
jangan lupa like komen dan voteđź’ť
~~
Mia sidah sampai dirumah Handika, dia disambut beberapa penjaga. Mia keluar dari mobil dan masuk dengan perasaan takut.
"Assalamualaikum" Ucap Mia dengan takut kepada semua keluarganya yang kelihatan gelisah.
"Mia kamu dari mana saja" Ucap Herri langsung mendekati Mia.
"Herri berhenti" Perintah Wijaya, dengan cepat Herri menghentikan aksinya memdekati Mia.
"Waalaikum salam sayang" Ucap Wijaya dengan lembut.
"Waalaikum salam sayangku, kau masuklah" Ucap Handika tidak kalah lembit dari Wijaya. Mia berjalan mendekat kearah mereka.
"A_da apa kenapa kalian terlihat sangat tegang" Ucap Mia dengan berpura pura tidak tau.
"Kau dari mana sayang?" Tanya Handika.
"Duduklah nak, setelah itu kau jawab pertanyaan papamu" Timpal Santi. Mia langsung duduk disamping Marsel.
"Mia tadi dari apartemen pa" Jawab Mia.
"Apartemen, ngapain kamu disana" Tanya lagi Handika.
"Mia hanya pengen sendiri pa, Mia cari ketenagan saja" Jawab Mia dengan menundukan kepadanya.
"Maxel kenapa kau tidak mencek baik baik jima Mia ada disana, kita tidak akan sekhawatir ini" Ucap Handika dengan tegas.
"Maaf pa, yang cek diapartemen itu saya bukan Maxel" Ucap Marsel dengan berbohong, Maxel langsung melihat kearah Marsel.
"Sudahlah kenapa kalian jadi banyak bertanya. Apa kalian tidak dengar tadi cucuku ini tidak temukan ketenangan dirumah ini sehingga dia harus menghilang seperti tadi" Ucap Wijaya.
"Opa bukan begitu, Mia sangat tenang berada disekeliling kalian. Hanya M_ia memcoba untuk" Ucapnya denga berpikir dan langsubg dipotong oleh Mirna.
"Sayang, pergilah dikamarmu. Bersihkan tubuhmu setelah itu kita makan malam" Ucap Mirna.
" Baiklah oma" Ucap Mia langsung berdiri dan pergi meninggalkan mereka semua.
"Rasanya ada yang aneh" Guman Herri.
"Kalian ini terlalu banyak tanya dan penyelidikan. Apa kalian tidak bersyukur ternyata dia aman saja ha" Ucap Mirna.
"Bukan begitu ma, tapi ini sangat aneh. Jika dia benar benar keapartemen kenapa kita tidak bisa menemukan keberadaannya. Bahkan orang yang paling kita percayapun tidak bisa menemukannya dan kita bahkan tidak bisa melacak keberadaannya" Ucap Harri.
"Kita tidak bisa lupa kalau dia itu juga cucu dari Bajari. Apa mungkin dia memiliki orang orang tersembunyi lagi" Ucap Wijaya dengan melihat kearah Santi.
"Santi juga tidak tau pasti itu paman, tapi jika memang Mia memiliki itu pasti ada laporan kepada saya" Jawab Santi.
"Mungkin kalau hanya menjaganya pasti ada. Tapi jika Mia memiliki orang orang yang menjadi kepercayaannya saya belum temukan hal hal begitu opa" Timpal Mario.
"Aaaaaaaaaaaaaa" Teriak Mia dari atas.
Semua lari menujuh kamar Mia, Mario Marsel dan Maxel tiba lebih dulu didepan Pintu. Tidak menunggu peribtah dari pemilik kamar mereka bertiga langsung masuk dan melihat Mia duduk dipojok jendelah dengan menutup matanya.
"Sayang,,,, ada apa?" Ucap Marsel dengan memeluk Mia.
"Siapa, apa. Kenapa teriak sayang" Ucap Maxel.
"Mia,,,,, Ada apa sayang" Ucap Handika. dengan cepat Marsel melepaskan pelukannya dan membiarkan Handika yang memeluknya.
"Disana, disana" Ucap Mia dengan menunjuk arah luar kamar. Dengan cepat Mario dan Maxel melihat kearah tunjukan Mia.
"Bunga" Ucap Keduanya bersamaan.
"Ada apa kenapa teriakanmu sehisteris itu" Ucap Wijaya didepan pintu.
"Ada ini opa" Ucap Maxel.
"Siapa yang berani mengirim itu" Ucap Wijaya dengan mengertakan giginya.
"Entahlah,,,,, kelemahan Mia sekarang sudah ditau banyak orang opa" Ucap Mario.
"Siala yang memberikanmu itu sayang?" Tanya Wijaya kepada Mia yang masih menutup matanya dengan tanganya.
"Bukalah matamu, bunganya sudah dibuang sama Mario" Ucap Marsel.
"Tadi Mia mau hirup udara pa, tapi tiba tiba Mia temukan itu dilantai" Ucap Mia dengan rasa takutnya.
"Tenangkan dirimu yaa. Opa akan mencari tau siapa yang melakukan itu" Ucap Wijaya dengan menenangkan Mia.
"Terimah kasih opa" Ucap Mia.
"Iya sekarang mari kita makan malam" Ucap Wijaya.
"Mia sudah makan diluar tadi. Jadi Mia langsung tidur saja" Ucap Mia.
"Benarkan, tidirlah dengan nyenyak sayang" Ucap Handika dengan mengecup kening Mia.
"Iya pa" Jawab Mia.
"Selamat malam cucuku" Ucap Wijaya dengan berjalan keluar kamar Mia.
"Malam opaku sayang" Jawab Mia.
"Kalian keluarlah, biarkan adik kalian istirahan dengan nyaman" Perintah Handika.
jangan lupa like komen dan voteđź’ť