
Arsen baru terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, ia menoleh kesamping tempat tidur dan tidak mendapati Viola yang biasa terbaring disebelahnya.
"Hah, kenapa aku merasa sedih dan malah belum rela jika Viola tidak ada di sampingku seperti pagi ini. Aku harus bisa membiasakan diri." lirih Arsen dengan wajah sendu nya.
Arsen bergegas bangun dari tempat tidur dan langsung menuju kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Baru saja ia keluar dari kamar mandi, pintu kamarnya di ketuk seseorang.
"Siapa yang mengetuk pintu, apa jangan jangan Viola sudah pulang." seru Arsen langsung bersemangat berjalan kearah pintu dan segera membukakan nya.
Saat pintu kamar sudah di buka, Arsen langsung saja mengerutkan alisnya. Bukan Viola yang ia kira tadi sudah pulang, melainkan Aline...
"Aline? Bagaimana kau bisa sampai datang kesini bahkan naik ke kamar ku?" tanya Arsen dengan tatapan tak suka.
"Iya bisa lah, apa sih yang aku enggak bisa." jawab Aline dengan entengnya.
Arsen masih berdiri dibelakang pintu kamarnya dan hanya menutupi tubuh bagian bawahnya dengan sehelai handuk sebatas pinggang. Ia langsung merasa risih saat Aline tiba tiba menerobos masuk kedalam kamar nya.
"Waah... Kamar nya sangat luas dan mewah." ucap Aline dengan tatapan kagumnya.
"Aline kau turunlah kebawah dulu, aku mau memakai pakaianku." ucap Arsen.
"Kalo mau ganti pakaian, iya ganti aja. Lagian aku juga sudah pernah melihatnya kan." jawab Aline terkekeh.
Arsen akhirnya tertawa, lalu menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Aline yang sekarang sudah sangat liar.
***
Sean yang berada didalam kamarnya terus berjalan mondar mandir tanpa henti. Sashi sampai pusing sendiri melihat tingkah suaminya itu.
"Sean kamu ngapain sih, mondar mandir terus dari tadi." protes Sashi.
"Aku gapapa, cuma kepikiran adikku saja." jawab Sean.
"Memangnya apa yang jadi pikiran kamu." ucap Sashi.
"Aku merasa ada sesuatu yang Viola coba sembunyikan." jawab Arsen.
"Ya apa contoh nya?" tanya Sashi.
"Kalo aku sudah tahu, ya gak mungkinlah aku mikir dari tadi." jawab Sean yang langsung menjitak jidat istrinya itu.
"Aww... Sakit tahu, dasar suami gak ada akhlak." ucap Sashi dengan mengelus lembut jidatnya.
"Maaf sayang, lagian kamu tuh suka telmi sih." jawab Sean.
"Sean, kamu ngatain aku telmi. Awas saja nanti malam gak ada jatah buat kamu." ucap Sashi cemberut.
"Jangan dong sayang, kalo jatah itu mah harus wajib ada, kan suamimu ini sekalian datang buat jenguk calon baby kita." jawab Sean dengan cengengesan.
"Gak ada, pokoknya malam ini libur dulu." ucap Sashi yang langsung keluar dari kamar nya.
Sean yang terus saja memanggil nama Sashi dengan begitu kencangnya, membuat tidur Viola terganggu.
"Aish... Suara kak Sean ganggu banget sih, udah macam suara petir, huhh...!" lirih Viola yang langsung bangun dari tempat tidurnya.
Viola segera membersihkan diri kedalam kamar mandi, dan bersiap keluar kamar untuk makan.
Baru saja keluar dari kamarnya, Viola langsung di panggil Arsen.
"Dek, kamu lagi ada masalah?" tanya Sean yang terus memperhatikan Viola dengan tatapan menyelidik.
"Gak ada lah kak, Vio baik baik aja kok." jawab Viola dengan tersenyum.
"Terus sekarang Arsen mana, dia gak datang kesini?" tanya Sean yang kini sudah mengerutkan dahinya.
"Entah aku gak tahu, ya udahlah kak ayo kita makan, semua udah nunggu dibawah." jawab Viola yang langsung pergi meninggalkan Sean.
"Hah... Lenguh Sean yang hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya, tak berapa lama ia pun akhirnya memilih turun juga untuk ikut makan siang bersama.
***
Viola, Sean, Sashi, Dad Antonio dan Mom Ariana sedang menikmati makan siang bersama. Raut wajah bahagia Mom Ariana terlihat sangat jelas, sudah lama mereka tidak pernah lengkap untuk makan siang bersama seperti saat ini.
"Sean, Sashi kalo kalian udah pindah rumah. Jangan lupain Mom dan Dad, sering seringlah datang kesini ya." ucap Mom Ariana.
"Iya Mom, tentu saja." jawab Sean dan Sashi.
"Memangnya kapan Kak Sean akan pindah?" tanya Viola.
"Lusa kakak udah pindah, sabtu depan jangan lupa datang. Syukuran rumah baru, sekalian tiga bulanan Sashi." jawab Sean.
"Ohh gitu, ya udah nanti aku usahain datang." ucap Viola.
"Jangan sampai gak datang, suamimu juga, jangan lupa di ajak." jawab Sean.
