
Dokter Nadia yang sedang beristirahat di ruangan nya, tiba tiba di kejutkan oleh kedatangan Arsen.
"Tuan Arsen, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Nadia dengan raut wajah yang penuh kebingungan.
"Kapan pertama kali Aline datang kerumah sakit ini untuk memeriksakan kehamilannya." jawab Arsen dengan tatapan tajamnya.
"Ibu Aline pertama kali datang kerumah sakit dan mengetahui kehamilannya kira kira sekitar 8 bulan yang lalu, tapi tunggu sebentar dulu tuan, saya akan lebih memastikan lagi tepatnya tanggal berapa." ucap Dokter Nadia yang langsung mengecek komputer nya dan menyamakan dengan laporan manual kapan pertama kali Aline datang kerumah sakit ini.
Arsen terus menatap Dokter Nadia dengan tatapan tajamnya, ia benar benar berharap berkas yang diberikan Max tadi tidak benar.
"Bagaimana, lebih tepat nya itu di tanggal dan bulan berapa?" tanya Arsen dengan tatapan cemas nya.
"Hem.... Sepertinya memang benar 8 bulan yang lalu, tanggal 03 bulan Mei tuan." jawab Dokter Nadia menjelaskan.
Arsen yang mendengar penjelasan dari Dokter Nadia, langsung mengepalkan erat genggaman tangannya, wajahnya pun berubah menjadi sangat menakutkan. Ia benar benar tidak menyangka, jika Aline telah menipunya....
"Tuan Arsen, apa anda baik baik saja sekarang?" tanya Dokter Nadia dengan raut wajah cemas nya.
Arsen tidak menjawab pertanyaan Dokter Nadia, ia langsung saja pergi dari ruangan itu dengan raut wajah yang benar benar sangat menakutkan.
Dokter Nadia yang tadi melihat raut wajah Arsen seketika langsung berubah jadi menakutkan hanya bisa terdiam saja, ia tidak mengerti mengapa Tuan Arsen sampai menanyakan kapan pertama kali istrinya datang kerumah sakit ini.
"Apa yang membuat raut wajah tuan Arsen langsung tiba tiba berubah menjadi sangat menakutkan, hah aku benar benar tidak paham tentang masalah suami istri." ucap Dokter Nadia yang langsung menghembuskan nafas beratnya.
***
Max sedang menikmati segelas Wine mahal yang sangat langka didalam apartemen nya, raut wajah datarnya benar benar tercetak jelas.
"Jika suatu saat nanti kau tahu bahwa akulah yang menyebabkan perusahaan Ayah Aline bangkrut sampai membuatmu harus berpisah dari nya, aku yakin kau tidak akan memaafkan ku. Aku memang terlalu kejam sekaligus egois, tapi kau juga harus tahu bahwa apa yang telah aku lakukan hanya untuk kebaikan mu. Karena aku tahu, dulu Aline tidak benar benar mencintaimu." ucap Max yang langsung meminum habis wine nya sampai tandas.
"Mungkin... Setelah kalian benar benar berpisah Aline baru menyadari bahwa ia mencintai mu. Tapi semuanya telah terlambat, karena aku sangat membencinya dan tidak akan membiarkan ia mendekati mu lagi..."
"Aku kira,,,,, setelah Aline meninggalkan mu dan memilih menikah dengan pria lain kau juga sudah sangat membencinya. Tapi ternyata aku salah..... Karena kau masih tetap mencintai Aline dan malah menyakiti Viola dengan cara berselingkuh dibelakangnya."
"Sekarang kau pasti sangat menyesal karena "Bom Waktu" nya telah meledak. Sekarang semua sudah hancur, dan sayangnya kau baru menyadari." lirih Max dengan tatapan sendu nya.
.
Arsen saat ini tengah berada di Club King, Club mewahnya orang orang kelas atas, ia juga telah meminum banyak alkohol mahal yang telah di racik oleh Bartender.
"Tuan Arsen, seperti nya anda sedang tidak baik baik saja." tanya Evanders seorang Bartender tampan berwajah blasteran yang sangat terkenal Di Club King, Evanders juga sangat dekat dengan Arsen.
