Oppa Lee I Love You

Oppa Lee I Love You
Kecewa



Pagi pagi sekali Arsen dan Aline sudah berada dirumah utama keluarga Lee, mereka berdua tengah duduk berhadapan dengan Mama Gina, Papa Joon dan Sandra.


Tatapan sinis tersirat jelas dari wajah Sandra, ia benar benar sangat tidak menyukai Aline dan Kakak nya sendiri.


"Ma, Pa, permohonan gugatan cerai Arsen kepada Viola sudah masuk di pengadilan agama. Hari ini mungkin surat panggilan juga sudah dikirimkan ke klinik Viola." ucap Arsen.


"Kau benar benar menceraikan Viola?" tanya Mama Gina dengan tatapan tajamnya.


"Maaf Ma, tapi ini sudah menjadi keputusan Arsen. Lagian sekarang Aline juga sedang mengandung anak Arsen." ucap Arsen dengan raut wajah biasa saja.


"Apa....!!!!!" jawab Mama Gina, Papa Joon dan Sandra, dengan begitu terkejutnya.


"Itulah kebenaran nya Ma, dan kalian bisa langsung tanya ke Aline." ucap Arsen.


"Arsen kau memang sudah sangat keterlaluan, Mama tidak pernah mengajarimu menjadi pria bajingan seperti ini. Kau masih berstatus sebagai suami Viola bahkan sampai detik ini, bisa bisanya malah kau menghamili wanita lain. Apa nanti kata keluarga Kenrich, tentangmu." teriak Mama Gina dengan begitu emosinya.


Sandra menatap kakaknya dengan penuh kebencian, ia amat sangat membenci Arsen dan Aline.


Papa Joon berusaha menenangkan Mama Gina yang sudah memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. Arsen yang melihat Mamanya seperti itu, benar benar sedih. Tak bisa kah ia bahagia dengan Aline wanita yang sangat ia cintai.


"Lebih baik sekarang kakak pergi, dari pada membuat darah tinggi Mama naik, cepat lah pergi." teriak Sandra yang juga sudah sangat emosional.


Arsen hanya bisa terdiam dan sedih melihat semua keluarga nya kini membenci dia, Aline yang melihat Arsen sudah meneteskan air matanya langsung menggenggam erat tangan Arsen untuk menenangkan nya.


"Ayo kita pergi, ayolah." pinta Aline kepada Arsen.


"Tapi Aline." jawab Arsen dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Ini yang terbaik untuk saat ini." ucap Aline dengan tersenyum menatap Arsen.


"Hem..." jawab Arsen yang akhirnya mengalah dan langsung pergi meninggalkan rumah utama keluarga Lee bersama Aline.


Papa Joon yang melihat Arsen lebih memilih pergi dengan Aline dari pada mempedulikan Mama nya yang tengah drop saat ini, hanya bisa mengurut dadanya.


.


..."Papa harap, kamu tidak akan menyesali semuanya dikemudian hari." lirih Papa Joon....


.


Arsen dan Aline kini sudah berada didalam mobil, tapi mereka masih berada dihalaman depan rumah utama keluarga Lee.


Arsen masih bersedih, ia benar benar kecewa karena semua anggota keluarga nya malah Membencinya dan tidak ada yang mendukung nya.


Arsen pikir dengan mengatakan kehamilan Aline, Mama dan Papa nya akan segera luluh, tapi nyatanya Mama Gina tetap pada pendiriannya. Hanya tinggal satu harapan Arsen, yaitu Oma Tince. Ia benar benar berharap Oma Tince merestui hubungan nya dan Aline.


"Sen udah, gak usah sedih lagi. Aku akan selalu ada disisi kamu." ucap Aline yang terus menggenggam erat tangan Arsen.


"Kamu janji gak akan pernah meninggalkan aku lagi." jawab Arsen dengan tatapan sendu.


"Iya aku janji, aku akan selalu ada di sampingmu apa yang akan terjadi." ucap Aline.


"Terimakasih honey." jawab Arsen yang langsung memeluk Aline lalu mencium bibirnya.


Cukup lama mereka berdua berciuman, dan bertukar saliva, akhirnya berhenti juga.


"Maaf honey, aku yakin Mama dan Papa aku suatu saat nanti pasti akan menerima kamu dan anak kita." ucap Arsen.


"Hemm...." jawab Aline dengan tersenyum.


***


Hari ini adalah hari Sabtu, tak terasa sudah enam hari Viola berada di Puncak. Ia yang sudah bangun dan tengah duduk di balkon kamar, tiba tiba dipanggil oleh Aidan yang sudah berpakaian olahraga.


