
Arsen baru saja mendapat telepon dari Sean untuk datang ke acara syukuran tiga bulan kehamilan istrinya dan juga selamatan rumah barunya.
"Iya baiklah, aku akan datang." jawab Arsen kepada Sean lewat sambungan teleponnya.
.
Arsen kini menyandarkan kepalanya di sofa ruang tamu apartemen Aline, ia memang sebentar lagi akan benar benar berpisah dari Viola. Tapi ia akan tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga istrinya itu.
"Iya... Aku harus bersiap dulu, jam 15.00 WIB acaranya sudah di mulai." lirih Arsen lalu langsung melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB.
.
Aline yang melihat Arsen baru selesai keluar dari kamar mandi dan langsung berpakaian rapi, segera bertanya.
"Kamu mau kemana honey?" tanya Aline dengan tersenyum menatap Arsen yang sangat begitu tampan.
"Aku akan pergi kerumah Kakak nya Viola, dia mengundang ku di acara syukuran kehamilan istrinya." jawab Arsen.
"Ohhh.... Jadi kamu pasti akan berjumpa dengan Viola, hah aku takut nanti kamu luluh lagi kepadanya." tanya Aline dengan perasaan yang langsung saja berubah sedih.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu, aku hanya mencintaimu Aline. Dari dulu bahkan sekarang didalam hati ku hanya ada kamu, dan juga saat ini terbagi dua ke calon Baby kita." jawab Arsen yang langsung menarik Aline kedalam pelukannya.
"Sungguh, apakah memang benar hanya ada aku dan calon baby kita di hatimu ?" tanya Aline yang mengulang lagi jawaban Arsen tadi.
"Iya itu benar, sungguh." jawab Arsen dengan terus memeluk Aline.
"I love You!" ucap Aline lalu mencium sekilas bibir Arsen.
Arsen terdiam dan tidak membalas kata kata cinta dari Aline, ia seperti Dejavu dengan ucapan itu.
"Honey, I Love You." ucap Aline mengulang lagi kata cinta itu dengan raut wajah cemberutnya.
"Emm.... Love you to." jawab Arsen dengan tersenyum.
Perasaan Arsen kini menjadi tidak nyaman, ia tiba tiba saja jadi mengingat Viola yang selalu mengucapkan kata I Love You bahkan hampir setiap saat untuknya.
"Iya udah sekarang honey pergilah, jangan pulang lama lama. Nanti kan malam minggu, ayo kita nonton." ucap Aline.
"Hemm... Baiklah." jawab Arsen yang langsung bergegas mengambil kunci mobilnya dan keluar dari apartemen.
Arsen yang sudah dalam perjalanan menuju rumah Sean, menjadi diam seribu bahasa. Kenangan indah disaat ia bersama Viola dulu, kini tengah memenuhi kepalanya.
"Arggh... Apa yang sekarang tengah aku pikirkan, bukankah aku hanya mencintai Aline bukan Viola, iya itu benar." ucap Arsen pada dirinya sendiri.
***
Dad Antonio, Papa Joon, Sean, Aidan, Viola, Mama Gina, Mom Ariana, dan Sashi kini sedang mengobrol bersama. Aidan yang ramah, bisa langsung cepat akrab dengan Papa Joon, Mama Gina dan siapa saja yang ditemui nya.
Saat Dad Antonio mencoba menggoda Aidan yang belum memiliki pasangan, ia hanya bisa tersenyum saja.
"Kamu itu sudah cukup mapan, kapan lagi akan menikah." ucap Dad Antonio.
"Iya Tuan Antonio, tapi saya memang belum mempunyai calon nya." jawab Aidan dengan tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
"Menikah itu ibadah, jika cepat menikah kan malah lebih bagus." ucap Mom Ariana.
"Hemm.... Iya Nyonya, tapi memang tidak ada yang tengah dekat dengan saya saat ini, mungkin juga, tidak ada yang mau dengan saya." jawab Aidan.
"Wah... Dad, kalo aku rasa Aidan ini yang pilih pilih cari pasangan nya. Mana mungkin kan pria setampan dan punya pekerjaan bagus seperti mu tidak ada yang mau, huhh." ucap Sean dengan tatapan tak percaya nya.
"Hahaha.... Itu mungkin memang benar." jawab Dad Antonio dan Papa Joon.
"Oh ya... Jeng Gina dan Tuan Lee kan masih punya seorang putri, apa dia sudah mempunyai seseorang yang spesial." tanya Mom Ariana.
"Hahaha.... Yang jeng Rina maksud, Sandra kan." jawab Mama Gina.
"Iya betul Sandra." ucap Mom Ariana.
"Sandra itu sudah 22 tahun, tapi tingkah nya masih seperti bocah. Pasangan pun saya rasa dia tidak akan punya, secara? mengurusi dirinya sendiri saja masih berantakan. Bagaimana jika mengurus anak dan pasangan nya, haduh." jawab Mama Gina yang sudah seperti sedang curhat saja.
Akhirnya semua tertawa bersama, karena tingkah lucu Sandra yang diceritakan Mama Gina.
