Oppa Lee I Love You

Oppa Lee I Love You
Kamu Masih Istriku



Lantunan ayat suci Al-Quran, terdengar begitu indah dan merdu dari suara Aidan. Para anak yatim yang juga diundang datang ikut membacakan doa keberkahan untuk Sean, Sashi dan calon baby mereka.


Viola yang terus tersenyum menatap Aidan, membuat Arsen semakin murka...


.


Saat semua orang mulai sibuk menyantap makanan yang sudah dihidangkan, Arsen melihat Viola dan Aidan yang lagi lagi tertawa bahagia bersama. Ia yang memang sudah kesal dan dari tadi murka kepada Viola langsung menarik nya paksa.


"Ikut aku sekarang, ayo." sarkas Arsen yang langsung menarik tangan Viola sampai membuat nya meringis kesakitan.


"Ah... Sakit, lepasin tanganku." ucap Viola yang sudah mulai memberontak, tapi Arsen tetap tidak melepaskan nya, dan malah membuat mereka jadi bahan perhatian para tamu.


Aidan yang melihat Viola kesakitan, benar benar tidak tega melihatnya. Ia akhirnya mencegah Arsen yang terus menarik paksa tangan Viola.


"Lepaskan tangannya, kamu sudah menyakitinya." ucap Aidan.


Arsen yang sudah sangat murka, akhirnya melepaskan tangan Viola dan langsung saja mencengkram erat leher Aidan.


"Jangan ikut campur urusan kami, dia adalah istriku." jawab Arsen dengan tatapan tajamnya kepada Aidan.


Dad Antonio, Papa Joon dan Sean yang melihat Arsen mencengkram leher Aidan langsung berlari kearah mereka.


"Ada apa ini?" tanya Sean dengan tatapan bingung nya.


Papa Joon yang memang sudah tahu masalah rumah tangga Arsen dan Viola, hanya bisa diam dan pura pura tidak tahu saja.


"Arsen ada apa?" tanya Dad Antonio dengan tatapan sendu kearah Arsen.


Viola yang sudah takut jika permasalahan rumah tangganya dengan Arsen diketahui oleh Kedua orang tuanya dan Kak Sean, langsung menarik Arsen yang sudah melepaskan cengkraman tangannya dileher Aidan.


"Dad sudah lah, tidak ada yang terjadi, ini hanya salah paham saja." ucap Viola.


"Apa benar yang dikatakan Viola, Arsen, Aidan?" tanya Dad Antonio.


"Iya Dad." jawab Arsen.


"Iya tuan." jawab Aidan


"Kalo begitu kami pamit dulu." ucap Arsen yang langsung menggenggam erat tangan Viola, lalu dengan cepat pergi meninggalkan rumah Sean.


Aidan yang melihat Viola pergi bersama Arsen, hanya bisa tersenyum kecut. Kenyataan pahit yang ia terima hari ini, benar benar membuktikan jika Viola memang sudah milik orang lain.


"Ayo kita masuk kedalam, kamu tidak apa apa Aidan?" tanya Papa Joon.


"Hemm... Aku baik baik saja Tuan Lee." jawab Aidan.


Aidan masuk kembali kedalam rumah  bersama Dad Antonio dan Papa Joon, Sean yang masih berdiri sendirian kini mulai mengerutkan keningnya.


.


..."Sepertinya ada yang tidak beres dalam rumah tangga Viola dan Arsen, bagaimana Viola bisa datang kesini bersama Aidan, dan sikap Arsen tadi kepada Aidan. Hah... Semoga itu salah, dan hanya perasaan ku saja." ucap Sean didalam hati....


.


Arsen dan Viola kini sudah berada didalam mobil, mereka berdua hanya diam tanpa ada yang mau mulai berbicara.


"Kita akan kemana?" tanya Viola, yang sudah tidak mengenali lagi jalanan di sekeliling nya itu.


Arsen hanya diam, dan tidak menjawab pertanyaan Viola. Ia malah terus fokus dengan pandangan yang berada didepan nya.


