Oppa Lee I Love You

Oppa Lee I Love You
Mari Kita Bercerai



Viola, Arsen dan Aline kini sudah berada di rumah utama keluarga Lee. Disana juga sudah ada Papa Joon dan Sandra...


Sedangkan Mama Gina, masih berada di Korea dan mungkin besok baru pulang ke Indonesia. Aline dari tadi hanya bisa menundukkan wajahnya, ia tidak memiliki keberanian untuk menatap wajah Viola, Papa Joon dan Sandra.


"Arsen, apa yang akan kamu jelaskan sekarang." tanya Papa Joon.


"Maafkan aku Vi, aku tahu aku salah, maafkan aku." ucap Arsen dengan terus menggenggam tangan Viola.


"Siapa wanita ini, dan ada hubungan apa Oppa dengan dia, tolong jelaskan semuanya padaku." tanya Viola dengan tatapan sendu menatap Arsen.


Arsen kini sudah memantapkan keputusannya, ia harus mengatakan yang sebenarnya kepada Viola. Meskipun nanti akan menyakiti hati Viola tapi inilah kenyataan nya...


"Kenapa Oppa diam saja, apa Oppa tidak mau menjelaskan nya padaku?" tanya Viola dengan sangat tenang.


"Maaf Vi, maafkan aku. Namanya Aline, dia adalah kekasih ku." jawab Arsen dengan begitu lantangnya.


"Ohh... Benarkah?" tanya Viola sedikit menyunggingkan senyumnya.


"Itu memang benar, bahkan aku dan Arsen sudah menjadi pasangan kekasih jauh sebelum kamu menikah dengan nya." ucap Aline kepada Viola.


"Sudah berapa lama Oppa bermain main dengan nya dibelakang ku?" tanya Viola yang kini menatap Arsen dengan tatapan tajamnya.


"Kami saling mencintai, jadi kuharap kau lepaskan saja Arsen." jawab Aline dengan begitu berani nya.


Sandra yang sangat geram dan kesal melihat Aline, ingin sekali langsung mencakar wajah tidak malu nya itu. Tapi ia malah tidak bisa melakukannya, karena Papa Joon menghalangi...


Viola mengepalkan erat genggaman tangannya, ia benar benar membenci situasi seperti saat ini. Tapi ia tetap berusaha tenang, seolah memperlihatkan bahwa ia akan baik baik saja.


"Aku tidak sedang bertanya padamu, jadi lebih baik kau diam." ucap Viola menatap tajam kearah Aline.


.


..."Yes, gitu dong kak Vio. Lawan dia, Jangan mau kalah sama pelakor busuk, huhh." ucap Sandra didalam hati....


.


"Vi, maafkanlah aku dan Aline. Aku yang membuat masalah dalam rumah tangga kita." ucap Arsen dengan raut wajah biasa saja.


"Dalam berumah tangga, memang pasti akan ada masalah. Tergantung dari kita sendiri bagaimana cara menghadapinya?" ucap Papa Joon yang kini mulai mengeluarkan suaranya.


"Viola maafkan Aku. Mungkin kebahagiaan untukmu tidaklah harus bersamaku." ucap Arsen yang berusaha memperjelas semuanya.


"Apa maksud Oppa?" jawab Viola dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Viola, Mari Kita Bercerai." ucap Arsen yang menatap sendu wajah Viola.


"Apa." jawab Sandra yang langsung menutup mulutnya dengan tangan.


"Arsen, apa yang kamu katakan." jawab Papa Joon yang langsung mengusap kasar wajahnya.


"Maaf Pa, tapi kebahagiaan ku dari dulu hanyalah bersama Aline, bukan Viola." ucap Arsen dengan mata yang sudah memerah menahan tangis.


"Secepat itukah kamu langsung berubah Arsen." jawab Papa Joon.


"Jangan menyalahkan Arsen Pa, bukankah dulu aku sudah menolak perjodohan dengan Viola. Tapi Papa yang memaksa, padahal di hatiku waktu itu hanya ada Aline dan Aline." sarkas Arsen.


"Papa cuma minta, tolong pikiran dengan baik, jangan sampai kamu menyesal nantinya." ucap Papa Joon.


"Sudahlah Pa, aku tidak apa apa. Baiklah Arsen, mari secepatnya kita urus surat perceraian kita." jawab Viola dengan bibir bergetar, tapi ia tidak menitikkan air matanya.


"Baiklah Vi, terimakasih." ucap Arsen yang langsung pergi dari hadapan Viola, dengan menggenggam erat tangan Aline.


Air mata yang sedari tadi terus Viola tahan, kini sudah tumpah ruah membasahi wajah cantiknya.


"Kak Vio, please kak jangan menangis." ucap Sandra yang terus menenangkan Viola.


Papa Joon hanya bisa menangis dalam diam, tanpa bisa menghentikan Arsen. Ia masih terus berharap, agar Arsen merubah keputusannya.


