
Dua hari telah berlalu, Viola sudah kembali sehat dan telah datang kembali ke klinik. Ery tidak tinggal diam, ia mencecar Viola dengan segala pertanyaan.
"Mba Vio, kemana sih udah seminggu lebih gak datang ke klinik." tanya Ery dengan rasa penasaran.
"Kamu gak ada kerjaan, selain kepo nanyain Bos mu terus gitu." jawab Viola dengan tatapan tajamnya.
"Hehehe.... Ada sih Mba, banyak lagi. Tapi kan Ery juga penasaran Mba Vio kemana, soalnya gak seperti biasanya Mba menghilang selama itu tanpa ngasih kabar." ucap Ery dengan senyum cengengesan nya.
"Mba baru pulang dari luar negeri, Oma Mba di Inggris tiba tiba rindu sama Mba, makanya Mba pergi dadakan tanpa ngasih kabar terlebih dahulu." jawab Viola dengan segala kebohongannya.
Viola pikir berbohong akan jauh lebih baik daripada jujur tapi sangat menyakitkan. Terlalu sakit jika harus membagi kisahnya kepada orang lain, karena yang terbaik biarlah ia pendam sendiri.
"Ohh.... Kalo gitu mana oleh olehnya dari Inggris, traktir makan ya siang nanti Mba. Hehehe...." ucap Ery dengan senyum nya.
"Iya nanti Mba traktir, yang penting kamu tuh sekarang lanjut lah kerja. Mba juga harus cek laporan keuangan, mungkin bakal sibuk nih sampai sore." jawab Viola dengan tatapan lesu nya.
"Tenang Mba, Ery bakal bantuin kalo kerjaan Ery dah kelar." ucap Ery.
"Okee..." jawab Viola.
"Ery turun dulu, mau buat teh hangat gak." ucap Ery.
"Kopi aja, lagi pengen minum nya." jawab Viola.
"Okee siap Bos." ucap Ery yang langsung berlalu pergi dari ruangan Viola.
Viola yang sibuk dengan laporan keuangan klinik, tak sengaja menemukan amplop coklat dibawah laptopnya. Ia pun langsung bergegas membuka amplop itu dan siap membacanya.
Baru saja amplop itu Viola buka, ia langsung meneteskan air matanya. Viola yang kecewa dan bercampur dengan segala kekesalannya, melemparkan amplop yang berisi surat gugatan cerai dari Arsen sampai jatuh berhamburan.
"Jika kamu benar benar ingin bercerai dengan ku, baiklah aku akan terima. Jika suatu saat nanti wanita yang sangat kamu cintai berubah, jangan pernah menyesalinya." ucap Viola dengan tatapan penuh kemarahan.
***
Arsen sudah dua hari ini menjadi tidak fokus bekerja, terlalu banyak beban pikiran yang dirasakan nya. Belum lagi Aline yang tengah ngidam dan tiap malam selalu merepotkan nya.
"Hah...... Ada apa dengan ku, seharusnya aku senang jika Dad Antonio sudah tahu kami akan bercerai. Tapi kenapa aku malah tidak bersemangat seperti ini." ucap Arsen yang terus menghela nafas berat nya sejak masuk kantor pagi tadi.
Sudah hampir jam makan siang, tapi tak satu pun berkas diatas meja yang Arsen sentuh. Ia hanya ber malas malasan dan terus menghela nafas saja. Saat Arsen masih larut dari segala pikirannya, pintu ruangan nya diketuk seseorang.
"Aish.... Siapa lagi itu." kesal Arsen.
"Masuk....." ucap Arsen dengan raut wajah tak bersahabat nya.
Max masuk dan membawa satu berkas amplop berwarna coklat, dan ia berikan kepada Arsen.
"Apa ini?" tanya Arsen.
"Mana aku tahu, tadi bagian resepsionis yang menitipkan nya untuk diberikan kepadamu." jawab Max yang langsung berlalu pergi meninggalkan Arsen yang masih termangu melihatnya.
"Max tunggu dulu." ucap Arsen.
"Ada apa lagi?" jawab Max dengan wajah tanpa ekspresi nya.
"Hah kau ini, berhenti lah jadi manusia besi. Kau tahu, jika aku akan bercerai dengan Viola." ucap Arsen.
"Hemmm.....!" jawab Max.
"Ohhh.... Jadi kau sudah tahu, ya sudah lah, tadi nya aku mau cerita jika kau belum tahu." ucap Arsen.
