
Viola dan Arsen sudah dalam perjalanan menuju toko perhiasan untuk membeli cincin nikah. Didalam mobil tidak ada yang bersuara, semuanya terasa hening.
Arsen yang memang ingin menanyakan pada Viola siapa pria yang bersama nya kemarin sore, akhirnya memulai pembicaraan.
"Siapa dua pria yang bersama mu kemarin sore?" ucap Arsen.
"Memang nya kenapa?" jawab Viola.
"Aku kan sudah pernah bilang padamu, jangan suka mendekati pria lain, kenapa kau tidak mendengar kan perintah ku." ucap Arsen.
"Hohoho...! Bukannya aku juga pernah bilang pada mu tuan Arsen, agar berhenti juga bersama para wanita koleksi mu itu?" jawab Viola.
"Arsen terkejut, dan sedikit tidak nyaman dengan perkataan Viola. Berarti Viola melihat nya juga kemarin sore dengan Zilvana." ucap Arsen di dalam hati.
Huh... Arsen menghembuskan nafas kasar..!
"Aku menemani nya untuk membeli kado, untuk Mommya yang sedang berulang tahun. Wanita itu adalah klien ku di perusahaan, aku sedang berkerja sama dengan perusahaan nya, jadi tidak ada masalah bukan?" ucap Arsen dengan entengnya.
Ohh...Begitu! Dan pria yang kau lihat bersama ku kemarin sore adalah sopir pribadi ku. Pria yang satu nya lagi adalah teman ku, jadi tidak ada masalah juga kan?' ucap Viola.
Arsen langsung terdiam, dan tidak lagi membahas percakapan dengan Viola.
Mobil Arsen baru saja tiba di parkiran, mereka segera menuju toko perhiasan dengan berjalan beriringan.
Mereka benar benar tidak menunjukkan layaknya sepasang kekasih yang mesra dan akan menikah. Tetapi malah seperti atasan dan bawahan yang tengah mengecek lokasi pekerjaan.
Viola yang sudah geram melihat tingkah Arsen yang jalan dengan cepat langsung saja memaki nya...
"Mentang mentang kaki mu panjang, jadi kau berjalan sudah seperti hantu saja. Cepat sekali." ucap Viola.
"Kaki mu aja yang kependekan, maka nya jalan mu lambat." jawab Arsen.
"Hah kaki pendek, tinggi ku 170 dari mana nya pendek? Dasar gila." ucap Viola.
"Kau sudah sering bilang aku gila, tapi tetap saja mau menikah. Seperti nya yang gila itu kau bukan aku." jawab Arsen dingin
Jleeb... Serasa menusuk jantung Viola, dia langsung terdiam tidak lagi menjawab Arsen.
Arsen dan Viola sudah berada di toko perhiasan, Arsen memilih untuk duduk tidak perduli dengan Viola yang masih sibuk memilih yang pas dan cocok dengan jari manisnya.
Sampai matanya menatap sepasang cincin nikah yang sesuai dengan keinginan nya, cincin nikah yang simple tapi tetap kelihatan elegan.
"Sepertinya aku menyukai sepasang cincin itu, bisa tolong bawa kesini." ucap Viola.
"Baik nona, tunggu sebentar." jawab karyawan perhiasan nya.
Pemilik toko perhiasan datang dan langsung mendekati Viola...
"Ini nona cincin nya, nona memang pintar dalam memilih cincin yang simple tetapi elegan, kami hanya membuatkan 2 pasang saja cincin pernikahan ini." ucap pemilik toko perhiasan.
"Waah benarkah." jawab Viola.
"Ya nona, apakah calon suami nona mau mencoba nya dulu." ucap pemilik toko perhiasan.
"Sepertinya dia oke saja, kalau begitu aku mau yang ini." ucap Viola.
"Baiklah nona, apa mau sekalian saya beri ukiran nama nona dan calon suami nya?" jawab pemilik toko perhiasan.
"Ohh begitu ya, hemm tunggu bentar.
"Oppa sini, cepat sini." ucap Viola memanggil Arsen yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya.
"Ada apa?" jawab Arsen singkat.
"Sini, kemari lah sebentar." ucap Viola.
Arsen akhirnya mendekati Viola yang terus memanggil nya..
"Oppa, bagaimana jika cincin kita berdua di ukir nama nya? Cincin punya ku nama Oppa, dan cincin Oppa nama ku, bagaimana??" ucap Viola penuh harap.
Arsen yang melihat raut wajah Viola yang penuh harap, langsung saja mengiyakan nya...
"Terserah." jawab Arsen singkat.
"Oke, thanks!" ucap Viola.
