Oppa Lee I Love You

Oppa Lee I Love You
Jika Waktu Bisa Di Putar Kembali



Sepeninggal Aline, Lexi dan putra mereka Axel. Arsen kini hanya bisa terdiam, ia yang awalnya tadi sudah bersemangat untuk segera berangkat ke kantor sekarang menjadi sangat malas.


Pikiran Arsen lagi lagi tertuju kepada mantan istrinya Viola, rasa sesal dan tidak rela kian menghantui segala pikiran nya. Apa lagi saat tadi ia melihat Aline yang kini sudah berbahagia dengan suami dan anaknya, penyesalan karena telah menyakiti Viola dan menceraikannya semakin bersemayam di hati Arsen.


"Jika Waktu Bisa Di Putar Kembali" aku ingin memperbaiki semua kebodohan yang telah aku lakukan kepada istriku Tuhan." lirih Arsen dengan raut wajah sedihnya.


Tanpa Arsen sadari, ia mulai menitikkan air mata. Menyesal pun kini tidak ada guna, karena Viola sudah bukan milik nya lagi.


*


*


*


Hampir dua jam berlalu...


Arsen masih saja duduk termenung di sofa ruang tengah rumah nya dengan penampilan yang sudah berubah acak acakan. Kemeja rapi yang tadi ia kenakan, bahkan sekarang sudah terbuka semua kancing nya.


Bahkan tatapan mata Arsen pun terasa kosong, sebegitu berat nya hidup yang akan ia jalani. Tanpa istri yang sampai dengan hari ini, masih sangat ia cintai dan sayangi.


.


Papa Joon yang sudah berada di depan rumah Arsen, langsung saja masuk untuk mengunjungi nya. Tadi pagi ia sudah datang ke kantor, tetapi Max mengatakan Arsen belum datang, ponsel nya pun tidak bisa di hubungi.


Papa Joon yang sudah masuk kedalam rumah mendapati Arsen yang tengah duduk dengan tatapan kosong, dengan cepat Papa Joon langsung menghampiri nya.


"Arsen...!" panggil Papa Joon.


"Papa??" jawab Arsen dengan menangis sambil memeluk erat tubuh Papa nya.


"Kamu kenapa?" tanya Papa Joon dengan raut wajah bingung nya.


"Pa, apa cuma aku saja yang harus menderita seperti ini. Aku tahu aku sudah sangat bersalah kepada Viola, tapi masih bisa kah aku berharap Viola kembali menjadi istriku Pa." jawab Arsen dengan tatapan yang begitu menyedihkan nya.


"Kamu ini bicara apa?" tanya Papa Joon sambil menghela nafasnya.


"Aku mau Viola kembali menjadi istriku, aku mohon Papa bantu untuk bicara dengan Dad Antonio." jawab Arsen.


"Arsen itu semua sudah tidak mungkin, Viola sudah menjadi milik orang lain." ucap Papa Joon menjelaskan semuanya.


"Ya aku tahu, Viola sekarang sudah menjadi tunangan dokter Steve." jawab Arsen yang kini tertunduk lesu.


"Sudah bukan tunangan lagi, tapi istrinya." ucap Papa Joon.


"Apa..... Istri ??????" jawab Arsen dengan tatapan tajamnya.


"Ya, Viola sekarang sudah sah menjadi istri Steve. Dan Papa mohon sama kamu, jangan ganggu lagi kebahagiaan mereka, Papa yakin kamu bisa melewati semuanya." ucap Papa Joon sambil menepuk lembut pundak putranya itu.


"Enggak Pa, aku yakin Papa pasti bohong iya kan Pa!" tanya Arsen.


"Arsen Papa gak bohong, kalo kamu gak percaya. Tanya kan saja, pada Mama mu dan Sandra." jawab Papa Joon.


"Kapan mereka menikah?" tanya Arsen dengan tatapan tajamnya kepada Papa Joon.


"Dua bulan yang lalu." jawab Papa Joon.


"Kenapa kalian semua menyembunyikan nya dariku, apa seburuk itu aku di mata keluarga ini." teriak Arsen dengan penuh kemarahan.


