
London...
Viola yang baru bangun dari tidur, tiba tiba saja merasakan perutnya kram dan sakit.
"Huhh... Perutku?" lirih Viola sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.
Viola yang berusaha berdiri untuk menuju ke kamar mandi, terus meringis kesakitan saat perut nya lagi lagi terasa kram dan sangat sakit.
"Ah.... Perutku, ah...!" jerit Viola yang kini sudah duduk dilantai sambil memegangi perutnya.
.
Steve yang baru saja selesai berolahraga, bergegas naik ke kamar untuk melihat istri nya yang tadi masih tertidur.
Saat Steve membuka pintu kamar, ia benar benar shock melihat Viola yang sudah terbaring dilantai dengan sangat kesakitan.
"Sayang..." panggil Steve dan langsung mendekati Viola yang sudah pucat pasi menahan kesakitan.
"Steve perut ku kram dan sangat sakit, ah sakit Steve, sakit sekali." lirih Viola.
Dengan cepat Steve pun langsung menggendong Viola, dan bergegas untuk membawa nya kerumah sakit nya.
Para asisten yang tengah bekerja di rumah mereka kini saling pandang, dan bertanya tanya apa yang sudah terjadi, sehingga Tuan nya itu tampak sangat ketakutan.
"Lorens, cepat panggil Robert sekarang. Perintah kan dia untuk segera mengantar kami ke rumah sakit." teriak Steve kepada kepala pelayan dirumah nya itu.
"Baik Tuan." jawab Lorens dengan berlarian menuju pos penjagaan didepan rumah Steve.
.
Tak berapa lama Robert yang memang bekerja sebagai sopir pribadi dirumah ini langsung mengantar kan Tuan dan Nyonya nya yang tengah kesakitan.
"Sayang, aku mohon bertahan lah. Kamu akan baik baik saja, sebentar lagi kita akan bertemu Baby N." ucap Steve yang terus menyemangati istrinya itu.
"Hem... Iya, tapi ini sangat sakit Steve." jawab Viola.
"Iya sayang, kamu tahan ya." ucap Steve sambil mengelap keringat yang terus mengucur deras di wajah Viola.
*
*
*
Hampir 30 menit berlalu, akhirnya mobil Steve sampai juga di depan unit gawat darurat dirumah sakit milik Steve sendiri.
Dengan cepat, dokter Verro beserta para suster yang sedang bertugas langsung menurunkan brankar untuk membawa istri dari pemilik rumah sakit ini ke unit gawat darurat.
"Verro, tolong jaga istriku sebentar. Aku akan bersiap dan ikut membantu proses kelahiran anak ku." ucap Steve.
"Iya pergilah." jawab Verro.
.
Viola yang sudah sangat kesakitan, kini di pasang kan infus oleh para suster. Tiba tiba cairan bening mengalir deras dari pangkal pahanya, menandakan ia memang akan segera melahirkan.
"Dokter Verro, air ketuban nyonya Viola sudah pecah. Ini akan membahayakan kesehatan Baby nya, bagaimana ini dokter." ucap Suster yang bernama Jehan itu.
"Steve kamu dimana, kenapa sangat lama." lirih Verro dengan begitu paniknya.
.
Steve akhirnya datang dengan tergesa gesa, ia semakin tak tega melihat Viola terus kesakitan seperti itu.
"Kenapa kamu lama sekali, air ketuban istri mu sudah pecah dan jika terlalu lama dibiarkan bisa sangat membahayakan kesehatan Baby mu." ucap Verro.
"Siapkan ruang operasi sekarang juga, aku juga tidak mau istriku terus kesakitan seperti ini, kita lakukan operasi secar." perintah Steve dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Baiklah, kalo begitu cepat siapkan ruang operasi sekarang juga." ucap Verro kepada para suster yang akan ikut serta dalam proses operasi secar Viola.
"Steve sakit sekali, ah sakit." teriak Viola.
"Sabar sayang, kamu akan segera di operasi. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Baby kita." ucap Steve.
"Aku tidak mau di operasi, aku ingin melahirkan anak ku dengan cara normal. Cepat bantu aku sekarang, ah sakit...!" lirih Viola yang terus menerus kesakitan.
"Sayang kamu tidak bisa melahirkan normal, air ketuban mu sudah pecah, dan itu bisa membahayakan Baby kita. Tolong dengarkan aku kali ini, kamu harus segera operasi secar." ucap Steve.
"Kalo begitu cepat selamat kan Baby ku Steve, aku mohon." lirih Viola yang terus meringis menahan rasa sakit yang hilang dan kembali datang itu.
"Baby kita sayang, bukan cuma Baby mu." ucap Steve dengan tersenyum, lalu mengecup lembut kening istrinya itu.
*
*
*
Ruang Operasi...
Steve yang memimpin jalan nya operasi secar Viola, ia tak membiarkan Verro sedikit pun untuk menyentuh Istrinya. Jika ia membutuhkan bantuan, hanya suster wanita lah yang boleh membantu nya.
