
California Amerika...
Tidak seperti biasanya, jam 17.00 sore Lexi sudah berada dirumah. Aline baru selesai dan keluar dari kamar mandi langsung terkejut melihat Lexi telah duduk disofa kamar mereka.
"Kapan pulang." tanya Aline.
"Barusan." jawab Lexi singkat dan langsung berdiri mendekati Aline lalu memeluknya.
"Sayang, ada yang ingin aku bicarakan. Cepatlah pakai bajumu, aku tunggu diruang makan." ucap Lexi.
"Hemm...Okee." jawab Aline.
Aline langsung melangkah pergi ke walk in closed, sedangkan Lexi masih betah memandangi punggung Aline sampai benar benar menghilang dari pandangannya.
"Huhhh....Aku tidak sanggup jika harus mengatakan yang sebenarnya." keluh Lexi yang langsung turun menuju ruang makan.
Aline dan Lexi sudah berada diruang makan, mereka makan tanpa ada yang bicara. Saat sudah menyesuaikan makan mereka, Aline langsung beranjak untuk membersihkan membereskan piring, tetapi Lexi melarangnya....
"Sayang, udah tinggalin aja. Nanti ada Bi Darmi yang beresin. Sekarang kita keruang tengah sambil nonton dan ngobrol." ucap Lexi.
"Ohh...Iya." jawab Aline.
"Udah Non, biar bibi aja." ucap Bi Darmi asisten rumah Lexi.
"Oh ya bik, makasih bi." jawab Aline.
"Aduh Non Aline ini baik sekali, masih mau terimakasih sama asisten nya." ucap Bi Darmi tersenyum.
Lexi yang melihat Aline tersenyum, akhirnya memutuskan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Ya udah aku kesana dulu ya Bi." ucap Aline.
"Baik Non." jawab Bi Darmi.
Saat sedang santai menonton televisi bersama, Lexi yang masih mengenakan kemeja kantor yang digulungnya sampai lengan tertidur pulas di pangkuan Aline.
"Katanya mau bicara, ngobrol. Hemm...Tapi malah pulas banget tidurnya." ucap Aline yang memperhatikan lekat wajah Lexi yang menurutnya memang sangatlah tampan.
Selama tiga tahun lebih Aline menikah, sebenarnya dia masih belum bisa melupakan Arsen. Arsen adalah cinta pertama bagi Aline, tapi Allah tidak menghendaki mereka berjodoh.
Kini Aline sudah menerima Lexi dalam hidupnya sebagai suami, walau dulu menikah dengan Lexi hanya karena terpaksa, tapi Aline sudah mencintainya sejak dua tahun yang lalu...
Aline masih memandangi wajah Lexi, pikirannya masih terngiang dalam masa lalu. Sampai dia tidak menyadari, jika sekarang Lexi sudah membuka matanya.
"Apa yang membuat mu tersenyum sambil menatap wajah ku sayang, hem..." tanya Lexi.
Akhirnya Aline mulai tersadar, saat mendengar suara dan mata Lexi yang sudah terbuka.
"Hah... Aku, emm...Itu karena aku mengagumi wajah tampan mu." jawab Aline.
"Oh Benarkah? Malah tadi aku kira kamu sedang berfantasi dengan wajahku." ledek Lexi.
"Apaan sih, dasar." jawab Aline, dan langsung beranjak bangun dari duduknya.
"Aduh sayang, kalo bangun kira kira lah. Kepala ku bisa bisa gegar otak." ucap Lexi.
"Hemm....Syukurin." ucap Aline sambil tertawa.
Lexi langsung mengejar Aline yang sudah naik ke tangga menunju kamar mereka.
Didalam kamar, Lexi dan Aline sedang bercumbu mesra. Mereka bercinta dengan sangat panas, Aline benar-benar kewalahan menghadapi Lexi yang benar benar bersemangat...
Dua jam telah berlalu, Aline sudah tertidur pulas dengan hanya ditutupi selimut. Sedangkan Lexi tengah merokok dengan tubuh yang hanya terlilit handuk sebatas pinggang. Pikirannya jauh menerawang sambil menatap Aline yang tengah tertidur, Lexi berharap semua kebahagiaan ini akan tetap selamanya...
Saat masih menatap lekat wajah Aline, tiba tiba ponsel Lexi berbunyi dan itu sukses membuat Lexi terkejut. Lexi langsung mengambil ponselnya dan melihat siapa yang telah menelpon semalam ini, matanya seketika terbelalak, saat tauh yang menelpon adalah Celine.
Lexi langsung bergegas pergi keluar kamar dan berdiri di teras balkon depan ruang fitness nya...
"Kenapa kau sampai menelpon ke nomor ponsel ini, aku sudah pernah bilang jika mau telepon kenomor ponsel satunya." sarkas Lexi.
"Kenapa kau marah, aku sudah telepon keponsel mu yang satu lagi. Tapi kamu Tidak mengangkat nya, makannya aku menelpon kesini." ucap Celine.
"Hah... Maafkan aku, ponsel nya tertinggal di mobil." jawab Lexi.
"Aku menunggumu honey, kenapa kamu belum datang juga ke apartemen. Anakmu menginginkan sate Padang daging sapi sekarang." ucap Celine.
"Ini sudah jam 11 malam, dimana aku cari itu." jawab Lexi.
"Ya ok ok." jawab Lexi yang masih mendengarkan semua omongan Celine.
Tanpa Lexi sadari jika Aline sekarang tengah berdiri dan mendengarkan semua percakapan mereka, Air mata jatuh dengan begitu derasnya tidak pernah Aline bayangkan jika selama ini Lexi telah menduakan nya bahkan wanita selingkuhan nya kini telah mengandung anaknya...