Arsen sudah yang akan berbalik duduk kembali di panggil lagi oleh Viola.
"Oppa tunggu, sini sini." ucap Viola.
Arsen yang mulai kesal dengan Viola, langsung menatap nya tajam.
"Sini bentar, coba cincin nya. Kalau Oppa tidak coba, kalau kekecilan atau kebesaran gimana?" ucap Viola.
Akhirnya Arsen segera menghampiri Viola lagi.
"Cincin nya bawa kesini lagi, calon suami ku akan mencoba cincin nya dulu." ucap Viola tersenyum kepada karyawan toko perhiasan.
"Baiklah nona." jawab karyawan toko perhiasan.
"Tunggu sebentar aku angkat telepon dulu." ucap Arsen dan sedikit menjauh dari Viola.
"Hemmm." jawab Viola tanpa memperhatikan Arsen yang tengah menjauh dari Viola.
"Apakah kita masih akan lama disini, aku harus segera kembali ke kantor." ucap Arsen.
"Coba dan lihatlah dulu cincin nya." ucap Viola sedikit kecewa dengan Arsen yang akan segera pergi, sedangkan cincin nya saja belum selesai.
Deg... Jantung Arsen tiba tiba berdetak dengan sangat kencang melihat sepasang cincin yang di perlihatkan Viola.
Mata Arsen langsung saja memerah, kilatan kemarahan terlihat jelas pada saat menatap Viola.
Viola yang tauh jika sekarang Arsen tengah marah, langsung saja dilanda kebingungan.
"Aku tidak suka cincin itu, kenapa kau memilih tanpa memberi tauh aku dulu. Cepat ganti cincin itu." ucap Arsen dengan berteriak.
Viola terkejut tetapi masih tetap menatap Arsen untuk meminta penjelasan nya.
"Berikan alasan, kenapa Oppa tidak menyukai cincin ini. Sedangkan aku sangat menyukainya." ucap Viola.
"Jika kau menyukai, bukan berarti aku juga kan, jadi lebih baik kau ganti dengan model lain." jawab Arsen dingin dan langsung saja meninggalkan Viola.
Viola yang kesal, akhirnya mengganti dengan cincin model lain.
Arsen sudah berada di dalam mobilnya, terdiam sambil menatap tajam ke arah depan..
"Cincin itu? Mirip cincin pertunangan ku dengan Aline dulu. Aakhhh brengsek, dasar perempuan sialan. Aku tidak perduli lagi, dia bisa pulang sendiri." ucap Arsen sambil memukul keras setir mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan Viola sendirian.
Viola yang sudah keluar, berlari lari ke parkiran tempat dimana tadi Arsen memarkir kan mobil nya.
"Kemana dia, jangan jangan dia sudah meninggalkan aku. Dasar pria brengsek, kurang ajar." ujar Viola yang benar benar kesal dengan Arsen.
Arsen sudah dalam perjalanan pulang menuju apartemen nya, tetapi pikiran sedikit tidak tenang.
"Bagaimana kalau dia masih berada di sana, dan masih menunggu ku? Akhh terserah pokok nya aku tidak perduli." ucap Arsen.
Viola kini sedang menelpon sopir pribadi mommy nya..
"Bang Al jemput Viola sekarang." ucap Viola.
Ternyata Arsen memutuskan untuk kembali menjemput Viola, dia sedikit tidak tega dengan wanita itu. Didalam mobil yang terparkir sedikit jauh dari Viola, dia memperhatikan nya
"Kenapa dia masih disana, apa dia benar benar masih menunggu ku?" ucap Arsen yang memperhatikan Viola tengah duduk sendirian sambil menundukkan wajahnya.
Saat Arsen mulai menjalankan mobilnya mendekati Viola, tiba tiba seorang pria turun dari mobil dan mendekati Viola.
"Hai Viola, kita bertemu lagi." ucap Gio
"Gio?" ucap Viola sambil tersenyum menatap nya.
"Hem... Sedang apa kamu di sini sendirian?" ucap Gio.
"Aku sedang menunggu sopir ku menjemput." jawab Viola.
"Mau ku antar, ini juga sudah mulai malam." ucap Gio.
"Apa tidak merepotkan mu?" jawab Viola.
"Tidak, ayo lah." ucap Gio dan langsung membukakan pintu mobil nya untuk Viola.
Arsen yang melihat itu semua, benar benar tidak suka, jengkel dan marah.
"Baru sebentar saja aku pergi, dia sudah bersama pria lain. Dasar wanita sialan." ucap Arsen kesal.
•
•
•
•
•
•
\*\* @alesya Arabella 🤍