"Hah... Aku baik baik saja, buatkan lagi alkohol nya untuk ku." jawab Arsen yang sebenarnya sudah sangat mabuk.
"Tuan Arsen, anda sudah sangat mabuk. Apa saya perlu menelepon asisten anda untuk mengantarkan anda pulang." ucap Evanders.
"Tidak perlu... Aku bisa pulang sendiri." jawab Arsen yang berjalan dengan sempoyongan.
Arsen yang berjalan dengan sempoyongan, tiba tiba menabrak seseorang wanita yang ia kira adalah Viola.
"Viola....??????" tanya Arsen sambil mengerjap kan matanya.
"Maaf Tuan, saya bukan Viola." jawab wanita itu.
"Hahaha... Kau benar Viola, jangan membohongiku." ucap Arsen langsung menarik tangan wanita itu.
"Hey Tuan, saya itu memang bukan Viola. Saya Jemima, cepat lepaskan saya." jawab wanita yang bernama Jemima itu.
"Aku tidak mau melepaskan tanganmu, kau sudah lama pergi dan aku tidak tahu kau berada di mana selama ini." ucap Arsen yang langsung mendorong Jemima masuk kedalam taksi yang berada didepan Club' King.
"Mau kemana tuan." tanya Sopir taksi itu dengan begitu ramahnya.
"Hotel XX." jawab Arsen dengan wajah memerah nya.
"Hah.... Kau memang suka seenaknya saja Tuan, aku bahkan tak tahu siapa namamu, kau malah main bawa langsung ke hotel saja." ucap wanita yang bernama Jemima itu dengan penuh protes.
Arsen tidak mempedulikan omongan Jemima, ia kini malah lelap tertidur nyenyak.
"Aish... Apa apaan ini, aku sudah capek ngomong ia malah enak tidur." umpat Jemima dengan raut wajah kesalnya.
"Kita sudah sampai Nona." ucap Sopir taksi.
"Ohh... Iya, ini ongkosnya." jawab Jemima yang langsung segera turun dari mobil dengan memapah Arsen masuk kedalam Hotel XX.
"Astaga... Kenapa aku sial banget sih malam ini, udah gak dapat mangsa dari tadi. Eh sekarang tiba tiba dapat rezeki nomplok, malah enak tidur. Apes banget dah...!" ucap Jemima yang terus memapah Arsen.
.
Jemima baru saja keluar dari kamar mandi, ia terpaksa harus mandi malam malam begini, karena badannya benar benar sangat bau akibat terkena munt*han Arsen.
Jemima yang hanya memakai kimono mandi, kini berdiri didepan Arsen yang tengah tertidur.
"Hah... Untung saja wajahmu tampan Tuan, jadi aku tidak masalah sudah terkena mun*ahan mu. Hmmm.... Tapi ngomong ngomong, kenapa tadi kamu memanggil ku Viola ya??" ucap Jemima yang sudah bersiap untuk segera tidur di sofa.
.
Arsen yang sudah membuka kedua matanya, merasakan kepalanya benar benar sangat pusing.
"Ah kepalaku terasa sangat sakit, aku minum terlalu banyak." lirih Arsen sambil memegangi kepalanya.
"Hah... Kenapa aku malah tidak berada dikamar ku, bagaimana bisa aku berada di hotel ini." ucap Arsen dengan tatapan bingung nya.
Arsen langsung saja beranjak dari tempat tidur, dan menuju kamar mandi.
.
Saat Arsen hendak pergi meninggalkan kamar hotel itu, matanya menangkap sosok seorang wanita yang tengah tidur di sofa ruang tamu kamar hotel itu.
"Astaga... Apa yang sudah aku lakukan semalam, hah. Seingat ku tadi malam aku melihat Viola di Club King. Tapi ternyata aku sudah salah mengira, malah yang ada sekarang wanita ja*ang ini...!" lirih Arsen yang langsung bergegas pergi meninggalkan kamar hotel itu.
***
Sore harinya...
Arsen yang baru pulang dari kantor, langsung menuju rumah sakit. Baru saja ia masuk kedalam ruang rawat VVIP Aline, ia langsung dikejutkan oleh suara keras Aline.