Saat mobil Arsen sudah memasuki kawasan gedung gedung pencakar langit, Viola yang sudah ketakutan hanya diam saja.


Kini mobil Arsen sudah benar benar berhenti dan telah terparkir diarea basemen, ia keluar lalu menarik lagi tangan Viola.


Kali ini cengkraman tangan Arsen benar benar semakin kuat, Viola yang sudah tidak tahan akhirnya memberontak.


"Arsen cepat lepasin tangan aku, kamu menyakitiku, lepas." teriak Viola.


Tapi Arsen tidak mempedulikan nya, walaupun saat ini beberapa orang yang berada di lobby apartemen mewah itu tengah memperhatikan mereka berdua.


Arsen masuk kedalam lift private lantai 40 apartemen itu, ia sama sekali tidak mempedulikan Viola yang sudah menangis.


Arsen terus menarik Viola sampai saat sudah keluar dari dalam lift, mata Viola langsung terbelalak karena ketakutan saat ia melihat sekeliling lantai 40 cuma ada satu unit saja, dan sudah dipastikan jika itu hanya punya Arsen.


"Lepasin aku Arsen, kamu menyakitiku, lepasin." berontak Viola dengan sekuat tenaga, agar bisa segera lepas dari cengkraman Arsen.


Arsen yang sudah berada didepan pintu unit apartemen nya, langsung mendorong Viola untuk segera masuk.


Saat Viola sudah masuk kedalam, Arsen langsung melepaskan cengkraman tangannya. Viola yang merasa sudah dilepas kan Arsen langsung berlari menuju pintu untuk keluar, tapi sayangnya Arsen sudah dari tadi menguncinya.


"Apa mau mu, kenapa menahan ku disini. Cepat buka pintunya." teriak Viola dengan tatapan yang sangat muak kepada Arsen.


"Kemana saja kau selama seminggu ini, dan siapa pria yang tadi bersama mu?" tanya Arsen dengan tatapannya yang sangat menakutkan.


"Siapa pun dia, itu bukan urusanmu." jawab Viola dengan tatapan yang juga sama menakutkan nya seperti Arsen.


"Aku tanya sekali lagi siapa dia, dan selama seminggu ini kau dimana?" ucap Arsen yang kini mulai mendekati Viola.


Viola terus memundurkan langkahnya sampai akhirnya berhenti karena terhalang oleh tembok.


"Siapa dia jawab......!!!!!." teriak Arsen dengan suara yang begitu kencang.


"Kenapa sekarang kamu sok mempedulikan aku, bukan kah selama ini dipikiran mu hanya ada Aline... Aline dan Aline." jawab Viola yang juga mulai berteriak.


"Jangan mengalihkan pembicaraan kearah yang lain. "Kamu Masih Istriku." ucap Arsen.


"Hahaha.... Istrimu?? Tapi sayang nya, sejak aku pergi malam itu, aku sudah tidak ingin lagi menjadi istrimu." jawab Viola dengan tatapan tajam dan jijiknya kepada Arsen.


Arsen mulai mengepalkan erat genggaman tangannya, emosi nya kini sebentar lagi benar benar akan meledak.


Ia mendekati Viola dan menamparnya dengan sangat kencang, sampai membuat bibir Viola berdarah. Arsen yang sudah begitu diselimuti emosi, juga mencekik leher Viola sampai ia benar benar akan mati.


Melihat Viola yang sudah sangat lemas, Arsen langsung melepaskan nya. Viola yang terus batuk batuk, ternyata masih bisa mengeluarkan suaranya.


"Jika kau ingin membunuh ku, cepat bunuh aku sekarang, bunuh." teriak Viola yang benar benar sudah sangat putus asa.


Arsen yang kesal karena Viola kini berani melawan nya, langsung memecahkan kaca hias di dinding ruang tamu dengan kedua tangannya.


Praaanggg......!!!! Suara pecahan kaca yang begitu nyaring terdengar dan juga jatuh berhamburan.


