Oppa Lee I Love You

Oppa Lee I Love You
Seandainya



Viola yang baru saja selesai mandi langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, air matanya tiba tiba jatuh membasahi pipinya. Sudah enam hari ia pergi dari rumah, tapi Arsen tidak berusaha mencarinya bahkan pun meneleponnya.


.


..."Jika memang sudah tidak ada lagi cinta dihatinya untuk ku, aku rela, dan aku akan berusaha ikhlas. ...


...Tapi entah kenapa, jika aku mengenang janji manis nya dulu padaku, aku marah dan malah jadi tidak rela....


... Oh Tuhan... Aku mohon berikan kesabaran untuk ku dalam menjalani semua ini. Aku lelah, dan aku sudah tidak ingin lagi mengharapkan nya....!" ucap Viola didalam hati, dengan air mata yang terus membasahi wajah nya....


.


Viola yang terus menangis, tiba tiba dikagetkan oleh panggilan telepon dari ponselnya. Viola langsung meraih ponselnya yang terletak di atas nakas, ia melihat Sean lah yang kini tengah meneleponnya


"Hem... Iya Kak." ucap Viola dari sambungan teleponnya.


"Kamu datang kan kerumah Kakak, nanti jam 15.00 acara syukuran nya dimulai?" jawab Sean.


"Astaga, Vio lupa kalo hari ini dirumah kakak ada syukuran. Ya ampun, ya udah Vio akan siap siap dulu." ucap Viola.


"Iya udah kalo bisa cepat datang nya, Dad dan Mom juga sudah berada disini." jawab Sean.


"Hemm... Iyaa." ucap Viola yang langsung mematikan sambungan telepon dan bergegas mengganti pakaiannya.


.


Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB, Viola yang sudah berpakaian rapi langsung turun dari kamarnya dan menuju ruang tengah.


Viola ingin sekali Kak Aidan ikut bersamanya ke Jakarta untuk menghadiri acara syukuran tiga bulanan istri kak Sean, karena itu pasti akan membuat Mom, Dad dan Kak Sean bahagia karena kedatangan Aidan.


"Apa aku langsung datangi saja ya Kak Aidan dirumahnya." ucap Viola dengan mengerutkan keningnya.


.


..."Hah, tapi bagaimana jika Kak Aidan tidak mau dan malah menolaknya, aku pasti akan sangat malu." gumam Viola didalam hati....


.


"Hah sudahlah, tidak usah saja mengajak Kak Aidan, karena aku juga akan kembali tinggal di Jakarta." lirih Viola yang langsung memanaskan mesin mobil nya.


.


Mang Bowo dan Bu Siti yang baru saja pulang dari kebun langsung menghampiri Viola.


"Nona Viola mau kemana?" tanya Mang Bowo.


"Viola sudah mau pulang ke Jakarta Mang Bowo, Bu Siti." jawab Viola.


"Oalah, Non udah makan belum?" tanya Bu Siti.


"Tadi pagi udah, makan di angkringan bawah bukit sama Kak Aidan." jawab Viola.


"Siang ini berarti Nona belum makan, tunggu lah sebentar, biar Ibu masakan bekal." ucap Bu Siti.


"Gak usah Bu, soalnya Viola harus cepat sampai Jakarta, karena ada acara syukuran tiga bulanan istrinya Kak Sean." jawab Viola.


"Oh ya ampun, Yo wes lah Non. Hati hati dijalan, jangan ngebut hanya karena mau cepat sampai." ucap Bu Siti.


"Iya Bu, Makasih." jawab Viola.


"Biar barang barang Nona Viola mamang yang bawakan." ucap Mang Bowo.


"Oh baiklah, makasih ya Mang Bowo." jawab Viola.


Viola yang ingin ketemu Kak Aidan dulu sebelum pulang, Akhirnya menanyakannya kepada mang Bowo.


"Emm... Kak Aidan, ada dirumah ya Mang?" tanya Viola.


"Iya ada, tadi mamang dengar sepertinya dia sedang mengaji." jawab Mang Bowo.


"Ohh... Kalo gitu Viola mau pamitan dulu sama Kak Aidan." ucap Viola.


"Iya Non, pergilah." jawab Mang Bowo.


Mang Bowo yang melihat Viola berlari lari menuju rumahnya, hanya bisa tersenyum saja.


.


..."Bapak harap, kamu bisa cepat melupakan Nona Viola nak. Karena Nona Viola sudah dimiliki orang lain." ucap Mang Bowo didalam hatinya....


.


Mang Bowo kini sudah mengetahui jika Aidan begitu mendambakan Viola dan menginginkan Viola lah kelak yang menjadi istrinya, tetapi harapan nya itu hanya tinggal harapan, karena Viola malah sudah lebih dulu dimiliki oleh pria lain.


Mang Bowo tahu isi hati dan perasaan aidan kepada Viola, karena tidak sengaja menemukan buku catatan harian Aidan yang terjatuh dibawah meja dalam kamar nya.