"Dari mana saja kamu, kenapa dari tadi malam ponsel mu tidak aktif. Bahkan sampai kau sudah datang kesini ponselmu juga tidak aktif." teriak Aline dengan tatapan tajamnya.
"Ponselku baterai nya habis." jawab Arsen dengan begitu santainya.
"Bagaimana bisa kau sampai tidak charger ponselnya, jangan berkilah... Aku tahu kau sudah membohongi ku." ucap Aline yang masih menatap Arsen dengan begitu tajam nya.
"Aku membohongi mu?? Hem... Bukan aku yang membohongi mu, tapi Kau...!!!" jawab Arsen yang kini membalas Aline dengan tatapan yang tak kalah tajam nya.
"Kau bicara apa, jangan melemparkan kesalahan mu kepadaku." teriak Aline dengan tatapan terkejutnya.
"Hahahaha.... Kau memang wanita licik, wanita ular. Aku sudah tahu semuanya, dan seharusnya kaulah yang tak perlu lagi berkilah." jawab Arsen dengan tatapan penuh kebencian kepada Aline.
"Kau ini bicara apa, aku tidak mengerti." ucap Aline yang seolah olah tak mengerti.
"Kau wanita yang sangat Memuakkan....!!! Dasar pembohong, wanita penipu." jawab Arsen dengan suara yang begitu keras nya.
"Pembohong, penipu?? Atas dasar apa kau menuduhku." ucap Aline dengan tatapan tak terima nya.
"Bayi yang baru saja kau lahir kan, itu bukan anakku kan, tapi anaknya Lexi." jawab Arsen dengan tatapan tajamnya.
Aline langsung membulat kan matanya dengan sempurna, ia benar benar tak menyangka jika sekarang Arsen sudah mengetahuinya.
"Arsen a-aku... aku, aku mohon maafkan aku." ucap Aline yang kini sudah menjatuhkan air mata nya.
"Mengapa kau selalu menyakiti hatiku Aline, bahkan sekarang kau dengan teganya mengatakan anakmu bersama pria lain adalah anakku. Dan karena ulah mu juga, aku dengan begitu jahat nya telah menceraikan istri yang sangat mencintai ku." teriak Arsen dengan begitu marahnya kepada Aline.
"Aku tahu aku sudah salah, tapi apa yang aku lakukan ini karena aku sangat mencintaimu Arsen, dan aku tidak mau lagi kehilanganmu. Aku mohon maafkan lah aku Arsen, mari kita mulai dari awal lagi." ucap Aline dengan air mata yang sudah membasahi seluruh wajahnya.
"Memulainya lagi dari awal??? Hahahaha.... Kau memang sangat konyol, dengar baik baik Aline Barros Smith!!! Sekarang juga aku ceraikan kau, dan mulai hari ini juga kau pergilah jauh jauh dari hidupku selamanya." jawab Arsen dengan tatapan tajamnya yang dipenuhi oleh api kemarahan.
Aline yang mendengar Arsen telah menceraikan nya, benar benar tidak terima. Ia langsung bangun dari atas brankar rumah sakit dan memohon di kaki Arsen.
"Aku mohon maafkan aku Arsen, maafkan aku. Aku mohon jangan pernah ceraikan aku, aku tidak mau kehilangan mu." ucap Aline yang terus memohon di kaki Arsen dengan tangisan pilunya.
"Menjauh lah dariku sekarang juga." jawab Arsen dengan tatapan tak sukanya.
"Aku tidak mau, sebelum kau memaafkan ku dan tidak menceraikan ku." teriak Aline dengan tatapan yang begitu menyedihkan.
"Dasar ja*ang sialan, brengsek. Mau kau terus berlutut di kaki ku sampai kapan pun, aku tetap akan menceraikan mu. Karena kau benar benar menjijikkan." jawab Arsen yang langsung pergi meninggalkan Aline yang malah semakin meraung-raung.
Aline memang sudah tahu, suatu saat "Bom Waktu" ini benar benar akan meledak. Tapi ia sungguh tak menyangka jika "Bom Waktu" nya malah meledak lebih cepat dari yang ia kira...
•
•
•
•
** Gimana readers, part ini mengsedih gak lihat Aline. Hehehehe !!!
.
** TBC **
.