
Viola dan Tere sudah duduk di meja yang sama, jam juga sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. MC sudah akan memulai acara nya..
"Clara dan Alice mana sih, kenapa mereka berdua selalu datang terlambat. Tadi pagi telat, sekarang pun juga, huh...!" kesal Tere.
"Sabar lah, paling masih di jalan. Ini kan malam minggu, jalanan pasti rame." jawab Viola.
"Halah alasannya aja tuh jalan rame, apa sebegitu repot nya kalo kita hamil dan sudah punya anak Vio?" tanya Tere.
"Iya mana aku tahu, aku kan belum pernah merasakan itu." jawab Viola.
"Hemm... Tapi aku lihat Alice dan Clara, sepertinya kerepotan deh, aku jadi penasaran." ucap Tere Kepo.
"Lho itu dari pada kepoin sahabat lho, mending lho susul mereka nikah sana biar tahu lah." jawab Viola yang niat nya hanya bercanda saja, eh ternyata Tere malah jadi sensi dengan kata kata Viola.
"Ya kalo ada yang mau nikahin gw, ya gw juga mau kali Vi. Lho pikir di usia gw yang udah mau jalan 29 ini gw mau sendiri terus seperti ini, ya gw ogah juga lah." ucap Tere dengan ketus nya.
Viola yang merasa jika kata kata nya mungkin sudah terlalu kelewatan kepada Tere, langsung memegang tangan nya dan meminta maaf.
"Maaf ya Re, bukan maksud gw ngomong gitu. Gua cuma bercanda aja tadi, gw gak tahu kalo lho jadi nya tersinggung dengan ucapan gw." Jawab Viola dengan tatapan sendu nya.
"Gw enggak papa kali, gw juga tahu kok lho cuma bercanda. Gw nya aja yang tiba tiba jadi sensi." ucap Tere.
Saat Viola dan Tere berpelukan, Clara dan Alice datang bersama pasangan mereka masing masing, tapi Albern dan Alex sedang mengobrol dengan para klien mereka.
"Kenapa kalian baru datang, nih liat acara Jovanka udah di mulai dari tadi." ucap Tere dengan raut wajah kesalnya.
"Maafin kita dong, tadi anak gw Vano lagi rewel pas gw sama Albern dah mau pergi." ucap Clara menjelaskan.
"Lagian lho masih tinggal di apartemen, udah punya baby juga mending cari rumah Ra, mungkin anak lho gak cocok tinggal di apartemen." ucap Tere.
"Iya juga sih, nanti gw coba bilang Albern deh. Dia juga sebenarnya mau kita beli rumah baru, karena kasian Vano tinggal di apartemen pasti gak nyaman." jawab Clara.
"Iya udah buruan deh cari rumah nya." ucap Tere dan Viola berbarengan.
"Iya iya Bu, kompak bener jawab nya." jawab Clara terkekeh.
Akhirnya Viola, Tere, Alice dan Clara berbincang bincang dan tertawa bersama. Sampai akhirnya puncak acara dari Wedding Party Jovanka dan Deon dimulai dengan dansa bersama dan bertukar tukar pasangan.
"Para tamu semua yang hadir malam ini, mari kita berdansa bersama pasangan pengantin nya malam ini, silahkan maju." ucap MC.
Clara dan Alice sudah berada si garda paling tepat bersama pasangan masing masing, hanya Viola dan Tere yang tidak ikut berdansa karena mereka berdua tidak memiliki pasangan.
"Sebenarnya gw mau ikut berdansa Vio, tapi sayangnya gw gak punya pasangan. Hemm...!" ucap Tere.
"Apaan sih lho Re, lebay banget tahu." jawab Viola.
*
*
*
Dari kejauhan, Arsen dan Jade kini tengah menatap kearah Viola dan Tere. Terlintas senyuman indah dari bibir Arsen, sedangkan Jade menatap jengah dengan tingkah Arsen yang menyuruh nya datang tiba tiba ke Jakarta hanya untuk menemani wanita bar bar seperti Tere.
.
..."Entah apa yang akan di lakukan manusia dingin ini kepada mantan istri nya yang pasti kenapa aku harus menemani wanita bar bar itu, huhh...!" ucap Jade didalam hati....
.
"Jade sudah waktunya, cepat bawa pergi Tere berdansa sekarang juga." perintah Arsen.
"Hah... Baiklah." jawab Jade yang langsung berjalan dengan begitu cool nya mendekati Viola dan Tere.