Verro yang kesal, kini hanya bisa jadi penonton saja. Tiba tiba tersirat senyum indah di bibirnya, saat menghayal jika nanti sang istri melahirkan ia pun akan mengerjakan operasi secar sendiri, sama seperti yang Steve lakukan sekarang kepada istrinya.
Saat Verro masih terus berada di dunia khayalan nya, ia langsung saja tersadar saat mendengar suara tangisan bayi yang sangat keras.
"Alhamdulillah." ucap Steve saat ia berhasil mengeluarkan Baby nya dari perut Viola.
"Selamat dokter Steve, Baby anda laki laki dan sangat tampan." ucap Suster Jehan.
"Iya terimakasih suster Jehan." jawab Steve dengan senyum mengembang nya.
.
Suster Jehan segera undur diri dan langsung membersihkan Baby Viola dan Steve.
"Selamat sayang, sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu." ucap Steve dengan tersenyum manis.
"Terimakasih sayang." jawab Viola yang juga tersenyum.
*
*
*
Di depan ruang operasi, semua pihak keluarga tengah menunggu kelahiran Baby N dengan sangat cemas. Semua berdoa, memohon keselamatan dan kemudahan untuk keduanya.
Tak berapa lama, lampu ruang operasi pun telah dimatikan, itu tandanya operasi telah selesai.
Mom Ariana, Dad Antonio, Mommy Yuna, dan Daddy Arron. Sudah berdiri tepat di depan pintu ruang operasi.
Tak berapa lama pintu terbuka, dan keluar lah dokter Verro dengan senyum merekah di wajah nya.
"Selamat Mommy, Daddy, Om, Tante. Kalian sudah sah menjadi Grandma dan Grandpa." ucap Verro.
"Ah benarkah, Alhamdulillah." ucap mereka berempat sambil terus berpelukan.
Tak lama kemudian, Steve pun menyusul keluar dengan menggendong Baby nya.
"Welcome To My Baby World." ucap Steve dengan tersenyum bahagia.
.
~ Visual Baby L !
*
*
*
Dad Antonio, Mom Ariana, Mommy Yuna, dan Daddy Arron langsung menghampirinya. Mereka semua bahagia dan gemas melihat Baby N yang sangat lucu dan tampan.
"Oh cucuku, kamu bahkan sangat tampan melebihi Daddy mu saat dulu ia lahir." ucap Mommy Yuna.
"Hem... Bagiamana bisa seperti itu, Baby N lahir tampan karena kedua orangtuanya tentu sangat tampan dan cantik." jawab Steve tidak mau kalah.
"Hahaha..... Tapi kamu sewaktu Baby seperti ini, memang kalah tampan dari anak mu Steve terima sajalah." ucap Daddy Aron menimpali.
"Ya ya ya terserah lah." jawab Steve tidak bisa menerima.
Semua yang berada disana akhirnya tertawa terbahak bahak melihat tingkah Steve yang menurut mereka tak jauh berbeda dari seorang bocah...
*
*
*
Viola kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP, Baby mereka tak pernah lepas dan terus bergantian di gendong oleh nenek dan kakeknya.
"Viola lihat Baby kalian sangat lah tampan dan menggemaskan. Cepat buat kan satu lagi cucu untuk kami, agar kami bisa saling bermain dengan mereka." ucap Mommy Yuna.
"Mom hentikan, kami tentu saja belum mau menambah anak. Viola baru saja melahirkan, hem." jawab Steve tidak terima dengan kekonyolan Mommy itu.
Viola hanya bisa tersenyum saja, ia sangat bahagia karena sekarang sudah menjadi seorang ibu dan memiliki keluarga yang lengkap juga bahagia.
.
..."Tuhan, semoga kebahagiaan ini terus aku rasakan. Amin." lirih Viola didalam hati, lalu tanpa terasa ia pun sudah meneteskan air mata nya....
.
Steve yang melihat Viola meneteskan air mata, langsung menghampiri dan memeluknya.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Steve yang kini sudah duduk di samping Viola.
"Tidak ada apa apa, aku hanya berdoa kepada Tuhan agar kebahagiaan ini terus aku rasakan selama nya." jawab Viola.
"Tentu saja Tuhan akan mengabulkan doa mu, karena tentu saja kebahagiaan akan selama nya bersama mu." ucap Steve dengan tersenyum.
"Amen." jawab Viola.
"Terimakasih sudah berjuang dalam melahirkan anak ku dan menjaga nya selama 9 bulan ini, aku mencintaimu Viola." ucap Steve dengan memeluk, lalu mengecup lembut kening dan bibir Viola.
"Aku juga mencintaimu." jawab Viola yang juga membalas pelukan dan ciuman lembut Steve.
Mereka seakan terbawa suasana, sampai akhirnya suara Daddy Arron menyadarkan mereka.
"Apa kami harus segera pergi dari ruangan ini, dan kalian berdua bisa melanjutkan nya." ucap Daddy Arron dengan tersenyum.
Rasa canggung sekaligus malu akhirnya menghampiri Steve dan Viola, tapi kemudian mereka pun tertawa bersama...
*
*
*
*
Bersambung...
.