Oppa Lee I Love You

Oppa Lee I Love You
Rencana Aline



Lima hari kemudian...


Aline kini sudah menyewa apartemen sederhana dipinggiran kota Jakarta, ia menolak syarat yang di inginkan Arsen. Karena walau bagaimanapun, ia lebih memilih hidup sederhana tetapi masih bisa bersama Arsen dari pada harus menjauhinya.


Aline yang baru saja bangun dari tidurnya, merasakan kepalanya sangat pusing dan perutnya mual. Ia langsung bergegas pergi menuju kamar mandi, dan memuntahkan semua dari perutnya.


"Hah, kenapa aku tiba tiba sangat mual. Kepalaku juga sangat pusing, aku harus kerumah sakit. Jangan sampai asam lambungku naik lagi." ucap Aline yang langsung segera mandi.


Aline sudah berpenampilan cantik dan sexsi dengan dress berwarna maroon di atas lutut yang dikenakannya, ia juga berencana datang kekantor Arsen setelah pulang dari rumah sakit.


"Aku harus menemui Arsen, aku tauh dia pasti merindukanku." ucap Aline kegirangan.


Saat baru saja akan melangkahkan kaki keluar dari unitnya, Aline kembali merasakan mual yang benar benar tak tertahankan, langsung saja ia berlari ke kamar mandi lagi...


***


Aline sudah berada di ruang tunggu pasien, ia sudah sangat kesal karena terlalu lama menunggu gilirannya.


"Aish... Kalo tauh serame ini, aku bisa telepon Arsen dulu tadi." ucap Aline yang sudah meremas nomor antriannya.


"Pasien yang bernama ibu Aline, silahkan masuk Bu." ucap perawat yang tengah memanggil Aline.


"Hemm... Akhirnya." lirih Aline.


Saat baru saja masuk kedalam ruang perawatan, Aline langsung diperiksa dan ditanya tanya oleh Dokter yang bertugas.


"Apa mual yang anda rasakan, sering terjadi ibu Aline." tanya Dokter Nadia.


"Baru saja tadi saya merasakannya, dan kepalaku juga sangat pusing." jawab Aline.


"Kapan terakhir ibu datang bulan?" tanya Dokter Nadia.


"Seharusnya saya sudah datang bulan sekarang." jawab Aline.


"Baiklah, sebaiknya kita periksa dengan test pack saja. Untuk menyakinkan lagi, apa sekarang ibu memang tengah mengandung." ucap dokter Nadia.


"Apa yang dokter bilang, saya mengandung?" tanya Aline dengan wajah yang tak percaya.


"Menurut keluhan yang ibu jelaskan, sepertinya itu memang ciri ciri hamil muda. Tapi untuk lebih menyakinkan lagi, kita akan test pack saja biar lebih akurat." jelas Dokter Nadia.


Aline akhirnya menurut saja, apa yang sudah dikatakan Dokter. Tetapi ia benar benar sangat yakin, jika ia tidak mungkin hamil.


.


Aline yang sudah menampung air seninya, langsung memberikan kepada perawat di ruangan itu.


Aline yang sedang duduk, sibuk memainkan ponselnya. Sampai  akhirnya suara Dokter Nadia mengagetkannya.


"Ibu Aline, hasil test pack nya positif, dan itu artinya ibu memang sedang mengandung tiga minggu, selamat ya Bu." ucap Dokter Nadia dengan tersenyum.


Tetapi tidak dengan Aline, matanya saat ini malah tengah melotot karena begitu terkejut. Ia benar benar tidak menyangka jika sedang hamil saat ini, ia senang sekaligus sedih.


"Kenapa aku harus hamil saat sudah pergi dari hidup Lexi, kenapa tidak dulu sewaktu Lexi belum mempunyai anak dari Celine murahan itu." lirih Aline yang sudah menundukkan wajahnya.


Dokter Nadia yang melihat Aline, bisa dengan sangat mudah merubah ekspresinya jadi bingung sendiri.


"Apa ibu Aline baik baik saja." tanya Dokter Nadia.


"Iya." jawab Aline singkat dengan wajah yang terlihat murung.


"Ibu tidak perlu khawatir, wanita yang sedang mengandung itu hal yang biasa, apalagi bagi seorang istri. Lebih baik secepatnya berikan kabar bahagia ini kepada suami Ibu." ucap dokter Nadia masih dengan senyum ramahnya.


"Hah terimakasih dokter, apa saya sudah bisa pulang?" jawab Aline.


"Oh ya tentu, pemeriksaan sudah selesai. Silahkan ambil resep ini dan minumlah obat anti mual nya." ucap Dokter Nadia.


