Oppa Lee I Love You

Oppa Lee I Love You
Hanya Seseorang Di Masa Lalu



Steve dan Verro yang baru saja tiba di bandara Soekarno-Hatta Jakarta, langsung bergegas keluar menuju pintu kedatangan.


Tampak dari kejauhan seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai sopir hotel tempat mereka biasa menginap telah melambaikan tangan nya kearah dua dokter muda itu. Dengan cepat Steve pun langsung membalas lambaian tangan dari sopir itu.


"Hai pak Harto, apa kabar nya, sudah lama ya kita tidak berjumpa?" ucap Steve dengan tersenyum.


"Hai juga tuan Steve, kabar saya baik tuan, iya sudah 6 tahun lebih kayak nya tuan." jawab pak Harto yang juga tersenyum.


"Sebenarnya saya juga mendadak datang kesini pak, seharusnya ini kerjaan nya dokter Verro. Tapi bapak tahu lah kan kerja dia seperti apa, kalau tidak ada saya." ucap Steve terkekeh.


"Dasar teman lucknut, jika menemani aku untuk seminar karena terpaksa, terus ngapain kamu ikut kesini." jawab Verro dengan kesal nya.


"Hahaha... Tuh kan pak, lihat saja kelakuan nya. Udah jadi dokter tapi kenapa tingkah nya masih labil, gampang emosi seperti anak ABG." ucap Steve yang terus terkekeh.


Pak Harto pun akhirnya ikut tertawa, sedangkan Verro kini mengalihkan wajahnya kearah lain dan tidak mempedulikan Steve dan pak Harto yang masih saja terus tertawa.


*


*


*


Dua jam berlalu, mobil yang dikemudikan pak Harto kini sudah sampai di loby hotel bintang lima tempat Steve dan Verro akan menginap selama berada di Indonesia.


Saat Steve akan menarik koper bawaannya, Verro ternyata sudah lebih dulu membawa nya masuk.


"Koper yang kamu bawah itu milik ku, ini koper mu." ucap Steve.


"Tinggal bawah saja, gampang kan. Nanti jika sudah sampai kamar, tinggal di tukar." jawab Verro dengan santai nya, lalu lanjut berjalan lagi.


Steve yang mendengar perkataan Verro barusan, hanya bisa menghela nafasnya saja.


"Tuan Steve, biar koper nya saya saja yang membawakan nya." ucap pak Harto.


"Tidak usah pak, enggak apa biar saya saja, ini tips buat bapak simpan ya." jawab Steve yang memberikan sepuluh lembar uang seratus ribu kepada pak Harto.


"Aduh tuan Steve, ini banyak sekali. Jangan pak, saya enggak bisa menerima nya." ucap pak Harto tidak enak hati.


"Ambil pak, itu rezeki buat bapak dan keluarga, terima ya pak saya ikhlas." jawab Steve dengan tersenyum.


"Tuan Steve memang selalu baik sama saya, terima kasih banyak tuan Steve." ucap pak Harto dengan tersenyum bahagia.


"Baiklah kalau begitu saya masuk dulu ya pak, saya harus istirahat sebentar baru datang kerumah sakit." jawab Steve.


"Baiklah tuan, saya juga pamit undur diri. Assalamualaikum." ucap pak Harto.


"Waalaikum sallam." jawab Steve.


Steve pun berjalan menuju lift, untuk menuju kamarnya yang berada di lantai 20.


*


*


*


Arsen dan Mama Gina yang baru saja keluar dari ruang khusus pemeriksaan mata, langsung bergegas menuju area parkiran mobil.


Terlihat jelas raut wajah sedih dan kecewa yang di rasakan oleh Mama Gina dan Arsen. Tadi Mama Gina sudah berkonsultasi dengan dokter yang telah menangani Arsen selama ini, tapi ternyata sampai saat ini belum ada juga pendonor mata untuknya.


"Arsen, kita mampir dulu kerumah sakit tempat adik mu bekerja. Mama ingin berkonsultasi dengan dokter Haikal, untuk menanyakan apa dia sudah mendapatkan pendonor mata untukmu." ucap Mama Gina.


"Terserah Mama, yang pasti jangan lama lama karena aku akan menunggu di mobil saja." jawab Arsen.


"Hem baiklah, Mama tidak akan lama." ucap Mama Gina.


Sopir pribadi keluarga Lee pun akhirnya mulai menjalankan mobil menuju rumah sakit yang akan dituju kedua majikannya itu.


*


*


*


Tiga puluh menit berlalu dengan begitu cepat, tanpa ada suara yang keluar dari mulut Mama Gina mau pun Arsen.


Mobil yang mereka tumpangi kini sudah berada di lobby rumah sakit tempat Sandra bertugas sebagai dokter spesialis anak.


"Kamu yakin tidak mau ikut Mama kedalam melihat adikmu?" tanya Mama Gina.