"Aku bahkan sudah dari dulu menebak nya, jika kau memang pasti akan bercerai dari Nonya Viola. Aku hanya bisa berharap, semoga suatu hari nanti kamu tidak menyesalinya." jawab Max yang langsung keluar dari ruangan Arsen.
Arsen kini hanya terdiam, isi kepalanya semakin penuh dengan beban pikiran. Di satu sisi, ia jadi tidak yakin dengan pilihan yang sudah diputuskan nya dari jauh hari.
"Hah... Keputusan ku sudah bulat, aku akan tetap bercerai dari Viola. Aku mencintai Aline, sampai kapan pun tetap akan mencintai Aline." ucap Arsen yang langsung membuka amplop yang tadi diberikan Max.
Arsen langsung saja melototkan matanya, saat sudah membuka amplop yang berisi surat sidang Perceraian dari pengadilan.
"Surat sidang keputusan "Perceraian" dengan Viola, hah... Secepat ini Dad Antonio mengurus nya." ucap Arsen yang langsung menyadarkan badan dikursi kebesaran nya.
..."Besok pagi sidang perceraiannya dimulai, aku harus datang untuk yang terakhir kalinya bertemu Viola." gumam Arsen didalam hati....
***
Viola yang sudah bersiap untuk pulang dari klinik, tiba tiba dikejutkan lagi oleh kedatangan Ery.
"Mba... Mba Vio, ada yang nyariin tuh dibawah." ucap Ery yang lelah habis berlarian.
"Hemmm... Siapa?" jawab Viola yang sedikit bingung.
"Gak tahu, Ery lupa deh namanya. Mba Vio turun ajalah sendiri, biar tahu." ucap Ery yang masih mengatur nafasnya.
"Lagian kamu tuh aneh, kenapa juga mesti lari lari begitu." jawab Viola yang sudah tertawa.
"Iya Ery lari tadi tuh, karena takut Mba Vio dah pulang, Ery kan mau ikut gitu." ucap Ery.
"Hemmm.... Ada ada aja." jawab Viola yang langsung bergegas turun kelantai bawah untuk pulang.
Saat Viola sudah berada dibawah ia melihat Aidan yang tengah senyum manis kepadanya.
Viola langsung menuju ruang tunggu dan menghampiri Aidan.
"Sejak kapan Kakak datang? Viola baru liat Kakak disini." ucap Aidan yang langsung tersenyum menghampiri Aidan.
"Baru saja, ayo pulang bersamanya." jawab Aidan.
*Ayo Let's go." ucap Viola dengan begitu semangat nya.
Viola dan Aidan berjalan beriringan dengan tersenyum dan penuh canda Viola.
.
Aline kini tengah berjalan mondar mandir, ia bingung dan menjadi ketakutan sendiri saat tadi sore ia yang sedang di mall melihat Lexi dari kejauhan berada juga di mall itu
"Jangan sampai aku diketemukan oleh Lexi, gak jangan sampai." Lirih Aline dengan perasaan tidak tenang.
Saat Aline masih berkutat dengan pikirannya sendiri, Arsen datang menghampiri lalu memeluk nya dari belakang.
"Ah.... Siapa??" teriak Aline yang tengah ketakutan.
"Honey, ini aku udah pulang. Kamu ngapain dari tadi aku panggil gak dengar." ucap Arsen yang sedikit kesal kepada Aline.
"Maaf honey, aku tuh lagi ngerasain mual tadi, makanya aku berjalan mondar mandir biar mual nya hilang." jawab Aline dengan berbohong.
"Hem..... Ya udah, aku mau mandi dulu. Kamu berhenti mondar mandir, mending tiduran aja ya." ucap Arsen yang langsung mengecup bibir Aline sekilas.
"Oke, siap honey." jawab Aline yang langsung berjalan menuju kamar tidur nya.
Aline yang membaringkan tubuhnya, lagi lagi jadi kepikiran Lexi lagi. Ia takut Lexi akan tahu, jika ia tengah mengandung anaknya bukan anak Arsen.
"Aline tenang, harap tenang. Lexi datang ke Indonesia pasti ada urusan bisnis, bukan karena untuk mencari mu. Lebih aku berdiam dulu saja di apartemen, dan jangan pergi kemana mana dulu agar tidak bertemu Lexi." ucap Aline kepada dirinya sendiri.
"Ketakutan Aline" benar benar membuatnya menjadi sangat tidak tenang. Tetapi ia tetap berusaha untuk biasa biasa saja.....
•
•
•
•
** Hai semuanya, bantu like dan komen nya. Terimakasih all ❤️
.
TBC **
.