"Pa, tolong jangan beri tahu Dad dan Mommy Viola. Biar Vio saja yang menjelaskannya kepada mereka." ucap Viola dengan wajah yang sudah penuh dengan air mata.


"Iya, Papa yakin Vio kuat." jawab Papa Joon yang langsung memeluk Viola.


Viola semakin menangis, ia terus memikirkan tentang apa yang telah terjadi hari ini terasa begitu cepat, dan benar benar bagaikan mimpi...


***


Arsen dan Aline sudah dalam perjalanan pulang ke apartemen, mereka berdua hanya diam saja tanpa ada yang mau memulai pembicaraan.


Aline terus tersenyum senang, memikirkan perkataan Arsen tadi yang akan segera bercerai dengan Viola.


.


..."Malam ini akan menjadi malam yang indah bagiku dan Arsen, maafkan aku Viola tapi mau bagaimana lagi, suami mu sangat mencintaiku." ucap Aline didalam hati sambil terus melirik Arsen yang tengah fokus mengemudi....


.


"Honey, kamu gak turun." ucap Aline yang sudah memanggil Arsen dengan sebutan mesra seperti saat mereka berpacaran dulu.


"Aku masih ada urusan, kau masuklah duluan." jawab Arsen.


"Ohh... Baiklah, hati hati di jalan." ucap Aline yang langsung mencium bibir Arsen sekilas dan bergegas keluar dari mobil.


Saat Aline sudah turun dari mobil, Arsen langsung pergi menjalankan mobilnya.


"Hah, kenapa raut wajah Arsen malah jadi dingin padaku." ucap Aline yang langsung berjalan masuk kedalam gedung apartemen nya.


.


Arsen ternyata malah menjalankan mobilnya menuju pulang kerumah, masih banyak yang ingin ia katakan kepada Viola.


Saat Arsen sudah berada di depan rumah nya, ia masuk kedalam dan mulai berlari menuju kamar nya dan Viola.


Arsen masuk kedalam kamar dengan terburu buru sampai membuat nafasnya terasa sesak, dan ia malah tidak mendapati Viola disana.


"Kamu dimana Vi, apa kamu masih dirumah Papa, dan malah milih tidur disana." ucap Arsen yang masih tegak berdiri sambil terus menatap foto pernikahannya dengan Viola yang terpajang indah di dinding kamarnya.


"Seharusnya aku mulai terbiasa jika Viola tak lagi ada di dekatku, karena sekarang sudah ada Aline." lirih Arsen yang langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur...


***


Pagi hari dirumah keluarga Kenrich...


Sean, Sashi, Dad Antonio dan Mom Ariana tengah sarapan bersama. Canda dan tawa semakin menemani kebersamaan mereka.


.


Bel rumah pun berbunyi, semuanya saling menatap heran siapa kah yang sudah bertamu sepagi ini. Meskipun hari ini adalah hari libur, tapi seharusnya ia tahu kapan waktunya bertamu.


"Biar saya yang buka Nya." ucap Bi Irma, saat melihat Mom Ariana sudah bangun dari tempat duduknya.


"Oh ya udah Bi, cepatlah lihat kedepan." jawab Mom Ariana.


"Baik Nya." ucap Bi Irma.


Tak berapa lama Bi Irma datang bersama Viola dan Papa Joon.


Sean yang sudah melihat siapa yang datang hanya mengerutkan keningnya.


"Assalamualaikum." ucap Papa Joon.


"Waalaikumsalam." jawab Dad Antonio, Mom Ariana, Sean dan Sashi.


"Oh Joon, kamu datang bersama Viola." ucap Dad Antonio yang merasa bingung.


"Iya, kami datang bersama." jawab Papa Joon.


"Bukan kah kamu sedang tidak berada di Indonesia, kapan datangnya." ucap Dad Antonio.


"Kemarin pagi." jawab Papa Joon.


"Oh... Mana istrimu? Apa dia tidak ikut pulang bersama?" tanya Dad Antonio.


"Iya aku pulang kesini duluan, dan mungkin sebentar lagi pesawat yang membawa Gina akan tiba." jawab Papa Joon.


"Oh begitu, ayo kita duduk di depan." ucap Dad Antonio yang segera merangkul Papa Joon duduk diruang keluarga.


Sedangkan Viola kini hanya diam saja, dan hendak berjalan menuju kamar nya.


"Dek, kamu datang tidak bersama Arsen?" tanya Sean.


"Dia tadi masih tidur, aku kesini duluan. Mungkin sebentar lagi Arsen nyusul." jawab Viola berbohong.


"Vio, kamu sarapan lah dulu." ucap Mom Ariana.


"Nanti aja Mom, Vio belum mau makan." jawab Viola yang sudah menaiki tangga menuju kamarnya.






** Part sedihnya bakal di mulai guys, jadi terus pantengin cerita selanjutnya. See you ❤️