Darah menetes begitu deras dari kedua tangan Arsen, Viola yang melihat Arsen seperti itu benar benar sangat terkejut. Tetapi ia tidak mempedulikannya, karena sudah terlanjur kecewa atas semua perlakuan Arsen kepadanya.


Viola yang hendak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan luka dibibir nya, langsung berhenti saat Arsen meminta maaf kepadanya.


"Maafkan aku Vi, maaf." lirih Arsen.


Viola kali ini tidak mau lagi mendengarkan kata apapun dari mulut Arsen, hati nya sudah terlalu sakit.


"Apa surat gugatan cerai dari pengadilan sudah kamu terima." ucap Arsen yang masih berdiri dengan tatapan sendu nya kepada Viola.


Viola langsung terdiam saat Arsen mengucapkan kata kata yang malah sebenarnya semakin membuat nya terpuruk, tapi tak lama akhirnya Viola menjawabnya.


"Belum." jawab Viola dengan begitu santai,, padahal nyatanya ia ingin mati saja, saat Arsen tadi mencekik lehernya agar bisa terlepas dari segala kesakitan yang dirasakan nya saat ini.


"Lusa nanti, aku harap kau bisa hadir di pengadilan untuk sidang pertama kita. Rumah yang dulu kita tempati itu adalah milikmu, jadi aku harap kau tetaplah tinggal disitu. Aku juga akan memberikan uang kompensasi finansial untukmu, meskipun tidak ada anak diantara kita." ucap Arsen.


"Aku tidak membutuhkan sedikit pun uang kompensasi darimu, jadi berikan saja kepada orang yang kurang mampu. Karena aku masih mampu untuk menghidupi diriku sendiri bahkan kedua orang tuaku." jawab Viola dengan tatapan kebencian yang teramat dalam kepada Arsen.


"Walaupun kamu tidak mau menerimanya, tapi aku tetap akan memberikan nya. Kita pernah hidup bersama dalam satu atap dan saling mencintai Vi, meskipun sekarang kita harus berpisah karena aku sudah tidak mencintaimu lagi, aku tetap akan mempedulikan mu." ucap Arsen.


"Aku sudah katakan, aku tidak butuh apapun dari mu, bahkan kepedulian mu tuan Arsen." jawab Viola menegaskan.


"Aku berharap, kau akan selalu hidup bahagia dan menemukan pria yang baik dan sangat mencintaimu." ucap Arsen dengan bibir bergetar, tapi ia tetap mengatakannya kepada Viola.


"Aku tidak butuh semangat darimu, karena apapun yang sudah terjadi saat ini, ada atau tidak pun pria baru di hidup ku nanti, aku akan tetap hidup bahagia bahkan selamanya pun akan tetap bahagia." jawab Viola dengan begitu lantang, tapi ia tetap menitikkan air matanya.


Arsen yang melihat Viola menangis, hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apa apa. Memang perpisahan lah jalan terbaik untuk mereka berdua....


"Pintunya sudah aku buka, jika kau ingin pergi, maka segeralah pergi, sebelum aku berubah pikiran." ucap Arsen dengan begitu ketus nya.


Viola langsung berlari dan bergegas membuka pintu unit apartemen mewah itu, ia memang sudah tidak tahan lagi berada disini.


Arsen yang dari tadi terus bersikap ketus dan biasa saja, akhirnya menyerah lalu menjatuhkan tubuhnya kelantai dengan air mata yang sudah menetes.


.


..."Bohong jika aku bilang aku tidak lagi mencintaimu, karena nyatanya aku masih sangat mencintaimu. Tapi aku juga cukup tahu diri, siapa aku saat ini.....!" lirih Arsen dengan air mata yang terus membasahi wajah tampan nya....


.


** Aduh gimana nih, kasian juga ya lihat Arsen. Tapi mau bagaimana lagi, itu adalah kebodohan dan kesalahan nya sendiri........








** TBC **


.