
Viola yang sudah keluar dari apartemen Arsen, langsung menghapus sisa sisa air matanya. Kepalanya tiba tiba terasa sangat pusing dan penglihatannya pun menjadi buram.
"Hah, kenapa kepalaku sangat sakit. Penglihatan ku juga menjadi buram." lirih Viola yang berjalan dengan terseok menuju halte.
Belum juga sampai ke halte, Viola yang merasakan penglihatan nya semakin gelap bertambah gelap akhirnya jatuh pingsan. Beberapa orang yang berada di halte langsung mengelilingi Viola, ada seorang wanita tua yang terus menepuk wajah Viola dan mengoleskan minyak angin ke hidungnya, tapi Viola tidak sadar juga.
"Ya ampun kasihan sekali wanita ini, apa yang sudah terjadi dengannya." lirih ibu tua dengan memerhatikan luka dibibir Viola dan bekas memar dileher nya.
Jalanan yang memang sedang ramai menjadi macet parah, banyak mobil jadi terhenti karena rimbunan manusia.
dr. Steve dan dr. Verro yang baru pulang dari puncak setelah satu minggu lebih berada disana untuk menghadiri seminar kedokteran, akhirnya terjebak macet juga.
"Kota ini kenapa selalu macet parah ya?" tanya Verro kepada sopir Villa yang tengah mengantar mereka.
"Kota nya terlalu padat pak, kendaraan roda empat dan roda dua juga sangat membludak. Kemacetan seperti ini sudah jadi langganan warga, jadi biasanya mereka akan mensiasati dengan pergi dari rumah masih subuh dan pulang sudah tengah malam supaya terhindar dari yang namanya kemacetan." jawab sopir taksi dengan tersenyum.
"Ohhh.... Harus seperti itu, apa tidak pernah ada solusi untuk mengurangi kemacetan seperti ini?" tanya Verro lagi.
Sopir Villa hanya diam saja, dan belum menjawab lagi pertanyaan Verro. Ia terus mengembangkan senyuman nya.
Steve yang melihat sopir Villa terus tersenyum dengan terpaksa, menjadi tidak nyaman. Ia langsung saja mecubit paha Verro, agar jangan terlalu banyak tanya.
"Aduh.... Sakitnya pahaku, kenapa kamu menyakiti ku." ucap Verro yang terus menggosok pahanya yang terasa sakit karena di cubit Steve.
"Kamu kenapa banyak tanya, kita ini hanya orang asing. Bukan warga negara Indonesia, jika kita ditahan dan tidak bisa pulang ke Paris bagaimana." jawab Steve.
"Iya tapi kan kita lancar berbahasa Indonesia, mana orang tahu jika kita bukan warga sini." ucap Verro.
"Wajahmu saja tidak ada sedikit pun Indonesia nya, jadi stop jangan banyak tanya lagi." jawab Steve.
Verro akhirnya memilih diam, dan menuruti perkataan Steve. Saat sopir Villa sudah hampir sampai di halte ia melihat seorang wanita muda yang tengah pingsan dan digendong menuju halte, sopir itu langsung menghela nafasnya.
"Jadi kemacetan ini karena ada wanita yang pingsan." ucap Sopir yang akan mengantarkan Steve dan Verro menuju hotel.
"Dimana pak?" tanya Steve yang sangat penasaran.
"Itu ada yang gendong menuju halte." jawab sopir.
Steve yang sangat penasaran langsung menolehkan kepalanya kesamping kiri mobil tempat ia duduk, tapi karena terlalu banyak orang yang mengerumuni ia jadi tidak bisa melihat dengan jelas wanita yang pingsan itu.
"Kenapa semua orang disana hanya bisa mengerumuni, seharusnya segeralah bawah langsung kerumah sakit." ucap Steve dengan begitu kesalnya, ia juga memperhatikan Verro yang malah sibuk dengan ponselnya.
"Verro ayo kita bantu, kita ini juga seorang Dokter." ucap Steve.
"Kita itu Dokter Obgyn, emang itu wanita hamil? Dia kan cuma pingsan." jawab Verro dengan cuek nya.
"Pak stop stop cepat pinggirkan mobil nya, cepat." teriak Steve yang langsung segera turun dari mobil. Ia berlari dengan kencang menuju kerumunan orang.
Mau tidak mau, suka tidak suka. Akhirnya Verro ikut turun juga. Saat Steve sudah menerobos kerumunan orang, ia melihat seorang wanita cantik yang sangat ia kenal, tapi apa yang sudah terjadi, kenapa bibirnya berdarah dan di lehernya juga ada memar.
.
..."Kenapa ia bisa pingsan disini, bibirnya juga berdarah, dan bahkan lehernya pun penuh dengan memar." lirih Steve didalam hati, dan terus menatap Viola dengan penuh kesedihan....
.
"Maaf permisi, saya seorang Dokter. Saya akan membawanya kerumah sakit, ini KTA saya." ucap Steve menunjukkan kartu tanda anggota nya, lalu langsung menggendong Viola.