"Aren kamu tenang lah dulu." ucap Papa Joon.


"Apa lagi yang harus membuat ku tenang, aku sekarang sudah benar benar hancur Pa. Bahkan semua keluarga ku, tak ada satu pun yang mau mendukung ku." teriak Arsen yang langsung melemparkan pas bunga di depan nya.


"Arsen cukup....!!!! Kamu sudah sangat keterlaluan, seharusnya kamu punya malu untuk kembali menjadikan Viola istrimu, apa yang sekarang terjadi adalah ulah mu sendiri. Dulu Papa sudah memperingatkan kamu kan." teriak Papa Joon.


"Semua nya sudah terjadi, tidak ada lagi yang bisa kamu sesali. Viola sudah bahagia, bersama suami yang tepat untuk nya. Papa harap kamu bisa menerima dengan lapang dada, dan coba lah untuk membuka hati kepada wanita lain nya." ucap Papa Joon.


Arsen semakin menangis meraung-raung, siapa pun yang mendengar tangisan nya pasti akan iba melihat nya. Papa Joon terus menenangkan Arsen, di satu sisi hatinya pun ikut pedih melihat putra kesayangan nya itu kini harus menerima semua rasa sakit yang dulu pernah dirasakan oleh mantan istri nya Viola.


*


*


*


Tiga hari berlalu...


Arsen kini sudah mulai menjalani aktivitas nya seperti biasa di kantor, ia terus menyibukkan diri untuk menghilangkan rasa sakit yang terus bersarang di hati nya karena telah ditinggal Viola menikah.


Sudah tiga hari ia hanya mengurung diri di kamar, menangis dan menyesali semua perbuatannya dulu kepada Viola sampai ia harus kehilangan nya.


Max yang masuk kedalam ruangan Arsen, kini menghampiri nya. Ia meletakan beberapa berkas yang harus di cek dan di tanda tangani.


"Ini berkas nya, apa kamu yakin akan mengerjakan semuanya." tanya Max dengan tatapan heran nya.


"Hem... Letakkan saja semua nya, aku akan mengerjakan nya, kau tidak perlu khawatir." jawab Arsen tanpa melihat kearah Max, karena sibuk dengan berkas nya.


"Ya sudah, jika perlu bantuan ku. Telepon saja, aku pasti akan kesini." ucap Max.


"Hem...!" jawab Arsen.


Max bergegas pergi meninggalkan Arsen yang terus sibuk dengan semua pekerjaannya. Ia sebenarnya iba melihat Arsen seperti itu, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena memang itu adalah hak dan urusan pribadi CEO nya itu.


Saat Max keluar dari ruangan Arsen, ia melihat Loly yang berlarian ke arahnya.


"Max, kita harus pulang sekarang. Rivera sakit, Bi Dewi sudah membawa nya kerumah sakit." ucap Loly dengan raut wajah paniknya.


"Tenang honey, kita lebih baik langsung kerumah sakit sekarang." jawab Max yang langsung merangkul istri nya menuju mobil.


Disepanjang jalan, Max terus menenangkan Loly yang masih menangis ia. Ia juga khawatir putri kesayangannya itu kenapa kenapa, tapi Max tetap berusaha tenang agar Loly tidak semakin panik.


*


*


*


Arsen yang merasa lelah dengan setumpuk berkas penting yang di kerjakan nya sepanjang hari ini, akhirnya bergegas untuk pulang. Ia pun mulai merapikan mejanya, dan mengambil kunci mobil di laci, lalu berjalan keluar dari ruangan nya.


Saat Arsen sudah berada di parkiran basemen, ia mulai melihat jam di pergelangan tangannya. Lalu kemudian hanya bisa menghela nafasnya, ternyata sekarang jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.


Dulu saat menikah dengan Viola, ia tak pernah pulang kantor sampai semalam ini. Karena Viola pasti sudah menghubungi nya jika jam pulang kantor Arsen sudah lewat.


Tapi sekarang ia bahkan tak menyadari, jika hari sudah gelap gulita....


*


*


*


*


Bersambung...


.