
California Amerika...
Lexi yang tengah duduk dikursi kebesarannya, kembali mengeraskan rahang dengan tatapan matanya yang tajam.
Setelan jas yang tadi rapi dikenakannya, kini telah berubah menjadi kemeja kusut yang digulung sampai siku tangan dengan beberapa kancing atas terbuka.
Perasaannya yang kacau kini semakin menjadi jadi, Hans asisten Lexi hanya bisa memperhatikan dari kejauhan saja. Tanpa ada niatan untuk bertanya sedikitpun dengan tuannya itu, karena jika sampai Hans bertanya hanya akan membuatnya menjadi pelampiasan kemarahan Lexi saja.
"Celine wanita sialan itu, kemana dia pergi membawa anakku. Dasar brengsek, aku pasti akan menemukan mu. Awas saja kau." sarkas Lexi.
Lexi kini berdiri dengan menyilang kan tangan nya sambil memandang kaca transparan yang menampilkan keindahan gedung gedung pencakar langit dari ruangan kerjanya.
"Aline yang pergi saja masih belum bisa Hans temukan, sekarang Celine pun ikut pergi. Ya tuhan, apa ini Hukuman Untukku. Sehingga aku harus kehilangan istri dan juga anakku yang sangat aku cintai." lirih Lexi dengan air mata yang sudah jatuh menetes.
******
Rado tengah asyik bermain dengan Baby Axel, terdengar suara suara cekikikan dari mereka. Sedangkan Celine berada di dapur membuat makanan untuk Baby Axel.
Tanpa Celine sadari, Rado sudah berada dibelakangnya lalu memeluk erat pinggang Celine.
"Rado apa yang kau lakukan, lepaskan aku." ucap Celine sedikit memberontak.
"Sebentar saja, aku merindukanmu." jawab Rado.
"Tapi aku mau memberikan anakku makan." ucap Celine.
"Anakmu itu juga anakku, ingat itu. Dan ?Axel sudah tidur karena menunggumu terlalu lama, jadi dia kelelahan ." ujar Rado dengan tersenyum manis.
"Itu karena kau mengganggu ku, makanya Axel sampai tidur dan belum sempat makan." jawab Celine ketus.
Rado langsung saja menarik Celine kedalam pelukannya, mencium kening lalu turun ke bibirnya. Celine hanya diam terpaku, membiarkan Rado menjelajahi bibirnya.
Melihat Celine yang hanya diam, itu artinya ia sudah mengizinkan. Rado langsung saja melakukan yang lebih dari sekedar berciuman lalu menggendong Celine dan membaringkannya ke sofa ruang tengah.
Dua insan yang tengah dimabuk kepayang itu, mulai melakukan nya dengan penuh cinta dan naf*su yang membara...
******
Hans masuk kedalam ruangan Lexi, dan mendapati tuannya tengah tertidur di sofa dengan posisi pergelangan tangan menutupi dahinya.
Hans benar benar iba melihat tuannya menjadi seperti itu, semenjak Aline pergi meninggalkannya entah kemana, sikap Lexi pun berubah menjadi tempramental.
Saat Hans sudah berjalan keluar dari ruangan Lexi, ponselnya tiba tiba berbunyi. Hans langsung mengangkat ponselnya dan bergegas keluar dari ruangan, sebelum Lexi terbangun karena suara ponselnya itu.
"Hem... Ada apa?" ucap Hans.
"Kami menemukan jejak nyonya Aline di Korea bos, salah satu orangku akan mencarinya kesana." ucap Dave orang suruhan Hans.
"Oke cari terus sampai dapat." jawab Hans.
"Oke, baik bos." ucap Dave.
Hans yang baru saja selesai menerima telepon dan akan keluar dari ruangannya, langsung di kejutkan oleh kedatangan Lexi yang tiba tiba.
"Cepat ikut aku." ucap Lexi.
"Oh... Baik tuan." jawab Hans yang langsung bergegas pergi mengikuti Lexi.
Hans mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi sesuai dengan permintaan Lexi, dia menuruti saja kemauan bos nya itu.
Satu jam berlalu akhirnya mobil yang dikendarai Hans sampai juga di sebuah rumah yang cukup luas dengan halaman yang di penuhi pepohonan rindang.
Lexi langsung saja masuk kedalam rumah itu, walaupun para penjaga dirumah itu sempat menghalanginya, tetapi saat Hans sudah menjelaskan semuanya mereka mulai diam dan tak berkutik lagi.
******
Saat Lexi sudah berada didalam rumah tempat keberadaan Celine dan juga anaknya, ia mulai mencari Celine di setiap kamar kamar yang ada dirumah itu, tetapi Celine tidak ditemukan.
Lexi yang sudah sangat geram dan kesal langsung saja menarik kuat rambutnya, sampai tiba tiba ia mendengar suara ******* dari kamar yang berada agak jauh dari ruangan lainnya. Lexi mengepal kuat pergelangan tangannya sampai buku buku jarinya memerah.
