
*jangan lupa like komen dan vote yaa untuk membuat saya lebih semangat untuk melanjutkan tulisan ini 💜🙏
*selamat membaca 😊**
~~
Rasanya Mia tidak percaya apa yang ia lihat, Mia masih menatap dengan lekat kepada opa dan omanya.
"Apa aku mimpi pa? " Tanya Mia dengan melihat Handika.
"Tidak cucuku ini oma" Ucap Mirna dengan menunjuk dirinya.
"Ah, oma Mia sangat rindu" Ucapnya dengan berusaha bangun.
"Jangan banyak gerak sayang" Ucap Mirna dengan mendekati Mia. Mirna memeluk Mia, Mia membalas pelukan omanya.
"Ehem jadi opa tidak dirindukan ni" Ucap Wijaya, dengan cepat Mirna dan Mia melepaskan pelukan mereka.
"Ahhh opaku sayang Mia sangat rinduuuuu" Ucapnya denga membuka tangannya meminta dipeluk. Dengan cepat Wijaya mendekat memeluk Mia.
"Beginilah nasip kita nak, kita tidak akan terlihat jika mereka bertemu" Ucap sedih Handika.
Semua tertawa karena ucapan Handika, Wijaya mengeleng kepalanya karena Handika iri sama anak sendiri.
"Papa kan tiap hari sama Mia" Ucap Mia.
"Dengar itu" Lantut Mirna.
"Marsel dan Maxel akan mencari makan untuk kita semua" Izin Marsel.
"Iya, keluarlah nak papa sangat lapar" Ucap Handika.
Marsel dan Maxel pun keluar meninggalkan mereka, Mario ikut dibelakang mereka.
"Kenapa kamu disini, kembalilah disana dek kamu periksa dulu Mia" Ucap Marsel melihat Mario, mereka berjalan beriringan.
"Biarkan Mario ikut bergabung bersama kalian bang, saya juga rindu kebersamaa. bersama kalian" Jawabnya.
"Iya saya juga sangat rindu saat saat kita bersama apalagi waktu ibu masih ada" Ucap Maxel.
"Ibu sangat bangga kepada dirimu Rio, kau adalah yang terbaik" Ucap Marsel dengan menepuk bahu Mario.
"Abang ini, jangan terlalu memujihku semuanya ini karena doa dan semangat dari kalian bang" Merendah Mario.
"Memangnya apa yang terjadi bang? " Bingung Maxel.
Marsel menjelaskan semuanya tidak ada yang terlewatkan satupun, Maxel sampai menangis mendengar rasanya dia tidak terimah jika harus kehilangan adik kesayangannya.
Merema tiba diloby rumah sakit, mereka langsung menujuh parkiran dan memasuki mobil, Mario mengabil kemudi, mobil mereka keluar dan bergabung dengan kendaraan lain.
Didalam ruang rawat Mia, Mia sangat senang karena ada oma dan opanya sangat ia rindukan.
"Opa dan oma kenapa ke indonesia?" Tanya Mia.
"Karena kami khawatir kepadamu sayang" Ucap Mirna dengan membelai kepala Mia.
"Tapi Mia kan tidak apa apa oma"
"Kau ini tidak pernah berubah dalam keadaan sakitpun kekepoanmu tidak berkurang" Ucap Wijaya dengan mencubit pipi Mia, sedangkan Handika hanya melihat mereka disofa.
"Apa opa tidak membawakan Mia ole-ole dari jerman? " Ucap Mia.
"Ole-olemu akan tiba besok, opa yakin kamu pasti sangat suka jika melihat itu" Jawab Wijaya.
"Benarkah, Mia tidak sabar untuk hari besok" Ucapnya dengan semangat.
"Pindahlah dijerman sayang, biarkan opa dan oma yang mengurusmu" Ucap Wijaya, mendengar itu Handika langsung berdiri dan mendekata kearah mereka, mereka melihat kedatangan Handika.
"Papa ini bicara apa" Ucapnya dengan duduk disamping Mirna.
"Papa ragu terhadapmu Handika, kau tidak becus merawat cucuku" Ucap Wijaya.
"Pa, papa pasti tau semangat hidupku itu hanya Mia" Ucapnya dengan sedih.
"Kau ini terlalu baper Handika. Jangan membedakan kasih sayangmu terhadap anak anakmu" Ucap Mirna dengan mencubit lengan Handika.
"Iya pa, Mia setuju dengan oma, jangan bilang kalau hanya Mia penyemangat papa, abang Mia juga adalah anak yang luar biasa untuk papa" Ucap Mia.
"Cucuku ini sudah dewasa, dengarkan ini anakmu saja sampai bisa berpikir begitu" Ledek Wijaya.
"Kami tidak akan iri oma, karena semangat hidup kami juga adalah tuan putri kami" Ucap Marsel. Ketiga putra Handika masuk dalam ruangan itu.
"Kau ini, sudah berapa tinggi ilmumu hingga kau melupakan ajaran Santika" Ucap Mirna kepada Marsel.
"Ilmu apa oma? " Tanya Maxel.
"Astagfirullah Mia apa kamu maaih ingat ajaran ibumu sayang" Tanyanya ke Mia.
"Iya oma, ilmu sopan santun jika masuk disuatu ruangan jangan lupa beri salam sebelum masuk agar setan yang mengikuti kita tidak ikut masuk dalam ruangan tersebut" Jawab Mia.
"Pintar sekali, ajarkanlah itu kepada abang abangmu itu sayang"
"Hahha sudahlah jangan dimarahi terus ayo kita makan malam" Ucap Wijaya.
Mereka makan malam mereka dengan tenang, tidak ada suara diantara mereka, karena Wijaya yidak suka jika makan ada yang berbicara.
Jangan lupa like dan vote yang banyak yaa 💜🙏😊