Oppa Lee I Love You

Oppa Lee I Love You
Penyesalan



California Amerika...


Lexi yang tidur bersebelahan di samping Celine, tidak bisa juga memejamkan matanya. Rasa sakit dan penyesalan menyeruak masuk didada nya, apa yang terjadi sekarang dengan rumah tangganya.


Lexi bangun dan menyenderkan kepalanya disandaran tempat tidur, menoleh sesaat kearah Celine yang sudah tidur, lalu menatap bayi mungil berjenis kelamin laki laki itu yang juga tertidur dengan nyenyak.


Secercah senyuman terukir jelas di bibir Lexi, yang tak lama langsung berubah menjadi kesedihan yang mendalam.


"Aku mengharapkan semua keinginanku berakhir bahagia, tapi Tuhan lah yang menentukan semuanya." lirih Lexi dengan air mata yang tiba tiba jatuh menetes.



Malam semakin larut dan jam juga sudah menunjukkan pukul 02.00 am. Lexi sebenarnya sangat lelah, tetapi tidak bisa memejamkan matanya. Kini berjalan keluar, lalu menaiki tangga menuju kamarnya dengan Aline.



Saat akan masuk kamar, ternyata pintunya terkunci dari dalam. Lexi sedikit kesal, lalu berjalan cepat kearah ruang brankas untuk mencari kunci cadangan kamar itu.



"Akhirnya ketemu." ucap Lexi dengan senyum bahagianya.



.



Lexi sudah berada didalam kamar, dan menatap Aline dengan tatapan sendu. Rasa sakit dihatinya kembali menyeruak, saat menatap bibir Aline yang penuh luka akibat perbuatannya.



Lexi mendekati Aline perlahan, lalu mengolesi bibirnya yang luka dengan obat untuk menghilangkan rasa sakit yang sudah pasti Aline rasakan.



Lexi menggenggam erat tangan Aline dan menciumnya.



"Maafkan aku, aku tidak pernah menginginkan ini sampai terjadi. Maafkan aku Aline..." lirih Lexi dengan penuh air mata dan penyesalan yang mendalam.



Pagi menjelang...


Celine yang kerepotan mengurus bayinya sendiri karena tidak ada, semakin teriak kekesalan.


Celine tauh jika Lexi sudah pasti, berada dikamar Aline. Bayinya yang terus menangis, akhirnya dia serahkan ke para asisten kediaman Lexi.


"Urus bayiku, aku mau pergi." ucap Celine.


"Bu Mariah, sebagai kepala pelayan hanya bisa geleng-geleng kepala saja.


"Wanita ini berbeda sekali dengan nonya Aline yang baik hati, tuan Lexi apa yang sudah membutakan matamu sampai Menjadikan wanita ini istrimu." lirih ibu Mariah.


"Ahh...Urus bayiku, aku mau pergi." ujar Celine kepada Karen.


"Ya Nyonya." jawab Karen, baby sitter yang menjaga bayi Celine.




Aline merasakan tidurnya terganggu saat kaki dan perutnya terasa ditimpa sesuatu yang berat. Perlahan Aline membuka matanya, lalu mengedarkan pandangan kearah sosok kekar yang memeluknya erat.




Saat Aline sudah pergi, Lexi membuka matanya. Sebenarnya Lexi telah bangun duluan sebelum Aline, tetapi dia masih belum sanggup untuk menatap langsung istrinya itu.



Aline yang baru keluar dari kamar mandi dikejutkan oleh sosok Lexi yang berdiri di depan pintu.



"Apa yang sedang kau lakukan disini." ucap Aline.



"Aku ingin mandi." jawab Lexi.



"Tapi kran air panasnya mati, mungkin rusak dan aku belum sempat memberitahu." ucap Aline.



"Baiklah aku akan mandi dibawah, turun lah untuk sarapan." jawab Lexi.



"Hemmm...." ucap Aline singkat, lalu berjalan pergi meninggalkan Lexi.



"Aline tunggu." ucap Lexi.



"Apa lagi?" jawab Aline.



"Maafkan aku atas perbuatan ku tadi malam, aku tauh aku salah. Maaf..." ucap Lexi penuh penyesalan.



"Tidak perlu minta maaf, mungkin tadi malam aku memang salah." jawab Aline lalu pergi menuju walk in closed.



Arsen menjambak rambutnya kasar, penyesalan tidak ada gunanya lagi sekarang...










\*\* To Be Continued !