Mia Ayunda

Mia Ayunda
ngeteh bareng Papa



jangan lupa like komen dan vote yaa teman temanπŸ™πŸ’œ


Dikediaman Handika tambak banyak pelayan yang melakukan pekerjaan mereka, karena rumah Handika sangat besar.


Mia sedang berolah raga diruang olaraga keluarga rumah besar itu. Seluruh abangnya sudah berangkat melanjutkan aktifitas mereka diluar negeri.


Handikan telah pulang terlihat Handika telah memasuki rumahnya. Handika lansung memanggil kepala pelayan.


"Bu Rina" Panggilnya. Bu Rinda dengan cepat mendekan kepada tuan besarnya.


"Ya tuan apa ada yang bisa ibu bantu?" Ucapanya sembari menundukan kepalanya.


"Apa Mia sudah pulang bu?" Tanyanya.


"Ya nyonya muda telah pulang tuan" Jawabnya.


"Baiklah silahkan lanjutkan pekerjaan Ibu" Ucapnya sembari meninggalkan kepala pelayan itu.


Handika memasuki kamarnya tampaknya ia sangat lelah, membersihkan tubuhnya dan duduk disamping ranjang sembari memikirkan seauatu. Pandangannya tertujuh kepada foto mendiang istrinya.


"Apa kau tau Santika, putrimu sudah sangat besar" Ucapnya sendiri dengan pandangan kefoto Santika. Sembari tersenyum memikirkan istri tercintanya.


Handika memilih tidak menikah lagi karena permintaan dari sang putri, Mia mengancam Handika jiga Ayahnya sampai menikah kembali Mia akan angkat kaki dari rumah besar itu tanpa membawa sepersenpun harta Ayahnya. Handika yang terlalu sayang kepada Mia mengiyakan permintaan itu, karena baginya Mia adalah harta terpenting yang ia milikih.


"Putrimu sudah berumur 20 tahun Santika" Ucapnya lagi.


tok tok


Terdengar ada yang mengetuk pimtu kamar Handika. Handika langsung beranjak dari duduknya dan membuka pintu kamarnya. Terlihat putri cantik berdiri dibalik pintu kamarnya, Handika tersenyum padanya, Mia pun membalas senyum Handika.


"Ada apa sayang" Tanya kepada Mia.


"Tidak ada tuan besar,Mia hanya ingin mengajak tuan untuk ngeteh bareng ditaman" Jawabnya sambil tersenyum. Handika mengacak ranput Mia tampak sangat gemas dengan sang putri.


"Baiklah,Papa juga kangen ngeteh santai bersama tuan putri" Jawabnya.


"Mia tunggu ditaman ya pa" Ucapnya sambil meninggalkan Ayahnya. Mia hari ini kosong dia memutuskan untuk santai dirumah saja, sekarang Mia mengnakan baju tidur yang sering ia gunakan.


Handika dan Mia tampak duduk bersampingan dengan ditemani teh hangat didepan mereka, terlihat pandangan mereka mengarah didepan melihat bunga yang tertata rapi.


"Apa Papa juga sama dengan yang Mia rasakan" Ucap Mia dengan melirik Ayahnya.


"Maksudmu rasa apa sayang?" Jawabnya dengan memegang tangan putrinya.


"Merindukan Ibu, apa Papa juga rasakan itu" Jawabnya. Dengan membalikkan tubuhnya menhadap Handika.


"Ya papa setiap hari merindukan ibumu nak" Jawabnya dengan mengelus lembut pipi Mia.


"Apa papa kesepian?" Tanya lagi.


"Pa, jika papa ingin menikah lagi, menikahlah Mia akan terimah ibu tiri Mia" Ucapnya dengan nada sedih.


"Mia dengarkan Papa, saya tidak pernah memikirkan menggati posisi ibumu dihati papa. Ibu selalu ada disini sayang" Ucapnya sambil menunjuk kedada. Mia lansung memeluk Handika, Handika membalas pelukan putrinya.


"Sebegitu cinta kah Papa sama ibu?" Ucapnya.


"Ya, asal Mia tau. Dulu papa sangat sulit mendapatkan cinta ibumu, mungkin itu alasannya kenapa papa sangat sulit melupakannya" Ucapnya dengan pandangan kedepan. Mia lamgsung melepaskan pelukannya dan melihat raut wajah Papanya.


"Apa ibu dulu sangat jual mahal pa?" Tanya penasan.


"Ya ibumu sangat jual mahal pada saat papa mendekatinya" Jawabnya dengan senyum.


"Lalu bagaimana menaklukan ibu?" Penasan Mia.


"Siapa yang bisa menentang keinginan dari Handika Wijaya, semua yang papa suka pasti papa miliki sayang".


"Apa ibu dulu tidak mengenal papa, sehingga ibu menjual mahal cintanya?" tanyanya lagi.


"Sepertinya begitu sayang" Jawabnya dengan mengelus kepala putrinya.


"Berapa lama papa mengejar cinta ibu" Tanyanya lagi.


"Sangat lama, ibu sangat keras kepala hampir mirip dengan sayang"


"Mia kan putrinya pa, apa Mia harus merubah keras kepala ini?" Jawabnya dengan melihat ayahnya.


"Jangan sayang, tetaplah seperti ini karena papa melihat ada ibumu di dirimu sayang" Ucapnya dengan memeluk Mia. Mia sangat senang mendengar jawaban ayahnya dan Mia membalas pelukan Handika.


"Mia sayang sama papa" Ucapnya.


"Papa tau sayang, minumlah tehmu sebelum dingin" Ucap Handika sambil mengangkat gelas tehnya. Miapun melakukan hal yang sama.


"Bagaimana kuliah pertamamu sayang?" Ucapnya sembari meletakan tehnya diatas meja.


"Sangat menyenangkan" Jawabnya dengan melakukan yang sama meletakkan tehnya.


"Syukurlah. Kenapa hari ini kamu bersantai dirumah saja?" Tanyanya lagi.


"Entahlah, pa mungkin karena hari ini Mia rindu sama ibu" Jawabnya dengan sedih.


"Apa Mia sudah mendo'akannya?" Tanya Handika. Mia mengangkukan kepalanya.


"Mia selalu mendo'akan ibu pa"Jawabnya kemudian.


***jangan lupa jejak kalin setelah baca denga cara like komen dan vote yang banyak. terimah kasihπŸ’œπŸ™


follow ig @mazna syahdan πŸ˜ŠπŸ˜‰***