"Selamat malam Nona, apa kamu mau berdansa bersama ku." ucap Jade mengulurkan tangannya kearah Tere.
Tere yang melihat tingkah dari pria asing di depan nya ini hanya bisa melengos saja.
"Re, bukan kah tadi lho bilang ingin berdansa. Aku rasa sekarang lah saat nya, Buka hati mu." bisik Viola ke telinga Tere.
"Hem..... Baiklah, ayo kita berdansa." ucap Tere yang akhirnya menerima ajakan Jade.
Saat Tere dan Jade sudah menghilang ditelan ribuan orang yang memadati ballroom, Viola yang tengah sendiri tiba tiba di datangi oleh seorang pelayan yang membawa wine dengan kadar alkohol rendah.
"Apa Nona sendiri saja, msu6 mencoba minum wine nya. Agar Nona merasa rileks." sapa pelayan itu.
"Hemm... Terimakasih, tapi saya tidak suka meminum wine ditengah keramaian seperti ini " jawab Viola yang langsung menolak.
"Oh baiklah Nona, saya permisi." ucap pelayan pria itu.
Saat mata Viola sibuk mencari cari keberadaan Tere, Alice dan Clara. Ia tak sengaja melihat Arsen yang tengah memandangi nya dari kejauhan dengan tersenyum begitu manis nya.
"Astaga kenapa sekarang di mana pun aku pasti ada dia, hmmm...!" ucap Viola yang langsung mengalihkan pandangannya dari wajah Arsen.
Viola yang sudah menundukkan wajahnya, tidak menyadari jika Arsen saat ini tengah berada tepat di depan matanya.
"Apa kau akan terus menundukkan wajah mu seperti itu." ucap Arsen.
Viola tidak menjawab pertanyaan Arsen, ia malah bersiap pergi untuk meninggalkan Arsen yang masih berdiri didepannya.
Saat Viola sudah melangkah kan kaki nya, Arsen langsung menarik tangan nya.
"Tunggu Vi, maafkan aku. Kali ini aku mohon padamu, maafkanlah aku." ucap Arsen dengan tatapan sendu nya.
"Lepasin tangan kotor mu itu dari tanganku, lepas." teriak Viola.
"Aku akan melepaskan tangan mu, tapi kau harus menuruti keinginanku sekali ini saja Vi. Ayo bersulang dan berdansa bersama ku." ucap Arsen.
"Aku tidak mau, karena tidak ada pentingnya bagiku." jawab Viola yang masih berusaha melepaskan tangan nya dari cengkraman Arsen.
"Aku janji hanya kali ini saja, aku tidak akan menggangu mu lagi, aku merelakan mu jika kau bahagia bersama tunangan mu." ucap Arsen.
Viola tampak berpikir sejenak, lalu ia langsung menyimpulkan... Tak ada yang salah, jika hanya minum dan berdansa bersama tidak lebih. Itulah pikiran Viola, sampai akhirnya ia menyetujui keinginan Arsen untuk yang terakhir kalinya....
"Baiklah aku mau, ayo kita bersulang lalu ikut berdansa, tapi kau sudah berjanji bahwa untuk seterusnya jangan lagi mengganggu ku?" jawab Viola.
"Terimakasih Vi, iya aku janji." ucap Arsen.
Arsen langsung memanggil pelayan yang tadi mendekati Viola untuk memberikan nya wine kepadanya dan Viola. Meski tadi sempat menolak, kini Viola sudah minum dua gelas wine nya bersama Arsen.
Sepuluh menit berlalu, Viola dan Arsen kini menuju tempat dansa. Mereka berdansa dengan begitu romantis nya, banyak pasang mata menatap keduanya penuh iri. Bagaimana tidak, malam ini Viola dan Arsen benar benar sangat memukau.
Arsen yang memang sangat dekat dengan Viola, mulai menyentuh lembut pinggangnya. Sudah sangat lama, Arsen mendambakan kedekatan seperti ini dengan Viola. Akhirnya malam ini ia bisa merasakan nya kembali...
Hampir lima belas menit mereka berdansa, Viola merasakan kepalanya sangat pusing. Penglihatannya buram, Viola yang sudah sempoyongan hampir saja terjatuh, tapi Arsen dengan sigap langsung merangkulnya.
"Aku ingin pulang, bisakah kau antar kan aku." lirih Viola yang terus memegangi kepalanya.