"Iya terimakasih." jawab Aline lalu langsung berlalu pergi.


"Hemm... Aku tauh, dia bersedih mungkin karena suami atau kekasihnya tidak ingin dia hamil. Hah aku semakin membenci yang namanya lelaki, suatu saat aku ingin hamil dengan menggunakan metode bayi tabung saja. Laki laki hanya bisa menyakiti dan merepotkan." kesal dokter Nadia dengan menghentak hentakan kaki nya.


"Dokter Renita, ada apa?" ucap Rini, perawat yang tengah bertugas bersama nya.


"Pasien poli kandungan, masih banyak yang mengantri pemeriksaan diluar, apa dokter Nadia sudah siap kembali." ucap perawat Rini.


"Ohh iya lanjutkan saja, nomor urutannya." jawab dokter Nadia yang sudah kembali ke mood serius nya.


"Baik Dokter Nadia." jawab perawat Rini.


***


Aline berjalan dengan langkah yang sangat gontai, hatinya benar benar kalut saat ini. Bagaimana mungkin ia bisa kembali bersama Arsen, jika ia malah tengah mengandung anak dari Lexi.


"Apa lagi yang harus aku lakukan sekarang, aku tidak mau Arsen kembali membenciku." ucap Aline frustasi.


Aline yang segera masuk kedalam taksi online yang sudah ia pesan sebelumnya dan pergi menuju kantor Arsen. Di dalam perjalanan, ia terus memikirkan rencana liciknya untuk Arsen.


"Satu satunya rencana ku yang terakhir, hanya dengan menjebak Arsen tentang kehamilan ku ini, yang akhirnya bisa membuatnya menikahi ku." ucap Aline dengan senyum licik nya.


***


Arsen tengah duduk santai diruang kerjanya, sambil video call dengan Viola istrinya. Baru beberapa jam saja ia dan Viola berpisah, tapi sudah membuatnya kangen saja.


"Sayang, nanti pulang aku jemput. Kita akan dinner untuk merayakan ulangtahun mu yang ke 28 tahun." ucap Arsen lewat teleponnya.


"Hemm... Aku tunggu, udahan yuk telepon nya. Emang Oppa gak ada kerjaan atau meeting gitu?" tanya Viola.


"Gak ada, suamimu ini sekarang hanya sedang merindukanmu." jawab Arsen yang tengah menggoda istrinya.


"iiihh... Sejak kapan Oppa sudah pandai dan sering menggoda." ucap Viola yang sebenarnya sudah terkekeh di seberang sambungan teleponnya.


"Sejak hari ini." jawab Arsen tersenyum bahagia.


"Iya udah deh, sayang sayangan nya dilanjut nanti malam aja ya. Sekarang istrimu banyak pekerjaan." ucap Viola.


"Oke... Sayang tunggu dulu." jawab Arsen


"Apalagi?" ucap Viola yang sudah agak kesal melihat suami bucin nya itu.


"Terimakasih, servisnya tadi malam. Malam nanti kita lanjutt lagi ya." jawab Arsen yang langsung mematikan sambungan telepon nya dan tertawa geli melihat tingkah mesumnya sendiri.


Sedangkan Viola yang masih menempel kan ponsel di telinganya, hanya bisa tertawa kecut mendengar apa yang tadi suaminya katakan.


"Dasar mesum." kesal Viola.


"Siapa yang mesum mba? Ehhhh.... Pasti pak Arsen , iya kan?" ucap Ery cengengesan.


"Hah, kapan kamu masuknya, dan kenapa gak ketuk pintu dulu." tanya Viola.


"Lahh, kan Ery memang sudah dari tadi disini sama mba. Cuma tadi Ery kan pergi kedalam ruang collagen, ambil ini nih." jawab Ery yang langsung menunjukkan produk kecantikan yang ada di ruangan Viola.


"Ohhh.... Jadi kamu gak ada dengar apa apa kan?" tanya Viola.


"Ya kagaklah mba, tapi sedikit sedikit terdengar sih." jawab Ery yang langsung berlari pergi dari ruangan Viola.


"Halah Ery, gw tauh. Lho itu cuma mau ngerjain gw. Huhh..." ucap Viola.








** Hallo semuanya, maaf ya baru bisa update sekarang. Dikarenakan Author's yang sedang sakit dan demam tinggi guys, sampai tiga hari hanya bisa terbaring aja. Jaga kesehatan ya all, sekarang cuaca emang lagi gak bagus. Sebentar terkadang sangat panas, eh tiba tiba hujan. Makanya buat kita jadi banyak yang sakit. See you all ❤️


TBC