"Hemm... Tentu." ucap Viola.
Makan siang itu dilewati semuanya dengan penuh kebahagiaan, dan canda tawa. Sedangkan Viola, terus saja berpura pura tertawa hanya untuk menutupi segala kesedihan nya...
.
Viola sudah bersiap pulang dengan menggunakan jasa taksi online, Mom Ariana dan Dad Antonio ikut mengantarkan sampai ke depan rumah.
"Sayang, kamu yakin mau pulang dengan taksi online." tanya Mom Ariana dengan tatapan bingung nya.
"Iya gapapa lah Mom, emangnya kenapa?" jawab Viola.
"Hemmm... Tapi gapapa lah Mom, sekali sekali juga." jawab Viola.
"Iya udah, sekarang pulanglah. Kasian tuh sopir taksi nya kelamaan nungguin kamu." ucap Dad Antonio dengan tersenyum ramah kearah sopir taksi itu.
"Iya Dad, kalo gitu Viola jalan ya Mom, Dad." jawab Viola yang langsung memeluk kedua orangtuanya secara bergantian.
"Iya sayang, hati hati di jalan. Kalo udah sampai rumah, kabari Mom atau Dad." ucap Mom Ariana dengan tersenyum.
"Siap Mom, titip salam sama Kak Sean dan Kak Sashi, bilang juga Viola pulang duluan karena takut kemalaman jika harus nungguin mereka pulang." jawab Viola dengan tertawa.
"Hemmm... Iya." ucap Mom Ariana.
"Hati hati sayang." ucap Dad Antonio.
"Iya Dad." jawab Viola.
***
Viola sudah sampai di depan gerbang rumah nya, Rendy yang bertugas sebagai security langsung bergegas membukakan nya.
"Malam Nyonya Viola." sapa Rendy dengan begitu ramah.
"Malam juga bang Rendy." jawab Viola.
"Nyonya pulang naik taksi, gak bawa mobil sendiri." tanya Rendy.
"Iya, enggak." jawab Viola tersenyum, lalu langsung berjalan menuju rumah.
.
Viola yang sudah masuk kedalam rumah, langsung duduk diruang keluarga untuk mengistirahatkan tubuh dan hatinya yang terasa begitu lelah.
"Hah, kenapa tubuhku merasa sangat lelah." lirih Viola.
Bi Mina yang melihat Nyonya nya sudah pulang, dan tengah duduk diruang keluarga, langsung menghampiri nya dengan membawa minuman jahe merah hangat untuk diberikannya kepada Viola.
"Maaf mengganggu Nyonya, ini Bibi bawakan minuman jahe merah hangat untuk Nyonya." ucap Bi Mina.
"Oh terimakasih Bi, tapi aku belum pernah meminum ini. Apa rasanya enak?" jawab Viola.
"Kalo menurut Bibi rasanya enak, tapi coba Nyonya rasakan sendiri." ucap Bi Mina.
"Oh baiklah, aku coba." jawab Viola yang langsung meminum sedikit demi sedikit jahe merah itu sampai habis.
"Bagaimana rasanya menurut Nyonya, enak apa tidak?" tanya Bi Mina dengan raut wajah penasaran.
"Lumayan enak, tapi rasanya sangat pedas dan panas." jawab Viola dengan begitu polosnya.
Bi Mina kini hanya bisa tertawa melihat tingkah polos istri dari tuannya itu.
"Bibi kenapa malah ketawa gitu sih." ucap Viola dengan wajah yang sudah cemberut.
"Habis nya ekspresi Nyonya tadi tuh sangat lucu." jawab Bi Mina.
"Lucu apa nya, hmmmm?" ucap Viola.
"Tadi Nyonya bilang kan, jika rasanya sangat pedas dan panas setelah minum jahe merah hangat ini, iya kan Nyonya?" tanya Bi Mina.
"Hemmm... Iya,,terus?" jawab Viola.
"Nah... Itulah sensasi rasa dari jahe merah hangat Nyonya, bahkan jamu ini juga banyak khasiatnya untuk tubuh kita." ucap Bi Mina menjelaskan.
"Ohh jadi ini tuh jamu, iya ya Bi." jawab Viola dengan mengangguk angguk kan kepalanya.
"Iya Nyonya." ucap Bi Mina.
"Ya udah Bi, aku naik keatas dulu." jawab Viola.
"Baik Nyonya." ucap Bi Mina.
Viola langsung naik kelantai dua, menuju kamarnya dan Arsen.
.
Viola yang baru saja keluar dari kamar mandi, mendengar suara mobil Arsen yang berhenti tepat didepan rumah. Dengan cepat Viola langsung mengintip dari celah kaca jendela kamar.
Deg...Deg...Deg...! Bunyi suara jantung Viola berdegup dengan sangat kencang, saat ia melihat Arsen dan Aline yang tengah berciuman mesra didalam mobil.
"Mengapa sekarang kau Semakin Menyakitiku, sudah pergi kemana dirimu yang dulu." lirih Viola dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya...
Viola langsung saja bergegas membereskan semua pakaiannya, ia sudah tidak sanggup jika terus bertahan dirumah ini...
•
•
•
•
** To Be Continued **