"Oh iya nak, kasihan sekali wanita ini ia masih belum sadar. Cepatlah antar kan kerumah sakit." jawab ibu tua itu.
"Baik Ibu, terimakasih sudah membantu nya." jawab Steve.
.
Verro hanya diam saja, dan tidak ikut menerobos kerumunan orang orang itu. Ia melihat Steve keluar dari kerumunan orang dengan menggendong seorang wanita cantik, Verro langsung terpana dan tetap diam saja ditempat.
"Verro cepat masuk mobil, kita akan kerumah sakit, kenapa kamu malah masih disitu, cepatlah masuk." teriak Steve dengan segala kekesalannya.
Verro yang masih terpana akan kecantikan Viola, akhirnya tersadar dan langsung berlari menuju mobil.
"Siapa wanita ini, kenapa dia sangat cantik." ucap Verro yang terus memperhatikan wajah Viola lekat lekat.
"Aku Mengenalnya." dan sangat tahu wanita ini, jadi kamu jangan macam macam." jawab Steve dengan tatapan tajamnya kepada Verro.
"Jangan bohong, sudah sepuluh hari kita disini, aku tahu tidak ada satu orang wanita pun yang berada didekat mu." ucap Verro.
"Terserah mau percaya atau tidak, yang pasti aku pernah melihatnya seminggu yang lalu di puncak dan tadi pagi di taman pinggir bukit." jawab Steve menjelaskan dengan panjang lebar.
Verro malah semakin tertawa terbahak bahak, ia sangat yakin jika sahabatnya ini hanya mengada ngada saja. Pria cuek sejagat raya seperti Steve ini, mana mungkin mau berkenalan atau dekat dekat dengan yang namanya kaum wanita.
"Apa maksud tertawa mu itu?" tanya Steve dengan tatapan tak suka nya.
"Aku hanya tertawa, memang nya tak boleh. Lagian kamu juga sangat lucu, pernah melihatnya bukan berarti sudah mengenalnya kan." jawab Verro yang terus saja tersenyum kepada Steve.
Steve langsung mengobati Viola dengan kotak obat yang selalu berada didalam tas nya. Hati Steve benar benar sangat sakit, melihat wanita yang ia kagumi menjadi terluka seperti ini.
.
..."Bagaimana bisa ia jadi seperti ini, bahkan tadi pagi ia masih baik baik saja." lirih Steve didalam hati....
.
Mobil yang ditumpangi Steve, Verro, Viola dan Pak sopir sudah sampai didepan Unit gawat darurat. Steve bergegas turun dan menarik brankar. Para Dokter dan perawat yang melihat Steve dan Verro, langsung menunduk hormat.
"Segera obati pasien ini." ucap Steve.
"Baik Dokter Steve." ucap Dokter umum dan perawat yang bertugas, dengan cepat mereka langsung membawa Viola dan menangani nya.
Steve yang berdiri di depan unit gawat darurat terus mondar mandir tak bisa diam. Verro yang dari tadi memperhatikan Steve, hanya bisa mengerutkan alisnya.
.
..."Apa benar Steve mengenal wanita cantik itu, tapi dimana ia mengenal nya. Aku yang hampir 24 jam terus bersama nya, tidak pernah melihat ia berkenalan dengan seorang wanita. Aish... Kenapa malah menjadi pikiran ku sih." ucap Verro didalam hati....
.
***
Lima belas menit berlalu, Dokter yang menangani Viola akhirnya keluar juga.
"Bagaimana keadaan nya? Apa dia baik baik saja." tanya Steve dengan wajah panik nya.
"Wanita itu baik baik saja, ia hanya kelelahan dan telat makan saja Dokter Steve. Tapi ia masih belum siuman, mungkin sebentar lagi." jawab Dokter yang bernama Rio itu.
"Oh ya syukur lah, saya ingin segera melihat nya." jawab Steve.
"Lima menit lagi ia akan dipindahkan keruang rawat inap, jadi mohon tunggu lah sebentar Dokter Steve." ucap Dokter Rio.
"Oke." jawab Steve yang masih saja tetap berdiri tanpa ada niatan untuk segera duduk.
.
..."Aku belum pernah melihat Steve sangat khawatir seperti ini, siapa sebenarnya...
..."Wanita Cantik Itu". Dan ada hubungan apa Steve dengan nya." ucap Verro didalam hati....
.
Viola kini sudah dipindahkan keruang rawat VVIP, Steve masih setia duduk disamping brankar nya Viola. Sedangkan Verro, saat ini ia malah tertidur dengan nyenyak di sofa ruang tamu kamar Viola.
.
~ Visual !
.
~ Verro Jacobs Hernandez !
.
** Gimana dengan Verro, bikin oleng gak, hahaha 🤍🤍🤍
.
** Semoga kali ini diloloskan admin, karena udah direvisi author sampai 4 kali. Terimakasih 🙏
•
•
•
•
•
•
** TBC **
.