Oppa Lee I Love You

Oppa Lee I Love You
Bahagia Yang Sesungguhnya



Enam Tahun Kemudian...


Di sebuah kamar yang sangat khas dengan nuansa anak anak, seorang bocah kecil yang sangat tampan tengah kesal lantaran tidak bisa mengikat tali sepatu nya.


Tapi bukan Leano namanya jika harus menyerah begitu saja, dengan tatapan tajamnya ia terus berusaha mengikat tali sepatu itu, meskipun lagi lagi gagal.


"Hah... Kenapa aku masih belum bisa juga mengikat tali sepatu ku, benar benar menjengkelkan." lirih Leano dengan penuh kekesalan.


Saat Leano masih sibuk dengan dunianya sendiri, terdengar pintu kamar nya terbuka dan menampilkan sosok wanita cantik yang tak lain ialah Viola.


"Hei bocah tampan nya Mommy, sampai kapan kamu akan terus mengikat tali sepatu mu itu?" tanya Viola dengan tersenyum.


"Jangan pernah memanggilku dengan sebutan bocah, karena aku sudah bukan seorang bocah lagi Mommy." protes Leano.


Viola yang lagi lagi harus melihat tingkah sang putra protes malah menjadi gemas, dengan reflek ia pun mencubit pipi Leano cukup lama.


"Aww sakiiit Mom." teriak Leano dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Hahaha... Itu artinya kamu masih seorang bocah, di cubit gitu aja hampir mau nangis.


"Mommy jahat, enggak sayang sama Lean. Huaaaah Daddy...!" teriak Lean yang langsung saja memanggil sang Daddy.


Steve yang memang tengah menyusul Viola dikamar Lean, langsung menaiki tangga dengan cepat saat ia mendengar teriakkan Lean.


Pintu kamar Lean yang memang sudah terbuka, langsung menampakkan sosok pria tampan dengan tinggi badan di atas rata rata itu.


"Lean ada apa?" tanya Steve dengan tatapan sendu nya.


"Mommy mencubit pipiku." jawab Lean.


"Fuftt... Putra mu ini benar benar pengadu, hahaha." ucap Viola yang langsung berlalu pergi meninggalkan Lean dan Steve.


"Dia juga putra mu sayang." jawab Steve.


Viola hanya tersenyum tanpa membalas lagi perkataan Steve...


Steve mulai mengikatkan tali sepatu Lean dengan berjongkok, ia sangatlah paham jika putranya ini tidak bisa memasang tali sepatu.


"Selesai, ayo kita berangkat ke sekolah." ucap Steve.


"Ayo Dad." jawab Lean dengan begitu semangat nya.


"Leano Damian Houston, putra Daddy yang sangat tampan dan juga pintar." ucap Steve dengan tatapan penuh cinta nya.


"Aku mencintaimu Dad." jawab Lean.


"Dad too." ucap Steve dengan tersenyum.


Seperti biasa Steve pasti akan menggendong Lean, menuju ruang makan untuk sarapan bersama.


.


~ Leano Damian Houston



*


*


*


Lean, Steve, dan Viola kini tengah menikmati sarapan pagi mereka bersama dengan begitu khidmat.


Saat di sela sela menikmati makanannya, Lean bersuara.


"Dad, Mom, apa Nio akan pulang hari ini?" tanya Lean.


"Apa kamu sudah merindukan nya?" jawab Steve dengan tersenyum.


"Tentu saja Dad, aku sangat merindukan adik ku, sampai kapan dia akan menginap dirumah Oma Yuna, benar benar lama sekali." ucap Lean dengan tatapan lesu nya.


"Nio baru seminggu di rumah Oma, apanya yang lama sekali?" ucap Oma Yuna yang tiba tiba sudah berada tak jauh dari ruang makan.


"Hem... Tentu, apa kamu juga merindukan Oma." jawab Oma Yuna.


"Tentu saja aku merindukan Oma, dan sekarang dimana adik ku." ucap Lean.


"Nio disini kakak." jawab Nio putra kedua Steve dan Viola yang berusia 4 tahun.


"Nio, kakak sangat merindukan mu." ucap Lean yang langsung memeluk erat adiknya.


"Hahaha... Geli Kak." jawab Nio yang kegelian karena Lean terus menggelitik nya.


"Ehem... Ehem... Apa cucuku yang Tampan ini tidak mau memeluk Opa!" ucap Opa Aaron.


"Opa, tentu aku merindukan mu." jawab Lean yang langsung bergelayut manja di lengan Opa nya itu.


"Lean, Nio kita harus berangkat sekarang. Jika tidak, kita akan terlambat." ucap Steve.


"Hah... Padahal aku masih merindukan Opa." lirih Lean.


"Minggu nanti Opa, Oma, Grandpa dan Grandma akan berkunjung lagi kesini, jadi kalian bisa main bersama." ucap Viola.


"Oh benar kah." jawab Lean dan Nio bersamaan.


"Hem..." jawab Opah Aaron, dan Oma Yuna bersamaan.


"Yeah...!" ucap Lean dengan begitu bahagianya.


.


~ Nio Maverick Houston



*


*


*


Viola mengantar Steve, Lean dan Nio sampai di depan rumah. Satu kecupan hangat yang tidak pernah Steve lupakan sepanjang pernikahan mereka.


"Cup... kecupan hangat Steve, selalu membuat Viola berbunga bunga.


"Jam berapa ke klinik." tanya Steve.


"Sepertinya hari ini aku tidak akan datang ke klinik, aku akan dirumah saja menemani Mom dan Dad." jawab Viola.


"Hem... Baiklah, aku dan anak anak pergi dulu. Aku mencintaimu...!" ucap Steve yang lagi lagi memeluk erat tubuh istrinya itu.


"Hem... Hentikan, anak anak sudah menunggu mu." jawab Viola.


"Kami pamit, assalamualaikum." ucap Steve.


"Waalaikum sallam." jawab Viola.


Steve pun berjalan masuk kedalam mobil, yang sudah duluan di tumpangi kedua putra mereka.


Viola terus memperhatikan mobil Steve, sampai benar benar menghilang dari pandangannya.


"Bahagia Yang Sesungguhnya." Semoga ini terus berkembang dan selamanya Tuhan, amen." lirih Viola dengan satu tetes air mata bahagia nya.


*


*


*


*


Bersambung...


.