"Faster baby faster, yeah yeah." suara seorang pria terdengar jelas di telinga Lexi. Saat sudah berada di depan kamar itu, Lexi langsung menendang nya dan bruakk.... Pintu pun terbuka menampilkan Celine dan Rado yang tengah bergulat di arena tinju....😂
"Aakh... Lexi." teriak Celine yang sangat terkejut dan langsung menutupi dirinya dengan selimut.
Rado yang sudah berpakaian lengkap langsung mendekati Lexi dan berkata.
"Hey bro, kau tidak ada hak atas anak itu." sarkas Rado.
"Berhentilah omong kosong, jangan ikut campur urusanku." jawab Lexi dengan lantang.
"Celine, lebih baik kau katakan padanya, jika Axel adalah anakku." ucap Rado.
Rahang Lexi semakin mengeras, kepalan tangannya sudah siap untuk memukul Rado, Tetapi dia masih berusaha untuk menahannya.
"Apa yang dia katakan itu benar?" tanya Lexi yang berusaha untuk tetap tenang.
"Lexi aku, aku tidak bermaksud untuk....!! ucap Celine yang belum sempat menjelaskan semuanya karena Lexi telah memotongnya.
"Cepat katakan saja yang sejujurnya, kau semakin membuatku muak." sarkas Lexi.
"I..i-iya Axel memang bukan anakmu, tetapi anaknya Rado. Lexi aku mencintaimu, dan sangat mencintaimu." ucap Celine dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
Lexi tidak marah dan malah tertawa terbahak-bahak, geli kini ia rasakan saat Celine mengatakan mencintainya.
"Cinta kau bilang, hahaha.... Persetan dengan semua cintamu Celine, bagiku dari dulu bahkan sekarang kau sangatlah menjijikkan." sarkas Lexi.
"Lexi aku mohon maafkan aku, aku tidak mau berpisah darimu karena aku memang mencintaimu." jawab Celine.
"Hahaha.... Kau memang licik, wanita ular. Gara gara kau, aku kehilangan Aline, wanita yang sangat aku cintai, bukan kau dasar wanita ******." sarkas Lexi.
Rado yang memang sangat membenci Lexi selama ini, langsung saja melayangkan tinjunya.
Bugh...Bugh...Bugh... Tiga kali pukulan, Rado layangkan ke wajah Lexi.
"Arggh... Sialan, berani beraninya kau." sarkas Lexi yang langsung bangun dan menendang Rado dengan sangat kuat sampai membuatnya langsung terjatuh.
Kini giliran Lexi yang memukuli Rado hingga babak belur, Celine pun terus melerai keduanya.
Tetapi apalah daya tenaga Lexi sangat kuat karena ia ahli taekwondo, Celine tidak bisa menghentikan nya. Sampai akhirnya baby Axel menangis dengan sangat keras, barulah Lexi melepaskan Rado yang sudah hampir pingsan.
"Kali ini kau ku lepaskan, tapi ingatlah tidak untuk lain kali." ujar Lexi yang kemudian langsung pergi meninggalkan Celine dan Rado.
"Rado maafkan aku, maaf. Gara gara aku kau jadi begini, maaf." ucap Celine dengan air mata yang membasahi wajah cantiknya.
"Arggh... Sudah, sudahlah Celine, aku tidak apa apa. Aku bangga padamu, karena kau sudah berkata jujur kepada Lexi jika Axel bukanlah anaknya. Aku mencintaimu Celine, menikahlah denganku. Arggh..." jerit Rado yang sudah sangat kesakitan.
"Rado, ayo kita kerumah sakit. Tunggu dulu dan bertahan lah, aku akan mengambil kunci mobilmu." ucap Celine yang langsung berlari tergesa-gesa.
******
Sedangkan Lexi kini menangis dan tertawa bersamaan diwaktu yang sama, sedih karena harus kehilangan Aline dan tertawa karena kebodohannya sendiri.
"Ini semua terjadi karena kebodohan ku Hans, kenapa aku bisa mempercayai wanita ****** itu. Hahaha... Hahaha... Ini adalah Hukuman Untukku, aku sudah menyakiti hati Aline dan juga menghancurkan cinta tulus nya. Hikss..Hikss.. Aku Menyesal Hans, tolong, tolong bawa Aline kembali lagi padaku Hans." ucap Lexi dengan deraian air mata yang begitu menyedihkan.....
•
•
•
•
"Semoga kali ini bisa di lolos kan admin, udah di Revisi tiga kali tapi belum juga lolos. Tolong admin loloskan bab ini. Terimakasih" 🙏
•
•
•
•
** Halo semuanya bantu like dan komen nya ya, agar author semakin semangat untuk berkarya. See you, Love You all ❤️
By : @alesya_arabella