"Iya, ayo aku antar." jawab Arsen.
Viola yang benar benar merasakan penglihatan nya buram dan semakin gelap akhirnya tak sadarkan diri. Arsen yang memang tahu Viola akan pingsan langsung menggendong nya ala bridal style menuju kamar Presidential Suite hotel nya.
*
*
*
Saat Jade mencoba keluar dari mobil, Tere pasti berteriak dan menahannya.
"Jangan seenaknya mau pergi, dasar pria sialan. Gara gara kamu aku jadi perawan tua yang gak laku laku, sekarang juga kamu harus di beri pelajaran." ucap Tere dengan mata tertutup.
Jade benar benar merasa kesal dengan Arsen yang sampai menyuruh datang jauh jauh dari Lombok, hanya untuk mengurusi wanita setengah gila seperti ini.
"Arggh... Sial, dasar Arsen sialan. Dia bilang aku bisa Bercinta dengan nya, mana mana buktinya wanita ini malah mabuk dan merepotkan saja." kesal Jade.
Tere tiba tiba saja membuka matanya, ia langsung menarik Jade sampai jatuh tepat di atas tubuh Tere.
Deg... Jantung Jade sontak saja langsung berdegup dengan begitu kencang nya, kali ini ia bisa menatap wajah Tere dari jarak dekat.
"Cantik....!" lirih Jade.
"Kau tadi bilang mau bercinta dengan ku kan, maka ayo lakukan lah." ucap Tere dengan nada sensual nya.
"Aku tidak bercinta dengan wanita mabuk seperti mu." kilah Jade dengan wajah memerah nya.
"Benarkah?? Tapi aku tidak mabuk." ucap Tere yang langsung mengubah posisinya, kini Jade yang sudah berada dibawah Tere.
Tere mulai mendekatkan wajahnya di ceruk leher Jade, lalu menciumnya. Jade yang memang sudah lama tidak pernah lagi bercinta sejak berpisah dari Verra tunangannya tidak akan melewatkan kesempatan emas ini.
"Kau sendiri yang memintaku, jadi jangan menyesal." ucap Jade yang langsung mencium rakus bibir Tere, lalu melepaskan semua kain yang menghalangi tubuhnya dan tubuh Tere.
.
Jade yang sudah terbakar gairah, langsung merubah kembali posisi mereka. Kini tere sudah berada tepat di bawah kungkungan nya, Jade langsung saja memposisikan junior nya ke pusat inti Tere. Meskipun selalu gagal tapi Jade tidak menyerah begitu saja, ia terus berusaha sampai akhirnya....
"Ah... Sakit." teriak Tere yang merasakan sakit luar biasa saat pusat intinya terasa robek.
Jade yang tadi sudah sangat bersemangat, kini terdiam. Ia benar benar tak menyangka jika wanita yang tengah dibawah kungkungan nya ini masih perawan.
Tere yang memejamkan matanya, terus menangis. Sampai akhirnya jari lembut Jade menghapus air matanya.
"Maaf, aku tidak tahu jika kau masih perawan. Aku kira kau sudah pernah melakukannya." ucap Jade dengan raut wajah sedihnya.
Tere hanya diam saja, ia benar benar mengantuk dan kesakitan. Jade yang melihat Tere diam saja, akhirnya melepaskan penyatuan mereka. Meskipun Jade tidak mendapatkan pelepasan, ia juga tidak tega jika harus menyakiti Tere.
Jade memakai pakaian nya dan memasangkan pakaian Tere, saat Jade menggendong Tere ia melihat darah segar di jok mobil nya.
"Hah... Aku benar benar sudah merusak anak gadis orang." lirih Jade.
Jade menggendong Tere ala bridal style menuju unit apartemen nya yang berada di lantai 30, rambut Tere yang acak acakan membuat keduanya jadi pusat perhatian orang orang di lobby. Tapi Jade tidak mempedulikannya, yang ia inginkan sekarang adalah Tere harus segera sadar dari pingsannya...
*
*
*
Di dalam kamar Presidential Suite, Arsen yang baru saja selesai mandi langsung menghampiri Viola yang sudah bangun. Viola menggelinjang kan tubuhnya seperti cacing kepanasan ia meronta-ronta dengan wajah yang sudah sangat memerah.
"Dasar brengsek, apa yang telah kau campur didalam minuman ku, ah panas, kenapa seluruh tubuhku panas sekali ah." teriak Viola yang langsung melepaskan satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya.