"Viola, ayo segera turun. Kita akan bersepeda dan menyusuri setiap jalanan di Villa ini, pemandangan pagi disini sangat indah dan segar." teriak Aidan dari lantai bawah.


"Tapi sepedanya hanya satu?" jawab Viola yang melihat Aidan hanya mengeluarkan satu sepeda.


"Tenang Nona Viola, ini sepeda satu lagi sudah Mang Bowo keluarkan." ucap Mang Bowo yang sedang mendorong sepeda gunung.


"Waah sepedanya bagus dan masih baru juga, milik siapa itu Mang?" jawab Viola.


"Kalo sepeda ini milik Tuan Besar, masih ada satu lagi sepedanya didalam gudang dan itu milik Nona Viola." ucap Mang Bowo.


"Ohhh... Kenapa Viola baru tahu kalo ada sepeda disini, Dad yang sudah membelikan nya ya Mang." jawab Viola.


"Apa Arsen yang membelinya...!" jawab Viola dengan begitu terkejutnya.


.


..."Viola sekarang bahkan sudah menikah, dia memang benar benar tidak tercipta untukku dan bahkan tidak akan bisa aku miliki." ucap Aidan didalam hati, dengan tatapan sendu nya ia menatap Viola....


.


..."Ya Allah... Kenapa aku merasa KECEWA, dan hati ku juga terasa sangat sakit mendengar jika Viola sudah Menikah." gumam Aidan didalam hati....


.


Mang Bowo yang melihat raut wajah sedih Aidan, mulai bertanya tanya. Apa yang sudah membuat anaknya itu menjadi sangat sedih...


"Iya Non Viola, Tuan Arsen datang bersama dengan Tuan Besar sekitar lima bulan yang lalu lah." ucap Mang Bowo.


"Yaa udahlah kalo gitu, Viola mau memakai sepedanya sekarang Mang, tolong bantu keluarin sepeda yang memang milik Viola ya." ucap Viola dengan tersenyum.


"Oke Non, Siap." jawab Mang Bowo.


"Ayo kita goess bareng." ucap Aidan.


"Oke kak, Viola ganti baju dulu." jawab Viola.


Aidan kini hanya diam dan tertunduk lesu, ia benar benar seperti tidak mempunyai semangat hidup lagi. Mang Bowo yang lagi lagi memperhatikan Aidan, hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya.


***


Aidan dan Viola kini sudah naik sepeda bersama, mereka mengelilingi jalanan dikawasan villa. Viola sangat senang saat ia merasakan udara yang begitu segar dan menenangkan jiwa.


"Ternyata kakak benar, jika pemandangan pagi hari disini sangat indah dan segar. Viola bisa betah bila lama lama berada disini." ucap Viola dengan tersenyum senang.


"Jika Viola senang, Kakak pun menjadi bahagia." jawab Aidan.


"Kakak ayo kita stop dulu, duduk sebentar dipinggir bukit itu. Viola juga ingin sekalian berfoto." ucap Viola dengan menunjuk taman indah dipinggiran bukit.


"Tapi disana cukup ramai, bagaimana jika kita duduk agak jauh dari sana." jawab Aidan dengan menunjuk kursi kosong yang sedikit jauh dari taman.


"Ohh... Boleh juga, kursi disana pun menampakan pemandangan yang begitu indah." ucap Viola.


"Iyaa." jawab Aidan dengan tersenyum.


.


Saat Viola dan Aidan sedang berfoto dan tertawa bersama, tampak dari kejauhan Pria tampan yang pertama kali bertemu dengan Viola di Villanya hanya bisa tersenyum kecut saat melihat keduanya begitu dekat.


"Hah, kenapa saat aku berjumpa lagi dengan nya dia malah tengah bersama pasangan nya, dia memang pria yang beruntung." ucap pria campuran yang bernama, dr. Steve Kane Houston.


Steve yang juga tengah bersepeda, terus menatap keduanya dari kejauhan. Sampai akhirnya ia dipanggil oleh teman satu profesi nya.


"Ayo kita keliling lagi, kamu sudah dah selesai belum istirahat nya? Lusa kita sudah harus pulang ke Prancis, seminar kedokteran di Indonesia nya juga sudah selesai." ucap Verro teman Steve.


"Hemm... Ayo jalan lagi." jawab Steve dengan raut wajah sedih dan juga KECEWA...


.


~ Visual !


~ dr. Steve Kane Houston SpOG k



.


.


Hai semuanya, aduh kira kira siapa lagi nih dokter Steve. Apa Steve lah yang malah akan jadi jodohnya Viola, atau Aidan, atau tetap Oppa Lee????? Hahaha..... Tetap baca ya kelanjutan ceritanya ya. See you all ❤️


.


** TBC **