.


..."Bapak selalu berdoa, agar kamu segera menemukan kebahagiaan mu meskipun tidak bersama Nona Viola." lirih Mang Bowo didalam hati....


.


Rumah Mang Bowo berada tepat di samping villa keluarga Kenrich, rumah dengan bangunan yang luas dan bergaya klasik itu benar benar sangat nyaman, membuat siapa saja yang sudah masuk kedalam nya, rasanya enggan untuk cepat cepat keluar.


.


Viola yang sudah berada didepan kamar Aidan, langsung saja masuk tanpa mengetuk nya terlebih dahulu.


Saat sudah berada didalam nya, mata Viola tertuju kepada Aidan yang tengah tertidur.


Viola yang penasaran dengan setiap sudut kamar Aidan langsung saja menelusuri nya.


"Waah... Kamarnya Kak Aidan sangat nyaman, bersih dan bahkan semua barang barang nya pun tersusun begitu rapi." ucap Viola.


Setelah puas menelusuri kamar Aidan dari tadi, Viola langsung saja mendekati Aidan yang masih tertidur.


"Kak Aidan bangun, cepat bangun." teriak Viola.


Aidan yang merasa terganggu dengan suara cempreng Viola langsung saja membuka matanya.


Aidan yang melihat Viola tengah berdiri didepannya, langsung saja mengucek matanya. Ia yakin jika saat ini pasti sedang bermimpi.


"Kak Aidan, Viola udah mau pulang ke Jakarta." ucap Viola.


.


..."Sepertinya aku tidak bermimpi, Viola memang benar-benar sedang berada di depanku." ucap Aidan didalam hatinya....


.


"Kakak dengar Vio gak sih?" tanya Viola.


"Ehhh... i-iya, Kakak denger kok. Viola sudah mau pulang ke Jakarta, iya kan." jawab Aidan.


"Hemmm iya." ucap Viola.


"Kakak akan ikut kamu ke Jakarta, sekalian silaturahmi dengan kedua orang tuamu dan Sean. Sudah lama sekali Kakak tidak pernah bertemu mereka." jawab Aidan.


"Oke gak masalah, Dad, Mom, dan Kak Sean pasti senang Kak Aidan mengunjungi mereka." ucap Viola.


"Tapi kakak gak enak datang sendirian, tuan Antonio juga sudah pasti akan meledek Kakak yang belum memiliki pasangan. Sedangkan Sean yang terkenal cuek saja sebentar lagi sudah menimang Baby." jawab Aidan dengan mimik wajah menyedihkan.


"Hahaha... Kakak tuh ada ada aja, Iya udah ayooo kita pergi bersama, anggap saja kita ini sebagai pasangan, hahaha aku hanya bercanda kok Kak." ucap Viola dengan tersenyum senang.


Aidan tidak menanggapi perkataan Viola, ia hanya tersenyum dan cuma berani berkata didalam hati.


.


..."Seandainya.... Memang kita benar benar pasangan suami istri, Kakak pasti sungguh sangat bahagia." lirih Aidan didalam hatinya....


.


"Kakak tahu gak, kalo sekarang dirumahnya Kak Sean lagi ada acara syukuran tiga bulan istrinya dan juga selamatan rumah baru." ucap Viola menceritakan dengan panjang lebar.


"Kakak tidak tahu, tapi sekarang sudah saja tahu karena Viola barusan yang ngomong." jawab Aidan.


"Hahaha.... Astaga Kakak buat Vio tertawa terus." ucap Viola yang terus tertawa.


Aidan yang melihat Viola begitu bersemangat tertawa, hanya bisa tersenyum melihatnya.


.


Viola dan Aidan sudah berada didalam mobil, dan siap untuk menuju Jakarta. Baru saja dua puluh menit perjalanan Viola sudah mulai tertidur, Aidan yang melihatnya hanya tersenyum gemas.


"Aku heran bagaimana caranya ia bisa mengemudi kan mobil sendiri ke pundak, jika baru beberapa menit perjalanan seperti ini dia sudah tertidur." ucap Aidan yang terus tersenyum dengan tingkah laku Viola yang menurutnya tidak ada perubahan masih saja seperti anak kecil.


.


Hampir dua jam Aidan mengemudikan mobil, akhirnya ia sampai juga didepan rumah Sean yang memang sudah di dekorasi seindah mungkin.


Aidan yang sebelumnya sudah diberi tahu Viola alamat Aidan, kini sudah mematikan mesin mobilnya.


"Viola bangunlah, kita sudah sampai." ucap Aidan yang membangunkan Viola dengan hanya menarik tali tas nya.


"Hemmm.... Kenapa sih Kak, apa udah sampai memang nya." jawab Viola.


"Iya sudah." ucap Aidan.


"Ohh... Iya ya, ayo kita masuk kedalam." jawab Viola.


"Hemmm.... Ayo." ucap Aidan yang langsung turun dari mobil dan jalan beriringan masuk kedalam rumah Sean.






** TBC **