
Arsen kini malah berada di depan Klinik Violett milik Viola, entah angin apa yang membuatnya bisa sampai datang kesini.
Arsen memarkirkan mobilnya di parkiran didepan klinik, ia yakin jika Viola melihat mobilnya pasti akan mengenal nya. Tapi Arsen tidak peduli, ia masih ingin disini dan melihat Viola dari kejauhan.
.
Hampir satu jam berlalu, Arsen masih disana. Ia tidak berniat untuk segera pergi, sebelum melihat Viola.
Arsen yang terus memandangi pintu keluar klinik, tiba tiba mengepalkan erat genggaman tangannya. Saat ia melihat dari kejauhan, Aidan yang masuk kedalam Klinik Viola.
"Aidan,?? Ngapain dia datang ke Klinik Viola. Apa jangan jangan Viola memang sudah memiliki hubungan spesial dengan nya saat ia masih berstatus sebagai istriku. Dasar Brengsek...!!" kesal Arsen yang terus menerus memukul setir mobilnya.
***
Viola masih tertidur dikamar private nya, Ery juga masih duduk setia dikursi kebesaran Viola dan menyelesaikan laporan keuangan.
Saat Ery yang masih sibuk dengan pekerjaan, pintu ruangan Viola diketuk oleh seseorang.
Tok...Tok...Tok...! Bunyi pintu yang diketuk seseorang.
"Iya tunggu sebentar." ucap Ery yang langsung bangun dari kursi untuk membukakan pintu.
Saat pintu ruangan Viola sudah benar benar terbuka dengan sempurna, berdiri lah seorang pria tampan dengan postur tubuh tinggi tegap didepan Ery.
"Cari siapa?" tanya Ery dengan tatapan kagumnya.
"Apa ini ruangan Viola?" jawab Aidan.
"Ohhh.... Iya, masuklah. Tunggu sebentar saya akan panggil kan Mba Viola." ucap Ery masih dengan tatapan kagumnya.
Ery segera masuk kedalam kamar private Viola, ia merasakan jantungnya berdegup dengan begitu kencang.
"Gila banget, siapa pria itu. Wajahnya juga sangat tampan, Tuan Arsen aja lewat kalo ini mah." ucap Ery yang masih saja terus memegangi dadanya.
Viola yang merasa terusik tidur nya oleh suara Ery, langsung membuka matanya.
"Hemm.... Ery, dah jam berapa ini?" tanya Viola sambil mengucek matanya.
"Ehh... Mba Vio, udah bangun ya?" jawab Ery yang langsung mendekati Viola.
"Iyaa... Kamu nya berisik sih, makanya Mba kebangun." ucap Viola.
"Mba Vio, ini tuh dah jam 17.10 WIB. Mba dah tidur hampir 2 jam lebih, hehehe." jawab Ery yang langsung terkekeh.
"Apa...??? Ya ampun Mba udah tidur selama itu, astaga." ucap Viola dengan wajah terkejut nya.
Viola langsung masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci muka, dan bersiap kembali mengecek laporan keuangan nya lagi.
"Ery lanjut pulang lah, biar Mba yang selesai kan laporannya." ucap Viola sambil sedikit merias wajahnya.
"Laporan nya udah Ery selesaikan semua Mba, besok lagi aja Mba cek kembali. Mending Mba yang pulang duluan, soalnya didepan udah ada pria tampan yang jemput tuh." jawab Ery dengan tersenyum.
"Hah... Pria tampan, Siapa??" ucap Viola dengan raut wajah kebingungan nya.
"Gak tahu siapa namanya, tadi Ery lupa nanyain nya. Mba Vio lihat ajalah, dia udah ada di sofa tamu ruangan ini." jawab Ery menjelaskan.
"Apa....???? Ngapain nunggu disana, suruh aja coba tunggu dilantai bawah. Hemm...!" ucap Viola.
"Iya mana Ery tahu Mba, orang dia yang udah datang kesini duluan. Gimana dong?" jawab Ery.
"Iya udah deh, Mba mau lihat dulu siapa pria tampan yang kamu bilang." ucap Viola yang langsung keluar dari kamar nya.
Ery yang juga penasaran siapanya Viola pria tampan itu, langsung mengekori Viola.
Saat Viola sudah keluar, Aidan langsung berdiri dan menyambutnya dengan tersenyum.
"Kak Aidan?" tanya Viola.
"Hemm... Maaf ganggu, Kakak gak ngasih kabar dulu kalo mau kesini." jawab Aidan dengan tersenyum.
"Ngapain ngasih kabar dulu, santai aja sih Kak." ucap Viola yang juga membalas senyuman Aidan.
