Oppa Lee I Love You

Oppa Lee I Love You
Menikah Karena Terpaksa



Tere saat ini tengah duduk di meja rias untuk ber makeup, ia ingin bersiap turun ke restoran dan segera sarapan.


Akan tetapi saat Tere sudah selesai bermakeup ia semakin di buat kesal oleh Jade yang bahkan belum bangun, ia langsung saja mendekati Jade yang masih tertidur dengan begitu nyenyak. Padahal tadi malam ia sudah berjanji, untuk mengajak nya jalan jalan di London.


"Jade cepat lah bangun, sekarang sudah jam 08.00 pagi, ayo kita sarapan lalu jalan jalan di negara ini." teriak Tere.


Jade tetap tidak bergeming, ia masih saja tertidur dengan begitu nyenyak nya. Dengan perasaan yang semakin jengkel, Tere langsung memukul Jade dengan bantal sampai akhirnya Jade bisa terbangun.


"Kau ini kenapa sih, bisa gak bangunin suami itu dengan cara lembut, terlalu bar bar banget jadi wanita, kamu tuh gak ada anggun anggunnya." kesal Jade.


"Kau bilang aku wanita bar bar, hey pria sialan kau pikir aku bahagia dan senang hidup bersama dengan mu. Asal kau tahu saja, aku itu "Menikah Karena Terpaksa" denganmu, jadi jangan pernah menghina ku seperti itu." jawab Tere dengan tatapan tajamnya.


"Kau bilang "Menikah Karena Terpaksa" denganku, dasar wanita gak tahu diri. Kau pikir aku juga senang menikah dengan mu, aku itu cuma kasian padamu, cinta tentu saja tidak, huh." ucap Jade yang langsung bangun dari tidur nya dan masuk kedalam kamar mandi.


Tere yang mendengar perkataan dari Jade langsung saja terdiam dan tidak lagi menjawab perkataan nya, saat Jade sudah masuk kedalam kamar mandi ia mulai menangis.


"Hiks...hiks....hiks...! Bukan pernikahan yang seperti ini yang aku harapkan, aku harus bagaimana Tuhan." lirih Tere.


.


Tere langsung bergegas pergi meninggalkan kamar hotel, ia ingin sarapan bersama dengan keluarga Viola, saat Tere sudah berada di restoran hotel ternyata semua sudah kumpul.


Disana sudah ada Mom Ariana, Dad Antonio, Sean, Sashi, Mommy Yuna, Daddy Arron, Papa Joon, Mama Gina, Sandra, Verro, Clara, Albern, Alice, Alex, Jovanka, dan Deon. Hanya ia yang baru turun dan datang sendirian.


"Kenapa baru turun?" tanya Clara.


"Lho pasti abis ehem ehem lagi kan?" jawab Alice hahaha dengan tawa nya.


"Apaan sih, gak banget." ucap Tere dengan wajah cemberutnya.


"Terus mana suami lho, masih lelah ya karena abis menggempur lho Re." ucap Jovanka.


"Jangan tanya aneh aneh deh, mending lho pada kepoin Viola, dia sekarang gak ada kan. Huh." jawab Tere.


"Iya kalo Vio sama Steve wajar dong, mereka emang pengantin baru nya. Lah lho sama Jade udah jadi pengantin 4 bulan kan, masih jos juga nih." ucap Clara.


"Udah lah diem kalian, gw laper nih." jawab Tere.


Saat Tere sedang mengunyah makanan nya, Jade turun dan mulai bergabung dengan kumpulan pria. Ia hanya lewat saja di depan Tere tanpa menyapa nya, tapi Tere pun tidak peduli dan masih terus menikmati sarapan nya.


Hanya Clara, Alice dan Jovanka yang saling pandang dan menyadari jika Tere dan Jade pasti tengah bertengkar.


Tere yang sudah menyelesaikan makannya, izin sebentar ke toilet untuk buang air kecil. Di sana ia merenung, memikirkan pernikahan nya dengan Jade yang dari awal terjadi hanya karena sebuah kesalahan.


