Oppa Lee I Love You

Oppa Lee I Love You
Anggap Aku Sebagai Teman



Arsen yang tengah menikmati sarapan paginya, harus terusik dengan suara ponselnya yang terus berbunyi.


Viola yang awalnya terlihat cuek, langsung saja mengambil ponsel itu dan memberikan nya pada Arsen.


"Angkatlah dulu, kalo ini telepon penting bagaimana?" ucap Viola.


"Itu pasti Max, aku sangat benci jika makan ku pun harus terganggu karenanya." gerutu Arsen.


"Jika kau tidak suka ditelepon sepagi ini, jangan jadi CEO." ucap Viola.


Arsen langsung menerima panggilan dari ponselnya dengan perasaan kesal.


"Ada apa?" tanya Arsen.


"Ada masalah pembangunan resort di Lombok, jadi kita harus segera kesana untuk beberapa hari, cepatlah datang ke sini." ucap Max.


"Hemmmm...!" jawab Arsen.


"Ada apa?" tanya Viola.


"Aku harus berangkat ke Lombok sekarang, mungkin akan berada disana untuk beberapa hari. Sayang gapapa berangkat sendiri ke klinik?" ucap Arsen.


"Gak papa, jadi akan berapa lama Oppa disana?" tanya Viola.


"Belum tauh, nanti jika sudah berada di sana aku kabari." jawab Arsen.


"Oke." ucap Viola.


"Aku pergi ya sayang, see you." ucap Arsen lalu memeluk dan mencium bibir istrinya cukup lama.


"Eumm... Udah dong, pergilah nanti terlambat." ucap Viola.


"Hemm... Baik baik dirumah, jangan kemana mana sepulang kerja langsung pulang ya." ucap Arsen.


"Okee siap bos." jawab Viola tersenyum.


Arsen memeluk lagi Viola, rasanya  sangat tidak rela jika harus berpisah cukup lama dengan istrinya, selama mereka menikah Arsen memang tidak bisa jauh jauh dari Viola.



Tak berapa lama setelah Arsen pergi Viola juga segera keluar dari unitnya menuju klinik.



Saat baru saja sampai di parkiran klinik Ery langsung menghampiri nya.



"Eh mba tumben banget bawa mobil sendiri lagi, gak diantar suami." tanya Ery



Lagi pergi keluar kota, ada urusan pekerjaan." jawab Viola.



"Ohhh.... Jadi jablay dong berarti. Hehehe." ledek Ery.



"Anak gadis sok tauh jablay segala lu."  ucap Viola lalu pergi meninggalkan Ery dengan perasaan kesal.



"Mba Vio jangan marah dong, kan Ery cuma canda aja." ucap Ery.



Arsen dan Max pergi dengan menaiki jet pribadi milik pribadi keluarga Lee, didalam perjalanan menuju Lombok Max masih sibuk mengerjakan laporan perusahaan.


"Ini sudah aku kerjakan, sebentar lagi selesai." jawab Max.


"Hemm.... Baiklah." ucap Arsen.


Arsen dan Max sudah sampai di bandara Lombok dengan selamat, tujuan mereka langsung ke cabang perusahaan Sky Hyarn.


Dalam perjalanan Arsen yang terlihat lelah langsung memejamkan matanya, Max yang melirik Arsen sejenak hanya geleng kepala saja.


"Mengantuk seperti ini, memang bukanlah sifat Arsen. Tapi sudah pasti tadi malam dia habis menggempur Viola, makanya sekarang tertidur. Huhh...!" ucap Max didalam hati.


Saat sudah hampir sampai di belokan jalan menuju cabang perusahaan Sky Hyarn, tiba tiba seorang wanita menyebrang dan hampir tertabrak.


Tiiiiinnnn....... Bunyi klakson mobil yang ditekan oleh sopir perusahaan. Membuat Arsen seketika langsung terbangun.


"Kau tidak punya mata, sehingga menyeberang seenaknya." teriak Andi sopir perusahaan.


"Sudah lah pak dia tidak sampai tertabrak kan?" tanya Max.


"Sepertinya tidak tuan." jawab pak Andi.


"Biar saya turun dan melihatnya." ucap Arsen yang langsung segera turun untuk menemui wanita yang sudah menepi kepinggir jalan.


Arsen berjalan dan mendekati wanita yang menundukkan wajahnya itu.


"Apa kau tidak apa apa?" tanya Arsen.


"Tidak, maafkan aku karena tadi menyebrang tidak melihat dulu." ucap wanita itu yang ternyata adalah Aline.


"Kamu Aline." tanya Arsen.


"Bukan kau hanya salah orang." jawab Aline dan langsung membalikan badannya berlari meninggalkan Arsen.


"Tunggu dulu." ucap Arsen yang juga berlari mengejar Aline.


Max yang memperhatikan dari kejauhan, menatap tak percaya jika wanita itu adalah Aline.


Arsen yang berlari begitu cepat dapat mengejar langkah Aline.


"Lepaskan aku." ujar Aline.


"Baiklah, aku hanya ingin tauh apa yang membuatmu bisa sampai di sini?" tanya Arsen.


"Aku liburan." jawab Aline.


"Kau sendirian, mana suamimu?" tanya Arsen.


"Aku sudah berpisah darinya." jawab Aline.


"Apa kau baik baik saja sekarang, kalau butuh bantuan silahkan telepon kesini." ujar Arsen yang memberikan kartu nama nya pada Aline.


"Terimakasih." jawab Aline.


"Sama sama, tidak perlu sungkan. Anggap aku sebagai teman." ucap Arsen, lalu berjalan pergi meninggalkan Aline yang masih terpaku melihat Arsen.








** To Be Continued !