
jangan lupa like komen dan voteđź’ť
~~
"Kalian ini hanya mau melihatku saja,,,,,bangunlah sayang" Ucap Santika dengan membantu Mia berdiri.Mia sedah dipelukan Santika.
"Apa ini benaran ibu?" Tanya Marsel.
"Kau sudah sangat besar putraku" Ucap Santika dengan mengelus pipi Marsel.
"Apa saya sedang bermimpi yaa" Ucap Maxel dengan memukuli pipinya.
"Jangan begitu putra manjaku,,,,,,kau tidak bermimpi" Ucapnya lagi kepada Macel.
"Dan kau,,,,,,kenapa tidak mengatakan apapun ha" Lanjutnya lagi kepada Mario.
"Mario harap ini bukan mimpi" Jawab Mario.
"Tidaaaaaakkkkkkkkkkk" Teriak Mia. Menyadarkan mereka semua.
"Tidak apa putriku" Tanya Santika.
"Kalian semua tidak bermimpi,,,,,Papa ini benaran ibuku. Iya ini adalah Santikamu pa" Ucap Mia kepada Handika, yang sedari tadi tidak pernah membuka suara.
"Mia putriku,,,,jangan prank papamu ini" Ucap Handika dengan memegang tangan Mia.
"Papa,,,,ini ibu. Ibu sebenarnya masih hidup dan yang kita tangisi kuburanya 4 tahun lalu itu adalah Santika lain bukan Santika ibuku" Jelas Mia dengan memeluk Handika.
"Benarkah kau istriku" Ucap Handika dengan memegang pipi Santika.
"Alhadulillah Santikaku kembali,,,Santikaku masih ada.hiikkkks hiksss hiksss " Ucap Handika menangis dipelukan Mia. Mia melepaskan pelukannya dan membiarkan Santika yang berada didalam pelukan Handika.
"Sayang dari mana kau tau kalau ibu masih ada?" Tanya Marsel kepada Mia.
"Apa kalian masih ingat pada saat Mia tidak kelihatan seharian. Bahkan bang Mariopun kehilangan jejakku" Tanya Mia kepada ketiga kakaknya.
"Iya masih ingat" Jawab Maxel.
"Disaat itu Mia ketemu sama ibu" Jawabnya dengan memeluk Marsel.
"Jadi hanya bang Marsel ini yang dipeluk" Ucap Maxel.
"Iyalah,,,,dia adalah abang Mia paling ganteng" Ucap Mia meledek Maxel.
"Ganteng tapi belum laku" Guman Maxel, didengar oleh Santika dan yang lainnya.
"Benarkah itu putraku?" Tanya Santika kepada Marsel.
"Sudah kenapa kalian mempersulit itu,,,,,kau ini keturunanku jadi gampang jika menaklukan hati wanita" Ucap Handika.
"Iya pa" Jawab Marsel dengan malu.
"Tapi kenapa baru sekarang kau muncul ha?" Tanya Hadika kepada Santika.
"Apa kau tidak merindukakku?" Tanya lagi Handika.
"Papa Cel juga mau peluk ibu,,,,,kenapa papa tidak bagi bagi" Ucap Maxel merusak suasana romantis itu.
"Kau kira ibumu ini makanan pake bagi bagi ha" Jengkel Handika.
"Kemarilah putra putriku,,,,ibu sangat merindukan bau kalian semua" Ucap Santika dengan membuka lebar tangannya. Dengan vepat semuanya memeluk Santika tubuh yang sejak 4 tahun lalu mereka rinduka.
"Hmmmmm,,,,,,disini juga masih ada orang" Ucap Siska,,,membuat keluarga bahagia itu tersadarkan.
"Hahaah kami hampir lupa,,,terimah kasih yaa sayang.Kalian terbaik" Ucap Santika.
"Kita pulang berikan kejutan pada mama dan papa" Ucap Handika.
"Baiklah,,,rasanya saya sangat merindukan mereka" Jawab Santika.
"Mario tidak ikut yaa,,, ada banyak pasien dirumah sakit menungguku" Ucap Mario dengan memnundukan kepalanya.
"Kau anak ibu yang hebat,,,,pergilah sayang kami menunggumu pulang" Ucap Santika dengan memberikan kecupan dikening Mario.
"Maxel juga mau dicium ibu" Renggek Maxel.
"Kau itu sudah besar kenapa seperti anak kecil saja" Ucap Marsel.
"Abang ini sebesar apapun seorang anak jika sudah bertemu ibunya pasti dia kembali kecil" Jawab Maxel.
"Kemarilah sayangku" Ucap Santika. Dan memberikan kecupan yang sama pada Maxel dan Marsel.
"Tapi Mia juga mau" Manja Mia.
"Kau pasti mendapatkan lebih banyak" Ucap Handika mengundang tawa semuanya.
cupppp
"Mari kita balik kerumah" Ucap Handika.
"Bu Tati sampaikan juga kepada adikku,,,,dia juga harus datang malam ini juga" Perintah Santika kepada Tati.
"Apa tante Santi juga tau kalau ibu masih ada?" Tanya Marsel.
"Tidak,,,,,kita akan bikin dia terkecut malam ini" Jawab Santika.
"Bi Tati,,,,,beri kabar juga kepada om Harris secepatnya harus keindonesia" Ucap Mia.
"Siap Nyonya" Jawab Tati.
"Mari pulang" Ucap Handika.
Mereka semua telah meninggalkan Apartemen itu,,dengan kebahagiaan yang lengkap. Hampir semua keluarga berkumpul tersisa Mario yang harus menyelesaikan pekerjaannya dirumah sakit.
jangan lupa like komen dan voteđź’ť