Arsen mulai mengelus lembut wajah Viola, lalu mencium bibirnya sekilas agar Viola bisa relax.
.
..."Aku tidak tahu, akan seperti apa besok saat kau tahu jika aku sudah mencampurkan obat peran*sang kedalam minuman mu. Maafkan aku Vi, aku melakukan ini hanya untuk terus Hidup bersamamu, maaf." lirih Arsen didalam hati, dengan menatap lembut kearah Viola yang tengah menatap nya tajam....
.
"Aku membencimu brengsek, sampai aku mati pun akan tetap membencimu. Ah...!" teriak Viola yang benar benar kesakitan.
Arsen langsung mendekati Viola, lalu naik ke atas tempat tidur. Tapi dengan cepat Viola menampar pipi Arsen dengan sangat kuat.
"Menjauh lah dari ku, cepat pergi." teriak Viola sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.
Arsen yang melihat Viola seperti itu benar benar tidak tega, ia tidak menyangka efek dari dosis obat perangsang itu cukup tinggi. Dengan segala ketakutan nya, Arsen langsung mendekati Viola dan membawanya kedalam kamar mandi agar ia segera sadar.
"Ah lepas, lepaskan aku brengsek." teriak Viola yang terus mencakar dan memukul kencang punggung Arsen.
"Aku mencintaimu Vi sungguh sangat mencintaimu, aku mohon berhenti lah memukuli ku, jika tidak kau pasti akan membangun kan junior ku." jawab Arsen dengan mata yang masih terpejam, menahan segala kesedihan dan rasa sakit di punggung nya akibat cakaran hingga pukulan Viola.
Viola langsung terdiam, dan tidak lagi memukul dan mencakar punggung Arsen. Ia seperti terhenyak kedalam pikiran sendiri, tapi tiba tiba saja rasa sakit di sekujur tubuhnya itu datang lagi...
"Ah sakit, panas ah tolong aku." lirih Viola yang sudah menitikkan air matanya.
Arsen yang tadinya mau membawa Viola kedalam kamar mandi, akhirnya mengurungkan niatnya. Karena ia yakin itu akan percuma, meskipun ia telah merendam Viola semalaman.
Arsen membaringkan Viola keatas tempat tidur, lalu membuka handuk kimono yang ia pakai lalu melemparkannya asal. Ia langsung memeluk Viola dan mendaratkan bibirnya ke bibir Viola.
Rasa nyaman dan relax langsung di rasakan Viola, rasa panas dan nyeri yang ia rasakan perlahan berkurang. Viola yang memang menginginkan lebih dari itu, langsung mendorong Arsen dan menciumnya dengan begitu rakus.
Arsen yang sudah lama tidak pernah lagi merasakan nik*atnya ber*inta, langsung mengimbangi ciuman Viola. Ia pun kini tak kalah ber*airah nya sama seperti Viola.
Arsen menjelajahi setiap jengkal tubuh Viola, meninggalkan banyak bekas kissmark di sana. Leher, dada, perut bahkan pangkal paha Viola tak luput dari bekas tanda cinta dari Arsen.
Viola yang sudah tidak sabaran, ingin segera melakukan inti dari sentuhan Arsen. Ia langsung mengubah posisinya, kini Arsen yang berada dibawah Viola. Viola mengecupi telinga, wajah dan leher Arsen. Ia pun meninggalkan bekas kissmark di sana.
Akhirnya mereka berdua mulai melakukan nya...
.
Viola sudah merasa lelah, tetapi suhu tubuh nya yang panas malah meningkat lagi dan kini ia sudah kembali ke mode On lagi.
Arsen tersenyum bahagia, ia senang akhirnya Viola mencapai puncak keni*matan bersama nya.
"Rasamu Tetap Sama" Sayang, aku semakin tidak mau melepaskan mu. Maaf Steve aku akan merebut kembali yang memang milikku." ucap Arsen
Arsen yang masih terus memikirkan cara untuk merebut kembali Viola, tiba tiba terkejut saat Viola kini sudah kembali mencium bibirnya dengan begitu rakus.
Tentu saja Arsen tidak melewatkan kesempatan emas ini, akhirnya mereka melakukannya lagi untuk kedua kalinya...
•
•
•
•
Hemm.... Arsen emang Brengsek, Viola seperti itu juga karena ulah Arsen akibat efek dari obat peran*sang. Intinya kasian Steve....
Bersambung...
.