Saat Lexi akan segera mengakhiri pembicaraan nya lewat ponsel, Aline langsung bergegas pergi menuju tempat tidur dan berpura pura tidur, akan jauh lebih baik itulah pikirnya.
Lexi sudah berpakaian lengkap, saat akan segera keluar dari kamar. Lexi terhenti sejenak, lalu menatap Aline yang dia pikir masih tertidur dan langsung bergegas pergi meninggalkan Aline sendiri.
Saat Aline mendengar deru mobil Lexi Aline langsung menatapnya dari jendela kamar, Aline terduduk lemas dan menangis dengan sekuat kuatnya.
"Pembohong dasar pria brengsek, bajingan, aku membencimu dan aku sangat membenci kalian berdua. Entah sejak kapan kalian bersama, sampai wanita sialan itu hamil. Malam ini aku akan membongkar perselingkuhan kalian, kalian tunggu saja..." teriak Aline, dengan air mata yang terus berjatuhan.
Beberapa menit berlalu, Aline langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang dia yakini pasti tauh jika selama ini Lexi telah berselingkuh.
"Hallo Hans, maaf mengganggu mu. Aku hanya ingin tauh di mana apartemen Celine." tanya Aline.
Hans yang masih memejamkan mata nya pada saat mengangkat telepon dari Aline langsung saja terbangun dari tidurnya, matanya melotot dan tidak bisa berkata apapun.
"Hans, aku sudah tauh jika selama ini Lexi telah berselingkuh di belakang ku. Sekarang aku ingin tauh yang sebenarnya, tolong berikan alamat apartemen Celine." ucap Aline pada Hans yang masih tidak berkata sepatah pun di ujung telepon.
"Maaf Nyonya, aku tauh pasti suatu saat kamu akan mengetahui nya. Aku akan kirimkan alamat nya, dan kuharap Tuan Lexi jangan sampai sampai tauh." jawab Hans.
"Kamu tenang saja." ucap Aline dan langsung mematikan ponselnya.
Aline sudah memakai pakaian nya dan langsung mengambil kunci mobil, saat sudah mendapat pesan dari Hans.
Saat sudah didalam mobil nya dan akan keluar, pak Joni sekuriti yang berjaga segera membukakan pintu gerbang untuk nyonya nya itu. Pak Joni dan Bang Ali menjadi bingung dan saling pandang, akhirnya pak Joni berkata...
"Nyonya Aline mau kemana itu, bukan nya tadi belum lama tuan Lexi pun baru saja keluar." tanya Pak Joni.
"Udah lah pak, itu urusan orang kaya. Kagak usah kita pikirin dah." ucap Bang Ali.
"Heh... Iya iya." jawab pak Joni.
Aline sudah berada di depan apartemen Celine dan berjalan menuju sekuriti Apartemen yang sedang berjaga.
Air mata sudah tidak lagi membasahi pipinya, percuma menangisi pria brengsek seperti itu, tidak ada gunanya. Itulah yang kini Aline pikirkan...
"Permisi pak, saya mau ke unit 336 bisakah salah satu dari kalian menemani ku." ucap Aline sedikit manja.
"Ohh ya nona, saya mau menemani." jawab Jeremy.
"Oke ayo.." ucap Aline.
Saat sudah berada di depan pintu Unit Celine, jantung Aline berdegup dengan kencang. Sedikit berharap jika Lexi tidak berada di dalam nya.
"Kita sudah sampai nona." ucap Jeremy.
"Ohh iya, Bang Jeremy bisakah kamu berdiri didepan dan ketuk pintu nya." jawab Aline, lalu memberikan 10 lembar uang seratusan.
"Saya oke nona, terimakasih juga ya tips nya." ucap Jeremy dan segera mengetuk pintu unit Celine.
Tok...Tok...Tok... Pintu di ketuk Jeremy, tetapi tidak ada yang membukanya. Sampai akhirnya Jeremy membuka kenop pintu dan ternyata tidak dikunci.
"Ehh... Pintunya tidak dikunci nona, jadi nona bisa langsung masuk kan." ucap Jeremy.
"Oke bang Jeremy tunggu dulu disini ya." ucap Aline.
"Oke non siap." jawab Jeremy.
Saat Aline mulai masuk, ruang tamu apartemen Celine ternyata sangat luas dan mewah, semua perabotan bermerek terpajang rapi disana.
Aline terus melangkah masuk kedalam menuju sebuah pintu yang terbuat, dan Aline yakini itu kamar Celine. Saat sudah berada di dalam pintu kamar, tidak terlihat Celine maupun Lexi disana, sampai akhirnya dia Aline mendengar suara ******* wanita di dalam kamar mandi kamar itu.
Mata Aline mulai memerah, jantung nya terasa sesak tapi Aline tetap harus membuka pintu kamar mandi itu.
"Ahhhh.... Paster honey Paster, ya ya seperti itu." teriak Celine.
Tangan Aline sudah berada di kenop pintu kamar mandi, dengan perasaan yang sudah bercampur aduk Aline langsung membuka nya.
Jedeeeeeerrrrrrrr..... Sesuatu hal yang sangat menjijikkan terpampang jelas di depan mata Aline, Lexi dan Celine sedang berhubungan intim Dengan cara berdiri. Terlihat dengan jelas perut buncit Celine yang semakin membuat Aline muak....
"Aline." ucap Lexi yang benar benar tidak menyangka jika Aline bisa sampai datang kesini.
"Pakai dulu baju kalian, aku tunggu di depan." ucap Aline, sangat dingin dan berlalu pergi meninggalkan kedua pasangan tak halal itu...
•
•
•
•
•
•
** To be continued **