
Sudah lima hari Arsen tidak datang kekantor, mau pun pulang kerumahnya untuk sekedar melihat Baby Kenzo. Arsen dan Aline memang hanya menikah secara siri, tapi ia tetap menyerahkan urusan perceraian kepada pengacaranya Farrel.
Arsen memilih mengurung diri di apartemen private nya, apartemen baru yang bahkan tidak diketahui oleh Max, hanya Viola yang pernah ia bawah kesini.
Penampilan Arsen juga sudah sangat berantakan, lingkar matanya menghitam karena kurang tidur, kumis tipis yang sudah mulai tumbuh pun kian menghiasi wajahnya.
"Maaf, maafkan aku Vi. Aku mohon maafkan aku, aku menyesal dan aku memang sangat bodoh." lirih Arsen dengan tatapan sendu nya.
Hanya kata maaf, dan penyesalan yang teramat dalam keluar dari mulut Arsen. Ia benar benar menyesali perbuatannya, "Penyesalan Arsen" kali ini sudah tidak ada gunanya lagi. Karena Viola sudah pergi dan tidak diketahui lagi tengah berada di mana saat ini...
"Arghh.... Sakit, kepalaku sangat sakit." teriak Arsen yang kesakitan sambil terus memegangi kepalanya.
Dengan langkah gontai Arsen langsung menuju keatas tempat tidur, mengambil ponselnya diatas nakas lalu menekan pesan suara untuk Max.
"Cepat datang keapartemen Luxury, sekarang Max." ucap Arsen yang tiba tiba sudah jatuh pingsan.
Max yang sudah menerima pesan suara dari Arsen langsung bergegas pergi meninggalkan kantor.
"Kau memang selalu mencari masalah, sudah lima hari menghilang tiba tiba telepon dengan keadaan yang seperti nya sedang tidak baik, hah beginilah kalo nasib jadi bawahan..." ucap Max yang kini sudah berada didalam mobil nya menuju apartemen Luxury.
***
Aline hanya bisa terus menangis didalam kamar, hatinya terlalu pedih dan sakit. Ia kecewa dengan Arsen yang sudah lima hari ini tidak pernah lagi mengunjunginya dan Baby Kenzo.
"Jika memang kau sudah kecewa padaku, setidaknya kau jangan abaikan Baby Kenzo. Dulu sewaktu ia didalam kandungan ku, kau begitu perhatian dan sangat menyayangi nya, tapi sekarang... Kau benar benar sudah melupakannya, hiks...hiks...hiks." lirih Aline dengan air mata yang terus membasahi seluruh wajahnya.
Aline yang sudah kelelahan menangis akhirnya tertidur dengan begitu lelap, ia bermimpi Lexi datang menemuinya dengan menggendong Baby Kenzo.
Tidur Aline mulai terusik, saat ia merasakan tangan lembut seseorang yang menyentuh wajahnya. Dengan perlahan Aline mulai membuka kedua matanya dan berusaha bangun dari atas tempat tidur.
"Jika masih mengantuk, kau tidur lagi saja." ucap suara seorang pria yang langsung membuat Aline menolehkan wajahnya kearah sumber suara.
Mata Aline membulat dengan begitu terkejutnya, bibir nya kaku dan badannya bergetar hebat saat ia melihat Lexi yang tengah duduk di sofa kamarnya sambil menyilang kan kedua kakinya.
"Lexi......???????" ucap Aline dengan tatapan tajamnya.
"Hemmm.....!!!!" jawab Lexi dengan tatapan sendu nya.
"Bagaimana kau bisa berada di sini??" tanya Aline dengan tatapan tak sukanya.
"Kau tidak perlu tahu, yang pasti aku sangat bahagia karena akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan mu." jawab Lexi yang langsung bangun dari duduknya mendekati Aline.
"Ayo pulang kembali ke Amerika." ucap Lexi yang hendak menyentuh wajah Aline, tapi belum juga sampai Aline sudah menepis tangan Lexi.
"Menjauh lah dariku, karena sampai kapan pun aku tidak akan mau lagi kembali padamu." jawab Aline dengan tatapan tajamnya.
"Aku sudah tahu semuanya, kau telah melahirkan anak ku, dan sudah diceraikan Arsen. Jadi untuk apa lagi kau masih berada disini, kembali padaku. Mari kita memulai hidup bahagia." ucap Lexi yang masih menatap Aline dengan tatapan sendu nya.