"Sudah 4 bulan berlalu, nyata nya aku tidak hamil. Hem.... Setelah kejadian Jade mengambil perawan ku malam itu, aku dan dia bahkan tidak pernah berhubungan suami istri setelah menikah, jade menikahi ku itu juga aku yang memaksanya karena aku takut hamil. Apa sebaiknya kami akhiri saja pernikahan ini, karena memang antara aku dan Jade tidak saling mencintai." lirih Tere yang membasuh wajah nya di depan toilet wanita.


Hampir 30 menit Tere di toilet, ia pun bergegas keluar. Saat ia akan keluar ia melihat Jade bergegas masuk kedalam toilet pria dengan ponsel yang menempel di telinga nya. Sontak saja Tere pun tidak jadi keluar dan kembali masuk kedalam toilet wanita.


Saat Tere sudah keluar, ia tak sengaja mendengar percakapan Jade di telepon. Awalnya percakapan mereka hanya biasa saja, tapi selanjutnya Jade yang mulai menangis dan tampak khawatir pada lawan bicaranya di telepon yang ternyata seorang wanita.


"Ve, baby please jangan menangis. Aku mohon, jangan melakukan apa pun, aku akan segera pulang ke Indonesia. Tunggu aku...!" ucap Jade.


Tere yang mendengar Jade memanggil wanita itu baby, hanya bisa tersenyum kecut. Ia yakin wanita itu adalah seseorang yang spesial di dalam hidupnya, Tere langsung bergegas pergi dari toilet itu dan berusaha untuk bersikap seperti biasanya saja.


Di tengah kerumunan orang, yang penuh canda tawa Tere hanya sendiri menangisi nasibnya, hati nya yang entah kenapa tiba tiba merasa terluka. Bukankah selama ini ia tidak mencintai Jade suami nya, tapi sekarang saat ia tahu suaminya menangis dan khawatir kepada wanita lain ia tak rela.


Tere kini sudah berada di kamar nya, ia mendadak menjadi tidak mood untuk melakukan apa apa. Yang ia inginkan sekarang hanyalah tidur, dan mengistirahatkan hati dan pikirannya.


.


Satu jam berlalu...


Jade kini juga sudah masuk kedalam kamar, saat ia akan menuju kamar mandi mata nya melihat Tere yang tengah tertidur lelap.


Jade mulai mendekati Tere, dan duduk berjongkok sedikit di depannya. Di tatap nya lekat lekat wajah istrinya itu, tersirat senyum indah dari bibir Jade saat melihat wajah teduh Tere yang tengah tertidur.


"Jika tertidur seperti ini kau menjadi wanita yang sangat anggun dan cantik, tidak cerewet dan bar bar saat kau sudah kembali ke wujud asli mu itu." ucap Jade lalu ia pun mengecup lembut bibir Tere sekilas, dan mulai masuk kedalam kamar mandi.


Saat Jade sudah berada didalam kamar mandi, Tere membuka kedua matanya ia sempat terdiam, lalu sejurus kemudian pun ikut tersenyum.


"Ternyata manusia aneh itu juga bisa bersikap manis, tidak ku sangka hem...!" lirih Tere lalu kemudian ia kembali tidur lagi.


.


Jade yang sudah selesai mandi, kini tengah bersantai di depan televisi. Ia menonton, sekaligus menguyah cemilan yang memang selalu Tere sediakan.


Saat ia hendak bangun untuk mengambil minuman kaleng di lemari pendingin, ponselnya berbunyi. Sontak saja Jade langsung berputar arah untuk mengambil ponselnya di atas nakas, saat ia melihat siapa yang tengah menelpon Jade mengeryitkan kedua alisnya.


.


..."Verra???? Tidak mungkin aku mengangkat telepon disini, aku tidak mau Tere sampai salah paham." lirih Jade didalam hati....


.


Saat Jade mengabaikan panggilan dari Verra, ponselnya terus saja berbunyi.


Dengan perasaan kesal, Jade akhirnya mengangkat panggilan telepon itu dan keluar ke arah balkon hotel. Saat terdengar pintu terbuka, Tere kembali membuka matanya. Ia ternyata hanya berpura pura tidur sejak terbangun tadi...


Bersambung...


.