
Arsen dan Viola kini telah dalam perjalanan pulang ke rumah, mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
Sampai akhirnya Arsen mulai berbicara...
''Jika nanti kita jadi menikah, aku tidak mau kau terlalu dekat dengan banyak pria lain." ucap Arsen dingin.
"Kalau kau mau aku seperti itu, bukan kah seharusnya kau dulu yang berubah?" jawab Viola sinis.
"Apa maksud mu hah?" ucap Arsen
"Hahaha....! Jangan kira aku tidak tauh kau pria seperti apa?" sarkas Viola.
"Jangan sok tauh tentang diriku." ucap Arsen.
"Aku tauh, bahkan sangat tauh...! Kau adalah pria yang gemar bersama banyak wanita. Wanita hanya kau anggap koleksi mu saja, dan kau juga selalu menghabiskan malam dengan banyak wanita, benar kan tuan Arsen yang terhormat??" teriak Viola kesal.
Arsen langsung menepikan mobilnya kepinggir jalan dan menatap tajam ke arah Viola.
Viola yang melihat nya hanya bergidik ngeri, melihat tatapan tajam dari Arsen.
"Jika kau sudah banyak tauh tentang diriku, mengapa kau masih mempertahankan perjodohan ini? Kau adalah gadis cantik dari keluarga Kendrich yang terpandang, kau bisa mendapatkan calon suami yang jauh lebih baik dari ku?" ucap Arsen sambil membelai wajah Viola.
Viola makin bergidik ngeri melihat tatapan Arsen, tetapi dia tetap berusaha tenang dan terus melawan.
"Lepas kan tangan kotor mu itu dari wajah ku." ucap Viola sambil menepis tangan Arsen.
Arsen yang memang sudah kesal makin bertambah kesal melihat tingkah Viola yang sok suci, padahal wanita murahan itulah yang ada dipikiran Arsen.
"Dengar baik baik gadis aneh, kau bukan selera ku, tubuh mu tidak lah sexy, dada mu juga tidak besar, hanya satu kepalan tangan ku saja. Huhh benar benar jauh dari tipeku." ujar Arsen dingin.
"Dasar kurang ajar, pria tidak sopan. Bisa bisa nya kamu mengatakan itu pada seorang wanita, benar benar memalukan." jawab Viola yang juga sangat kesal.
"Apa yang ku katakan adalah kebenaran, untuk apa kau marah?" ucap Arsen.
"Hey hentikan lah bicaramu, kenapa terus mengatakan itu, kau dasar pria gila?" ucap Viola sambil menunjuk muka Arsen dengan telunjuknya.
Arsen langsung meradang, ini pertama kalinya seseorang menunjuk muka nya dengan tidak tauh diri.
Arsen mendekati Viola dan langsung saja mencium dengan paksa bibir nya.
Viola terdiam sesaat, sampai akhirnya memberontak dan memukul mukul dada Arsen, tetapi tetap saja Arsen tidak melepaskan nya, sampai akhirnya Viola menggigit bibir bawah Arsen.
"Aakhhh... Kenapa kau menggigit bibir ku, dasar sialan." teriak Arsen.
"Lepasin aku, dasar brengsek." ucap Viola yang sudah hampir kehabisan nafas jika tadi dia tidak menggigit Arsen.
"Aku memang pria brengsek, terus kau mau apa?" ucap Arsen yang sudah melepaskan Viola.
"Sekarang cepat antarkan aku pulang." jawab Viola tanpa melihat lagi wajah Arsen.
Arsen mulai menjalankan lagi mobil nya untuk segera mengantarkan Viola, didalam mobil mereka hanya diam saja tanpa ada satu pun yang bersuara.
Viola hanya diam dan memikirkan kejadian yang barusan saja terjadi.
Arsen menoleh sejenak ke arah Viola, setelah itu langsung fokus lagi dengan jalanan di depan nya sambil sedikit berpikir.
"Apa yang tadi aku lakukan pada gadis aneh ini, mengapa aku sampai memaksa mencium bibir nya. Bukan kah selama ini aku tidak pernah mau berciuman dengan wanita yang tidak aku cintai, Ahh...Dasar sialan!" ucap Arsen di dalam hati sambil melirik Viola lagi.
Viola tauh jika Arsen tengah meliriknya, langsung saja mengumpat nya.
"Dasar pria brengsek, dia telah mengambil paksa ciuman pertama ku, kenapa ciuman pertama ku harus terjadi seperti ini." gerutu Viola di dalam hati nya.
Viola dan Arsen sudah sampai di parkiran rumah Viola, Viola berjalan duluan dengan sedikit cepat meninggalkan Arsen.
"Hey gadis aneh, kau jangan mengatakan yang tidak tidak, cukup diam saja biar aku yang bicara." ucap Arsen dingin
"Aku bukan gadis aneh, namaku Viola kau harus dengar itu." jawab Viola dengan kesal dan segera berlari meninggalkan Arsen.
"Maaf Om Tante, saya kelamaan antar Viola pulang nya." ucap Arsen sopan.
"Ya tidak masalah, asal Viola bersama mu om percaya." jawab Antonio tersenyum.
Viola menatap tajam kedua orang tuanya, yang tidak memarahi Arsen karena mengantarkan nya kerumah terlambat.
Sean yang tauh jika sekarang Viola tengah kesal dengan Arsen, langsung saja inisiatif untuk menegurnya.
"Kalau sudah di kasih waktu yang ditentukan, kau harus menepati bukan mengingkarinya." ucap Sean menyindir Arsen.
Viola langsung tersenyum senang, akhirnya Arsen di semprot kakak nya.
"Ohh iya, maafkan aku Sean, Om , Tante. Lain kali aku akan tepat waktu mengantarkan Viola." jawab Arsen.
"Tidak apa apa santai saja." ucap Antonio dengan tersenyum.
"Kalau begitu saya undur diri dulu Om, Tante, Sean." ucap Arsen membalas senyuman Antonio.
"Ya baiklah, hati hati di jalan Arsen." ucap Antonio dan Ariana.
"Selamat malam." ucap Arsen ramah.
"Malam." jawab Antonio dan Ariana.
Sedangkan Viola yang dari tadi diam seribu bahasa, kini langsung pergi menuju kamar nya.
Di dalam kamar nya, Viola masih saja menggerutu karena memikirkan ciuman pertama nya yang sudah hilang.
"Dasar sialan aku benar-benar gak rela ciuman pertama ku di ambil paksa pria brengsek itu. Ahhh....Sialan !!!" teriak Viola.
Arsen yang baru saja selesai mandi langsung saja berbaring di tempat tidurnya, sambil memikirkan kejadian tadi bersama Viola dan sedikit tersenyum.
"Bibirnya sangat manis, lumayan. Tapi aku tauh tadi dia hanya pura-pura saja tidak bisa berciuman, huhh." ucap Arsen sambil memejamkan mata nya dan mulai tertidur.
•
•
•
•
•
•
\*\* Selamat membaca sayang ku ❤️