"Viola belum mau pulang?" tanya Aidan.
"Udah sih, udah jam 17.20 WIB juga." jawab Viola.
"Ayo pulang bareng, Kakak kan birthday hari ini." ucap Aidan.
"Astaga... Vio lupa Kak, maaf ya." jawab Viola yang langsung mendekati Aidan dan memeluknya.
"Gapapa, sebagai gantinya ayo kita rayain dengan makan diluar." ucap Aidan yang juga membalas pelukan Viola.
"Okee... Tapi Viola masih pakai Style kerja gini emang Kakak gapapa." jawab Viola.
"Gapapa, apa aja yang Viola pakai selalu cocok kok." ucap Aidan dengan senyum manisnya.
"Hehehe... Thanks Kakak ku. Oh ya sampai lupa, Happy Birthday yang ke 34 tahun Kak Aidan. Dah tua kali Kak 34 tahun, nikah sana." jawab Viola dengan terkekeh.
"Iya... Doain aja." jawab Aidan dengan tersenyum malu.
Ery yang menjadi obat nyamuk keduanya, hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
.
..."Enak banget sih punya wajah super cantik seperti Mba Vio, udah cantik kaya raya lagi. Aku lihat semua pria yang deketin Mba Vio, gak ada yang jelek. Enaknya jadi Mba Vio." lirih Ery didalam hati....
.
Viola yang sudah melepaskan pelukan nya dari Aidan, langsung mengambil tas nya dan menyapa Ery yang malah melamun.
"Ehh... Ery, kamu kok belum pulang." tanya Viola.
"Ohh... Mba Vio, ini Ery dah mau pulang kok. Lagi nunggu pesanan taksi online, Ery gak bawah motor soalnya." jawab Ery.
"Kemana motor kamu?" tanya Viola.
"Masuk bengkel Mba, rusak soalnya kemarin sore gak mau hidup." jawab Ery.
"Iya udah kamu bareng kita aja, Kak Aidan gapapa kan Ery ikut kita." ucap Viola tersenyum
"Aduh Mba, gapapa kok Ery naik Taksi online aja." ucap Ery yang tidak enak karena akan menggangu kencan bos nya itu.
"Gak boleh nolak, lagian kita juga satu arah kok. Nanti kamu turun aja di depan gang rumah kamu, gimana?" jawab Viola.
"Beneran nih gak ganggu Mba sama Mas nya." ucap Ery dengan wajah berbinar nya.
"Iya gapapa, ngapain gak enak. Lagian kamu tuh jangan salah paham, Mba sama Kak Aidan tuh udah temenan dari kecil, Mba udah anggap Kak Aidan Kakak Mba sendiri. Jadi santai aja, gak ada hubungan yang spesial seperti pasangan kekasih kok." jawab Viola yang menjelaskan hubungan nya dengan Aidan.
Sedangkan Aidan, kini benar benar sedih dengan kata kata yang tadi di ucap kan oleh Viola. Mereka teman sedari kecil, tidak ada hubungan yang spesial. Aidan seperti langsung dihantam oleh kenyataan, karena selama ini Viola hanya menganggap nya Kakak sampai kapanpun, tidak lebih....
"Kak Aidan ayo, kita jalan." ucap Viola yang membuyarkan kesedihan Aidan.
"Hemmm.... Ayo!" jawab Aidan dengan perasaan yang tetap bahagia, padahal kenyataan sebenarnya saat ini hatinya sangat perih dan terluka.
.
Viola masuk kedalam mobil Aidan dan duduk didepan, Sedangkan Ery duduk dikursi penumpang. Aidan mulai menjalankan mobilnya, untuk mengantar Ery dulu, baru pergi makan bersama Viola.
Arsen ternyata masih berada diparkiran mobil depan klinik Violett, sudah dua jam lebih ia menunggu disana, entah apa maksudnya hanya dia yang tahu.
Arsen terus mengepalkan erat genggaman tangannya saat ia melihat Viola yang sudah keluar dari klinik bersama Aidan, apalagi saat ini mereka satu mobil bersama dan entah mau kemana.
"Brengsek, dasar sialan. Mau kemana mereka, aku akan mengikutinya." ucap Arsen dengan tatapan tajamnya.
Arsen yang terus mengikuti Viola dan Aidan, langsung menepikan mobilnya saat mobil Aidan berhenti karena menurunkan Ery.
"Ery sudah turun, dan sekarang hanya mereka berdua didalam mobil. Mau kemana lagi mereka." ucap Arsen dengan raut wajah kesalnya.
***
Viola dan Aidan masuk kedalam kafe Sunda, menuju area private yang terdapat di halaman samping kafe dengan tema saung.
