
Arsen hanya menghabiskan hari hari nya didalam kamar nya di rumah utama keluarga Lee, sudah empat bulan lebih ia tidak pernah lagi datang kekantor, maupun melakukan therapi untuk bisa berjalan lagi.
Semua hari yang Arsen lalui sudah terasa gelap, tak ada lagi harapan, hanya bersedih dan masih tidak bisa menerima dengan apa yang sudah terjadi kepada nya kini.
.
Tapi mulai hari ini, Arsen sudah bertekad untuk menjalankan therapiĀ agar bisa berjalan lagi seperti sedia kala.
Mama Gina yang mendengar Arsen mau melakukan therapi benar benar sangat bahagia, ia memang selalu memberikan dukungan dan semangat kepada putranya itu agar bisa cepat sembuh.
Selama 4 bulan ini Arsen terus menyalah kan dirinya sendiri, berteriak, marah, menangis, sering terjadi saat Arsen merasa lelah dan membenci dirinya yang kini tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
*
*
*
Setiap hari hari nya pula, Livy selalu datang kerumah utama keluarga Lee hanya untuk merawat Arsen layaknya seorang suster.
Arsen sebenar nya sudah mengetahui tentang Livy dari Papa nya, tapi ia masih saja tidak bisa menerima kenyataan bahwa Livy tidak bersalah atas kecelakaan yg telah menimpa nya.
Meskipun Livy terus membantu dan merawat nya, Arsen selalu saja marah, membentak, dan berkata kasar kepadanya.
.
Seperti pagi ini,
Arsen yang baru bangun dari tidur, ingin minum air di gelas yang berada di atas nakas samping tempat tidur nya. Tapi belum juga ia menggapai nya, gelas itu sudah terjatuh dan pecah berhamburan.
Livy yang mendengar suara pecahan gelas dari dalam kamar Arsen langsung berlari dan membantu nya.
"Kak, jika ingin minum panggil Livy saja, Livy pasti akan datang kak." ucap Livy langsung membersihkan gelas yang sudah pecah berhamburan itu.
Arsen hanya diam saja, tidak menjawab perkataan Livy. Livy yang melihat Arsen seperti itu, langsung mengambil kan gelas baru yang berisi air minum, lalu memberikan nya kepada Arsen.
Tapi saat gelas itu sudah di pegang Arsen, ia langsung melemparkan nya dengan sangat kencang.
Prang.... Bunyi gelas yang pecah dan jatuh berhamburan dengan sangat kencang.
"Kak Arsen, ada apa lagi?" tanya Livy dengan raut wajah terkejut nya.
"Lebih baik kau keluar sekarang juga dari kamar ku, aku tidak membutuhkan bantuan dari mu atau siapa pun, aku masih bisa melakukannya sendiri. Sekarang cepat keluar, keluar." teriak Arsen dengan tatapan tajamnya.
Livy yang mendapat bentakan keras dari Arsen, hanya bisa terdiam lalu berlari dengan menangis tersedu sedu. Ia sebenarnya sudah lelah dengan segala bentakan, dan makian dari Arsen. Tapi sekali lagi ia hanya ingin bertanggungjawab atas semua yang terjadi kepada nya.
Papa Joon yang tak sengaja melihat Livy berlari sambil menangis langsung menghampiri nya.
"Livy ada apa?" tanya Papa Joon.
"Em... Om, Livy cuma ingin menangis saja, Livy hanya lelah Om." jawab Livy yang berusaha menghentikan air mata nya yang terus menerus jatuh menetes.
Papa Joon tahu, jika Livy menangis pasti karena ulah Arsen. Dengan segala kekesalan nya, Papa Joon pun langsung menemui Arsen dikamar nya.
"Arsen, sampai kapan kamu akan terus melampiaskan nya kepada Livy. Dia tidak bersalah, tolong hargai dia." ucap Papa Joon.
"Untuk apa aku harus menghargai dia, aku tidak suka dia ada disini, dan aku juga tidak membutuhkan nya." jawab Arsen.
"Kamu selalu keras kepala, dan egois Arsen. Seharusnya kamu sadar, perceraian mu dengan Viola, dan kecelakaan yang menimpa mu saat ini, itu semua adalah teguran dari tuhan." ucap Papa Joon.
