
Viola sudah selesai merapikan semua barang nya dan bersiap untuk pergi. Ia menyeret koper menuju pintu keluar, tapi ternyata Arsen sudah lebih dulu masuk kedalam kamar.
Arsen mengerutkan dahinya, saat melihat Viola yang hendak keluar membawa dua koper besar.
"Untuk apa membawa dua koper malam malam begini?" tanya Arsen dengan tatapan tajam kearah Viola.
"Aku akan pergi dari rumah ini." jawab Viola ketus.
"Kita masih suami istri, dan belum sah bercerai, jangan makin memperkeruh masalah." ucap Arsen dengan entengnya.
"Kau bilang aku akan memperkeruh masalah, sebaiknya kau berkaca lah sebelum meng kambing hitam kan orang lain." jawab Viola dengan tatapan tak suka nya kepada Arsen.
"Jika kau pulang tengah malam begini, apa nanti kata kedua orang tuamu tentangku." ucap Arsen.
"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan pulang kerumah orang tuaku, aku masih punya klinik hanya untuk tempatku bermalam." jawab Viola.
"Tinggal lah dulu dirumah ini, sampai urusan perceraian kita selesai." ucap Arsen.
"Untuk apa aku harus berlama lama tinggal disini, jika terus melihat kelakuan menjijikan mu itu." jawab Viola dengan mata tajamnya kepada Arsen.
"Vi, aku mohon jangan keras kepala. Aku tidak mau, hubungan kita jadi semakin jauh seperti ini." ucap Arsen.
"Kau yang membuat semuanya jadi begini, menjauhi mu? Aku rasa itulah yang terbaik." jawab Viola yang sudah hampir meneteskan air matanya.
"Maafkan aku, aku mohon Jangan Pergi, Jangan Pergi Vi." ucap Arsen dengan tatapan sendu nya kepada Viola.
Viola tidak lagi menjawab perkataan Arsen, ia kembali menyeret kopernya bersiap untuk meninggalkan rumah..
"Vi, tolong dengarkan aku kali ini saja. Aku mohon Jangan Pergi, Jangan Pergi tinggalkan aku." ucap Arsen yang sudah memegang tangan Viola dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
"Jika kau tidak ingin aku pergi dari rumah ini, batalkan lah perceraian kita, dan segera tinggalkan Aline." jawab Viola dengan tatapan tajamnya.
Kini Arsen hanya bisa terdiam, dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sangat tidak mungkin baginya untuk meninggalkan Aline, dan kembali bersama Viola.
"Itu tidak mungkin Vi, karena aku sangat mencintai Aline." jawab Arsen dengan tatapan sendu nya.
"Hahaha... Jadi untuk apa lagi kau masih menginginkan aku disini?" ucap Viola yang sudah tertawa.
"Aku tidak tahu." jawab Arsen yang kini sudah menundukkan wajahnya.
"Kau sebenarnya tahu, hanya saja saat ini kau telah dibutakan oleh cinta masa lalu mu." ucap Viola yang langsung berlalu pergi dari hadapan Arsen yang hanya terdiam saja menatap Viola tanpa ada niatan untuk mengejarnya...
***
Viola belum masuk kedalam mobilnya dan masih terus menatap kearah kamar. Ia masih menunggu dan sangat berharap Arsen akan turun mengejarnya, tapi ternyata ia salah. Sudah hampir dua puluh menit ia berdiri disana, Arsen tak juga kunjung menampakkan batang hidungnya.
Viola langsung menghapus air matanya, dan segera memasukkan koper di bagasi mobil nya. Ia sudah tidak tahan lagi jika terus menurunkan harga diri disini.
Saat Viola mulai menjalankan mobilnya, Bi Mina berlari dan terus memanggil namanya.
"Nyonya, Nyonya Viola tunggu." teriak Bi Mina yang berlari dengan terseok seok.
Viola yang melihat dari spion mobil, langsung menghentikan kendaraan nya.
"Bi Mina, kenapa dia terus mengejar ku." lirih Viola dan langsung turun untuk menemui nya.
"Nyonya akan pergi kemana?" tanya Bi Mina.
"Viola akan tinggal sementara di klinik Bi." jawab Viola dengan wajah sedihnya.
"Seberat apapun masalah yang sekarang terjadi, ingat lah selalu kepada Allah Nyonya. Ia yang selalu ada dan akan terus merangkul kita." ucap Bi Mina.
"Terimakasih Bi Mina, sampai berjumpa lagi." jawab Viola yang sudah menitikkan air matanya.