.
..."Jika aku dan Oppa sudah benar benar berpisah, apakah masih tetap ada kebahagiaan dan canda tawa seperti ini diantara kedua keluarga kami." lirih Viola didalam hati....
.
"Kamu itu dari mana aja." tanya Mama Gina.
"Macet banget jalannya Ma." jawab Sandra dengan nafas yang ngos-ngosan.
Sandra yang tiba tiba melihat Viola sedang ngobrol dengan seorang pria yang sangat tampan, langsung mengeryitkan alisnya.
"Ma, siapa pria yang bersama kak Viola itu." ucap Sandra yang masih terus menatap Aidan dari kejauhan.
"Ohh itu teman masa kecilnya Sean, dan Viola. Mereka sudah lama tidak bertemu, karena Aidan sudah 10 tahun lebih berada di Kairo dan Dubai." jawab Mama Gina.
"Oh... Namanya Aidan, sepertinya dia juga sudah cukup dewasa, apa dia sudah menikah." tanya Sandra yang semakin penasaran saja.
"Belum, tadi bahkan dia bilang jika tidak ada satupun wanita yang dekat dengan nya." jawab Mama Gina.
"Hahaha.... Berarti dia itu lagi nungguin Sandra Ma." ucap Sandra yang kini sudah tersenyum senang.
"Dasar narsis, para wanita bukan nya gak mau dekat dengan dia. Hanya saja, mereka sudah cukup tahu diri bahwa bukan levelnya. Lah kamu lagi, hanya sisa sisa nasi kemarin juga udah sok amat." jawab Mama Gina yang terus nyerocos saja.
"Apa Mama bilang, sisa sisa nasi kemarin??" ucap Sandra dengan wajah yang sudah memerah karena sangat kesal.
"Hemmm.... Betul sekali." Jawab Mama Gina yang asyik makan kue mini srikaya pandan.
"Mama keterlaluan, masa Sandra disamain dengan sisa sisa nasi kemarin." teriak Sandra dengan sangat kencang.
Semua orang yang berada di sana, langsung menoleh kearah Sandra dan Mama Gina. Mama Gina dan Sandra hanya bisa tersenyum saja, menghilangkan rasa malu akibat ulah mereka sendiri.
Sandra dan Mama Gina langsung bergegas pergi kebelakang, karena rasa malu yang sudah tidak bisa lagi kedua nya tahan.
"Ini gara gara kamu, ngapain teriak kencang amat. Udah kek Toa tuh suaramu." geram Mama Gina yang langsung pergi meninggalkan Sandra.
"Lagian siapa juga yang cari masalah duluan, huhh." umpat Viola yang sampai tidak menyadari jika sudah ada Aidan dibelakang nya.
Sandra yang berbalik dengan tiba tiba, langsung saja menabrak perut sixpack Aidan.
"Ah... Ma-maaf." ucap Sandra yang langsung mendongakkan wajahnya menghadap Aidan yang sudah seperti raksasa didepan nya.
.
..."Astaga pria ini tinggi sekali, tapi bukan dia yang seperti raksasa tapi akunya yang mini, karena hanya 160 cm saja, hah benar benar sudah seperti kurcaci." gumam Sandra didalam hati....
.
"Hem... Tak apa, lain kali berhati hatilah, jangan sampai menabrak seseorang yang bukan muhrim mu." jawab Aidan dan langsung berlalu pergi.
"Hah, bukan muhrim. So sepertinya dia pria yang menjunjung tinggi hakekat kaum wanita. Ah aku makin menyukai nya." ucap Viola yang sudah berjingkrak jingkrak sendiri.
.
Arsen yang baru saja sampai, langsung segera masuk kedalam rumah Sean. Mama Gina, Papa Joon dan Sandra yang melihat kedatangan nya seakan tidak peduli. Hanya Dad Antonio, Mom Ariana, Sean dan Sashi yang menyambut kedatangannya.
Viola yang baru keluar dari belakang bersama Aidan, tengah mengobrol dan tertawa bersama. Arsen yang berdiri tak jauh dari Viola dan Aidan, hanya bisa mengepalkan erat genggaman tangannya.
Arsen benar benar "Tidak Menyukainya" jika Viola kini sudah bisa tertawa bahagia bersama pria lain...
.
..."Ohh bagus sekali, baru seminggu lebih dia pergi dari rumah, kini sudah bermesraan dengan pria lain, dasar ja*ang." ucap Arsen didalam hati dengan raut wajah yang sudah murka dan begitu Kesal....
.
Viola dan Aidan sudah duduk bergabung bersama semua keluarga, ia merasakan tatapan tajam seseorang yang berada disisi kiri nya. Saat Viola menoleh kan kepalanya, ia melihat Arsen dengan raut wajah kesalnya.
.
..."Oppa, ternyata dia datang, dan sejak kapan dia sudah memperhatikan aku dan Kak Aidan. Hem entahlah... Tapi, tatapan tajamnya kepadaku, apa maksudnya itu." lirih Viola didalam hati. ...
•
•
•
•
** TBC **