengan Sandra.
"Hem... Iya kak." ucap Sandra.
"Oh, Sandra cepat lah tolong putra ku." ucap Aidan.
Nafas Sandra terasa sesak saat ia mulai menyadari jika Aidan kini bahkan sudah memiliki putra, tapi ia berusaha untuk biasa saja.
"Kak Aidan tenang lah dulu, aku akan memberikan penanganan kepada anak Kakak." ucap Sandra.
"Baiklah, aku mohon Sandra tolong anak ku." jawab Aidan.
"Iya Kak, Kak Aidan juga terus bantu dengan doa ya." ucap Sandra.
"Iya pasti." jawab Aidan yang kemudian langsung keluar dari ruang Unit gawat darurat.
*
*
*
Satu jam pun berlalu, tak berapa lama Sandra pun keluar dari ruangan unit gawat darurat.
Aidan yang melihat Sandra sudah keluar langsung mendekati nya.
"Sandra bagaimana, apa Xavier baik baik saja." tanya Aidan dengan raut wajah sedihnya.
"Xavier sudah melewati masa kritis nya kak, sebenar lagi dia akan dipindahkan keruang perawatan." jawab Sandra.
"Alhamdulillah." ucap Aidan dengan penuh rasa syukur.
"Apa Xavier sering seperti ini kak? Tiba tiba demam tinggi?" tanya Sandra.
"Hem... Iya." jawab Aidan lesu.
"Apa penyebabnya, dan sudah sejak kapan Kak?" ucap Sandra.
"Sejak 3 tahun yang lalu, ketika Mama nya meninggal saat mengandung anak kedua kami." jawab Aidan dengan mata berkaca-kaca.
"Innalilahi wainailaihi rojiun, "Aku Turut Berduka" kak Aidan." ucap Sandra dengan wajah yang langsung tertunduk karena tidak nyaman dengan perkataannya.
"Terimakasih Sandra. Oh ya, bagaimana kabar Arsen, apa dia sudah sembuh?" jawab Aidan.
"Keadaan kak Arsen belum begitu baik, ia memang sudah bisa berjalan kembali, tapi... Ia masih belum bisa melihat seperti biasanya." ucap Sandra dengan raut wajah sedih.
"Kamu sabar ya, titip salam ku buat Arsen." jawab Aidan.
"Iya Kak, oh ya sejak kapan Kakak berada di Indonesia?" tanya Sandra.
"Sudah satu tahun yang lalu, dan sekarang kami memilih menetap disini, terlalu banyak kenangan manis di Dubai jadi sangat sulit bagiku untuk benar benar ikhlas dan melupakan almarhumah istriku." jawab Aidan.
"Ohh... Iya Kak." ucap Sandra yang tiba tiba menjadi tidak nyaman.
"Terimakasih Sandra, kalo begitu Kakak pamit dulu ingin menjumpai Xavier." jawab Aidan.
"Baiklah Kak." ucap Sandra.
Saat punggung Aidan benar benar sudah menghilang, Sandra hanya bisa menghela nafas panjang nya.
"Hah... Sebegitu cinta nya Kak Aidan dengan almarhumah istrinya, belum apa apa aku sudah kesulitan untuk menggapai nya." lirih Sandra yang langsung beranjak pergi menuju ruangannya.
*
*
*
Bersambung...
.