"Mau makan apa lagi, Kakak udah pesankan bebek bakar kesukaan mu." ucap Aidan.
"Waahh... Benarkah, ternyata Kakak masih ingat makanan apa aja yang Vio suka." jawab Viola dengan tersenyum.
"Semua tentang kamu, Kakak tahu." ucap Aidan.
"Apa saja?" jawab Viola.
Aidan menjelaskan semuanya tentang Viola apa yang dia suka dan tidak disukainya dengan panjang lebar, Viola langsung tertawa renyah mendengar penuturan Aidan yang memang lah kebenaran nya.
Sedangkan Arsen, saat ini ia berada pas disamping saung Viola dan Aidan. Ia terus mengepalkan erat genggaman tangannya, karena muak dengan tingkah Aidan yang sok alim, ternyata buaya yang suka menggombal.
.
..."Halah, gayamu sok alim. Tapi mau aja dekat dekat wanita, yang bukan muhrim mu. Huh dasar buaya..." gumam Arsen didalam hati....
.
Viola sudah menyelesaikan makannya, dan bersiap untuk pergi ke toilet. Arsen yang mendengar Viola akan ketoilet langsung mengikuti nya.
Viola baru saja selesai dari toilet dan bersiap kembali lagi ke saung menemui Aidan yang masih menunggu disana.
Saat Viola berjalan dengan santai, tiba tiba tangan nya ditarik seseorang yang hampir membuatnya jatuh.
"Ah.... Siapa, lepasin, lepasin aku." teriak Viola yang belum tahu jika Arsen lah yang menariknya.
"Diamlah ini aku." jawab Arsen dengan wajah tanpa berdosanya.
"Kau?? Lepasin tangan aku." ucap Viola dengan tatapan tak sukanya, lalu ia langsung menghempaskan tangan Arsen yang masih memegang tangan nya.
"Maaf, kamu apa kabarnya." ucap Arsen yang bingung harus mengatakan apa.
"Hah.... Angin apa yang membuatmu menanyakan kabarku, tapi aku baik baik saja." jawab Viola yang langsung berlalu pergi dari hadapan Arsen.
Belum juga Viola berjalan jauh, Arsen sudah menarik lagi tangan nya. Kali ini tarikan tangan Arsen benar benar sangat kuat, sampai membuat Viola jatuh kedalam pelukan nya.
"Dasar brengsek. Plak...!" teriak Viola yang langsung replek menampar pipi Arsen dengan sangat kuat, sampai meninggalkan bekas merah.
"Hahaha... Kamu sudah sangat berubah, baru satu bulan kita berpisah kamu sudah langsung dekat dengan banyak pria. Dasar Murahan....!" kesal Arsen dengan tatapan tajamnya.
Viola langsung mengepalkan erat genggaman tangannya, ia sudah bersiap untuk menampar Arsen lagi. Tapi belum juga tangan Viola sampai di pipi Arsen, Arsen sudah langsung menangkap nya.
"Kamu kira bisa untuk menampar ku lagi, dengar baik baik Viola. Jika kamu tidak suka dihina seperti itu, berhentilah mendekati pria lain hanya untuk memperlihatkan nya padaku. Karena aku tidak akan pernah cemburu, ingat itu." ucap Arsen yang langsung mendorong Viola.
"You are Crazy....!" jawab Viola dengan tatapan tajamnya.
"Ya aku memang gila." ucap Arsen dengan senyum mengerikan nya.
"Kau Hanyalah Mantan Suami, jadi jangan pernah lagi mengurusi hidupku. Dan kau juga harus ingat, mau aku dekat dengan pria mana pun aku tidak pernah berniat sedikitpun untuk membuatmu cemburu. Karena bagiku sekarang kau bukanlah apa apa dan sangatlah tidak penting...!" sarkas Viola dengan tatapan penuh kebencian kepada Arsen, lalu ia langsung pergi dari hadapan Arsen.
Arsen yang mendengar Viola mengatakan itu, kini hanya bisa terdiam. Ia pun bingung dengan apa yang dirinya lakukan sekarang, ia menunggu Viola selama dua jam lamanya, dan bahkan mengikuti kemana ia pergi lalu malah berakhir dengan menghinanya...
"Hahahaha.... Aku memang sudah gila, yang kau katakan tadi itu memang benar." ucap Arsen yang terus saja tertawa...
•
•
•
•
•
•
Ya emang sudah gila, lu Arsen. Ingat ya sekarang lu itu udah jadi mantan, kenapa masih ngurusin hidup mantan istri lho. 😂
.
** TBC **
.