"Nyonya ambillah tasbih ini, jika hati sedang bersedih bacalah tasbih ini dan teruslah berzikir." ucap Bi Mina.
"Terimakasih Bi, selama Viola kenal bibi, ada banyak tentang ajaran Islam yang Viola baru ketahui. Terimakasih." jawab Viola yang langsung memeluk erat Bi Mina.
"Iya tentu, Viola juga pasti akan merindukan bibi. Bibi jangan pernah ganti nomor telepon, karena Viola akan selalu menghubungi bibi." jawab Viola.
"Nyonya harus yakin, jika kalian memang berjodoh apapun yang terjadi saat ini, ingatlah Allah akan menyatukan kalian kembali." ucap Bi Mina.
"Viola tidak mau lagi berharap Bi, hati ini sudah terlalu sakit." jawab Viola.
"Nyonya wanita yang terlalu baik, bibi yakin pasti kebahagiaan akan selalu menyertai Nyonya." ucap Bi Mina.
"Amen, terimakasih Bi Mina. Viola jalan dulu." jawab Viola yang langsung masuk kedalam mobil dan mulai menjalankan nya.
"Hati hati dijalan Nyonya, semoga suatu saat kita bersama lagi." lirih Bi Mina.
Arsen terus menatap sendu Viola dari atas balkon kamar, sampai akhirnya mobil Viola benar benar menghilang dari pandangannya. Ingin rasanya ia menjerit sekuat kuatnya dan menahan Viola untuk tidak pergi, tapi entah kenapa ia juga tidak bisa melakukannya....
***
Viola mengemudikan mobil nya dengan sangat kencang, ia melewati jalan tol menuju kearah puncak. Viola tidak pergi ke klinik nya, melainkan ke Villa pribadi milik keluarga nya.
Hampir dua jam Viola mengemudikan mobil, akhirnya ia sampai juga di depan Villa pribadi keluarga Kenrich.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, Mang Bowo yang masih belum tidur langsung terkejut ketika melihat anak majikan nya itu datang sendiri ke villa.
"Nona Viola, datang sorangan?" tanya Mang Bowo yang langsung mendekat kearah Viola.
"Iya Mang, maaf ya Viola udah ganggu mang Bowo istirahat." jawab Viola.
"Ya enggak lah Non, ayo masuk kedalam biar barang mamang yang bawa kopernya." ucap Mang Bowo.
"Makasih ya Mang." jawab Viola.
"Sama sama non." ucap Mang Bowo.
Viola kini sudah berada di dalam kamar, tubuhnya benar benar sangat lelah. Tak berapa lama ia pun akhirnya tertidur...
.
Viola yang sudah bangun segera menghirup udara segar dari atas balkon kamar di villa nya. Ia memejamkan mata merasakan sensasi sejuk untuk merilekskan otaknya, membuang segala beban pikiran yang kini bersarang di dadanya.
Viola yang masih memejamkan matanya, merasakan angin sepoi-sepoi menerpa wajah cantiknya. Tanpa ia sadari seorang pria tampan yang sedang bersepeda, tengah berhenti dan berdiri menatap kagum ke arah Viola.
"Siapa wanita itu, dia bahkan sangat cantik meskipun tengah menutup matanya?" lirih pria itu.
Hampir 20 puluh menit Viola menutup matanya, akhirnya ia kembali membukanya. Saat Viola sudah membuka matanya dengan sempurna, ia menatap kearah jalan dan mendapati seorang pria asing tengah menatapnya.
"Aish sialan, siapa pria itu. Sejak kapan dia sudah berdiri disana dan memperhatikan ku, dasar pria kurang ajar." kesal Viola yang langsung bergegas masuk kedalam kamar nya.
Pria yang tadi menatap kagum Viola, kini semakin kagum dan penasaran saja dibuatnya, saat ia menatap wajah Viola yang begitu sempurna dengan mata indahnya.
"Astaga siapa sebenarnya wanita itu, sudah tiga hari aku berada disini, kenapa baru kali ini aku melihatnya. Hah aku ingin sekali mengenalnya, dia wanita pertama yang mampu membuat jantung ku berdegup kencang." ucap pria itu dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
.
~ Hai Semuanya, siapa kira kira pria itu??? Apa dia hanya sebagian pria yang berada di hidup Viola, atau malah Jodoh nya? Penasaran kan, tetap baca kelanjutan ceritanya ya, see you all ❤️
•
•
•
•
** TBC **