Arsen hanya terdiam, dan tidak bisa lagi berkata apa apa. Ia kini hanya tertunduk sedih, mendengar apa yang dikatakan Papa nya barusan.
Mama Gina yang ingin membawa Arsen kerumah sakit untuk melakukan therapi pertama nya, tiba tiba mendengar pertengkaran Arsen dan suami nya dari dalam kamar.
Dengan cepat Mama Gina, langsung masuk kedalam kamar Arsen untuk menghentikan keduanya.
"Papa, apa yang sudah Papa katakan." ucap Mama Gina dengan tatapan tajamnya.
Papa Joon yang melihat ekspresi Mama Gina, hanya bisa terdiam dan juga bingung harus menjawab apa...
*
*
*
Mama Gina yang melihat Arsen seperti itu, hanya bisa menghela nafasnya. Seharusnya ia juga tak menyalah kan Livy dalam pertengkaran yang terjadi antara Arsen dan suami nya.
Tapi ia juga sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi, selain menyuruh Livy untuk tidak perlu datang lagi merawat Arsen. Karena ia sudah menyiapkan perawat untuk menjaga nya.
.
Di tengah keheningan yang melanda, akhirnya Mama Gina memulai pembicaraan.
"Arsen sayang, kamu harus cepat sembuh ya, apa kamu tidak rindu dengan perusahaan. Max saat ini tengah kewalahan mengurus semuanya sendirian." ucap Mama Gina.
Arsen tetap diam, dan tidak menjawab perkataan Mama nya.
Sampai akhirnya Mama Gina mengatakan tentang Viola, dan itu mampu membuat Arsen akhirnya bersemangat kembali.
"Apa kamu ingin tahu tentang kabar Viola?" ucap Mama Gina.
"Hem... Bagaimana keadaan nya sekarang." jawab Arsen yang langsung tersenyum.
"Kebahagiaan Viola dan Steve sekarang semakin lengkap, mereka sudah di karuniai anak laki laki, apa kamu tidak ingin seperti mereka, memiliki keluarga yang bahagia?" tanya Mama Gina.
"Aku bahagia jika Viola kini sudah bahagia, biarkan aku seperti ini Ma, karena aku sudah tidak ingin lagi membuka hati kepada wanita lain." jawab Arsen.
"Apapun keputusan mu, Mama akan selalu mendukung mu." ucap Mama Gina.
Arsen menolehkan kepalanya sambil memejamkan mata, jujur hati nya pedih mendengar Viola yang kini sudah semakin bahagia bersama Steve dan anak mereka.
.
..."Masih Bolehkah Aku Rindu ? Kepada mantan istri ku, yang bahkan sampai dengan hari ini masih menetap di hati ku Tuhan." lirih Arsen dengan air mata yang sudah jatuh menetes....
*
*
*
Empat puluh menit berlalu...
Arsen dan Mama Gina, kini sudah tiba di rumah sakit.
Dengan begitu bersemangat Arsen terus melakukan therapi, jatuh, dan kemudian bangkit lagi ia tetap tidak menyerah.
Mama Gina yang melihat semangat Arsen, terus meneteskan air matanya. Ia benar benar berharap Arsen segera sembuh dan bisa berjalan lagi seperti dulu.
Untuk pendonor mata, sampai dengan hari ini memang Mama Gina belum menemukan pendonor mata yang cocok dengan mata Arsen. Tapi Mama Gina tetap tidak menyerah sampai akhirnya waktu itu tiba, ia pasti akan menemukan nya...
.
Mama Gina dan Arsen kini sudah berada di mobil bersama supir pribadi keluarga Lee, didalam mobil Mama Gina mencecar segala pertanyaan kepada Arsen tiada henti.
"Arsen sayang, kamu harus terus semangat ya. Kamu dengar kan kata dokter Hanan tadi, peluang untuk kamu agar bisa berjalan lagi cukup bagus, yang penting kamu terus therapi ya." ucap Mama Gina tiada henti.
Arsen yang mendengar segala ocehan Mama nya hanya bisa tersenyum saja, ia pun juga bahagia karena mungkin tidak lama lagi ia pasti akan bisa berjalan seperti dulu, asalkan ia selalu rajin mengikuti therapi.
*
*
*
*
Bersambung...
.