"Enggak Ma, Arsen nunggu di mobil saja bersama pak Ilham." jawab Arsen.


"Oh ya sudah jika kamu ingin nya disini, Mama pergi dulu ya." ucap Mama Gina.


Mama Gina pun segera keluar dari mobil, dan langsung menuju resepsionis dirumah sakit itu.


*


*


*


Saat Steve yang tengah berjalan dengan cepat di area parkiran mobil, mata nya menangkap seseorang yang ia kenal.


"Arsen....????" lirih Steve dengan pandangan matanya terus menatap Arsen yang tengah bersandar di mobil nya.


"Siapa yang kamu maksud?" jawab Verro dengan tatapan bingung nya.


Seketika itu juga Steve langsung berhenti menatap Arsen, dan mulai berjalan kembali menuju masuk kedalam rumah sakit.


"Hey aku bertanya padamu, siapa yang kamu maksud tadi saat di parkiran." ucap Verro dengan tatapan penasaran nya.


"Sudahlah tidak perlu lagi dibahas, Hanya Seseorang Di Masa Lalu." jawab Steve dengan tatapan sendu nya.


"Hanya Seseorang Di Masa Lalu? Hah siapa itu." ucap Verro yang semakin penasaran saja.


"Berhenti lah memikirkan hal yang tidak penting untuk mu, lebih baik kamu memikirkan materi untuk pidato seminar nanti." jawab Steve dengan tatapan tajamnya.


"Hehehe... Okay, siap pak bos." ucap Verro cengengesan.


Steve terus berjalan dengan cepat, dan kembali memikirkan Arsen yang tadi di lihatnya.


Saat di persimpangan koridor rumah sakit, tiba tiba saja ia bertabrakan dengan seorang wanita, sampai membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Anda tidak apa apa?" ucap Steve yang berusaha mendekati wanita itu yang tak lain adalah Sandra.


"Em... Aku tidak apa apa, tapi seharusnya anda berjalan jangan hanya melihat lurus kedepan saja, tapi kiri dan kanan juga." jawab Sandra.


"Oh baiklah, maafkan aku. Karena aku tadi memang tengah terburu-buru." ucap Steve.


"Hah baiklah, seperti nya anda dokter baru ya dirumah sakit ini." jawab Sandra.


Baru saja Verro akan menjawab perkataan Sandra, karena tidak terima dengan kata-kata Sandra yang mengatakan mereka dokter baru, tiba tiba saja terdengar suara Mama Gina yang memanggil Sandra.


"Sandra, ikut Mama sebentar." ucap Mama Gina.


Steve yang memang mengenal Mama Gina, langsung saja memanggil nya.


"Tante Gina?" sapa Steve.


Mama Gina yang merasa namanya di panggil, langsung menolehkan kepalanya menuju kearah sumber suara.


Saat matanya melihat Steve yang tengah berdiri dengan tersenyum, Mama Gina pun langsung saja mendekati nya.


"Steve, sedang apa kamu di Indonesia?" tanya Mama Gina.


"Saya ada seminar obgyn dirumah sakit ini Tante." jawab Steve.


"Oh begitu, Sandra sini dulu." panggil Mama Gina.


"Iya Ma, ada apa?" jawab Sandra.


"Ini dokter Steve, suami nya Viola. Apa kamu tidak mengenali nya hah?" ucap Mama Gina.


"Kak Steve, astaga maafkan aku karena benar benar tidak mengenali kakak." jawab Sandra dengan wajah tidak enak nya.


"Hem sudah lah tidak apa apa, wajar saja jika sudah lupa. Kita juga terakhir bertemu 6 tahun yang lalu." ucap Steve.


"Oh iya ya." jawab Sandra dengan cengengesan.


"Bagaimana kabar Viola dan Lean? Apa mereka baik baik saja?" tanya Mama Gina.


"Alhamdulillah Viola dan anak anak baik baik saja Tante." jawab Steve.


"Oh syukur lah, maafkan Tante karena sudah lama tidak mengunjungi kalian di London. Tante benar benar tengah sibuk mengurus Arsen sampai saat ini." ucap Mama Gina yang langsung berubah sendu.


"Memang nya bagaimana keadaan Arsen sekarang Tante?" tanya Steve.


"Arsen memang sudah bisa berjalan kembali, tapi ia masih belum bisa melihat." jawab Mama Gina dengan raut wajah yang bertambah sendu.


"Apa??? Jadi Arsen sampai saat ini masih belum mendapatkan pendonor mata Tante." tanya Steve dengan raut wajah yang sangat terkejut.


"Iya Steve." jawab Mama Gina yang akhirnya meneteskan air mata.


Steve pun replek langsung memeluk Mama Gina yang tengah terisak, ia bisa mengerti perasaan yang tengah dirasakan Mama Gina saat ini...


*


*


*


*


Bersambung...


.