"Aku tidak mau, jangan pernah memaksa ku." jawab Aline dengan tatapan tak sukanya.
"Aku sudah tidak ada hubungan apa apa lagi dengan Celine, aku tahu aku sudah sangat bersalah padamu. Aku mohon maafkan lah aku, kasihan Baby Kenzo dia membutuhkan ku. " ucap Lexi dengan tatapan penuh penyesalan.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan Baby Kenzo, karena dia adalah anakku, milikku. Lagian, bukan kah kau juga sudah memiliki Baby Axel, lebih baik kau urus saja dia." sarkas Aline.
"Baby Kenzo bukan anakku, melainkan anak Celine dengan pria lain." ucap Lexi dengan tatapan penyesalan.
Aline hanya terdiam dan tidak lagi mempedulikan omongan Lexi, ia memilih pergi untuk menemui Baby Kenzo.
***
Max saat ini tengah menatap sendu kearah Arsen, Arsen yang begitu lemah dan menyedihkan dengan Infus yang menempel ditangan kanan kirinya.
Tiba tiba saja ponsel Max berdering, ia yang menatap sekilas siapa yang tengah menelponnya langsung mengangkat nya.
"Hem... Bagaimana?" tanya Max pada seseorang yang tengah menelponnya yang tak lain adalah Farrel pengacara Arsen.
"Lexi sudah tiba di Indonesia, dan saat ini tengah berada di rumah Nyonya Aline." jawab Farrel.
"Okee... Baiklah, pastikan ia secepatnya membawa Aline untuk segera pergi meninggalkan Indonesia." ucap Max dengan tatapan tajamnya.
"Baik Tuan Max." jawab Farrel.
Max langsung mematikan ponselnya, saat ia melihat Arsen yang sudah mulai siuman dari pingsannya.
"Dimana aku?" tanya Arsen.
"Kamu sedang dirawat di Rumah Sakit." jawab Max acuh tak acuh.
"Bagaimana bisa aku berakhir di sini." ucap Arsen yang bingung dan belum menyadari jika ia tadi siang tergeletak pingsan saat ditemukan Max.
"Kamu pingsan di apartemen mu, apartemen yang bahkan baru aku ketahui hari ini." jawab Max dengan tatapan kesalnya.
"Hah.... Benarkah, kalo begitu terimakasih Max." ucap Arsen yang masih merasakan tubuhnya sangat lemah.
"Kenapa kamu tidak makan sampai lima hari dan terus minum wine saja, jika kamu sakit seperti ini kamu malah membuatku repot kan." tanya Max.
"Maaf... Maafkan aku." jawab Arsen yang langsung menangis.
"Hey.... Tidak perlu menangis, aku sudah memaafkan mu." ucap Max yang bingung kenapa Arsen yang terkenal dingin ini tiba tiba berubah menjadi mellow dan cengeng.
"Max... Aku sudah sangat bersalah dengan Viola dan kedua orangtuanya, bantu aku cari Viola Max, aku mohon." jawab Arsen dengan air mata yang sudah menetes.
"Aku tidak tahu dia sekarang berada dimana, semua akses detail tentang Viola telah ditutup. Mungkin Tuan Antonio, telah menyuruh orang orang nya mem privasi semua hal tentang Viola." ucap Max menjelaskan dengan panjang lebar.
"Max.... Tolong cari terus keberadaan Viola, jika perlu kau hubungi Jade dia kan hacker yang handal dalam segala hal." jawab Max dengan penuh harapan.
"Jika sudah begini kamu hanya bisa menyusahkan kami semua, bukan kah aku sudah pernah bilang dulu padamu jangan pernah menyesalinya ketika Viola sudah tidak ada. Hah." jawab Max yang terus menghela nafasnya dengan begitu geram nya.
Arsen kini hanya bisa terdiam dan merenungkan saja nasibnya, "Penyesalan Arsen" kali ini benar benar sudah sangat terlambat....
•
•
•
•
•
Itulah mengapa penyesalan selalu datang nya di akhir, karena Jika datangnya diawal itu adalah perkenalan hahaha.....!!!!!
Hallo semuanya, tak bosan bosannya author's bilang ke kalian semua untuk selalu beri dukungan dengan cara like, komen, dan Vote ya. See you sayangku ❤️❤️❤️
.
** TBC **
.